Codot

Pepaya di belakang rumah dimakan codot, si kelelawar pemakan buah (fruit bats). Sisa buah yang ndhak termakan kami biarkan masih bergelantung di pohon, hingga membusuk begitu saja. Biarin aja, ntar itu buah busuk jatuh ke tanah dan tetep bermanfaat: jadi pupuk. Bukan jadi sampah masyarakat. Eh….

Codot, yang tampangnya “item jelek ndhak eksotis” itu justru berlaku baik: codot dikenal memilih(kan kita) hanya buah yang manis dan enak. Kata wiki: “Kebanyakan bangsa codot memiliki mata yang besar, yang memungkinkan hewan tersebut melihat dalam suasana kurang cahaya di hutan, pada saat senja atau dini hari. Indra penciumannya pun bekerja dengan sempurna, membantunya menemukan buah-buah yang telah masak di kejauhan.

Walaupun kelelawar secara umum dapat ditemukan di seluruh dunia, codot hanya ditemukan di daerah-daerah tropis di Asia, Afrika dan Oceania.

Meskipun kadang-kadang dianggap sebagai hama, codot berperan penting sebagai pemencar biji aneka tetumbuhan, terutama di hutan hujan tropika. Kelelawar ini hanya memakan daging buah yang dikunyah-kunyah untuk diambil cairannya, sementara serabut buah dan bijinya dibuang.

Codot biasanya tidak memakan buah di pohonnya, melainkan dibawanya ke pohon lain atau tenggeran yang lain yang dianggap aman dan memakannya di situ. Sehingga secara tidak sengaja codot telah memencarkan biji buah-buahan makanannya itu.

Tenggeran semacam itu, yang ditandai oleh banyaknya kotoran kelelawar dan sampah serabut dan biji buah-buahan di bawahnya, acap kali dijumpai pula di bawah atap selasar gedung atau emperan rumah yang agak terasing.” Dan ini kejadian di rumah Uti-nya si kecil, ada codot yang bergelantung di rangka atap, serta meluluhlantakkan sisa buah melinjo samping rumah yang dia cemil. Untung “kotoran” ini ndhak bau sama sekali πŸ˜€

Dulu waktu saya kecil, buah bekas incipan codot malah jadi rebutan kami-kami yang demen mbolang. Karena memang pasti rasanya manis. Terutama mangga. Dulu kondangnya masih gadung, manalagi masih entah di mana.

Tentunya, buah hasil incipan codot gini cuman enak buat dikonsumsi sendiri. Mustahil kan buah yang udah krowak/bongkah gitu dijual?

Jangankan dijual, dikasihkan temen/tetangga aja mungkin kurang sopan banget.

***

Cuman kini memdadak selintas kami punya pikiran iseng: codot-codot masa kini masih maem buah yang manis ndhak ya?

Mengingat era kini tumbuhan udah pada campur-aduk unsur genetikanya. Kebanyakan direkayasa buat menghasilkan buah yang besar/banyak, sementara rasa alaminya udah pada ilang dan kacau.

Buah-buah yang bergelantungan di pohon pun pada dibrongsong/dibungkus agar tampilannya cantik, dan biar ndhak digigit hama kononnya.

Sementara bagi kami, buah yang lazis itu, katakanlah jambu air atau pisang, justru yang kulitnya boleng/belang. Biasanya rasa buah berkulit belang ini malah manis enak alami.

Tapi pasar konsumsi buah berkata lain.

Buah yang akan diiris atau dikunyah itu harus tampil cantik terlebih dulu. Dan entah apa hubungannya tampilan kulit buah yang cantik dan mulus ini dengan kecerdasan otak…. sori, kandungan gizi dan nutrisi di dalamnya, khususnya hubungannya dengan kenikmatan buah yang sejati: rasanya.

Mungkin kulit buah yang cantik mulus itu bisa lebih menampilkan sugesti dan memberikan rasa manis saat buah dimakan, sementara kulit buah yang belang/boleng malah akan membuat lidah lupa pada rasa manis yang sesungguhnya, karena otak udah duluan merasa ill feel melihat itu boleng kulitnya.

Mungkin.

Entahlah.

-FHW,
mulus dan manis. Mungkin.

Advertisements

2 thoughts on “Codot

  1. Codot yg matanya bulat itu mengingatkan saya pada mata e34, codot oh codot, mgkinkah saya yg kurang begitu manis ini dipilih oleh sang codot..m50b20 gapopo wis.. πŸ™‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s