Pungli

Membaca sebuah postingan fesbuk yang isinya keluhan pungli jalanan oleh polisi pada sopir truk, saya teringat cerita seorang rekan yang bisnis angkutan/transportasi. Intinya sama & senada: uang pungli yang disiapkan buat sepanjang perjalanan ternyata emang lumayan jumlahnya. Dikalikan ribuan trip/perjalanan kendaraan, pasti super wow total akumulasi jumlahnya.

Cerita yang nyaris tak bisa dibuktikan terbuka, tapi sepertinya ini sudah jadi rahasia umum. Dan dengan kemajuan teknologi, satu per satu mulai muncul unggahan rekaman aneka ragam pungli di jalanan di linimaya.

Postingan di fesbuk tersebut memohon kepada penyelenggara negara: tegakkan regulasi batas tonase di jalan raya. Doi sang postinger yakin, para sopir dan pengusaha angkutan bakal menyambut kebijakan ini dengan tertawa riang gembira daripada aturan dibuat untuk dilanggar.

Saya juga 100% yakin, pengusaha ndhak akan ngresula/sambat (mengeluh) kalo aturan batas muatan diterapkan 100% secara fair, adil, tegas, dan konsisten.

Sederhana saja kita bayangkan: jika pungli hilang dan aturan batas tonase ditegakkan secara tegas, (mesin) truk akan bekerja lebih ringan, niscaya konsumsi bahan bakar akan lebih irit dan periode penggantian parts akan lebih panjang.

Atau setidaknya jika jatuh ongkos angkutnya tetep atau taruhlah jadi naik, rasanya pengusaha malah akan lebih “bernafas lega” karena hilangnya komponen biaya tanpa nota yang bikin tidur ndhak nyenyak.

Apes-apesnya, dengan beban muatan yang sesuai kemampuan kendaraan, mustinya akan berkurang cerita truk-truk lemot yang overtonnage yang menghambat kelancaran lalu-lintas itu.

Keselamatan dan kenyamanan bersama di jalan raya pun bisa lebih terjamin. Karena seperti kita tahu, truk-truk bermuatan berlebihan tentu sangat mengancam keselamatan di jalan raya, misalnya jika bannya meletus atau gardannya putus trus truknya terguling, kasihan kendaraan yang ketimpa plus seperti biasa: bikin kemacetan panjang yang bikin banyak bahan bakar terbuang sia-sia atau banyak mesin kendaraan overheat karena macet yang abnormal.

***

Perekonomian negeri ini kacau bukan karena manusia Indonesia tidak produktif. Melainkan: buuuanyakkknya elemen ekonomi biaya tinggi (high cost economy) yang masih mencekik roda ekonomi (pungli, infrastruktur/jalanan rusak, perijinan ndhak jelas dan ndhak pasti, dll.)

Saya 100% yakin, tanpa harus nyari ceperan ilegal, gaji aparatur pemerintah itu koq mustinya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun memang sampai kapanpun ndhak bakal pernah cukup untuk memenuhi keinginan.

Ini bukan cuman berlaku buat mereka saja. Buat saya juga.

Yuk, seberat apapun untuk memulainya, mari kita semua mengakhiri tindakan gelap dan ilegal dalam bentuk apa saja yang merusak tatanan kebaikan kehidupan; kebaikan bersama, kehidupan bersama. Selain ini sudah merupakan perkara melanggar hukum secara esensial, di akhirat ntar juga berat pertanggungjawabannya. Jauh lebih berat malahan.

Ndhak percaya?

– FHW WTF

*Gambar ilustrasi, nyomot dari internet*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s