Mikir

Maka tidakkah kamu berpikir? (2:44). …bagi kaum yang memikirkan. (2:164). …supaya kamu berfikir. (2:219). Apakah kamu tidak berpikir? (3:65) …agar mereka berfikir. (7:176). Maka apakah kamu tidak memikirkannya? (10:16). …kepada orang-orang berfikir. (10:24). Maka tidakkah kamu memikirkan (nya)? (11:51). Maka tidakkah kamu memikirkannya? (12:109). …bagi kaum yang berfikir. (13:4). …bagi orang yang memikirkan. (16:67). …bagi kaum yang berfikir. (30:21). …bagi orang yang mau berfikir… (35:37). Maka apakah kamu tidak memikirkan? (36:62). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (36:68) Maka apakah kamu tidak memikirkan? (37:138). …bagi kaum yang berfikir. (39:42). …orang-orang yang berfikir. (40:54). …bagi kaum yang berfikir. (45:13). …supaya kamu memikirkannya. (57:17). …supaya mereka berfikir. (59:21). …mendengarkan atau memikirkan… (67:10).

Aja takon, jangan nanyak. Aku lagi berpikir. Ndhak selesai-selesai ini aku lagi berpikirnya.

– FHW

Advertisements

Dangdhut Pt. 1 – The Beginning

***

Saya ini lumayan update lagu-lagu dangdhut lho! Soale tetangga depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″.

Mungkin tidak terlalu kencang baginya. Namun, resonansi dari berbagai bidang pantul: tembok-tembok penyekat kami-kami malah membuat amplitudonya datang berlipat ganda ketika frekuensi-frekuensi nces-nces-jless itu setia mengunjungi ruang kedaulatan dengar kami. Lumayan membuat sudut kamar paling belakang dan paling tersembunyi di rumah masih tetap merasakan dentuman kendangnya yang sudah dikontemporer dengan kooptasi drum.

Tapi… hegemoni kerancakan perkusi dan mayoritas perangkat nada elektronik era dangdhut sekarang rasanya koq malah monoton ya? Rasanya koq justru lebih asyik “monotonisme” dangdhut era dominasi ketipung jaman Pakdhe Meggyzeth atau Mbak Ike Nurjanah yang justru sangat terdengar rancak menggemakan nafas seni suara ke seluruh penjuru sudut angkasa indera dengar kita.

Beragam lagu yang mengusung tema-tema berbeda bukan hanya menjogetkan pinggung dan membuat badan bergoyang, namun juga sanggup mengiris hati laksana sembilu, dengan detakan ketipung yang mendalu. Suka, sedih, tawa, tangis, beneran hadir nyata dalam alunan nada suara para biduan-biduanita masa kemarin. Mengolah sisi rasa terdalam kita.

***

Saat ini, koplo membuat semuanya saya dengar jadi hancur berantakan. Entah kenapa, saya tak sanggup menjelaskan. Sebab lagu memang soal buncahan perasaan. Kadang tanpa perlu penjelasan. Ia, lagu nan sesungguhnya lagu, kadang hanya datang dengan pemahaman. Dengarlah suara tersembunyi dari Om Ebiet atau Cranberries jika hendak membuktikan.

Kini dunia benar-benar koplo. Entah ini pelarian atau sebuah ungkapan baru dari kata-kata sosial-kemasyarakatan, saya ternyata belom memiliki kesanggupan untuk mencernanya. Kerancakan koplo justru membuat semuanya monoton dalam mata dengar saya.

Untungnya, dari dulu hingga sekarang, dangdhut masih sanggup membuat dunia berjoget dan bergoyang. Dalam masanya masing-masing. Detak-detak waktu yang kadang serasa hendak terputus oleh keadaan sontak tersambung lagi dengan untaian harmonik, menyingkirkan ketuk-ketuk pentatonik yang mulai kembali digali ulang oleh pejuanmg seni era kini.

TETANGGA depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″. Suara yang datang tanpa permisi, tapi inilah harmoni di ruang waktu kebersamaan kami sebagai tetangga. Bunyi dangdhut koplo, bunyi desing gerinda pak tukang sebelah, dan bunyi knalpot memekakkan telinga dari anak-anak muda yang sedang berusaha keras mencari eksistensi jati dirinya: dengan berkeyakinan jika bebek 100cc-nya ini seolah benar-benar setara tunggangan para jagoan Motor GP.

Saya ini lumayan update lagu-lagu dangdhut lho! Soale tetangga depan rumah nyaris tiap hari muter dangdhut, koplo seringnya, dengan speaker … well, saya kira 12″. Tapi saya ndhak tau judulnya apaan. Cuman update lagunya aja. Ndhak kenal judulnya.

– Freema HW,
ndhut.

(Un)friend

Duluuu, saya numpang akun fesbuk istriku untuk berinteraksi. Padahal saya udah punya akun fesbuk sendiri. Hingga kemudian saya akhirnya pakai akun fesbuk sendiri.

Karena waktu itu saya menggunakan fesbuk murni untuk berinteraksi dengan asas silaturahmi. Dan buat ngomongin BMW tentunya.

Satu per satu, friendlist-ku mulai terisi oleh teman. Baik saya yang nge-add atau saya di-add.

Semuanya berjalan dengan riang dan gembira.

Kami saling membahas aspal yang bolong. Keluarga dan si kecil masing-masing temen, dan kehidupan secara universal.

Semua bisa berbicara dengan bahasanya ungkapan masing-masing, dan semua bisa saling menerima perbedaan bahasa pikir masing-masing.

Semua berbagi ide, berbagi pandangan, berbagi sudut pandang. Berbagi perbedaan, mengupas kesamaan. Semua indah. Indah semuanya.

Kami berbicara segala hal yang penting maupun tak penting, bermuatan maupun tak bermuatan, hanya demi satu nafas: silaturahmi.

Berhubung ini akun “hanya untuk” bersilaturahmi, maka setting posting saya default-kan ke friend. Bukan publik. Hanya teman fesbuk saya yang bisa membaca posting saya.

Karena memang posting cuman buat pertemanan saja.

Bicara yang “remeh temeh”, sekali-sekali bicar apedas dan menggigit, atau bicara dengan bahasa timuran ala sini, cuman buat suka-suka dengan sesungguhnya suka-suka.

Continue reading

Tabayyun

Sebagai muslim, kita punya kewajiban tabayun. Bahasa gaulnya: cover both side story. Kenapa sekarang tabayyun ini hilang dari diri kita?

PILPRES kemarin, orang Indonesia kelihatan tabiat aslinya: mendadat buta pikiran. Bahkan buanyak rekan saya yang berpendidikan tinggi, mendadak seperti saya: menjadi sampah intelektual. Mereka semua menjadi manusia yang tidak bersedia meng-cover-both-side story.

Tentang adanya berita, kita tidak pernah tau yang benar yang mana sampai ada fakta otentik tentangnya.

Manusia Indonesia hawa-hawanya masih harus menemukan kebenaran dengan menciptakan kesalahan/penyalahan. Masih banyak yang belom sanggup menemukan dan mendapatkan kebenaran tanpa harus ada parameter kesalahan/penyalahan.

Alhasil, segala hal yang berbau bersekongkol/berkubu/bersekutu dengan apa yang satu persepsi/pandangan/ideologi/keyakinan menjadi fenomena/tindakan/aksi sehari-hari di masyarakat sini. Dengan kata lain, segala hal yang berbeda masih dianggap tabu dan harus dihindari/dilenyapkan.

Wujud nyata dari sangkaan subyektif saya di atas, masyarakat kita guuuaaampanggg banget terbelah/terpecah hanya karena perbedaan, bahkan sekecil apapun itu.

Ghibah/bergosip alias menguatkan pandangan nirfakta dan miskin otentifikasi menjadi sarana bagi itu semua.

***

Sebagai muslim, kita punya kewajiban tabayun. Bahaasa gaulnya: cover both side story. Kenapa sekarang tabayyun ini hilang dari diri kita? Bukankah tabayun ini ada pada ayat?

Tabayun, orang sono menterjemahkannya sebagai cover both side story.

Ternyata inilah hasilnya semua ini. Kita sudah nyaman untuk tidak ber-cover both side story. Tidak perlu kita cari “sisi satunya, sisi lainnya, sisi sebaliknya” sebelum kita mengumbar kata.

Kita sudah melenyapkan tabayyun dari diri kita.

Kita sering share berita hoax. Giliran ketauan hoax, dengan santainya kita ngomong, “Itu buat menyudutkan Islam.” Bla… bla… bla….

Kalo kita tabayyun, mstinya itu semua ndhak terjadi. Ndhak akan terjadi perbuatan yang merendahkan otak kita sendiri.

Hal yang berseberangan akan selalu kita anggap salah, tanpa kita periksa fakta dan logikanya. Ciri tabayun telah lenyap. Ciri ayat telah kita korupsi, ciri hikmah telah kita reduksi, ciri Quran telah kita nistakan berjamaah.

***

So, jangan pernah gampang terbuai dengan segala informasi yang sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Selalu tabayyun – cek kebenarannya alias cover both side story.

Dan jangan pernah gampang membenci dengan segala informasi yang tidak sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Jadikan informasi itu sebagai bahan cover both side story.

Buanyak kejadian posting viral yang katanya tentang kerusuhan agama, belakangan muncul edisi klarifikasinya kalo ternyata gambar-gambar yang diviralkan tersbut bukan sebagaimana yang diviralkan. Padahal saat memviralkan posting-posting yang belum jelas kebenarannya tersebut, nama Tuhan dibawa-bawa. Kalo sudah seperti ini -menyebut-nyebut Subhanallah, Masya Allah, Astagfirullah, dll.- saat membagi atau mengomentari posting/berita yang belum tervalidasi keotentikan faktualnya ini masuk ranah/kategori melecehkan Tuhan bukan?

Padahal mustinya kalo datang suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kita tidak mencelakakan suatu pihak karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kita menyesali perbuatan itu. Gali data-data atau bukti-bukti faktual otentik sejelas-jelasnya dulu sebelum menelan informasi. Dan sekali lagi: tabayyun/cover both side stroy!

Wallahualambisawab.

– FHW
both side person.