Jangan Pernah Lelah Untuk Mencintai Indonesia

“Yang paling tidak mengerti, biasa paling keras memaki.”

“Saya disumpah untuk taat pada hukum dan undang-undang. Selama aspirasi rakyat tidak melanggar hukum pasti diperjuangkan!”

“Jangan pernah lelah untuk mencintai Indonesia.”

“Kamu-kamu belajar yang rajin, jauhi narkoba, sayangi teman. Suatu hari gantikan kami ya?”

Ridwan Kamil

Ngerti Apa Ora, Ngerti Ndhak?

Saya ini gini: kalo yang melakukan suatu kesalahan adalah musuh/lawan saya, akan saya hujat habis-habisan. Pokoknya dia harus salah. Kalo dia melakukan hal yang baik atau benar, maka harus saya sembunyikan, tidak boleh saya akui. Sebab kalo saya sampai mengakui, berarti saya kalah.

Tapi kalo yang melakukan kesalahan sama adalah temen saya, akan saya bela mati-matian. Pokoknya dia ndhak boleh salah. Dan kalo dia melakukan hal yang baik atau benar, maka harus saya blow-up besar-besaran berulang-ulang. Karena saya harus benar tanpa pernah bisa salah.

Saya ini subyektif. Otak (obyektivitas, logika, rasio) saya harus tunduk dengan emosi saya dan kepentingan/kalangan saya, bukan kepentingan bersama semuanya. Apalagi kepentingan Tuhan. Tuhan punya kepentingan apa sih sama kita?

Subyektivitas saya pasti benar, karena saya punya banyak teman yang berpandangan sama. Yang beda pandangan, berarti dia salah.

Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan kepentingan/kalangan saya, bukan kepentingan bersama semuanya.

Tidak ada lagi percampuran benar dan salah, baik dan buruk dalam satu makhluk ciptaan Tuhan. Saya harus menentukan bahwa ini harus benar dan ini harus salah. Tidak boleh ada kenyataan bahwa ada percampuran keduanya dalam satu makhluk ciptaan Tuhan.

Kenyataan harus diganti dengan persepsi yang saya ciptakan.

Dan Tuhan baiknya istirahat saja. Sayalah yang menentukan mana yang baik mana yang buruk, dan mana yang salah serta mana yang benar. Tak perlu Tuhan untuk urusan ginian.

Inilah saya. Yang masih punya musuh/lawan dan punya sekutu/kawan.

– Freema HW
manusia benar tanpa pernah bisa salah.

Helix Terakhir Saya

Saya bukan maniak atau fanatis ke salah satu merk oli. Jujur, saya sering gonta-ganti merk oli, meskipun bukan berarti tiap ganti oli saya selalu ganti merk. Prinsip yang saya pegang: oli sesuai speks pabrikan, atau tertera di rekomendasi buku manual, selesai perkara.

Sebenarnya kalo nuruti buku manual, pilihan olinya malah duikittt! Maklum, ini mobil taon ’90an, era segitu belom banyak pilihan oli apalagi oli sintetis atau “oli canggih” yang klaimnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Halah…

Di buku manual yang saya pegang, malah yang di-approve oleh pihak BMW untuk ini E34 M60 530i AT ’95 salah satunya yang paling saya inget adalah Pertamina Mesran Super!

Lainnya itu kebanyakan merk asing dan merk-merk tua. Aral, yang sama-sama merk perantauan dari Jerman, adalah oli ‘default’ buat ini mobil kala barunya.

Pertamina Prima XP belom masuk list oli approved di ini buku manual. Apalagi oli-oli jenis baru yang ‘barusan’ keluar kemarin-kemarin ini.

Kata orang, gonta-ganti merk oli itu ndhak baik. Aditifnya ndhak sama, konon malah bikin masalah. Tapi ganti olinya nyaris selalu pake flushing. Oli bisa terkuras dengan relatif sempurna. Mudah-mudahan demikian. 😛

Pertamina Prima XP 20W-50 lumayan sering saya pakai. Soale ini harga per galonnya yang paling murah. Maklum, sekali ganti oli ini Badak V8 nenggak 7,5 litres. Dua kalinya mobil kebanyakan di jalanan. Alhasil tiap ganti oli saya selalu beli dua galon, sisa setengah liter.

Drunken master emang, ya bensinnya ya olinya. 😀 Meski sodaranya yang 6 silinder nenggaknya ndhak sedikit juga: 6 litres.

Shell Helix HX3 warna merah yang sama-sama 20W-50 harganya juga sama. Tapi dengan spek dan harga yang sama, saya pilih Prima XP karena alasan nasionalisme.

Biar kata Pertamina kadang saya denger kena berita miring, saya tetep berharap bahwa rupiah yang saya belanjakan untuk itu Prima XP bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara.

Meskipun habis belanja produk Pertamina, saya kembali ambil nafas panjang. Bukan karena harganya, melainkan karena aspektasi saya. Benarkah semua rupiah keuntungan oli Pertamina ini untuk negara, atau hanya untuk ngasih makan komplotan Senayan?

Entahlah…

Sayangnya, baik Prima XP maupun Helix XH3, konon punya reputasi gampang bikin sludge di mesin BMW. Dan entah dengan kondisi mesin si Badak, say abelom pernah bongkar atasannya soale. Cuman nginceng ruang bakar aja yang … ya begitulah, ada kotorannya tentunya, tapi masih bisa saya mahfumi. *ngeles* *menghiburdiri*

Kalo kata Om Abi siy, oli paling enak buat BMW itu FUCHS (bahasa Jerman untuk bahasa Inggris Fox), yang juga merk pendatang dari Jerman. Cuman FUCHS harganya lumayan bikin F*CK! Eh…

Namun yang paling sering saya pakai kalo saya inget-inget, adalah Shell Helix HX5 15W-50. Harapannya, pas dingin naiknya oli lumayan cepet, sementara pas panas kekentalannya sesuai. Suara mesin enak halus.

Harga Helix HX5 kala itu kalo ndhak salah sekitar 1,5x lipatnya Prima XP atau HX3.

Pernah saya nyoba yang 10W-40 punya Castrol, mengingat bahwa BMW belakangan itu menjalin kerja sama dengan Castrol, tapi suara mesin rasanya malah kasar. Berisik, gemericik.

Pas balik ke 15/20W-50, alus lagi.

Yakh, mungkin mesin tua, yang rancang bangunnya belom sepresisi mesin-mesin era milemiun, plus ditambah kilometer pakai yang lumayan, tentu membuat oli encer malah ndhak optimal dipakai.

Tapi tua-tua gini, ini mobil udah pake HVA – Hydraulic Valve Adjuster. Yang mana kesehatan oli musti terjaga, biar HVA ndhak rusak karena kekeringan karena kurang/telatnya pasokan oli.

Dan mesin-mesin mobil era sekarang, olinya tambah kebangeten encernya. Lumrah mobil sekarang olinya pake 5W-30 bahkan 0W-20! Ya wajar sih, di dalam mesin mereka bisa dibilang setengahnya komponen mekanis setengahny alagi komponen elektris. Itu di dalam mesin lho, bukan di luar mesin!

Alamaak…

Bener-bener transisi untuk pelan-pelan memberangus mesin dan menggantikannya dengan (mobil)listrik emang udah disiapkan sejak luuuaaamaaa!

Bentar lagi mungkin semua mobil udah ndhak pake oli(mesin). Ya karena udah pake motor listrik semua. Sekarang aja mobil listrik udah bisa dibilang merajalela meski masih sangat jauh dari kata dominan.

Well, let’s see ajalah kalo kita ndhak bisa (baca: mau) to make/produce them…. Hiks…

Ini kebetulan di bagasi ada sisa oli cadangan, Shell Helix HX5 yang masih edisi 15W-50. Dalam kemasan seliter. Segelnya masih utuh wal rapi jali. Kinclong manis legit, ciamik beganda. Cuman badan/stiker labelnya aja jamuran. Mungkin karena kotor dan lembab.

Sebenarnya ada dua liter, yang seliter udah saya tuang ke mesin, buat tambahan. Cuman saya lupa mesin Badak atau mesin Kijang. 😀

Sekarang Helix HX5 berubah jadi 15W-40. Alhasil, ganti oli terakhir kemarin saya pakai AGIP 20W-50. Karena harganya sama dengan Prima XP, namun klaim pihak penjual: kilometer penggantiannya lebih panjang.

Namun kali ini meski harganya sama dengan Prima XP, saya pilih AGIP karena satu hal menarik: kemasannya keren. Posturnya rebah alih-alih berdiri tinggi macam produk oli lainnya. 😀 Ndhak ada hubungannya banget kan? 😀

Dan entah oli cadangan ini akan saya apakan. Mungkin akan saya simpan buat kenangan, meski dia nanti bakal basi. Kecuali ada yang mau nuker dengan beberapa(gepok) lembar merah Soekarno-Hatta, yaaa… mau gimana lagi, ya gpp deh kalo terpaksa harus saya lepas. *ngarep* *Dzigggh!*

Sekarang, saya pingin nyari oli 15W-50 lagi. Atau 10W-50 siy gpp, asal harganya murah. Soale makin lebar rentang xW-xx, harganya makin ajib.

Salah satu pilihan 15E-50 adalah Pertamina Fastron Techno 15W-50. Tapi entah di Kediri sini mana yang jual, di toko oli besar langganan saya ndhak pernah ada produk ini. Entah kalo di toko lain.

FUCHS saat ini udah saya pakai di motor matic. Biasa, aliran ‘oli sesat’ gitu. 😀 Hehehehe…

Saya sebenarnya lebih suka ganti oli murah aja, namun sering. Ketimbang ganti oli mahal meskipun lama. Cuman jujur, saya ganti olinya tetep pake patokan km, dan saya abaikan unsur (lamanya)waktu.

Sering ganti oli dan ngecek aki basah, membuat saya merasa terus connecting dengan mobil.

Bagaimana dengan (oli)Anda?

– FH0W-50

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

SS I: Parkir Sejam.

Semalam ada kejadian lucu sekaligus mengenaskan sekaligus konyol plus membahayakan keselamatan buat kami. Kemarin sore kami -saya, si kecil, dan ibunya- berangkat mau gathering ke Pantai Prigi, Trenggalek, menyusul rombongan Kedirian yang udah jalan duluan ke sana.

15:00 | Kediri.

Sebelum berangkat, saya sudah sadar kalo wiper saya mati. Sempat saya cek sekringnya, aman. Mungkin relay-nya mati, mungkin soket/rumah relay-nya ngepong, entah juga kalo modulnya.

Saya nekat, sementara ini musim penghujan.

Dan akhirnya inilah harga yang harus saya bayar.

Beru setengah jam jalan, hujan deras mendadak turun. Alhamdulillah posisi hanya beberapa ratus meter sebelum SPBU. Saya parkir di SPBU.

Sekian menit saya nyalakan mesin dan AC, kemudian saya matikan. Lama kelamaan mulai pengap, kami sempat buka pintu/jendela sedikit. Lama kelamaan air mulai banyak mencriprat, nyalakan mesin dan AC lagi.

Hiks, buang-buang bensin jadinya…

SS II: Parkir Empat Jam.

Hujan kemudian lumayan reda dan hari masih terang. Lumayan reda, sebab ndhak sepenuhnya reda. Masih ada rintik-rintik kecil.

Jalanan memang terlihat dan pandangan masih aman. Saya nekat terus jalan hingga 30an km, udah sampai masuk wilayah Tulungagung. Namun tetep saja kondisi ini mengharuskan saya beberapa kali minggir dan ngelap kaca depan (windshield) dengan lap chamois. Sepanjang 30km ini, saya berhenti sekitar tiga kali untuk ngelap kaca depan.

Masuk wilayah Tulungagung, hujan turun deras lagi. Hari mendadak gelap dan emang udah mau berganti malam.

Jalanan mulai kabur dan meremang. Posisi hujan, saya nekat buka kaca dan melongokkan kepala ke luar agar bisa liat jalan, sambil mengikuti mobil depan saya yang berjalan meminggir soale menghindari jalan yang sedang dalam pebaikan (namun para pekerja sedang istirahat semua).

Allah emang Maha Pemurah. Kami masih dikasih keselamatan: saya ndhak menanduk itu jejeran alat berat yang parkir dalam diam dan gelap.

17:00 | Ngantru, Tulungagung.

Dalam pandangan yang semakin tak kelihatan karena hujan yang semakin menderas, Alhamdulillah lagi kami bisa masuk ke SPBU Ngantru, SPBU pertama masuk kawasan Tulungagung.

Kali ini hujan deras sederas-derasnya. Di area parkir itu SPBU, mungkin karena paving-block-nya agak merendah, ada genangan air se-mata kaki.

Banyak pemotor yang juga beristirahat.

Kami istirahat di dalam mobil. Karema derasnya hujan yang membuat hawa dingin banget, kami ndhak terlalu lama menyalakan mesin dan AC. Lumayan lama kami cuman diam di dalam kabin. Sambil mengurangi gerakan.

Kala mulai pengap, kami buka pintu bentar. Hawa dingin dan hembusan angin langsung menghantam dalam kabin.

Begitu berulang-ulang.

***

Hampir empat jam, hujan mulai mereda dan menyisakan gerimis. Sayangnya, ini gerimis serasa tak mau berkurang intensitasnya. Di jalanan depan SPBU, pemotor sudah mulai berlalu lalang tanpa jas hujan. Ini malam minggu dan malam hari besar Sura/Muharram. Jalanan lumayan ramai.

Meskin bagi pemotor aman, bagi kaca depan ini tetep akan jadi masalah besar.

Pandangan redup-remang, hari yang telah malam, serta kena pancaran lampu dari depan, plus seruas jalanan yang sedang ditongkrongi barisan alat berat tadi, akan jadi penyebab sempurna untuk celaka.

21:00 | Ngantru, Tulungagung.

Tentu ini mustahil untuk lanjut ke Prigi. Apalagi rekan-rekan yang udah duluan nyampe juga mengabarkan kalo di sana juga hujan meski ndhak deras. Plus jalanan nantinya akan melewati kawasan hutan dan jurang, yang gelap tanpa lampu penerangan.

Maka langkah logisnya adalah: kami harus balik kanan pulang.

Si kecil semakin bete. Dia mulai ngomel-ngomel, “Koq lama kita berhenti di sini?”

Rombongan Kloter II, mereka dari rekan-rekan Blitarian, yang mau ikut gathering menelpon saya. Mengabarkan kalo udah di tengah perjalanan namun pit-stop menunggu satu rekan lagi.

Sempat mengajak saya untuk menunggu hujan reda total dan melanjutkan perjalanan.

Reda total pun, kalo ini malam dan berkabut, tetep riskan bagi kami. Sementara mereka semua punya senjata wiper.

Akhirnya saya putuskan tetep balik kanan.

SS III: Parkir Sejam.

Lalu-lintas di jalan raya Surabaya – Tulungagung di depan SPBU ini udah tampak mulai ramah. Akhirnya kami nekat: pulang!

Namun situasi alam masih belom mendukung kondisi perjalanan darurat kami.

Gerimis semakin pekat dan setengah hujan.

Memasuki kawasan Keras, Kediri, kecamatan terakhir yang berbatasan dengan Ngantru, Tulungagung, gerimis semakin memadat dan mulai menjadi hujan. Semakin ke utara semakin deras.

Jika awalnya saya berjalan di tepi dengan menyalakan lampu hazard, kali ini kembali nekat. Saya buka kaca, saya longokkan kepala, dan jalan normal!

Tujuannya: segera nyampe SPBU terdekat di depan, yakni SPBU Keras.

Jalanan kali ini melewati area persawahan tanpa rumah.

Dari depan, mata ini dihantam sorot lampu plus guyuran air hujan. Mata udah perih aja rasanya. Perihnya bisa ditahan sebenarnya, cuman meski “sepele” gini, ini udah kategori taruhan nyawa.

Jangan pernah niru apa yang saya lakukan ini.

Beberapa kali saya harus hard-braking/ngerem kenceng mendadak karena susah memperkirakan jarak dengan motor di depan saya.

Sekali juga ada mobil dari depan nyalip dan nyaris ciuman ke kepala saya. Saya sempat sedikit banting setir ke kiri.

Dan entah gimana ini rancangan spion, sorot lampu mobil di belakang saya ternyata nyampe juga ke mata saya.

Gila, asli gila!

Beruntung SPBU udah kelihatan di depan mata.

22:00 | Keras, Kediri.

Kami parkir lagi.

Ibunya si kecil udah sesenggukan menahan tangis.

Susah menggambarkan seremnya kejadian ini jika ndhak mengalaminya langsung.

Meski banyak kejadian yang juauuuhhh lebih seram dari kenekatan yang saya alami, tapi sekali lagi, ini sebenarnya urusannya udah sama taruhan nyawa.

***

Akhirnya kami pit-stop lagi sekitar sejam di SPBU Keras. Si kecil udah ngorok di bangku belakang. Kasihan, dia jadi korban ulah bapaknya ini. Maafkan Bapakmu ini Nak…

Hingga hari semakin malam, lalu-lintas semakin berkurang, dan hujan semakin reda. Saya putuskan lanjut jalan.

Alhamdulillah perjalanan kali ini lumayan diayomi Gusti Allah.

Saya ngikuti Seniyapansa di depan yang jalan lempeng.

Gerimis benar-benar kecil intensitasnya meski tidak bisa dikatakan reda total. Masih ada tetesan air jatuh dari langit meski sangat reda intensitasnya.

Plus dibantu lampu penerangan jalan yang mulai berjajar di kiri-kanan.

***

Masuk kota Kediri, gerimis semakin reda hingga reda total. Namun kaca depan udah buram karena cipratan air bercampur lumpur sebelum-sebelumnya. Beberapa kali saya sambil nggosokkan lap ke kaca kanan-atas, di arena depan pandangan saya.

23:0 | Rumah, Kediri.

Kami nyampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan tanpa kurang suatu apa.

Namun perjalanan kali ini membuat saya langsung teringat almarhum Bapak. Almarhum Bapanda saya dulu adalah pensiunan dari perusahaan tambang asing. Pensiun, beliau bertani, jadi pemasok beras, sama bikin usaha kontraktor kecil-kecilan yang khusus spesial masang lantai marmer ke rumah-rumah.

Disiplinnya tinggi meski beliau adalah orang yang super penuh kompromi. Orangnya keras, khas manusia berdarah Ponorogo. Namun jiwanya lembut. Bapak ndhak bisa-an nolak orang minta tolong.

Sejak SMA, saya magang jadi supirnya. Pulang sekolah ndhak ada acara belajar atau bermain. Langsung ‘kerja’ nganter Bapak keluar kota ngurusi macem-macem.

Dan setiap mau luar kota/jalan jauh, saya selalu diwajibkan muteri mobil.

Pre-Driving Inspection, The Safety Check

Cek:

  • Bodi: posisi kendaraan enak dilihat, ndhak ‘pincang’. Cek ada bodi yang semplah apa ndhak.
  • Ban ada yang gembos apa ndhak. Pastikan tapak ban masih layak.
  • Semua fluida: minyak rem, air radiator, oli berkurang dari batasnya apa ndhak.
  • Semua lampu: lampu utama, lampu belakang/tail-lamp, lampu rem/stop-lamp, sein-sein dll. nyala apa ndhak.
  • Instrumen-cluster jalan semua apa ndhak.
  • Wiper pastikan nyala.
  • Spion pastikan ndhak pecah atau buram. Atur sudut spion sesuai pandangan.
  • Saat mesin nyala, cek ada kebocoran anggaran… eh, cairan di kolong mobil apa ndhak.
  • Pastikan sabuk pengaman berfungsi normal.
  • Saya kurang suka nglakson, saya buenci klakson sebenarnya. Tapi klakson nyala itu penting.

Pastikan:

  • Dan pastikan ban serep sama tool-kit lengkap tersedia!

Cadangkan:

  • Fluida: air radiator, minyak power-steering, oli, minyak rem juga disiapkan.
  • Bohlam-bohlam: headlamp, foglamp, tail-lamp, stop/brake-lamp, turn-signal, license plate-lamp.
  • Sekring dan relay. Biasanya siy di fuse-box emang udah ada slot buat sekring dan relay cadangan.
  • Cadangkan fuel-pump juga!

Ritual dan rutinitas yang menjemukan bagi saya. Tapi Bapak selalu memerintahkannya sambil mengawasi saya dari dekat. Dan kalo ada hal yang diputuskan membahayakan: batalkan perjalanan!

AC mati masih bisa dinikmati. Wiper mati?

Audio mati sama sekali tak mengganggu perjalanan dan bahkan bisa nambah konsentrasi. Fuel-pump mati?

Jok sobek paling urusannya sama gengsi. Ban pecah?

Pastikan rumah dalam keadaan aman kalo ditinggalkan tanpa orang: kompor mati – cabut gas jika perlu, perangkat listrik yang perlu dimatikan udah mati. Jangan lupa pula berdoa sebelum perjalanan dan tinggalkan pesan ke sesiapa yang Anda anggap penting. Kalo ada apa-apa jadinya jelas kita tadi mau perjalanan ke mana.

Siapkan juga nomor keluarga di rumah. Amit-amit, in case terjadi apa-apa di jalan, polisi/rumah sakit bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.

Dan inilah pentingnya perawatan berkala kendaraan: untuk memastikan kendaraan dalam kondisi fit dan tidak membahayakan keselamatan. Termasuk bagian dari perawatan berkala adalah: kesehatan sasis – ada yang retak atau ndhak; elektrikal sehat apa ndhak; dan kaki-kaki mau copot apa ndhak.

Jadwal perawatan berkala kendaraan bisa Anda simak di sini https://m.facebook.com/notes/323699264381705/jadwal-perawatan-bmw/530192663732363/

***

Jangankan urusan perjalanan yang memang langung berhadapan dengan pertaruhan nyawa; bahkan untuk urusan “sepele” yang “jauh dari nyawa” seperti memaku, menggergaji, dll. Bapak juga “kelewatan” aturannya.

Saat orang lain dengan santainya pakai kaos dan berkaki-tangan telanjang, bagi kami urusan “sepele-sepele” itu artinya musti ada ritual pake kaca mata keselamatan, sarung tangan, dan sebagainya.

Helm dan sepatu safety kadang membuat tampilan kami jadi lucu dibanding orang sekitar yang melakukan kegiatan “sepele” yang sama.

Kini saat beliau udah kembali pulang ke hadirat-Nya, saya baru merasakan apa maksud dan tujuan ini semua.

– Freema HW,
masih terus belajar jadi bapak.

Siang ini saya ketik posting ini, langit di atas sana masih terlapisi mendung tipis sejak pagi tadi. Matahari sama sekali tak menyengat kulit sejak tadi.

*SS = Special-Stage, trip di antara dua jarak. Biasanya dipakai di kejuaraan rally. Mustinya sub-judul di post ini saya pakai pit-stop, bukan SS. Tapi iseng aja saya pakai SS, biar lebay gichu. 😉

*Sumber inspection-check adalah pengalaman pribadi, namun banyak referensi yang menjelaskan ini semua. Terima kasih telah menambahkan pengalaman pribadi atau referensi Anda di bawah ini untuk melengkapi.