Puasa Gila Hormat

Barisan orang cemen itu berkumpul dalam ketakutan: ketakutan puasa mereka terganggu karena adanya warung yang tetep buka di bulan Ramadhan.

Toleransi dibawa-bawa dalam ketakutan: takut liat pohon natal di mall atau bandara Ngurah Rai ditutup kala menghormati Nyepi. Dan mereka takut tidak mendapatkan kemanjaan yang sama. Trus teriak-teriak kenceng bahwa kalo memang ada toleransi, maka warung juga musti ditutup. Biar adil. Biar fair.

Well… puasa koq cuman bisa terganggu sama itu semua ya? Di mana puasanya? Meski warung buka selebar-lebarnya, orang yang nawaitu puasa pasti cuek dan sama sekali ndhak tergoda cuman liat tumpukan menu Padang.

Orang yang nawaitu puasa, pasti bingung kalo ada orang kesusahan nyari warung makan. Kalo orang nawaitu puasa, dengan sadar dan ikhlas dia pasti akan gupuh menunjukkan: “Silakan ke sana Mas/Mbak, di sana ada warung buka. Silakan segera makan sebelum pingsan!”

Bukannya, “Woi, ini puasa; tutup warung ente! Woi, ini puasa; sana, kagak boleh makan di depan ane!!!”

Urusan makanan aja masih lemah, apalagi puasa sesungguhnya: menahan segala godaan dalam hidup ini. Ramadhan sebulan aja udah kocar-kacir imannya, apalagi menjalankan Ramdhan sesungguhnya: dari Ramadhan hingga Ramadhan lagi.

Dalam bahasa yang bergonti-ganti, berulang-ulang masih saja ada yang terus gila hormat. Susah dipahami bahwa mau mereka adalah membangun peradaban dalam iman. Yang terlihat sepertinya adalah mereka berkomplot dalam ketakutan. Ketakutan karena lemahnya iman.

***

Iman dan takwa, sepertinya kini digeser mati-matian menjadi urusan ritual belaka: urusan input perilaku. Bukan lagi urusan output perilaku.

Kalo orang beneran puasa dan beriman, sekalipun ada perempuan telanjang di depannya, hati tak akan bisa tergoda. Dan cukup badan bergerak mengambilkan pakaian. Atau memberikan makan. Atau mencarikan pekerjaan. Atau mendoakan, dalam selemah-lemahnya iman.

Bukan meneriaki dengan sorga dan neraka.

Agama kini menjadi bahan untuk menilai orang lain. Agama kini telah menjadikan manusia berkomplot untuk menggantikan gusti Allah di muka bumi: merekalah yang memegang kebenaran dan menentukan kesalahan.

Tuhan kini bukan lagi disembah secara sesungguhnya. Tuhan kini sukses kita jadikan berhala: Tuhan harus nurut apa kemauan kita! Kata sebuah posting: alam semesta telah kita perkosa bagi kita.

Kita masih kenceng meneriakkan Allah itu ahad, satu, esa. Tapi kelakuan kita telah mengangkangi kekuasaan Allah: kebenaran kita yang menentukan, kesalahan kita yang memutuskan. Ente masuk sorga atau ente masuk neraka, semua menurut apa kata kita. Bukan apa keputusan Gusti Allah Nan Maha Bijaksana di padang pengadilan hari nanti.

***

Agama kini bukan lagi digunakan untuk bagaimana kita berperilaku kepada orang lain, kepada semesta alam.

Mungkin banyak muslim berusaha meningkatkan ibadah, tapi nyatanya malah menyungsepkan keimanannya: takut sama hal-hal sepele yang sesungguhnya begitu mudah diatasi dengan (kuatnya) iman.

Mungkin banyak muslim yang meningkatkan takwa cuman dengan: koar-koar kencang melaknatan kebathilan, ketimbang dalam senyap menebarkan yang haq.

Mungkin banyak muslim yang sibuk beribadah, namun justru membiarkan dunia dalam kehancuran.

Mungkin banyak muslim yang terus kembali berkomplot dalam ketakutan dan kecemenan. Bukan menyebar diri dan menebar rahmat.

Mungkin banyak muslim yang sibuk beribadah, sampai-sampai lupa bertuhan.

Ndhak usah dianggep omongan saya. Masuk neraka ntar sampeyan. Anggeplah omongan mereka yang super kenceng teriak agama itu. Biar masuk surga. Surga ilusi.

Ndhak usah dianggep omongan saya. Saya ini ndhak pecus beragama koq! Goblok banget sampeyan ndengerkan omongan saya?

Pasti di mata mereka saya ini kafir, sesat, bidah. GPP. Yang pasti, kebathilan hanya akan terjungkal jika haq adalah output kontinyu kita.

– FHW,
Bismillah, lillahitaala adalah urusan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s