Pre-Driving Inspection, The Safety Check

SS I: Parkir Sejam.

Semalam ada kejadian lucu sekaligus mengenaskan sekaligus konyol plus membahayakan keselamatan buat kami. Kemarin sore kami -saya, si kecil, dan ibunya- berangkat mau gathering ke Pantai Prigi, Trenggalek, menyusul rombongan Kedirian yang udah jalan duluan ke sana.

15:00 | Kediri.

Sebelum berangkat, saya sudah sadar kalo wiper saya mati. Sempat saya cek sekringnya, aman. Mungkin relay-nya mati, mungkin soket/rumah relay-nya ngepong, entah juga kalo modulnya.

Saya nekat, sementara ini musim penghujan.

Dan akhirnya inilah harga yang harus saya bayar.

Beru setengah jam jalan, hujan deras mendadak turun. Alhamdulillah posisi hanya beberapa ratus meter sebelum SPBU. Saya parkir di SPBU.

Sekian menit saya nyalakan mesin dan AC, kemudian saya matikan. Lama kelamaan mulai pengap, kami sempat buka pintu/jendela sedikit. Lama kelamaan air mulai banyak mencriprat, nyalakan mesin dan AC lagi.

Hiks, buang-buang bensin jadinya…

SS II: Parkir Empat Jam.

Hujan kemudian lumayan reda dan hari masih terang. Lumayan reda, sebab ndhak sepenuhnya reda. Masih ada rintik-rintik kecil.

Jalanan memang terlihat dan pandangan masih aman. Saya nekat terus jalan hingga 30an km, udah sampai masuk wilayah Tulungagung. Namun tetep saja kondisi ini mengharuskan saya beberapa kali minggir dan ngelap kaca depan (windshield) dengan lap chamois. Sepanjang 30km ini, saya berhenti sekitar tiga kali untuk ngelap kaca depan.

Masuk wilayah Tulungagung, hujan turun deras lagi. Hari mendadak gelap dan emang udah mau berganti malam.

Jalanan mulai kabur dan meremang. Posisi hujan, saya nekat buka kaca dan melongokkan kepala ke luar agar bisa liat jalan, sambil mengikuti mobil depan saya yang berjalan meminggir soale menghindari jalan yang sedang dalam pebaikan (namun para pekerja sedang istirahat semua).

Allah emang Maha Pemurah. Kami masih dikasih keselamatan: saya ndhak menanduk itu jejeran alat berat yang parkir dalam diam dan gelap.

17:00 | Ngantru, Tulungagung.

Dalam pandangan yang semakin tak kelihatan karena hujan yang semakin menderas, Alhamdulillah lagi kami bisa masuk ke SPBU Ngantru, SPBU pertama masuk kawasan Tulungagung.

Kali ini hujan deras sederas-derasnya. Di area parkir itu SPBU, mungkin karena paving-block-nya agak merendah, ada genangan air se-mata kaki.

Banyak pemotor yang juga beristirahat.

Kami istirahat di dalam mobil. Karema derasnya hujan yang membuat hawa dingin banget, kami ndhak terlalu lama menyalakan mesin dan AC. Lumayan lama kami cuman diam di dalam kabin. Sambil mengurangi gerakan.

Kala mulai pengap, kami buka pintu bentar. Hawa dingin dan hembusan angin langsung menghantam dalam kabin.

Begitu berulang-ulang.

***

Hampir empat jam, hujan mulai mereda dan menyisakan gerimis. Sayangnya, ini gerimis serasa tak mau berkurang intensitasnya. Di jalanan depan SPBU, pemotor sudah mulai berlalu lalang tanpa jas hujan. Ini malam minggu dan malam hari besar Sura/Muharram. Jalanan lumayan ramai.

Meskin bagi pemotor aman, bagi kaca depan ini tetep akan jadi masalah besar.

Pandangan redup-remang, hari yang telah malam, serta kena pancaran lampu dari depan, plus seruas jalanan yang sedang ditongkrongi barisan alat berat tadi, akan jadi penyebab sempurna untuk celaka.

21:00 | Ngantru, Tulungagung.

Tentu ini mustahil untuk lanjut ke Prigi. Apalagi rekan-rekan yang udah duluan nyampe juga mengabarkan kalo di sana juga hujan meski ndhak deras. Plus jalanan nantinya akan melewati kawasan hutan dan jurang, yang gelap tanpa lampu penerangan.

Maka langkah logisnya adalah: kami harus balik kanan pulang.

Si kecil semakin bete. Dia mulai ngomel-ngomel, “Koq lama kita berhenti di sini?”

Rombongan Kloter II, mereka dari rekan-rekan Blitarian, yang mau ikut gathering menelpon saya. Mengabarkan kalo udah di tengah perjalanan namun pit-stop menunggu satu rekan lagi.

Sempat mengajak saya untuk menunggu hujan reda total dan melanjutkan perjalanan.

Reda total pun, kalo ini malam dan berkabut, tetep riskan bagi kami. Sementara mereka semua punya senjata wiper.

Akhirnya saya putuskan tetep balik kanan.

SS III: Parkir Sejam.

Lalu-lintas di jalan raya Surabaya – Tulungagung di depan SPBU ini udah tampak mulai ramah. Akhirnya kami nekat: pulang!

Namun situasi alam masih belom mendukung kondisi perjalanan darurat kami.

Gerimis semakin pekat dan setengah hujan.

Memasuki kawasan Keras, Kediri, kecamatan terakhir yang berbatasan dengan Ngantru, Tulungagung, gerimis semakin memadat dan mulai menjadi hujan. Semakin ke utara semakin deras.

Jika awalnya saya berjalan di tepi dengan menyalakan lampu hazard, kali ini kembali nekat. Saya buka kaca, saya longokkan kepala, dan jalan normal!

Tujuannya: segera nyampe SPBU terdekat di depan, yakni SPBU Keras.

Jalanan kali ini melewati area persawahan tanpa rumah.

Dari depan, mata ini dihantam sorot lampu plus guyuran air hujan. Mata udah perih aja rasanya. Perihnya bisa ditahan sebenarnya, cuman meski “sepele” gini, ini udah kategori taruhan nyawa.

Jangan pernah niru apa yang saya lakukan ini.

Beberapa kali saya harus hard-braking/ngerem kenceng mendadak karena susah memperkirakan jarak dengan motor di depan saya.

Sekali juga ada mobil dari depan nyalip dan nyaris ciuman ke kepala saya. Saya sempat sedikit banting setir ke kiri.

Dan entah gimana ini rancangan spion, sorot lampu mobil di belakang saya ternyata nyampe juga ke mata saya.

Gila, asli gila!

Beruntung SPBU udah kelihatan di depan mata.

22:00 | Keras, Kediri.

Kami parkir lagi.

Ibunya si kecil udah sesenggukan menahan tangis.

Susah menggambarkan seremnya kejadian ini jika ndhak mengalaminya langsung.

Meski banyak kejadian yang juauuuhhh lebih seram dari kenekatan yang saya alami, tapi sekali lagi, ini sebenarnya urusannya udah sama taruhan nyawa.

***

Akhirnya kami pit-stop lagi sekitar sejam di SPBU Keras. Si kecil udah ngorok di bangku belakang. Kasihan, dia jadi korban ulah bapaknya ini. Maafkan Bapakmu ini Nak…

Hingga hari semakin malam, lalu-lintas semakin berkurang, dan hujan semakin reda. Saya putuskan lanjut jalan.

Alhamdulillah perjalanan kali ini lumayan diayomi Gusti Allah.

Saya ngikuti Seniyapansa di depan yang jalan lempeng.

Gerimis benar-benar kecil intensitasnya meski tidak bisa dikatakan reda total. Masih ada tetesan air jatuh dari langit meski sangat reda intensitasnya.

Plus dibantu lampu penerangan jalan yang mulai berjajar di kiri-kanan.

***

Masuk kota Kediri, gerimis semakin reda hingga reda total. Namun kaca depan udah buram karena cipratan air bercampur lumpur sebelum-sebelumnya. Beberapa kali saya sambil nggosokkan lap ke kaca kanan-atas, di arena depan pandangan saya.

23:0 | Rumah, Kediri.

Kami nyampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan tanpa kurang suatu apa.

Namun perjalanan kali ini membuat saya langsung teringat almarhum Bapak. Almarhum Bapanda saya dulu adalah pensiunan dari perusahaan tambang asing. Pensiun, beliau bertani, jadi pemasok beras, sama bikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang khusus spesial masang lantai marmer ke rumah-rumah.

Disiplinnya tinggi meski beliau adalah orang yang super penuh kompromi. Orangnya keras, khas manusia berdarah Ponorogo. Namun jiwanya lembut. Bapak ndhak bisa-an nolak orang minta tolong.

Sejak SMA, saya magang jadi supirnya. Pulang sekolah ndhak ada acara belajar atau bermain. Langsung ‘kerja’ nganter Bapak keluar kota ngurusi macem-macem.

Dan setiap mau luar kota/jalan jauh, saya selalu diwajibkan muteri mobil.

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

Cek:

  • Bodi: posisi kendaraan enak dilihat, ndhak ‘pincang’. Cek ada bodi yang semplah apa ndhak.
  • Ban ada yang gembos apa ndhak. Pastikan tapak ban masih layak.
  • Semua fluida: minyak rem, air radiator, oli berkurang dari batasnya apa ndhak.
  • Semua lampu: lampu utama, lampu belakang/tail-lamp, lampu rem/stop-lamp, sein-sein dll. nyala apa ndhak.
  • Instrumen-cluster jalan semua apa ndhak.
  • Wiper pastikan nyala.
  • Spion pastikan ndhak pecah atau buram. Atur sudut spion sesuai pandangan.
  • Saat mesin nyala, cek ada kebocoran anggaran… eh, cairan di kolong mobil apa ndhak.
  • Pastikan sabuk pengaman berfungsi normal.
  • Saya kurang suka nglakson, saya buenci klakson sebenarnya. Tapi klakson nyala itu penting.

Pastikan:

  • Dan pastikan ban serep sama tool-kit lengkap tersedia!

Cadangkan:

  • Fluida: air radiator, minyak power-steering, oli, minyak rem juga disiapkan.
  • Bohlam-bohlam: headlamp, foglamp, tail-lamp, stop/brake-lamp, turn-signal, license plate-lamp.
  • Sekring dan relay. Biasanya siy di fuse-box emang udah ada slot buat sekring dan relay cadangan.
  • Cadangkan fuel-pump juga!

Ritual dan rutinitas yang menjemukan bagi saya. Tapi Bapak selalu memerintahkannya sambil mengawasi saya dari dekat. Dan kalo ada hal yang diputuskan membahayakan: batalkan perjalanan!

AC mati masih bisa dinikmati. Wiper mati?

Audio mati sama sekali tak mengganggu perjalanan dan bahkan bisa nambah konsentrasi. Fuel-pump mati?

Jok sobek paling urusannya sama gengsi. Ban pecah?

Pastikan rumah dalam keadaan aman kalo ditinggalkan tanpa orang: kompor mati – cabut gas jika perlu, perangkat listrik yang perlu dimatikan udah mati. Jangan lupa pula berdoa sebelum perjalanan dan tinggalkan pesan ke sesiapa yang Anda anggap penting. Kalo ada apa-apa jadinya jelas kita tadi mau perjalanan ke mana.

Siapkan juga nomor keluarga di rumah. Amit-amit, in case terjadi apa-apa di jalan, polisi/rumah sakit bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.

Dan inilah pentingnya perawatan berkala kendaraan: untuk memastikan kendaraan dalam kondisi fit dan tidak membahayakan keselamatan. Termasuk bagian dari perawatan berkala adalah: kesehatan sasis – ada yang retak atau ndhak; elektrikal sehat apa ndhak; dan kaki-kaki mau copot apa ndhak.

Jadwal perawatan berkala kendaraan bisa Anda simak di sini https://m.facebook.com/notes/323699264381705/jadwal-perawatan-bmw/530192663732363/

***

Jangankan urusan perjalanan yang memang langung berhadapan dengan pertaruhan nyawa; bahkan untuk urusan “sepele” yang “jauh dari nyawa” seperti memaku, menggergaji, dll. Bapak juga “kelewatan” aturannya.

Saat orang lain dengan santainya pakai kaos dan berkaki-tangan telanjang, bagi kami urusan “sepele-sepele” itu artinya musti ada ritual pake kaca mata keselamatan, sarung tangan, dan sebagainya.

Helm dan sepatu safety kadang membuat tampilan kami jadi lucu dibanding orang sekitar yang melakukan kegiatan “sepele” yang sama.

Kini saat beliau udah kembali pulang ke hadirat-Nya, saya baru merasakan apa maksud dan tujuan ini semua.

– Freema HW,
masih terus belajar jadi bapak.

Siang ini saya ketik posting ini, langit di atas sana masih terlapisi mendung tipis sejak pagi tadi. Matahari sama sekali tak menyengat kulit sejak tadi.

*SS = Special-Stage, trip di antara dua jarak. Biasanya dipakai di kejuaraan rally. Mustinya sub-judul di post ini saya pakai pit-stop, bukan SS. Tapi iseng aja saya pakai SS, biar lebay gichu. 😉

*Sumber inspection-check adalah pengalaman pribadi, namun banyak referensi yang menjelaskan ini semua. Terima kasih telah menambahkan pengalaman pribadi atau referensi Anda di bawah ini untuk melengkapi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s