Rasis

Ahok lagi fenomenalnya hari-hari ini. Yang menentangnya dengan dalil agama, berkeyakinan mati bahwa dia adalah seorang kafir yang ndhak pantas memimpin muslim. Mereka beranggapan sesiapa yang mendukung Ahok maka telah melenceng dan memelencengkan agama.

Sementara yang mendukungnya dengan dalil agama juga, memaparkan bahwa ndhak sesempit itu memaknai ayat tentang “dipimpin oleh seorang kafir”. Mereka beranggapan bahwa sesiapa yang menentang Ahok dan mencapnya kafir, maka telah mempersempit dan mengkerdilkan makna keluasan agama dan keluasan makna agama.

Alur bentrokan mayanya kedua belah kucu (kubu lucu) ini banyak beredar di lalu-lintas media sosial.

SAYA ndhak bermaksud membahas Ahok, dalam pengertian menentang atau mendukungnya (sebagai cagub). Lagipula dia nyalonnya cagub DKI, bukan provinsi saya. Saya malah males mengikuti dinamika DKI sebenarnya: DKI itu sepertinya kayak-kayak Amerika yang seolah menentukan nasib dunia, seolah DKI inilah yang menentukan arah kehidupan Indonesia.

Indonesia bukan cuman Jakarta. Indonesia bukan cuman Jawa.

SAYA ndhak bermaksud membahas Ahok. Hanya saja, ada satu poin yang mengusik benak saya. Belakangan ini, entah siapa yang mengkoordinasikan hembusannya, mulai ada poin-poin nuansa rasisme untuk kampanye menentang Ahok. Denger-denger, ada yang ngasih pertimbangan: kalo Ahok terus maju cagub, bisa muncul sentimen anti-china sebagaimana tertoreh dalam catatan sejarah negeri ini.

Hoalah…

***

Saya sedang membahas tentang pola pikir kita, kita bersama, kita semua.

Kalo bagi Anda kesalahan(nya Ahok) itu sekedar apa yang tampak mata: seorang Cina, Kristen, berkata-kata kasar;

saya bisa tunjukkan orang Jawa, muslim, yang kata-katanya lebih “kasar” lagi, super kasar; namun sesungguhnya maksud dan hatinya baik. Saya bisa sodorkan kepada Anda belasan-puluhan contoh dan buktinya.

Tapi tampaknya jika ada orang Jawa yang kata-katanya lebih “kasar” namun sesungguhnya berhati baik gini ndhak layak untuk digoreng jadi isu apapun.

Dari sini saja, penggoreng isu ini sudah jelas ndhak bertimdak adil. Tentu sama ndhak adilnya manusia yang mengamini isu ini. Padahal, jangankan sekedar berbeda, bahkan saat kita membenci suatu kaum pun kita dilarang bertindak ndhak adil.

Saya meyakini, masalah dakwaan tentang karakter Ahok ini bukan cerminan isi hati orang banyak, melainkan sekedar campaign yang digoreng oleh segelintir pihak di belakang layar.

Dan kemudian gorengan ini dikembangkan jadi kata-kata rasisme. Sungguh saya yakin dan 100% percaya, hanya orang-orang dengan kinerja sistematis namun begitu tersembunyi dan sangat ndhak kelihatan/kasat matalah yang sanggup melakukannya: mengolah isu sedemikian rupa sehingga bisa membesar dan seterusnya di-blow j… eh, di-blow-up oleh publik.

Targetnya semua pola ginian cuman satu dan bener-bener hanya satu: ada chaos di publik.

Bisa jadi, isu yang digoreng kemudian diperkuat dengan aksi massa terskenario sistematis. Maka, seolah sah-lah ini semua dianggap menjadi seolah ungkapan publik/massa. Padahal sekali lagi, pola-pola itu semua muncul karena digoreng oleh segelintir pihak di belakang layar, hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang dengan kinerja sistematis namun begitu tersembunyi dan sangat ndhak kelihatan/kasat mata. Saya sungguh meyakini demikian.

***

SILAKAN Anda mendukung atau menentang Ahok. Tapi mbok jangan bawa-bawa rasisme atau unsur apapun yang bisa memecahbelah kesatuan dan kerukunan bangsa ini.

Khususon bagi Anda yang bawa-bawa agama: jika kemudian Anda menghembuskan nuansa rasisme untuk alasan apapun, sekalipun alasan itu Anda anggap benar, maka jari tengah saya teracung untuk Anda.

So, sesiapa saja yang (diam-diam) mau mengangkat sentimen rasialis di negeri ini, Anda akan berhadapan -salah satunya- dengan saya. Jika Anda (diam-diam) mengangkat sentimen rasisme di negeri ini, maka ini sudah bukan persoalan Ahok atau pilkadal.

Ini sudah menyangkut ranah pengacak-acakan terhadap kerukunan dan kedamaian negeri ini, mengacak-acak kemanusiaan. Dan saya yakin, dengan mengusung rasisme, saya percaya bahwa sesungguhnya Anda sedang melecehkan Tuhan.

Saya anggap Anda -yang mengusung rasisme dengan alasan apapun- sedang mengajak bikin perhitungan dengan saya. Saya akan ladeni. Bukan karena Ahok – dan saya sedang ndhak ambil pusing tentang Ahok- melainkan karena Anda mencoba mengacak-acak kedamaian negeri ini, kedamaian saya tiap pagi menikmati kopi dan sinar mentari dengan penuh ketenangan.

Semoga masalah ((di)munculkan dan dibesarkannya (lagi) isu) rasisme di negeri kita hari-hari ini, ini hanyalah ketakutan tak beralasan pada diri saya di Jumat ini.

– FHW,
aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Cek salah satu kisah mengerikan tentang rasisme di sini https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10154038962101170

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s