Damai

Ini kejadian sesungguhnya. Bukan pake asumsi, bukan pake itungan kira-kira.

Siang ini saya keluar “jalan-jalan” sama istri. Ke arah kota. Sebenarnya siy bukan jalan-jalan bersantai apalagi ngabuburit. Kami keluar rumah karena memang ada keperluan.

Melintasi satu ruas jalan kecil tapi rame di kota Kediri -kota yang punya banyak pondok pesantren meski tak dijuluki kota santri- ada beberapa sentra kuliner yang buka. Tanpa ditutup tirai. Dan kami menyaksikan sendiri ada kustomernya lagi makan.

Ada beberapa, bukan cuman satu dua. Meski ndhak rame banget kayak hari-hari biasanya, sebagaimana kami biasa menyaksikannya.

Di sini, fenomena razia warung makan jarang terdengar. Dan mungkin memang inilah ciri Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenapa?

Entah kenapa. Ini cuman kira-kira kami:

di Jatim dan Jateng itu sarangnya NU, kaum Islam sarungan. Merekalah kaum yang selama ini mengajarkan agama dengan sentuhan kalbu. Bukan agama yang cuman diukur dari tampakan luar/yang terlihat mata belaka.

Kaum sarungan inilah yang selama ini paling getol membela Pancasila dan tradisi kultural. Kegiatan keagamaan di kalangan kaum sarungan -yang mana sarung ini sendiri konon berasal dari era pra kedatangan Islam di nusantara- sering dileburkan atau tepatnya diwarnai dengan kegiatan budaya tradisional.

Dan kaum sarungan inilah yang dikenal paling kuat menjaga toleransi.

Bagi mereka, Islam adalah kekuatan yang harus diperkuat di dalam diri masing-masing individu. Bukan kuat karena bergerombol saja.

Karena itulah mungkin kenapa, itu beberapa warung makan yang kami lihat di sini enjoy aja buka, dan kustomernya -entah mereka siapa- juga tenang saja menyantap menu yang mereka pesan.

Sementara kala malam menjelang, di mushalla-mushalla, terawih tetep membludak. Meski biasanya semakin lama semakin mengalami ‘kemajuan’.

***

“Orang yang sibuk dengan keyakinan orang lain, boleh jadi karena kurang yakin dengan keyakinanya sendiri.” -Gus Mus-

NU ini memang biang perdamaian dan kedamaian. Dari ulama-ulama NU-lah sering keluat berbagai mutiara hikmah nan lembut tersampaikan, namun sangat mengena dan menyentuh batin. Menghidupkan semua jiwa yang bersedia mendengarkannya, sesiapapun kita apapun kondisi kita.

Bukan ungkapan-ungkapan keras ala semacam suku hobi perang – yang konon didalihkan sebagai keberanian dan ketegasan membela agama; membela kepentingan dan cara pandang mereka sendiri, tapi mereka sebut dengan membela agama. Konon demikian.

Saat ada segelintir pihak dengan lantang meneriakkan ‘kafir’, ‘sesat’, ‘bidah’, dll. kepada pihak lain, dengan dalih deskripsinya ada di Quran,

kaum sarungan NU malah sumeleh/rendah hati menganggap apa-apa deskripsi kafir-sesat dalam Quran itu tertujukan kepada diri kita sendiri ketimbang kepada orang lain.

Alhasil muncul-lah ungkapan sederhana namun penuh makna luas dan mendalam dari kalangan ini: “saya ini tidak pantas mendapatkan sorga, namun juga tak sanggup masuk neraka.”

Ungkapan yang setidaknya menunjukkan keinginan wajar mereka sebagai manusia, sekaligus kepasrahan bahwa kita manusia ini tempatnya salah dan dosa.

Belum lagi syiir yang kondang dati Gus Nizam, “Jangan hanya belajar syariat belaka; senang mengkafirkan orang lain, kafirnya sendiri tak dihiraukan.”

Belakangan ajakan kepasrahan kepada Allah Taala ala Gus Nizam ini terus ditolak dan ditolak terus dengan kampanye yang dirancang kontinyu: “Kafir itu sudah dijelaskan dalam Quran. Barangsiapa begini-begini dan tidak begini-begini, maka dengan tegas dan jelas: dia/mereka kafir!”

Bahasa NU yang penuh kekonteks-an, bahasa-bahasa yang sastrawi dan mendalam, yang perlu dicerna dengan pemikiran dan batin mendalam; terus-terusan disanggah dengan bahasa harfiah yang linear, yang cukup dibenarkan oleh segerombolan kalangan berpersepsi (garing) sesama.

MANUSIA SEJATI, SEJATINYA MANUSIA

Kalangan NU kental dengan julukan kyai, gus, dan sebagainya. Julukan kehormatan ‘kyai’ ini sudah ada pada era sebelum Islam datang ke nusantara, jadi bukan cuman kaum muslimin saja yang bisa mendapatkan julukan kehormatan ini. Itulah kenapa, mereka yang tak sepaham dengan jiwa kultural NU ndhak mau menggunakan julukan kehormatan ini.

Memahami bahasa NU memang memerlukan nawaitu yang kuat dan laku batin yang sungguh-sungguh. Kadang seuntai kalimat saja dari para kyai, itu berarti ribuan bahkan jutaan makna dalam sudut pandang batin yang kadang tak terungkapkan dengan lisan.

Semuanya, perlu laku batin: memejamkan mata fisik dan membuka mata batin dalam memandang segala sesuatu. Mulai dari hal kecil-sederhana dalam keseharian hingga hal besar: jalan yang terus kita cari guna menemukan Tuhan, Allah Yang Maha Haq.

Ini semua, sungguh berat diungkapkan.

Maka dari itu, santri-santri NU kadang jadi tampak udik bila diukur dengan modernisasi. Bayangkan, saat dunia sibuk mengkaji krisis sumber energi, kyai-kyai NU dengan santainya bilang, “Asal kita terus yaqin (kata yaqin ini diungkapkan sungguh dengan beratnya namun dengan sepenuh kemantaban dan diungkapkan beriringan dengan hembusan nafas nan mendalam) kepada Allah Taala, fainsya Allah pasti akan ada terus energi untuk hidup…”

Tanpa pernah bisa menyebutkan bentuknya, ada keyakinan batiniah yang rasanya tak pernah bisa diletakkan di meja ilmiah manapun dari kaum sarungan ini tentang adanya jaminan perputaran & keberlangsungan dunia, sekaligus adanya kepastian akan terhenti tiba-tiba saat hari akhir mendadak tiba.

Ini semua, bahasa-bahasa NU ini, sungguh berat dipahami. (Sekalipun NU juga memiliki sejumlah universitas dan lembaga pendidikan formal lainnya, disamping ribuan pesantren yang menjadi tonggak tegaknya bangsa dari jaman penjajahan hingga hari ini dan Insya Allah seterusnya, aamiin.)

Bahasa-bahasa NU ini jelas berbeda dengan mereka yang terus-menerus berkampanye dengan bahasa linier dan harfiah. Apalagi sudah memasukkan unsur hitung-hitungan, tentu akan lebih mudah dipahami oleh sesiapa saja yang cuman memainkan logika kulit dan miskin nalar batiniah.

Inilah yang terjadi era sekarang, banyak kaum berpendidikan, yang justru lari mencari “islam kulitan” yang lebih “mudah” dipahami. Mudah karena tak memerlukan kedalaman batin untuk memahaminya.

Kenapa?

Karena sistem pendidikan modern mungkin telah menjadi perpanjangan tangan kapitalisme sehingga banyak menghilangkan enrichment batiniah sebagaimana yang dilakukan NU, terutama melalui ribuan pondok pesantrennya.

Korban kapitalisme itu sendiri banyak di Jakarta. Kasarnya ngomong, 80% uang beredar di Indonesia ada di Jawa. 80% uang beredar di Jawa ada di Jakarta.

Kehidupan serba kapitalistik di Jakarta telah membuat seleksi alam. Yang sanggup berdamai dengan tuntutan pencarian materi demi hajat hidup plus tetap mengedepankan keluasan pandangan jiwa, telah membentuk kaum urban berhati terang tanpa identifikasi agama, yang mana mereka itu mengimplimentasikan idealisme hidup ala urban dengan langkah praktis, semacam menolak trotoar/pedestrian pejalan kaki dilalui motor atau dikooptasi pedagang kaki lima, menolak pemotor memotor jalan atau menerjang jalur, dll.

Itulah gerakan-gerakan spiritual hidup yang dibahasakan dengan bahasa urban.

Sementara yang belom sanggup seperti itu, sementara nilai-nilai tradisi sudah semakin memudar di kota besar, alhasil jadilah ‘kaum bingung’ dalam memaknai (implementasi)agama.

Nilai-nilai batiniah agama untuk bekal hidup akhirnya cuman bisa diserap menjadi agama sebagai bekal mati, karena bingungnya mereka memejamkan mata dan memandang hidup.

‘Manusia bingung’ seperti inilah -dan karena kejaran waktu serta ketatnya kompetisi (materialistis) hidup- akhirnya hanya sanggup menggapai agama/islam kulitan, serta menjadi sasaran empuk kaum tersembunyi yang mengolah dan memanfaatkan keberadaan mereka sebagai endorser gratisan.

Bukan cuman gratisan, alih-alih keluar biaya untuk membiayai para endorser, bisa jadi justru ada keuntungan finansial dari/yang malah disetor oleh para sukarelawan kampanye anti-kedamaian ini!

***

Itulah kenapa, NU kuat di basis nan jauh dari Jakarta, di lokasi yang kompetisi materialisme hidup masih relatif rendah. Dan itulah kenapa NU akan dianggap berbahaya. Itulah kenapa, NU harus dihancurkan. Karena NU bisa membuat para ‘manusia bingung’ -sekalipun tinggi strata kuliah mereka itu- bisa “menjadi manusia” (sejatining manungsa).

Dan jikamana manusia telah menjadi sejatining manusia, maka setan kapitalisme dan segala turunannya: kapitalisme kultural dan kultur kapitalisme, akan mati dengan sendirinya. Tentu ini adalah hal dibenci oleh mereka: pencipta, pengusung, dan penganut agama kapitalisme.

Menghancurkan NU akan laksana menghancurkan Islam, tidak bisa dari luar. Harus digerogoti dari dalam. Salah satu caranya, NU musti dijebak secara politis.

Meski tidak langsung melalui NU-nya, NU sukses bikin partai. Konyolnya, partainya kaum sarungan kini menjadi pendukung presiden, meski saya tau sendiri buuuanyakkk warga nahdiyin -bahkan Kyai Haji Hazim Muzaddi sendiri- bukan pendukung capres terpilih sekarang. Jadilah NU semakin menjadi sasaran gempuran aksi-aksi opositas, yakni aksi-aksi yang bukan untuk mengupas kekeliruan demi mencari bagaimana benarnya melainkan aksi yang dilakukan hanya untuk satu tujuan: menjatuhkan.

Masuk ranah politik yang meng-copas mentah demokrasi ala barat, adalah jerat awal NU yang sempat menyadari posisinya untuk kembali ke khittah/garis perjuangannya: mencerdaskan kehidupan batin bangsa.

Politik ala barat, apapun tema yang diusung: kerakyatan, ekonomi, sosial, bahkan agama, tetep saja = uang. Berbalik dengan politik jaman Rasulullah atau khalifah Umar: menjadi pejabat negara ini pasti bakal miskin secara politis.

NU masih akan terus kuat. Cendekiawannya yang dirahmati Allah masih terus muncul membela dan membentengi segala tudingan.

Namun tampaknya NU musti terus kontinyu mereview diri: terus perkokoh diri dengan konteks dan bahasa yang semakin kekinian, dan jangan pernah lelah untuk itu semua. Karena yang ndhak suka dengan NU/kaum muslim batiniah tampaknya masih punya banyak energi untuk terus menyerang kaum sarungan ini dengan isu-isu yang secara bombardir terus-terusan dan kontinyu diciptakan dengan paradigma dan persepsi mereka sendiri:

  • Dulu kondang diadu NU vs Muhammdiyah, dengan masalah penggunaan doa qunut. Akhirnya isu kuno ini tenggelam dengan sendirinya seiring konsistensi NU dan Muhammadiyah dengan keislamannya turut menjaga negara RI dan Pancasila.
  • Kemudian diadu Islam vs Kristen. Diciptakan kebencian luar biasa dari kaum muslimin ke kaum kristiani -pemeluk agama terbesar kedua di Indonesia- dengan isu-isu: tuhannya orang Kristen itu manusia, tuhannya orang Kristen ada tiga, hari Natal itu hari ngibul, dll. yang mana “sisa-sisa” kampanye jahiliyah ini kadang secara sporadis masih ada hingga sekarang. Namun tampaknya adu-domba gagal lagi. Orang mulai ndhak merasakan manfaat peningkatan ketaqwaan hanya dengan didoktrin “umat/agama lain itu salah”. Lagian, tau apa kita tentang agama orang lain. Makanya Quran jelas membekali kita dengan lakum dinukum waliyadin.
  • Belakangan muncul lagi isu syiah. NU cukup bijak menyikapi isu ini dengan ndhak mau memperkeruh masalah, hingga NU pun dicap pembela syiah atau bahkan syiah iyu sendiri. Dan isu ini perlahan menghilang meski sisa-sisanya masih dikoar-koarkan akun medsos kesiangan.
  • Sempat muncul lagi fenomena “Islam nusantara”. Penjelasan kaum sarungan tentang Islam bercorak nusantara -yang mustinya secara semantik atau terminologi atau apalah namanya lebih pas disebut dengan “muslim nusantara”- terus dibantah tanpa pernah didengar penjelasan-penjelasan yang ada. Belakangan isu ini tenggelam juga.
  • Sempat ramai, dan biasanya terus berulamg saat Natal, tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal. Kaum sarungan memang memperbolehkan pengucapan ini. Ya iyalah, iman dalam dada mereka semua kuat. Tak hilang hanya dengan mengucapkan selamat Natal. Dan kampanye kontra NU kembali diledakkan untuk menolak ini semua. Autokafir dan automurtad jadi topik terakhir yang kemudian tengggelam seiring berlewatnya hari Natal. Yang pasti, Natal berikut ntar pasti bakal muncul topik baru dengan tema sama: boleh atau tidak mengucapkan Natal.
  • Dan yang lagi hot saat ini sama juga, tema lama yang diolah lebih kekinian: gila hormat puasa. Seperti warung yang dirazia di seputaran Jakarta, sementara warung di kawasan NU yang kami saksikan sendiri tadi, itu warung dan pelanggannya tetep buka dan menikmati menu sajian. Dan di lokasi yang tak jauh dari situ, pada hari/jam berbeda pengajian tergelar secara kultural dan sanggup mendatangkan massa jibunan yang entah dari mana saja datangnya, seolah mereka muncul dari dalam bumi.

Ini semua jika kita lihat pola dan matriksnya, targetnya sama: (gempur terus) kaum NU sang pencipta dan pengawal kedamaian.

Ada yang sangat tidak menghendaki NU bisa terus eksis di bumi nusantara ini. Gempuran konsisten buat warga nahdiyin yang biasa menggelar tahlilan adalah kampanye: “Mereka ahlul-bidah, mencampuradukkan agama dan tradisi peninggalan agama lain,” dan seterusnya.

Penjelasan intelek dari para cendekiawan NU yang sangat rendah hati bahwa itu semua justru menjadi kekayaan warna Islam tanpa mengurangi esensinya sama sekali demi enlightment umat, jelas mustahil diterima. Benar atau salah, pokoknya NU harus salah!

Karena itu, NU perlu ditenggelamkan. Dengan terus menciptakan topik dan tema berulang-ulang yang selama ini di kalangan NU adalah hal yang “dibiarkan” (baca: ditoleransi) seperti pada contoh poin-poin di atas tadi.

Ingat saat NU menggelar Nusantara Mengaji beberapa bulan silam? Adakah acara ini ramai di medsos, di timeline/linimasa Anda?

Sepi bukan?

Ntar giliran ada isu baru telah digodok dan dihembuskan untuk mengganggu kedamaian dan ketenangan batin NU, sontak dan mendadak bakal meledak di linimasa semua saluran medsos.

Mendadak muncul meme-meme ndhak logis wal ndhak nyambung blass yang terus menyerang konsistensi idealisme kaum NU. Meme-meme yang muncul seringkali TANPA ADA YANG PERNAH TAU/TAK JELAS SIAPA PEMBUATNYA! Ya apa iya?

Lihat aja, usai Ramadhan ini dan seterusnya, akan selalu muncul tema dan topik baru dan isinya sama dan terus berulang-ulang, yang dikemas dengan lebih kekinian. Dan akan terus di-blow up oleh ‘manusia-manusia bingung’ yang belum menemukan kesejatian dirinya, kesejatian manusia-nya, sekalipun tinggi strata pendidikan ‘modern’-nya.

Satu yang pasti, energi kita selamanya hanya akan habis untuk terusan begini: bertikai. Hidup jadi terbelah karena ini semua. Targetnya: yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin terhisap darahnya untuk jadi tumbal kaum kaya.

Pemerataan (baca: penggerusan ketimpangan sosial) tak lagi ada, karena kekayaan alam negeri ini terus disedot di belakang punggung-punggung kita yang tak hentinya menjadi sukarelawan kampanye penggerogot kedamaian bangsa.

Padahal kedamaian itu adalah pangkal kematian setan.

IMHO, CMIIW.

– FHW,
bukan warga nahdiyin dan bukan pendukung Jokowi.

Diketik via 7″ tabpad.

Advertisements

2 thoughts on “Damai

  1. uedan, lengkap mas tulisannya, yah bagusnya ada mediator antara orang “kaya” ilmu dengan orang “haus” ilmu dengan penyampaian sederhana

    karna kapitalisme tadi manusia tidak sempat mencerna setiap ucapan seseorang

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s