Flashlight

Menemani Bapakne Rahman mencari lampu senter ke hipermarket, saat saya tanya kenapa tidak beli yang murah saja (bukan barang “bermerk (ternama)/branded“), toh sama-sama LED? Dia jawab:

  • Kualitasnya LED-nya mungkin beda: dengan spek/wattage yang sama, tingkat terang/lumens-nya bisa jadi beda telak.
  • Pun urusan daya tahan, lampu senter/flashlight LED branded bahan casing-nya kerasa lebih firm gitu. Dan daya tahan pakai lampu LED-nya mungkin juga beda panjang umur pakainya.
  • Belom masalah temperatur warna (colour temperature) atau tingkat Kelvin-nya: LED branded biasanya justru diproduksi dengan temperature cahaya lebih warm alias berangka Kelvin lebih rendah (mungkin sekitar 4500-5000 Kelvin atau mustinya kurang dari 6000 Kelvin) alias ada unsur kekuningan gitu di pancaran cahayanya.

    Sementara LED “biasa” umumnya punya temperatur warna lebih cool alias berangka Kelvin lebih tinggi, biasanya 6000 Kelvin bahkan mungkin lebih alias warna cahayanya lebih putih dan cenderung kebiruan.

    Bukannya lebih keren yang putih bersih gitu dengan sedikit nuansa biru, ketimbang yang warna cahayanya warm?

    Sesuai teori fisika dan kenyataan di lapangan, warna mendekati kekuningan justru lebih mudah menembus kegelapan, atau ketika kondisi di luar berkabut, dia justru lebih sanggup menembus kabut. Itulah kenapa lampu kabut di kendaraan dibikin berwarna kuning/kekuningan.

    Sementara warna cahaya yang putih apalagi kebiruan malah akan memantul balik dan tidak sanggup menembus pekat, khususon kabut.

    Dengan kalimat sederhana: warna cahaya yang putih mengarah biru itu itu memang kelihatan keren namun tidak terlalu fungsional.

Selain lampu senter/flashlight, lampu/bohlam LED di rumahan jika kita amati juga dirancang/diproduksi dengan prinsip senada. Kami sempat membandingkan sendiri sebuah bohlam LED “biasa” dan yang “branded” yang dengan wattage sama harganya dua kali lipat dari yang biasa, kesimpulan kami usai mencoba di ruangan yang sama:

  • Tingkat terangnya (Lumens) bohlam LED ‘branded’ kami nilai dan kami rasakan memang dua kalinya, bahkan lebih sepertinya, dibanding bohlam LED ‘biasa’, apalagi dibanding dengan yang ‘abal-abal’.
  • Bohlam LED ‘branded’ temperatur warnanya putih yang lebih warm meski judul variannya ‘cool daylight’, sementara bohlam LED ‘biasa’ temperatur warnanya lebih cool dan mengandung semburat kebiruan dan malah kurang enak di mata, semacam malah terlalu menyilaukan mata namun tidak terlalu memberikan terang di ruangan.

Akhirnya saya bisa memahfumi kenapa Bapakne Rahman memilih dan memutuskan mengeluarkan nominal rupiah dua kali lipat untuk membeli lampu senter bermerk ternama.

***

LANTAS kenapa kami mencarinya ke hipermarket? Kenapa tidak ke toko elektronik dekat pasar besar yang umumnya menjual barang yang sama dengan harga (lumayan jauh) lenbih murah?

Kalo barang yang sama ada siy, Bapakne Rahman pasti langsung ke sana. Dan itulah kebiasaannya saat membeli barang. Meski konsekuensinya harus rela antri berdesakan: baik berdesakan dengan barang dagangan yang makan dominan space toko dan menyisakan secuil lorong untuk pembeli maupun berdesakan dengan pembeli lain yang kelakuannya sama: rela berdesakan demi mendapatkan harga murah.

Yakh, beda memang dengan di supermarket apalagi hipermarket yang tempatnya nyaman ber-AC, yang mana kenyamanan itu memang kita beli dengan tingginya harga jual barang yang ada.

Namun, ini Kediri. Pedagang dekat hanya akan menjual barang yang bisa dibeli pembelinya alias sesuai dengan target dan segmentasi pasar yang ada; demikian kata Bapakne Rahman. Untuk lampu senter bermerk (kondang)/branded ternyata toko-toko elektronik itu nyaris tak ada yang mau nyetok.

Kebetulan untuk case nyari senter bermerk (kondang)/branded ini sementara kami memang baru menemukannya di hipermarket yang notabene dominan/mayoritas jenis produknya berlaku/tersedia secara nasional/nationwide. Akhirnya mau enggak mau, kami memutuskan membelinya dari sana.

***

Lainnya itu, kami menemukan sedikit data sebagai berikut:

  • Sebuah lampu senter merk lokal yang lumayan berkualitas, bukan ‘merk abal-abal’, di hipermarket dijual seharga 43rb sementara di supermarket barang yang sama persis dijual 45rb.
  • Ini yang ada mengejutkan: batere hi-power merk lokal ternama dan superkondang, di hipermarket dijual 13rb dengan isi dua butir, sementara di supermarket dengan rupiah yang sama dapat paket berisi 2+1 alias tiga butir. Dan di warung sebelah isi dua butir terakhir kami membeli untuk ganti batere remote malah dijual cuman 9rb!
  • Yang ini kami malah enggak terkejut: bohlam LED sebuah merk dan tipe/varian yang sama, di toko bangunan/elektronik dekat pasar dijual seharga 65rb, di hipermarket masih 100rb lebih.

    Tebakan kami: itu stok luuuama yang belom terkena koreksi harga. Karena tiga kali kami beli lampu LED di toko elektronik yang sama dekat pasar, dan untuk barang dengan merk dan spek/tipe yang sama, kami sempat membelinya dengan tiga harga yang berbeda, karena ada koreksi/penurunan harga dari produsen; namun juga dengan model/bentuk yang berbeda, semacam di-facelift atau disegarkan ulang gitu.

Yakh, setidaknya kini saya sedikit mengerti tentang lampu, benda yang menerangi kita dari kegelapan.

Semoga kita semua bisa menjadi lampu bagi diri kita, bagi sekitar kita, dan bagi dunia – alam raya, tanpa membedakan apa dan siapa yang kita terangi. Karena apapun dan siapapun yang kita terangi, jika kita memang meneranginya dari kegelapan maka hasilnya mustinya cuman kebaikan dan hanya kebaikan adanya, sesuatu yang berlaku bagi semuanya.

– Deasy Widiasena,
saat kecil sudah bisa mengganti batere dan bohlam/dop lampu senter jadul. 😀

Gambar hanya ilustrasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s