Shadowmasochist

Namanya Ardian “Boeng” Satriyo Adi (Satriyadi). Tinggal di Kediri kerja di Trenggalek. Dulunya doi pengguna sebuah mobil merk Jepang bertipe 323 (namun tanpa ‘i’ tentunya).

Udah enak-enak pake itu mobil, eh lha koq dijual trus dituker sama BMW E30 M10 – si Item julukannya; mobil yang membuatnya buingung setengah waras karena mencari dimana posisi karburatornya. Dan besoknya doi tambah bingung setelah tau kalo mobilnya, yang keluaran era ’80an itu, udah injeksi.

Sejak itu, dimulailah satu demi satu petaka berkelanjutan dalam hidupnya.

Diawali dengan mesin kasar. Eh ternyata ndhak nyana: cuman karena filternya kotor. Sesuatu yang takkan terjadi di mobil kebanyakan: mesin kasar karena filter kotor.

Untunglah cuman filter. Bukan turun mesin. Well, solved.

Doi mulai meringis riang dan bergaya senang. Naik BMW cuy! Biarpun cuman mobmwil tua bmwangka, namun ternyata lebih nyaman ketimbang mini MPV 7 seater yang baru keluar dealer. Dan doi mulai bisa melaksanakan ritual sesat di jalan yang benar: perawatan rutin dan perbaikan berkala mobmwil tua bmwangka-nya.

***

Namun keceriaan ini tak berlangsung lama. Belakangan cobaan tak henti datang mendera, segala ujian tak kunjung berhenti menerpa. Masalah timbul silih berganti serasa tak lekang oleh waktu.

Setir si Item, mulai amburadul rasanya. Badan Lik Ardian kembali lemas lunglai meratapi nasib. Tapi doi tak mau terlalu lama menahan duka. Sepaket steering rack punya BMW E36 pun ditebus.

Solved. Doi kembali cengengesan di sepanjang perjalanan. Lebih cengengesan lagi saat doi mengkisahkan mobilnya yang hendak diangkat sama tukang parkir.

Ceritanya doi parkir di teras pertokoan, menghadap jalan. Eh dihalanglintangi sama mini MPV 7 seater yang diparkir pararel dengan hand brake aktif.

Melihat situasi yang lumayan genting dan khawatir jadi runyam, berpotensi menimbulkan chaos di masyarakat, sekawanan tukang parkir secepat kilat menggelar rapat dan membuat analisis serta memutuskan ketetapan: bahwa lebih mudah mengangkat moncong si Item agar menyerong sedikit, karena ada cukup celah untuk bisa meloloskan diri dari halangan dan rintangan si mini MPV.

Selanjutnya empat manusia perkasa bergelar tukang parkir bersatu padu melawan penjajah, eh mengangkat moncong si Item.

Hasilnya? Si Item tak bergeming sama sekali. Yang ada malah terdengar deru pacu nafas empat bapak yang bekerja keras untuk ngasih makan anak-istrinya di rumah: sekawanan tukang parkir yang ndhak sanggup mengangkat moncong si Item dan gagal menggesernya menyerong.

Jadilah waktu berhenti berdetak dalam diam. Dunia berputar sungguh lambat menanti kedatangan supir bajingan mini MPV tersebut.

***

Terakhir yang membuat Lik Ardian frustasi tujuh level langit adalah saat gearboxnya ambrol karena kehabisan oli transmisi karena bocor gradual (kita biasa menyebutnya: bocor alus).

Itu semua belom seberapa sebenarnya. Satu kisah yang paling epic, masih masa awal barusan meminang itu si Item E30 M10, power steering-nya bermasalah. Bocor sana sini.

Berkali-kali dipanggilkan tukang, dari yang sesumbarnya jaminan pijat urat hingga engsel keseleo (ini montir mobil apa tukang pijet badan ya yang dipanggil? Entahlah), nyatanya tak pernah solved.

Alhasil, itu power steering akhirnya diamput-asi, dilepas begitu saja dan jadilah sebuah BMW E30 M10 dengan powered sepiring. Eh, powered steering. Sintingnya, doi menikmati kegiatan “gym lengan by driving” ini. :O ~> Indikasi shadowmasochist.

Sepanjang hayat itu si Item jadi piaraannya, doi udah turing ke mana-mana, masih dalam batas karesidenan siy, tanpa PS (baca: power steering).

Mendadak

Tampaknya Lik Ardian lelah juga dengan derita hidup tak berkesudahan karena miara BMW. Parts harus pesan ke kota besar. Bengkel pun tak semua sanggup merawatnya. Meski ada satu orang gila sembunyi di pelosok pedalaman sini dan bisa menangani segala macam penyakit BMW; mulai panu kadas kurap dan kutu air, hingga meracik mobil balap yang sanggup jadi juara umum di Sirkuit Sentul. Namanya Abi Bintara, mekanik gila dari goa batu.

Singkat cerita, diiringi gemuruh angin dan gelegar ombak (padahal Kediri ndhak punya pantai), ditambah dentuman guntur dan keributan burung-burung di angkasa serta ribuan hewan berlarian di hutan, karena tak lagi kuasa menahan beban hidup ini, alhasil si Item dijual dengan rasa hati hampa:

… antara rindu dan dendam berbaur menjadi satu. Tangis dan tawa beraduk bercarut marut. Antara lega dan sesak berguling-guling dalam hati sang tuannya.

Begitu usai si Item dijual, dunia mendadak lengang. Pepohonan diam. Daun pun tiada bergoyang. Laut pun begitu tenang. Tiada ombak. Angin sungguh serasa tak bertiup.

Dunia mendadak tenang. Semua berbalik menjadi nyaman kala si Item dijual. Satu bimmerfan telah berhasil membebaskan diri dari masalah bawaan semua supir biem: parts mahal dan susah dicari, perawatan ndhak gampang, dijual kembali jeblok.

Dan sengkarut jiwa dan kegalauan batin Lik Ardian musti segera diakhiri. Hidup harus terus berlanjut dan tak boleh berhenti dalam keterpurukan. Begitu mungkin yang ada di pikiran Lik Ardian.

Hingga pada suatu hari dalam semua ketenangan dan kedamaian muka bumi ini, Lik Ardian beserta Istri sudah sepakat dan bulat hendak meminang sebuah mobil Jepang. Unit sudah dilihat, barang sudah dicek, kondisi sudah ditest.

Tinggal pulang untuk besoknya balik bawa duit dan kembali ke rumah bawa unit.

Eh lha koq besoknya, alih-alih tinggal mbayari itu mobil Jepang yang udah diliat sebelomnya, doi malah mendadak berbelok dan menebus sebuah E36! BMW E36 M52B25 MT!

Es di kutub langsung pecah terbongkah. Air di semua laut mendadak surut tersedot ke dalam palung-palung. Samudera Atlantik mendadak kering-kerontang, samudera Pasifik mendadak tampak dasarnya dan jadi hamparan pasir yang membentang tak berujung. Planet bumi mendadak mantul-mantul dari garis rotasinya. Rembulan pun sampai mencelat hingga mendekat Mars;

monyet dan simpanse serta orang utan langsung berhenti meloncat dan menjatuhkan buah pisang yang udah di depan mulut dan nyaris dilahapnya, moncong mereka semua menganga;

… jagad raya terkejut mendengar kabar si burung tentang perubahan keputusan yang maha mendadak ini!

***

Tampaknya Lik Ardian memang pengidap shadowmasochist. Doi justru menikmati kenikmatan sengsaranya miara BMW.

Baru beberapa waktu doi dapet itu E36, film-striptease di MAF-nya udah putus gara-gara sama doi dibersihkan pake cotton bud. Yakh, kadangkala pepatah para orang tua emang terbukti: niat baik (membersihkan MAF memang) belom tentu hasilnya baik.

Pfiuh… Goblok koq dipiara. Gila koq dipertahankan. Keblondhrok (terjerumus) koq diteruskan. Kecemplung koq dinikmati. Hadew weleh-weleh…

Udah sejurus mau jadi waras hidupnya, kini nasibnya kembali lagi seperti semula sediakala: edan miara BMW lagi.

NDHAK habis pikir saya dengan orang macam dia. Apalagi sama yang namanya Cak Rizal yang lantang mengepalkan tangan dan meneriakkan: “Rocker juga manusia!” Eh, “Saya kapok kalo ndhak miara BMW lagi!”

Udah gitu malah dunia tambah diyakinkan sama Lik Alka: “Let’s feel-free to keblondhrok!”

Maaak! Mereka semua kumpulan shadowmasochist! :O

Ya Maroon, lindungi aku dari godaan E36 yang lucu…

– Freema HW,
tukang.

Flashlight

Menemani Bapakne Rahman mencari lampu senter ke hipermarket, saat saya tanya kenapa tidak beli yang murah saja (bukan barang “bermerk (ternama)/branded“), toh sama-sama LED? Dia jawab:

  • Kualitasnya LED-nya mungkin beda: dengan spek/wattage yang sama, tingkat terang/lumens-nya bisa jadi beda telak.
  • Pun urusan daya tahan, lampu senter/flashlight LED branded bahan casing-nya kerasa lebih firm gitu. Dan daya tahan pakai lampu LED-nya mungkin juga beda panjang umur pakainya.
  • Belom masalah temperatur warna (colour temperature) atau tingkat Kelvin-nya: LED branded biasanya justru diproduksi dengan temperature cahaya lebih warm alias berangka Kelvin lebih rendah (mungkin sekitar 4500-5000 Kelvin atau mustinya kurang dari 6000 Kelvin) alias ada unsur kekuningan gitu di pancaran cahayanya.

    Sementara LED “biasa” umumnya punya temperatur warna lebih cool alias berangka Kelvin lebih tinggi, biasanya 6000 Kelvin bahkan mungkin lebih alias warna cahayanya lebih putih dan cenderung kebiruan.

    Bukannya lebih keren yang putih bersih gitu dengan sedikit nuansa biru, ketimbang yang warna cahayanya warm?

    Sesuai teori fisika dan kenyataan di lapangan, warna mendekati kekuningan justru lebih mudah menembus kegelapan, atau ketika kondisi di luar berkabut, dia justru lebih sanggup menembus kabut. Itulah kenapa lampu kabut di kendaraan dibikin berwarna kuning/kekuningan.

    Sementara warna cahaya yang putih apalagi kebiruan malah akan memantul balik dan tidak sanggup menembus pekat, khususon kabut.

    Dengan kalimat sederhana: warna cahaya yang putih mengarah biru itu itu memang kelihatan keren namun tidak terlalu fungsional.

Selain lampu senter/flashlight, lampu/bohlam LED di rumahan jika kita amati juga dirancang/diproduksi dengan prinsip senada. Kami sempat membandingkan sendiri sebuah bohlam LED “biasa” dan yang “branded” yang dengan wattage sama harganya dua kali lipat dari yang biasa, kesimpulan kami usai mencoba di ruangan yang sama:

  • Tingkat terangnya (Lumens) bohlam LED ‘branded’ kami nilai dan kami rasakan memang dua kalinya, bahkan lebih sepertinya, dibanding bohlam LED ‘biasa’, apalagi dibanding dengan yang ‘abal-abal’.
  • Bohlam LED ‘branded’ temperatur warnanya putih yang lebih warm meski judul variannya ‘cool daylight’, sementara bohlam LED ‘biasa’ temperatur warnanya lebih cool dan mengandung semburat kebiruan dan malah kurang enak di mata, semacam malah terlalu menyilaukan mata namun tidak terlalu memberikan terang di ruangan.

Akhirnya saya bisa memahfumi kenapa Bapakne Rahman memilih dan memutuskan mengeluarkan nominal rupiah dua kali lipat untuk membeli lampu senter bermerk ternama.

***

LANTAS kenapa kami mencarinya ke hipermarket? Kenapa tidak ke toko elektronik dekat pasar besar yang umumnya menjual barang yang sama dengan harga (lumayan jauh) lenbih murah?

Kalo barang yang sama ada siy, Bapakne Rahman pasti langsung ke sana. Dan itulah kebiasaannya saat membeli barang. Meski konsekuensinya harus rela antri berdesakan: baik berdesakan dengan barang dagangan yang makan dominan space toko dan menyisakan secuil lorong untuk pembeli maupun berdesakan dengan pembeli lain yang kelakuannya sama: rela berdesakan demi mendapatkan harga murah.

Yakh, beda memang dengan di supermarket apalagi hipermarket yang tempatnya nyaman ber-AC, yang mana kenyamanan itu memang kita beli dengan tingginya harga jual barang yang ada.

Namun, ini Kediri. Pedagang dekat hanya akan menjual barang yang bisa dibeli pembelinya alias sesuai dengan target dan segmentasi pasar yang ada; demikian kata Bapakne Rahman. Untuk lampu senter bermerk (kondang)/branded ternyata toko-toko elektronik itu nyaris tak ada yang mau nyetok.

Kebetulan untuk case nyari senter bermerk (kondang)/branded ini sementara kami memang baru menemukannya di hipermarket yang notabene dominan/mayoritas jenis produknya berlaku/tersedia secara nasional/nationwide. Akhirnya mau enggak mau, kami memutuskan membelinya dari sana.

***

Lainnya itu, kami menemukan sedikit data sebagai berikut:

  • Sebuah lampu senter merk lokal yang lumayan berkualitas, bukan ‘merk abal-abal’, di hipermarket dijual seharga 43rb sementara di supermarket barang yang sama persis dijual 45rb.
  • Ini yang ada mengejutkan: batere hi-power merk lokal ternama dan superkondang, di hipermarket dijual 13rb dengan isi dua butir, sementara di supermarket dengan rupiah yang sama dapat paket berisi 2+1 alias tiga butir. Dan di warung sebelah isi dua butir terakhir kami membeli untuk ganti batere remote malah dijual cuman 9rb!
  • Yang ini kami malah enggak terkejut: bohlam LED sebuah merk dan tipe/varian yang sama, di toko bangunan/elektronik dekat pasar dijual seharga 65rb, di hipermarket masih 100rb lebih.

    Tebakan kami: itu stok luuuama yang belom terkena koreksi harga. Karena tiga kali kami beli lampu LED di toko elektronik yang sama dekat pasar, dan untuk barang dengan merk dan spek/tipe yang sama, kami sempat membelinya dengan tiga harga yang berbeda, karena ada koreksi/penurunan harga dari produsen; namun juga dengan model/bentuk yang berbeda, semacam di-facelift atau disegarkan ulang gitu.

Yakh, setidaknya kini saya sedikit mengerti tentang lampu, benda yang menerangi kita dari kegelapan.

Semoga kita semua bisa menjadi lampu bagi diri kita, bagi sekitar kita, dan bagi dunia – alam raya, tanpa membedakan apa dan siapa yang kita terangi. Karena apapun dan siapapun yang kita terangi, jika kita memang meneranginya dari kegelapan maka hasilnya mustinya cuman kebaikan dan hanya kebaikan adanya, sesuatu yang berlaku bagi semuanya.

– Deasy Widiasena,
saat kecil sudah bisa mengganti batere dan bohlam/dop lampu senter jadul. 😀

Gambar hanya ilustrasi.

The Cok-e Machine: Bukan Resensi

Ini bukan resensi. Dan bukan sinopsis. Kami beli buku ini dengan alasan, pertama: judul dan tampangnya menggelitik/menarik perhatian.

Dan alasan kedua yang membuat kami tak bisa membantah untuk membelinya: setelah kami tanyakan/pastikan ke pramuniaga, ini buku diskon 70%, tinggal 30% dari harganya asalnya!

Entah karena ia buku keluaran luama yang overstock; entah dia buku ndhak laku di pasar Indonesia karena isinya terlalu bermutu sehingga “terlalu berat” untuk publik sini; atau ndhak laku karena isinya memang ndhak bermutu,

kami kurang paham karena ia terbungkus hotwrap. Kami hanya bisa mbaca teaser di backcover.

Belakangan setelah nyampe rumah dan kami telanjangi wrapping-nya, ini buku rilisan 2011 di sini dari asalnya lahiran 2010.

Entah kenapa kami baru menemukannya tahun ini. Di toko buku miskin rupa namun kaya diskon yang biasa kami kunjungi memang jarang memajang judul-judul dari barisan itu genk penerbit. Sementara, toko buku yang segrup dengan itu genk penerbit malah jarang kami kunjungi. Soale tokonya kaya rupa tapi miskin diskon. 😛

Dan mungkin paket koneksi data kami kurang melimpah, sehingga kami belom menemukan wajah buku ini selama enam tahun ini kami berselancar di dunia maya. 😛

MENGINGAT dia diterbitkan oleh genk publisher toplist di negeri ini, susah untuk menilai bahwa isinya ndhak bermutu. Kami punya keyakinan: buku ini ndhak laku -sehingga didiskon 70%- karena isinya kelewat bermutu sekali sehingga malah “terlalu berat”, atau alusnya: kurang menarik minat, untuk pasar buku di negeri ini.

BTW, entah berapa nilai kapitalisasi pasar buku di negeri ini. Saat kami jalan-jalan ke itu mall, banyak pengunjung berkerumun di slot pakaian dan aneka kebutuhan lebaran. Hanya ada bapak tua sedang asyik melihat-lihat ditemani istrinya yang hanya diam saja. Plus anak -mungkin usia SD atau SMP- melihat-lihat aneka macam komik ditemani -kalo kami menebak- neneknya.

Oh negeriku… Lebih ramai toko baju ketimbang toko buku. 😦

Tapi baiklah, eureka! Dan buku-buku kayak ginilah yang kami sukai, kami demeni, pake banget: buku-buku dengan bobot mantabs, dengan harga yang diskon habis-habisan (karena ndhak laku)!

Ini rasanya seperti membeli BMW bekas: harga seperempatnya mobil sejuta umat, namun dengan safety & comfort empatbelas kali lipatnya! 😛 😛 😛 😛

Hehehehe…. 😀

TRUS gimana isinya ini buku? Sekeren ‘jaminan mutu’ dari genk penerbitnyakah?

Mari kita mulai baca. 😛

FYI untuk buku semacam ini, atau buku-buku apapun yang kami beli, nawaitu kami meluaskan wawasan. Bukan menjatuhkan suatu brand (tak terkalahkan) apalagi melahirkan dan beranak dendam pada merk tertentu. Sebab selain pada fakta dan nalar yang ada, kita tak akan pernah tau kebenaran sesungguhnya pada polah-tingkah merk-merk/korporasi lokal maupun nasional, besar maupun kecil, hingga di akhirat nanti.

Kami juga ada koq buku- buku yg mengupas “citra positif” pabrikan-pabrikan kondang dunia: Honda, Starbucks, McDonald. Trus kalo punya buku “citra positif”-nya gitu, lantas apakah ini artinya kita menjadi pembela dan pengunggul mereka/brand-brand itu?

Intinya untuk masalah buku, atau ilmu pengetahuan/knowledge, atau wawasan, atau informasi; kami tak ingin membatasi diri. Apalagi menjustifikasi sebuah buku melalui paham pribadi, melalui sudut pandang pribadi, dll.: ini salah, ini benar.

Tidak. Kami tidak mau, tidak bersedia, dan Insya Allah tidak (akan)pernah melakukan itu semua.

Semua buku berhak bicara dalam konteks buku, wawasan, dan informasi. Kamilah yang memilih dan memilah output hasil kami membaca. Tentu semua berdasarkan iman, takwa, dan kondisi sosial-masyarakat; tekstual dan kontekstual.

Pokoknya gitulah. 😀

***

Dan sejauh yang sudah-sudah, kami akui kami suka dengan buku-buku terjemahan -ala buku seperti ini- dari genk penerbit itu buku atau nama penerbit toplist lainnya. Bahkan sekalipun saat dijual tanpa diskon lebih dari sparrow harga.

TANPA bermaksud promosi, kami mendapatkannya di salah satu hipermarket di kota Kediri. Jika ada uang berlebih, mungkin buku ini bisa Anda beli, karena cuman seharga seperempat harga celana jins ala Tanah Abang.

Kalo toh nanti isinya ternyata isinya (ndhak mutu dan) bikin Anda serasa mau menendang pemain Euro2016 atau artis-artis infotainemen atau muka-muka politisi (atau ustadz-ustadz artis) di layar TV, setidaknya nantinya fisiknya bisa buat nyumpel sisi pinggir rak buku Anda.

Ini bukan sinopsis apalagi seuntai resensi. Ini cuman cerita lebay gimana kami ‘terpaksa’ memborong empat judul buku yang didiskon 70% sore kemarin.

– FreemaCola
– Freema “The Cok-e” Cola.

Damai

Ini kejadian sesungguhnya. Bukan pake asumsi, bukan pake itungan kira-kira.

Siang ini saya keluar “jalan-jalan” sama istri. Ke arah kota. Sebenarnya siy bukan jalan-jalan bersantai apalagi ngabuburit. Kami keluar rumah karena memang ada keperluan.

Melintasi satu ruas jalan kecil tapi rame di kota Kediri -kota yang punya banyak pondok pesantren meski tak dijuluki kota santri- ada beberapa sentra kuliner yang buka. Tanpa ditutup tirai. Dan kami menyaksikan sendiri ada kustomernya lagi makan.

Ada beberapa, bukan cuman satu dua. Meski ndhak rame banget kayak hari-hari biasanya, sebagaimana kami biasa menyaksikannya.

Di sini, fenomena razia warung makan jarang terdengar. Dan mungkin memang inilah ciri Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kenapa?

Entah kenapa. Ini cuman kira-kira kami:

di Jatim dan Jateng itu sarangnya NU, kaum Islam sarungan. Merekalah kaum yang selama ini mengajarkan agama dengan sentuhan kalbu. Bukan agama yang cuman diukur dari tampakan luar/yang terlihat mata belaka.

Kaum sarungan inilah yang selama ini paling getol membela Pancasila dan tradisi kultural. Kegiatan keagamaan di kalangan kaum sarungan -yang mana sarung ini sendiri konon berasal dari era pra kedatangan Islam di nusantara- sering dileburkan atau tepatnya diwarnai dengan kegiatan budaya tradisional.

Dan kaum sarungan inilah yang dikenal paling kuat menjaga toleransi.

Bagi mereka, Islam adalah kekuatan yang harus diperkuat di dalam diri masing-masing individu. Bukan kuat karena bergerombol saja.

Karena itulah mungkin kenapa, itu beberapa warung makan yang kami lihat di sini enjoy aja buka, dan kustomernya -entah mereka siapa- juga tenang saja menyantap menu yang mereka pesan.

Sementara kala malam menjelang, di mushalla-mushalla, terawih tetep membludak. Meski biasanya semakin lama semakin mengalami ‘kemajuan’.

***

“Orang yang sibuk dengan keyakinan orang lain, boleh jadi karena kurang yakin dengan keyakinanya sendiri.” -Gus Mus-

NU ini memang biang perdamaian dan kedamaian. Dari ulama-ulama NU-lah sering keluat berbagai mutiara hikmah nan lembut tersampaikan, namun sangat mengena dan menyentuh batin. Menghidupkan semua jiwa yang bersedia mendengarkannya, sesiapapun kita apapun kondisi kita.

Bukan ungkapan-ungkapan keras ala semacam suku hobi perang – yang konon didalihkan sebagai keberanian dan ketegasan membela agama; membela kepentingan dan cara pandang mereka sendiri, tapi mereka sebut dengan membela agama. Konon demikian.

Saat ada segelintir pihak dengan lantang meneriakkan ‘kafir’, ‘sesat’, ‘bidah’, dll. kepada pihak lain, dengan dalih deskripsinya ada di Quran,

kaum sarungan NU malah sumeleh/rendah hati menganggap apa-apa deskripsi kafir-sesat dalam Quran itu tertujukan kepada diri kita sendiri ketimbang kepada orang lain.

Alhasil muncul-lah ungkapan sederhana namun penuh makna luas dan mendalam dari kalangan ini: “saya ini tidak pantas mendapatkan sorga, namun juga tak sanggup masuk neraka.”

Ungkapan yang setidaknya menunjukkan keinginan wajar mereka sebagai manusia, sekaligus kepasrahan bahwa kita manusia ini tempatnya salah dan dosa.

Belum lagi syiir yang kondang dati Gus Nizam, “Jangan hanya belajar syariat belaka; senang mengkafirkan orang lain, kafirnya sendiri tak dihiraukan.”

Belakangan ajakan kepasrahan kepada Allah Taala ala Gus Nizam ini terus ditolak dan ditolak terus dengan kampanye yang dirancang kontinyu: “Kafir itu sudah dijelaskan dalam Quran. Barangsiapa begini-begini dan tidak begini-begini, maka dengan tegas dan jelas: dia/mereka kafir!”

Bahasa NU yang penuh kekonteks-an, bahasa-bahasa yang sastrawi dan mendalam, yang perlu dicerna dengan pemikiran dan batin mendalam; terus-terusan disanggah dengan bahasa harfiah yang linear, yang cukup dibenarkan oleh segerombolan kalangan berpersepsi (garing) sesama.

MANUSIA SEJATI, SEJATINYA MANUSIA

Kalangan NU kental dengan julukan kyai, gus, dan sebagainya. Julukan kehormatan ‘kyai’ ini sudah ada pada era sebelum Islam datang ke nusantara, jadi bukan cuman kaum muslimin saja yang bisa mendapatkan julukan kehormatan ini. Itulah kenapa, mereka yang tak sepaham dengan jiwa kultural NU ndhak mau menggunakan julukan kehormatan ini.

Memahami bahasa NU memang memerlukan nawaitu yang kuat dan laku batin yang sungguh-sungguh. Kadang seuntai kalimat saja dari para kyai, itu berarti ribuan bahkan jutaan makna dalam sudut pandang batin yang kadang tak terungkapkan dengan lisan.

Semuanya, perlu laku batin: memejamkan mata fisik dan membuka mata batin dalam memandang segala sesuatu. Mulai dari hal kecil-sederhana dalam keseharian hingga hal besar: jalan yang terus kita cari guna menemukan Tuhan, Allah Yang Maha Haq.

Ini semua, sungguh berat diungkapkan.

Maka dari itu, santri-santri NU kadang jadi tampak udik bila diukur dengan modernisasi. Bayangkan, saat dunia sibuk mengkaji krisis sumber energi, kyai-kyai NU dengan santainya bilang, “Asal kita terus yaqin (kata yaqin ini diungkapkan sungguh dengan beratnya namun dengan sepenuh kemantaban dan diungkapkan beriringan dengan hembusan nafas nan mendalam) kepada Allah Taala, fainsya Allah pasti akan ada terus energi untuk hidup…”

Tanpa pernah bisa menyebutkan bentuknya, ada keyakinan batiniah yang rasanya tak pernah bisa diletakkan di meja ilmiah manapun dari kaum sarungan ini tentang adanya jaminan perputaran & keberlangsungan dunia, sekaligus adanya kepastian akan terhenti tiba-tiba saat hari akhir mendadak tiba.

Ini semua, bahasa-bahasa NU ini, sungguh berat dipahami. (Sekalipun NU juga memiliki sejumlah universitas dan lembaga pendidikan formal lainnya, disamping ribuan pesantren yang menjadi tonggak tegaknya bangsa dari jaman penjajahan hingga hari ini dan Insya Allah seterusnya, aamiin.)

Bahasa-bahasa NU ini jelas berbeda dengan mereka yang terus-menerus berkampanye dengan bahasa linier dan harfiah. Apalagi sudah memasukkan unsur hitung-hitungan, tentu akan lebih mudah dipahami oleh sesiapa saja yang cuman memainkan logika kulit dan miskin nalar batiniah.

Inilah yang terjadi era sekarang, banyak kaum berpendidikan, yang justru lari mencari “islam kulitan” yang lebih “mudah” dipahami. Mudah karena tak memerlukan kedalaman batin untuk memahaminya.

Kenapa?

Karena sistem pendidikan modern mungkin telah menjadi perpanjangan tangan kapitalisme sehingga banyak menghilangkan enrichment batiniah sebagaimana yang dilakukan NU, terutama melalui ribuan pondok pesantrennya.

Korban kapitalisme itu sendiri banyak di Jakarta. Kasarnya ngomong, 80% uang beredar di Indonesia ada di Jawa. 80% uang beredar di Jawa ada di Jakarta.

Kehidupan serba kapitalistik di Jakarta telah membuat seleksi alam. Yang sanggup berdamai dengan tuntutan pencarian materi demi hajat hidup plus tetap mengedepankan keluasan pandangan jiwa, telah membentuk kaum urban berhati terang tanpa identifikasi agama, yang mana mereka itu mengimplimentasikan idealisme hidup ala urban dengan langkah praktis, semacam menolak trotoar/pedestrian pejalan kaki dilalui motor atau dikooptasi pedagang kaki lima, menolak pemotor memotor jalan atau menerjang jalur, dll.

Itulah gerakan-gerakan spiritual hidup yang dibahasakan dengan bahasa urban.

Sementara yang belom sanggup seperti itu, sementara nilai-nilai tradisi sudah semakin memudar di kota besar, alhasil jadilah ‘kaum bingung’ dalam memaknai (implementasi)agama.

Nilai-nilai batiniah agama untuk bekal hidup akhirnya cuman bisa diserap menjadi agama sebagai bekal mati, karena bingungnya mereka memejamkan mata dan memandang hidup.

‘Manusia bingung’ seperti inilah -dan karena kejaran waktu serta ketatnya kompetisi (materialistis) hidup- akhirnya hanya sanggup menggapai agama/islam kulitan, serta menjadi sasaran empuk kaum tersembunyi yang mengolah dan memanfaatkan keberadaan mereka sebagai endorser gratisan.

Bukan cuman gratisan, alih-alih keluar biaya untuk membiayai para endorser, bisa jadi justru ada keuntungan finansial dari/yang malah disetor oleh para sukarelawan kampanye anti-kedamaian ini!

***

Itulah kenapa, NU kuat di basis nan jauh dari Jakarta, di lokasi yang kompetisi materialisme hidup masih relatif rendah. Dan itulah kenapa NU akan dianggap berbahaya. Itulah kenapa, NU harus dihancurkan. Karena NU bisa membuat para ‘manusia bingung’ -sekalipun tinggi strata kuliah mereka itu- bisa “menjadi manusia” (sejatining manungsa).

Dan jikamana manusia telah menjadi sejatining manusia, maka setan kapitalisme dan segala turunannya: kapitalisme kultural dan kultur kapitalisme, akan mati dengan sendirinya. Tentu ini adalah hal dibenci oleh mereka: pencipta, pengusung, dan penganut agama kapitalisme.

Menghancurkan NU akan laksana menghancurkan Islam, tidak bisa dari luar. Harus digerogoti dari dalam. Salah satu caranya, NU musti dijebak secara politis.

Meski tidak langsung melalui NU-nya, NU sukses bikin partai. Konyolnya, partainya kaum sarungan kini menjadi pendukung presiden, meski saya tau sendiri buuuanyakkk warga nahdiyin -bahkan Kyai Haji Hazim Muzaddi sendiri- bukan pendukung capres terpilih sekarang. Jadilah NU semakin menjadi sasaran gempuran aksi-aksi opositas, yakni aksi-aksi yang bukan untuk mengupas kekeliruan demi mencari bagaimana benarnya melainkan aksi yang dilakukan hanya untuk satu tujuan: menjatuhkan.

Masuk ranah politik yang meng-copas mentah demokrasi ala barat, adalah jerat awal NU yang sempat menyadari posisinya untuk kembali ke khittah/garis perjuangannya: mencerdaskan kehidupan batin bangsa.

Politik ala barat, apapun tema yang diusung: kerakyatan, ekonomi, sosial, bahkan agama, tetep saja = uang. Berbalik dengan politik jaman Rasulullah atau khalifah Umar: menjadi pejabat negara ini pasti bakal miskin secara politis.

NU masih akan terus kuat. Cendekiawannya yang dirahmati Allah masih terus muncul membela dan membentengi segala tudingan.

Namun tampaknya NU musti terus kontinyu mereview diri: terus perkokoh diri dengan konteks dan bahasa yang semakin kekinian, dan jangan pernah lelah untuk itu semua. Karena yang ndhak suka dengan NU/kaum muslim batiniah tampaknya masih punya banyak energi untuk terus menyerang kaum sarungan ini dengan isu-isu yang secara bombardir terus-terusan dan kontinyu diciptakan dengan paradigma dan persepsi mereka sendiri:

  • Dulu kondang diadu NU vs Muhammdiyah, dengan masalah penggunaan doa qunut. Akhirnya isu kuno ini tenggelam dengan sendirinya seiring konsistensi NU dan Muhammadiyah dengan keislamannya turut menjaga negara RI dan Pancasila.
  • Kemudian diadu Islam vs Kristen. Diciptakan kebencian luar biasa dari kaum muslimin ke kaum kristiani -pemeluk agama terbesar kedua di Indonesia- dengan isu-isu: tuhannya orang Kristen itu manusia, tuhannya orang Kristen ada tiga, hari Natal itu hari ngibul, dll. yang mana “sisa-sisa” kampanye jahiliyah ini kadang secara sporadis masih ada hingga sekarang. Namun tampaknya adu-domba gagal lagi. Orang mulai ndhak merasakan manfaat peningkatan ketaqwaan hanya dengan didoktrin “umat/agama lain itu salah”. Lagian, tau apa kita tentang agama orang lain. Makanya Quran jelas membekali kita dengan lakum dinukum waliyadin.
  • Belakangan muncul lagi isu syiah. NU cukup bijak menyikapi isu ini dengan ndhak mau memperkeruh masalah, hingga NU pun dicap pembela syiah atau bahkan syiah iyu sendiri. Dan isu ini perlahan menghilang meski sisa-sisanya masih dikoar-koarkan akun medsos kesiangan.
  • Sempat muncul lagi fenomena “Islam nusantara”. Penjelasan kaum sarungan tentang Islam bercorak nusantara -yang mustinya secara semantik atau terminologi atau apalah namanya lebih pas disebut dengan “muslim nusantara”- terus dibantah tanpa pernah didengar penjelasan-penjelasan yang ada. Belakangan isu ini tenggelam juga.
  • Sempat ramai, dan biasanya terus berulamg saat Natal, tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal. Kaum sarungan memang memperbolehkan pengucapan ini. Ya iyalah, iman dalam dada mereka semua kuat. Tak hilang hanya dengan mengucapkan selamat Natal. Dan kampanye kontra NU kembali diledakkan untuk menolak ini semua. Autokafir dan automurtad jadi topik terakhir yang kemudian tengggelam seiring berlewatnya hari Natal. Yang pasti, Natal berikut ntar pasti bakal muncul topik baru dengan tema sama: boleh atau tidak mengucapkan Natal.
  • Dan yang lagi hot saat ini sama juga, tema lama yang diolah lebih kekinian: gila hormat puasa. Seperti warung yang dirazia di seputaran Jakarta, sementara warung di kawasan NU yang kami saksikan sendiri tadi, itu warung dan pelanggannya tetep buka dan menikmati menu sajian. Dan di lokasi yang tak jauh dari situ, pada hari/jam berbeda pengajian tergelar secara kultural dan sanggup mendatangkan massa jibunan yang entah dari mana saja datangnya, seolah mereka muncul dari dalam bumi.

Ini semua jika kita lihat pola dan matriksnya, targetnya sama: (gempur terus) kaum NU sang pencipta dan pengawal kedamaian.

Ada yang sangat tidak menghendaki NU bisa terus eksis di bumi nusantara ini. Gempuran konsisten buat warga nahdiyin yang biasa menggelar tahlilan adalah kampanye: “Mereka ahlul-bidah, mencampuradukkan agama dan tradisi peninggalan agama lain,” dan seterusnya.

Penjelasan intelek dari para cendekiawan NU yang sangat rendah hati bahwa itu semua justru menjadi kekayaan warna Islam tanpa mengurangi esensinya sama sekali demi enlightment umat, jelas mustahil diterima. Benar atau salah, pokoknya NU harus salah!

Karena itu, NU perlu ditenggelamkan. Dengan terus menciptakan topik dan tema berulang-ulang yang selama ini di kalangan NU adalah hal yang “dibiarkan” (baca: ditoleransi) seperti pada contoh poin-poin di atas tadi.

Ingat saat NU menggelar Nusantara Mengaji beberapa bulan silam? Adakah acara ini ramai di medsos, di timeline/linimasa Anda?

Sepi bukan?

Ntar giliran ada isu baru telah digodok dan dihembuskan untuk mengganggu kedamaian dan ketenangan batin NU, sontak dan mendadak bakal meledak di linimasa semua saluran medsos.

Mendadak muncul meme-meme ndhak logis wal ndhak nyambung blass yang terus menyerang konsistensi idealisme kaum NU. Meme-meme yang muncul seringkali TANPA ADA YANG PERNAH TAU/TAK JELAS SIAPA PEMBUATNYA! Ya apa iya?

Lihat aja, usai Ramadhan ini dan seterusnya, akan selalu muncul tema dan topik baru dan isinya sama dan terus berulang-ulang, yang dikemas dengan lebih kekinian. Dan akan terus di-blow up oleh ‘manusia-manusia bingung’ yang belum menemukan kesejatian dirinya, kesejatian manusia-nya, sekalipun tinggi strata pendidikan ‘modern’-nya.

Satu yang pasti, energi kita selamanya hanya akan habis untuk terusan begini: bertikai. Hidup jadi terbelah karena ini semua. Targetnya: yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin terhisap darahnya untuk jadi tumbal kaum kaya.

Pemerataan (baca: penggerusan ketimpangan sosial) tak lagi ada, karena kekayaan alam negeri ini terus disedot di belakang punggung-punggung kita yang tak hentinya menjadi sukarelawan kampanye penggerogot kedamaian bangsa.

Padahal kedamaian itu adalah pangkal kematian setan.

IMHO, CMIIW.

– FHW,
bukan warga nahdiyin dan bukan pendukung Jokowi.

Diketik via 7″ tabpad.

Puasa Gila Hormat

Barisan orang cemen itu berkumpul dalam ketakutan: ketakutan puasa mereka terganggu karena adanya warung yang tetep buka di bulan Ramadhan.

Toleransi dibawa-bawa dalam ketakutan: takut liat pohon natal di mall atau bandara Ngurah Rai ditutup kala menghormati Nyepi. Dan mereka takut tidak mendapatkan kemanjaan yang sama. Trus teriak-teriak kenceng bahwa kalo memang ada toleransi, maka warung juga musti ditutup. Biar adil. Biar fair.

Well… puasa koq cuman bisa terganggu sama itu semua ya? Di mana puasanya? Meski warung buka selebar-lebarnya, orang yang nawaitu puasa pasti cuek dan sama sekali ndhak tergoda cuman liat tumpukan menu Padang.

Orang yang nawaitu puasa, pasti bingung kalo ada orang kesusahan nyari warung makan. Kalo orang nawaitu puasa, dengan sadar dan ikhlas dia pasti akan gupuh menunjukkan: “Silakan ke sana Mas/Mbak, di sana ada warung buka. Silakan segera makan sebelum pingsan!”

Bukannya, “Woi, ini puasa; tutup warung ente! Woi, ini puasa; sana, kagak boleh makan di depan ane!!!”

Urusan makanan aja masih lemah, apalagi puasa sesungguhnya: menahan segala godaan dalam hidup ini. Ramadhan sebulan aja udah kocar-kacir imannya, apalagi menjalankan Ramdhan sesungguhnya: dari Ramadhan hingga Ramadhan lagi.

Dalam bahasa yang bergonti-ganti, berulang-ulang masih saja ada yang terus gila hormat. Susah dipahami bahwa mau mereka adalah membangun peradaban dalam iman. Yang terlihat sepertinya adalah mereka berkomplot dalam ketakutan. Ketakutan karena lemahnya iman.

***

Iman dan takwa, sepertinya kini digeser mati-matian menjadi urusan ritual belaka: urusan input perilaku. Bukan lagi urusan output perilaku.

Kalo orang beneran puasa dan beriman, sekalipun ada perempuan telanjang di depannya, hati tak akan bisa tergoda. Dan cukup badan bergerak mengambilkan pakaian. Atau memberikan makan. Atau mencarikan pekerjaan. Atau mendoakan, dalam selemah-lemahnya iman.

Bukan meneriaki dengan sorga dan neraka.

Agama kini menjadi bahan untuk menilai orang lain. Agama kini telah menjadikan manusia berkomplot untuk menggantikan gusti Allah di muka bumi: merekalah yang memegang kebenaran dan menentukan kesalahan.

Tuhan kini bukan lagi disembah secara sesungguhnya. Tuhan kini sukses kita jadikan berhala: Tuhan harus nurut apa kemauan kita! Kata sebuah posting: alam semesta telah kita perkosa bagi kita.

Kita masih kenceng meneriakkan Allah itu ahad, satu, esa. Tapi kelakuan kita telah mengangkangi kekuasaan Allah: kebenaran kita yang menentukan, kesalahan kita yang memutuskan. Ente masuk sorga atau ente masuk neraka, semua menurut apa kata kita. Bukan apa keputusan Gusti Allah Nan Maha Bijaksana di padang pengadilan hari nanti.

***

Agama kini bukan lagi digunakan untuk bagaimana kita berperilaku kepada orang lain, kepada semesta alam.

Mungkin banyak muslim berusaha meningkatkan ibadah, tapi nyatanya malah menyungsepkan keimanannya: takut sama hal-hal sepele yang sesungguhnya begitu mudah diatasi dengan (kuatnya) iman.

Mungkin banyak muslim yang meningkatkan takwa cuman dengan: koar-koar kencang melaknatan kebathilan, ketimbang dalam senyap menebarkan yang haq.

Mungkin banyak muslim yang sibuk beribadah, namun justru membiarkan dunia dalam kehancuran.

Mungkin banyak muslim yang terus kembali berkomplot dalam ketakutan dan kecemenan. Bukan menyebar diri dan menebar rahmat.

Mungkin banyak muslim yang sibuk beribadah, sampai-sampai lupa bertuhan.

Ndhak usah dianggep omongan saya. Masuk neraka ntar sampeyan. Anggeplah omongan mereka yang super kenceng teriak agama itu. Biar masuk surga. Surga ilusi.

Ndhak usah dianggep omongan saya. Saya ini ndhak pecus beragama koq! Goblok banget sampeyan ndengerkan omongan saya?

Pasti di mata mereka saya ini kafir, sesat, bidah. GPP. Yang pasti, kebathilan hanya akan terjungkal jika haq adalah output kontinyu kita.

– FHW,
Bismillah, lillahitaala adalah urusan saya.

Lem Siti

Ini Bukan promo. Cuman sharing aja.

Yang model lembaran jadi, ternyata ndhak mempan sama sekali. Umpan di tengah abis dimakan, plus ada jejak-jejak kecil siti.

Beruntung kami -dengan berat hati itu tadi- mbeli kedua versi: lembaran sama pelototan. Jadi bisa nyoba langsung dan membuktikan sendiri apa ada bedanya. Akhirnya ganti nyoba yang pelototan, ndhak seberapa lama langsung dapet mangsa.

Cuman kami bingung gimana mengevakuasinya, yang kondisinya masih dalam keadaan bergerak-gerak tapi terjebak dan ndhak bisa kemana-mana tentunya. Akhirnya kami gulung sama kertas-kertasnya, terbungkus oleh lem-nya – yang (itu lem) kayaknya seumur-umur baru kami beli kali ini. Trus kami buntel pake plastik tebel, lempar ke tempat sampah.

Kami amati sejenak, perlahan lama-lama tak ada pergerakan sama sekali.

Well, satu misi udah selesai. Cuman, ‘mayan juga ini itungannya, perlu lumayan rupiah untuk melenyapkan satu nyawa.

***

Setelah beberapa hari -khususnya tatkala malam- engkau senantiasa terdengar gusar di semak kecil halaman belakang, main sembunyi kucing-kucingan… eh, tikus-tikusan dengan kami saat di dapur; kini semuanya berakhir sudah.

Berakhir, tanpa kami pernah tau darimana dan gimana asal-muasalnya engkau bisa datang dan sembunyi di halaman belakang. Mungkin kau berlari kecil namun kencang melalui batang daun pepaya yang menempel ke tembok rumah tetangga, melintasi pipa paralon yang terbentang di sudut pembatas belakang.

Kini semua telah sirna menjadi cerita, punah menjadi kisah, tertoreh sebagai seuntai sejarah kecil dalam perjalanan waktu kita.

Damailah engkau di sorga, ti!

– FHW,
dan kami kembali tenang meneruskan nafas di dunia, kami tenang kembali meneruskan nafas di dunia.

BMW = Puasa Gaya Hidup

Bagi saya, BMW adalah sebuah alat transportasi, sebuah alat hidup. Bukan sebuah gaya hidup.

Bagi saya, memilih BMW adalah tentang apa & bagaimana memilih alat transportasi, bukan memilih gaya hidup.

Ber-bimmerfan adalah bagaimana kita mencari dan mendapatkan teman & rekan baru, bukan gaya hidup baru. Oleh karena itu; menghindari BMW sebagai gaya hidup, bagi saya pribadi, adalah bentuk puasa juga.

Ini bagi saya.

Selamat berpuasa, selamat berhidup.

– Freema HW