Helix Terakhir Saya

Saya bukan maniak atau fanatis ke salah satu merk oli. Jujur, saya sering gonta-ganti merk oli, meskipun bukan berarti tiap ganti oli saya selalu ganti merk. Prinsip yang saya pegang: oli sesuai speks pabrikan, atau tertera di rekomendasi buku manual, selesai perkara.

Sebenarnya kalo nuruti buku manual, pilihan olinya malah duikittt! Maklum, ini mobil taon ’90an, era segitu belom banyak pilihan oli apalagi oli sintetis atau “oli canggih” yang klaimnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Halah…

Di buku manual yang saya pegang, malah yang di-approve oleh pihak BMW untuk ini E34 M60 530i AT ’95 salah satunya yang paling saya inget adalah Pertamina Mesran Super!

Lainnya itu kebanyakan merk asing dan merk-merk tua. Aral, yang sama-sama merk perantauan dari Jerman, adalah oli ‘default’ buat ini mobil kala barunya.

Pertamina Prima XP belom masuk list oli approved di ini buku manual. Apalagi oli-oli jenis baru yang ‘barusan’ keluar kemarin-kemarin ini.

Kata orang, gonta-ganti merk oli itu ndhak baik. Aditifnya ndhak sama, konon malah bikin masalah. Tapi ganti olinya nyaris selalu pake flushing. Oli bisa terkuras dengan relatif sempurna. Mudah-mudahan demikian. 😛

Pertamina Prima XP 20W-50 lumayan sering saya pakai. Soale ini harga per galonnya yang paling murah. Maklum, sekali ganti oli ini Badak V8 nenggak 7,5 litres. Dua kalinya mobil kebanyakan di jalanan. Alhasil tiap ganti oli saya selalu beli dua galon, sisa setengah liter.

Drunken master emang, ya bensinnya ya olinya. 😀 Meski sodaranya yang 6 silinder nenggaknya ndhak sedikit juga: 6 litres.

Shell Helix HX3 warna merah yang sama-sama 20W-50 harganya juga sama. Tapi dengan spek dan harga yang sama, saya pilih Prima XP karena alasan nasionalisme.

Biar kata Pertamina kadang saya denger kena berita miring, saya tetep berharap bahwa rupiah yang saya belanjakan untuk itu Prima XP bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara.

Meskipun habis belanja produk Pertamina, saya kembali ambil nafas panjang. Bukan karena harganya, melainkan karena aspektasi saya. Benarkah semua rupiah keuntungan oli Pertamina ini untuk negara, atau hanya untuk ngasih makan komplotan Senayan?

Entahlah…

Sayangnya, baik Prima XP maupun Helix XH3, konon punya reputasi gampang bikin sludge di mesin BMW. Dan entah dengan kondisi mesin si Badak, say abelom pernah bongkar atasannya soale. Cuman nginceng ruang bakar aja yang … ya begitulah, ada kotorannya tentunya, tapi masih bisa saya mahfumi. *ngeles* *menghiburdiri*

Kalo kata Om Abi siy, oli paling enak buat BMW itu FUCHS (bahasa Jerman untuk bahasa Inggris Fox), yang juga merk pendatang dari Jerman. Cuman FUCHS harganya lumayan bikin F*CK! Eh…

Namun yang paling sering saya pakai kalo saya inget-inget, adalah Shell Helix HX5 15W-50. Harapannya, pas dingin naiknya oli lumayan cepet, sementara pas panas kekentalannya sesuai. Suara mesin enak halus.

Harga Helix HX5 kala itu kalo ndhak salah sekitar 1,5x lipatnya Prima XP atau HX3.

Pernah saya nyoba yang 10W-40 punya Castrol, mengingat bahwa BMW belakangan itu menjalin kerja sama dengan Castrol, tapi suara mesin rasanya malah kasar. Berisik, gemericik.

Pas balik ke 15/20W-50, alus lagi.

Yakh, mungkin mesin tua, yang rancang bangunnya belom sepresisi mesin-mesin era milemiun, plus ditambah kilometer pakai yang lumayan, tentu membuat oli encer malah ndhak optimal dipakai.

Tapi tua-tua gini, ini mobil udah pake HVA – Hydraulic Valve Adjuster. Yang mana kesehatan oli musti terjaga, biar HVA ndhak rusak karena kekeringan karena kurang/telatnya pasokan oli.

Dan mesin-mesin mobil era sekarang, olinya tambah kebangeten encernya. Lumrah mobil sekarang olinya pake 5W-30 bahkan 0W-20! Ya wajar sih, di dalam mesin mereka bisa dibilang setengahnya komponen mekanis setengahny alagi komponen elektris. Itu di dalam mesin lho, bukan di luar mesin!

Alamaak…

Bener-bener transisi untuk pelan-pelan memberangus mesin dan menggantikannya dengan (mobil)listrik emang udah disiapkan sejak luuuaaamaaa!

Bentar lagi mungkin semua mobil udah ndhak pake oli(mesin). Ya karena udah pake motor listrik semua. Sekarang aja mobil listrik udah bisa dibilang merajalela meski masih sangat jauh dari kata dominan.

Well, let’s see ajalah kalo kita ndhak bisa (baca: mau) to make/produce them…. Hiks…

Ini kebetulan di bagasi ada sisa oli cadangan, Shell Helix HX5 yang masih edisi 15W-50. Dalam kemasan seliter. Segelnya masih utuh wal rapi jali. Kinclong manis legit, ciamik beganda. Cuman badan/stiker labelnya aja jamuran. Mungkin karena kotor dan lembab.

Sebenarnya ada dua liter, yang seliter udah saya tuang ke mesin, buat tambahan. Cuman saya lupa mesin Badak atau mesin Kijang. 😀

Sekarang Helix HX5 berubah jadi 15W-40. Alhasil, ganti oli terakhir kemarin saya pakai AGIP 20W-50. Karena harganya sama dengan Prima XP, namun klaim pihak penjual: kilometer penggantiannya lebih panjang.

Namun kali ini meski harganya sama dengan Prima XP, saya pilih AGIP karena satu hal menarik: kemasannya keren. Posturnya rebah alih-alih berdiri tinggi macam produk oli lainnya. 😀 Ndhak ada hubungannya banget kan? 😀

Dan entah oli cadangan ini akan saya apakan. Mungkin akan saya simpan buat kenangan, meski dia nanti bakal basi. Kecuali ada yang mau nuker dengan beberapa(gepok) lembar merah Soekarno-Hatta, yaaa… mau gimana lagi, ya gpp deh kalo terpaksa harus saya lepas. *ngarep* *Dzigggh!*

Sekarang, saya pingin nyari oli 15W-50 lagi. Atau 10W-50 siy gpp, asal harganya murah. Soale makin lebar rentang xW-xx, harganya makin ajib.

Salah satu pilihan 15E-50 adalah Pertamina Fastron Techno 15W-50. Tapi entah di Kediri sini mana yang jual, di toko oli besar langganan saya ndhak pernah ada produk ini. Entah kalo di toko lain.

FUCHS saat ini udah saya pakai di motor matic. Biasa, aliran ‘oli sesat’ gitu. 😀 Hehehehe…

Saya sebenarnya lebih suka ganti oli murah aja, namun sering. Ketimbang ganti oli mahal meskipun lama. Cuman jujur, saya ganti olinya tetep pake patokan km, dan saya abaikan unsur (lamanya)waktu.

Sering ganti oli dan ngecek aki basah, membuat saya merasa terus connecting dengan mobil.

Bagaimana dengan (oli)Anda?

– FH0W-50

Advertisements

8 thoughts on “Helix Terakhir Saya

  1. kl badak 7.5l untuk 8 silinder rasanya masih lebih manusiawi dibanding 5.5l untuk mesin 4 silinder deh mbah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s