M

Saya pernah berdiskusi panjang dengan Om Abi. Kalo kita punya uang dan bisa beli mesin S-Series (=mesinnya M-Series), kita bisa bikin biem-biem tuwir kita ini lebih kenceng dong?

Ternyata kata Om Abi, “Ndhak semudah itu. Apakah sasis/bodi biem standar kuat menerima limpahan tenaga dari mesin S-Series?”

“Minimal, rem-nya harus lebih gedhe. Sasis harus di-enforce, dll. dll Belom ngitung ulang karakter suspensi, dll.nya. Apalagi di E30, E30 M3 bisa dibilang bodi/sasis yang sama sekali baru, bukan sekedar perkuatan dari E30.” Paparnya.

Saya melongo! :O Lah, koq sampe seribet itu?

Tapi iya juga sih, jangankan ganti mesin yang berlipat-lipat tenaganya, kita ganti velg doang aja udah menyebabkan konsekuensi tersendiri koq! Kaki-kaki pasti lebih cepet sowak ketimbang pake velg+ban ukuran bawaan pabrikan. (Cek di sini)

Akhirnya jadi pertanyaan saya, kenapa ya BMW ndhak bikin saja bodi/mesin yang dirancang untuk hi-power namun di-settle dengan tenaga kecil, Seperti 2JZ yang kondang dari Toyota itu, konon didesain untuk -katakanlah- 1000hp namun di-settele cuman 300an hp saja.

Om Abi cuman senyum. “Siapa bilang M50 susah dibikin -katakanlah- 1000hp? Secara teknis gampang koq!”

Mungkin secara biaya, relatif.

Kesimpulan sementara saya, sebenarnya BMW diam-diam juga ndhak goblok-goblok amat. Sebab di youtube, emang banyak/ada M50 yang di-tune sampe -katakanlah- 1000hp.

***

Lantas pertanyaannya kenapa ‘kekuatan’ bodi/sasis standar tidak diperkuat sekuat bodi/sasis M-Series?

Yang ini sungguh saya ndhak bisa nebak alasannya kenapa.

Namun saya pikir, mungkin karena prinsip ‘kita jangan berlebih-lebihan’ menggunakan kendaraan. Standar ya standar, M ya M. Jangan standar bisa jadi M atau M bisa distandarkan. Mungkin saling-silang ini bagi BMW udah merupakan kemubadziran. Membuat bodi/sasis sekualitas M untuk di-settle ke kemampuan standar mungkin merupakan sebuah kemubadziran, mubadzir secara kalkulasi produksi misalnya. Mungkin demikian. Mungkin.

Lantas kenapa Jepang melakukannya?

Saya juga ndhak bisa nebak. Tapi kisah klasik kompetisi, dari dulu sampe sekarang, new-comer emang musti menjual produknya lebih wah & wow secara teknis namun dengan harga yang harus lebih murah demi menembus barrier to entry, demi bisa mencuil kue pasar, demi bisa meraih kustomer. Kita biasa menyaksikan hal demikian dulu saat ada operator seluler baru beroperasi di sini, bisa menjual harga layanan lebih murah. Atau merk hape pendatang baru, mereka pasang harga rendah untuk perangkat yang punya spek tinggi.

Dan konon, kemarin Audi (kembali) masuk ke Indonesia dengan jagoan awal mereka A4(B%) yang dilengkapi dengan mesin ber-cc besar, interior premium (trim/jok kulit dan disemati wood-panel demi mencuil pasar BMW E36. Seperti misalnya lagi Lexus yang harus menjual diri dengan kondisi full-features dengan harga yang lebih murah ketimbang tiga merk premium asal Jerman (Audi, BMW, Mercy).

Mungkin mereka berpola demikian. Mungkin.

Lha terus apa untungnya kita membeli mobil premium yang speknya lebih rendah fiturnya lebih sedikit sementara harganya lebih mahal ketimbang mobil pasaran? Faktualnya, Porsche dan Audi TT lebih lemot, lebih memble, namun dijual lebih mahal ketimbang Nissan 370Z. Atau jika dibalik, Nissan 370Z itu lebih kenceng, lebih bertenaga, namun dijual lebih murah ketimbang Porsche atau Audi TT.. Tapi kenapa orang langsung membayangkan Porsche ketika kita menyebut roadster?

Mungkin good-will si produk/merk memberikan benefit psikologikal yang intangible (tak terhitung) kepada kustomernya. Namanya intangible tentu batasnya melebihi tingginya langit.

Lha apa untungnya mendapatkan benefit intangible ini? Bukankah mobil ya mobil, alat transport yang dari sononya harus memberikan fungsionalitas sesuai peruntukannya?

Yang ini saya juga susah dan ndhak sanggup menjelaskan.

Benefit intangible mungkin seperti suami yang bisa menerima istrinya sepenuhnya pun istri yang menerima suami sepenuhnya, sepenuh kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Benefit intangible inilah yang membuat eksistensi kita nyata sebagai manusia yang berdaulat pada kemerdekaan kalkulasi, kemerdekaan perhitungan, dan kemerdekaan pilihan dari dan pada diri sendiri.

Inilah kenapa orang -saat hanya sanggup beli mobil seken- kemudian lebih memilih 7-seater low-MPV sempit namun irit dan ekonomis namun harga perolehannya lebih mahal ketimbang sedan lega yang boros dan mahal maintenisnya plus isinya cuman 5 orang lagi.

Bagi pemilih 7-seater low-MPV sempit tersebut, mereka mendapatkan benefit intangible yang tidak bisa didapatkan di model kendaraan lain pun sebaliknya.

***

Apapun pilihan kita, semuanya seperti menu makanan. Menu makanan itu beragam, selera masing-masing orang berbeda. Namun apapun selera menu kita, seyogyanya musti tercukupi kandungan nutrisinya – konten dasar sebuah makanan.

Apapaun pilihan kita, seyogyanya terpenuhi apa yang menjadi konten dasar item pilihan kita tersebut.

Konten dasar sebuah ponsel -misalnya- adalah fungsionalitasnya. Memilih ponsel murah namun fungsionalitasnya rendah: sinyal jelek, keypad ndhak pake lama langsung keras, touch-screen cuman ‘sebentar’ ndhak responsif, itu kiranya belom memaktubi persyaratan dasar ‘nutrisi’ sebuah barang.

Murah, dengan fungsionalitas memadai, itu mustinya kita sadari sebagai ponsel yang tidak punya FM-radio, kameranya kecil sekali megapixelnya atau tanpa kamera, layar kecil reosulinya, dll. namun semua bisa berfungsi normal. Artinya, demi menyesuaikan harga: fiturnya yang disunat, bukan fungsionalitas/kekuatan/kemampuan dasarnya.

Biem standar, mungkin fiturnya yang disunat dari M: horse-power dan torque-nya, bukan kekuatan sasisnya. Atau ndhak usah dibanding M, satu seri dan generasi yang sama, biem level low-end juga fiturnya yang disunat, bukan kemampuannya. AC-nya dari digital jadi manual. Kursinya dari elektrik jadi mekanis, Dll. Semuanya dengan kekuatan/kemampuan & fungsionalitas sama. Atau jika dibalik, biem level tinggi yang ditambahi fiturnya, bukan ditambahi kekuatan/kemampuan/fungsionalitasnya. Kekuatan/kemampuan & fungsionalitas tetep sama.

Dan pada kenyataannya, BMW dari dulu sampe sekarang emang membuat bodi/sasis yang kuat untuk kelasnya masing-masing.

Sayangnya, demi memenuhi ‘nutrisi’ standar ini, akhirnya harganya ndhak bisa dibikin murah. Semurah-murahnya BMW, tetep mahal pada barunya, meski angka PPN baru kita lepaskan/ndhak dihitung.

Ibaratnya, BMW lebih memilih membangun perumahan kecil tapi materialnya bagus ketimbang rumah besar tapi campuran semennya sedikit. Atau membuat meja kecil dari kayu yang kuat ketimbang meja besar dari kayu yang gampang gapuk. Apa ya bahasa Indoensia yang pas buat gapuk? Gapuk itu semacam kayu yang mudah keropos, bukan rapuh. Kata gapuk ndhak bisa dipasangkan dengan ‘besi’ sementara kata ‘keropos’ bisa. Jadi apa bahsa Indonesianya gapuk? 😀

(Dan ingat, kekuatan bahan itu urusan berbeda dengan (tidak di)maintenisnya barang lho ya! Catet! 😉 😛 😀 Hehehehe…)

Untungnya bekasnya tidak mahal. Harga sekennya BMW jeblog berkat vonis macam-macam dari banyak kalangan. Padahal BMW itu ibarat makanan: menu yang bernutrisi tinggi. Entah kenapa dia ndhak disukai.

Mungkin tidak memberikan benefit intangible kepada pihak yang tidak memilihnya.

Mungkin.

– FHW,
not-tangible 😉

Advertisements

4 thoughts on “M

  1. sasis M dan non M sama om… bisa di cek part numbernya sama… nggak mungkin kan PN ori BMW sama bahan beda… sebagian suspensinya aja yang beda part tapi system sama.. CMIIW

    Liked by 1 person

    • wah brarti biem standar itu udah M-ready ya?

      Kalo emang banyak part yg sama, lantas adakah part yg bedanya signifikan pakdhe? Apa aja kalo ada?

      Selain mesin tentunya…

      Like

  2. bmw sudah pasti berkelas … orang yang beli meskipun seken artinya berkelas dan punya taste .. hehe
    suka banget tuh bmw yang ada rak untuk bawa sepeda … tambah kerennn

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s