(Manusia Sampah,) Sampah Manusia

Sepeda motor, kalo enggak salah jenis Honda Vario warna hitam-merah nopol AG5250GH(?), dikendarai sepasang suami-istri, melintasi jalan antar desa dari desa sebelah masuk ke desa kami.

Dari atas jembatan kecil sungai perbatasan desa, pengendaranya melempar sebonggol kantung kresek (sampah detected) ke sungai yang lokasinya cuman beberapa meter di belakang rumah.

Bapakne Rahman yang kebetulan bermotor dari arah berlawanan melihatnya.

Motor tersebut lantas dicegat oleh Bapakne Rahman, dia hadangkan motornya di depan motor mereka.

Bapakne Rahman: “Ngapunten, ingkang njenengan bucal teng lepen wau sampah?”

– Misi Pak, yang bapak buang ke sungai tadi sampah?

Pemotor: (cengengesan) “Hehehe… Iya…”

Bapakne Rahman: “Lain kali mbok dibuang di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di selatan situ.. Kasihan sungainya kotor, siapa yang mbersihkan ntar?”

Seratus meter dari rumah ada TPS yang udah lama disediakan oleh pemerintah.

Pemotor: “Nggih Pak…” Sambil tetep cengengesan dan langsung tancap gas.

***

Lainnya kejadian ini, seringkali di depan/samping rumah ada sampah plastik berserakan.

Beberapa kali kami lihat dari kejauhan/dalam rumah, ada anak berseragam, pulang sekolah dibonceng (mustinya) ibundanya, membuang gelas plastik bekas minuman atau plastik pembungkus kudapan begitu saja sambil melaju dari atas motor.

Doakan sekali waktu kami bisa memergoki mereka dan menangkap tangan langsung.

Sungguh, kami hendak bikin perhitungan.

Yang ada di pikiran kami bukan memarahi atau minta upeti kompensasi kepada mereka.

Yang ada di pikiran kami: kami hendak menghadap pak Lurah desa kami atau Lurah desa sebelah kalo mereka warga desa sebelah yang sering melintasi jalanan depan/samping kami, dan bersama/disaksikan perangkat desa, kami akan membuang sampah di depan rumah mereka.

Kami pingin lihat, mereka itu manusia yang punya akal dan perasaan atau bukan ketika orang lain membuang sampah seenaknya di depan rumah mereka.

Itu masih di halaman rumah kita, sanksi terdekatnya mungkin cuman dari si pemilik rumah.

Kami juga sering melihat bonggolan kantung-kantung kresek, sebagian isi sampahnya udah berserakan, dibuang di jalanan antar desa sisi lain, tepatnya jalan antar desa Doko dan desa Burengan – Kediri yang kebetulan jalanan tersebut melintasi area persawahan dan agak jauh dari permukiman terdekat.

Sampah adalah pangkal kerusakan. Oleh karena itu, sampah musti kita kelola penanganannya.

Kalo sampah itu kita buang di halaman tanah negara, atau kita serakkan di hamparan bumi Allah, maka urusannya pasti adzab: banjir, penyakit, dan degradasi mental serta kualitas kehidupan.

Tidak sadarkah kita bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik? So, kalo kita berbuat kerusakan, maka rahmat Allah bakal jauh dari kita.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:56)

– Deasy & Freema
belajar menjadi manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s