The Cok-e Machine: Bukan Resensi

Ini bukan resensi. Dan bukan sinopsis. Kami beli buku ini dengan alasan, pertama: judul dan tampangnya menggelitik/menarik perhatian.

Dan alasan kedua yang membuat kami tak bisa membantah untuk membelinya: setelah kami tanyakan/pastikan ke pramuniaga, ini buku diskon 70%, tinggal 30% dari harganya asalnya!

Entah karena ia buku keluaran luama yang overstock; entah dia buku ndhak laku di pasar Indonesia karena isinya terlalu bermutu sehingga “terlalu berat” untuk publik sini; atau ndhak laku karena isinya memang ndhak bermutu,

kami kurang paham karena ia terbungkus hotwrap. Kami hanya bisa mbaca teaser di backcover.

Belakangan setelah nyampe rumah dan kami telanjangi wrapping-nya, ini buku rilisan 2011 di sini dari asalnya lahiran 2010.

Entah kenapa kami baru menemukannya tahun ini. Di toko buku miskin rupa namun kaya diskon yang biasa kami kunjungi memang jarang memajang judul-judul dari barisan itu genk penerbit. Sementara, toko buku yang segrup dengan itu genk penerbit malah jarang kami kunjungi. Soale tokonya kaya rupa tapi miskin diskon. πŸ˜›

Dan mungkin paket koneksi data kami kurang melimpah, sehingga kami belom menemukan wajah buku ini selama enam tahun ini kami berselancar di dunia maya. πŸ˜›

MENGINGAT dia diterbitkan oleh genk publisher toplist di negeri ini, susah untuk menilai bahwa isinya ndhak bermutu. Kami punya keyakinan: buku ini ndhak laku -sehingga didiskon 70%- karena isinya kelewat bermutu sekali sehingga malah “terlalu berat”, atau alusnya: kurang menarik minat, untuk pasar buku di negeri ini.

BTW, entah berapa nilai kapitalisasi pasar buku di negeri ini. Saat kami jalan-jalan ke itu mall, banyak pengunjung berkerumun di slot pakaian dan aneka kebutuhan lebaran. Hanya ada bapak tua sedang asyik melihat-lihat ditemani istrinya yang hanya diam saja. Plus anak -mungkin usia SD atau SMP- melihat-lihat aneka macam komik ditemani -kalo kami menebak- neneknya.

Oh negeriku… Lebih ramai toko baju ketimbang toko buku. 😦

Tapi baiklah, eureka! Dan buku-buku kayak ginilah yang kami sukai, kami demeni, pake banget: buku-buku dengan bobot mantabs, dengan harga yang diskon habis-habisan (karena ndhak laku)!

Ini rasanya seperti membeli BMW bekas: harga seperempatnya mobil sejuta umat, namun dengan safety & comfort empatbelas kali lipatnya! πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

Hehehehe…. πŸ˜€

TRUS gimana isinya ini buku? Sekeren ‘jaminan mutu’ dari genk penerbitnyakah?

Mari kita mulai baca. πŸ˜›

FYI untuk buku semacam ini, atau buku-buku apapun yang kami beli, nawaitu kami meluaskan wawasan. Bukan menjatuhkan suatu brand (tak terkalahkan) apalagi melahirkan dan beranak dendam pada merk tertentu. Sebab selain pada fakta dan nalar yang ada, kita tak akan pernah tau kebenaran sesungguhnya pada polah-tingkah merk-merk/korporasi lokal maupun nasional, besar maupun kecil, hingga di akhirat nanti.

Kami juga ada koq buku- buku yg mengupas “citra positif” pabrikan-pabrikan kondang dunia: Honda, Starbucks, McDonald. Trus kalo punya buku “citra positif”-nya gitu, lantas apakah ini artinya kita menjadi pembela dan pengunggul mereka/brand-brand itu?

Intinya untuk masalah buku, atau ilmu pengetahuan/knowledge, atau wawasan, atau informasi; kami tak ingin membatasi diri. Apalagi menjustifikasi sebuah buku melalui paham pribadi, melalui sudut pandang pribadi, dll.: ini salah, ini benar.

Tidak. Kami tidak mau, tidak bersedia, dan Insya Allah tidak (akan)pernah melakukan itu semua.

Semua buku berhak bicara dalam konteks buku, wawasan, dan informasi. Kamilah yang memilih dan memilah output hasil kami membaca. Tentu semua berdasarkan iman, takwa, dan kondisi sosial-masyarakat; tekstual dan kontekstual.

Pokoknya gitulah. πŸ˜€

***

Dan sejauh yang sudah-sudah, kami akui kami suka dengan buku-buku terjemahan -ala buku seperti ini- dari genk penerbit itu buku atau nama penerbit toplist lainnya. Bahkan sekalipun saat dijual tanpa diskon lebih dari sparrow harga.

TANPA bermaksud promosi, kami mendapatkannya di salah satu hipermarket di kota Kediri. Jika ada uang berlebih, mungkin buku ini bisa Anda beli, karena cuman seharga seperempat harga celana jins ala Tanah Abang.

Kalo toh nanti isinya ternyata isinya (ndhak mutu dan) bikin Anda serasa mau menendang pemain Euro2016 atau artis-artis infotainemen atau muka-muka politisi (atau ustadz-ustadz artis) di layar TV, setidaknya nantinya fisiknya bisa buat nyumpel sisi pinggir rak buku Anda.

Ini bukan sinopsis apalagi seuntai resensi. Ini cuman cerita lebay gimana kami ‘terpaksa’ memborong empat judul buku yang didiskon 70% sore kemarin.

– FreemaCola
– Freema “The Cok-e” Cola.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s