Gosip – Koteka

Di rumah kami ada koteka. Dulu dicerita alm. bapak dengan bangganya: itu hadiah dari salah satu kepala suku saat bapak masih kerja di Irian Jaya/Papua sana. Bersama koteka itu ada barisan anak panah dan sebingkai foto bapak bersama orang -suku asli Papu dan berpakaian tradisional Papua yang penuh rumbai dan pakai koteka- yang bapak sebut salah satu kepala suku.

Meski cuman kami pajang dalam diam, kami tidak pernah berkeinginan menyingkirkan itu koteka dan barisan anak panah Papua itu. Cuman saya juga ndhak mau make. Bukan karena apa, takutnya itu koteka kekecilan kalo saya pake πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

Intinya, kami tidak memfungsikan benda-benda itu kecuali sebagai hiasan pun kenangan. Koteka dan anak-anak panah itu simpel-sederhana bentuknya, ndhak seperti artefak jawa yang penuh liku dan ukiran njelimet. Namun meski simpel lagi sederhana, dimensionalnya artistik juga kalo saya amat-amati.

Artistik atau ndhak, itu mungkin relatif bagi beragam orang. Tapi memahami sisi artistik koteka gini, ya jangan sampe ndhak mau fair memahami nilai artistiknya dan begitu buta langsung mencapnya haram, najis, dan seterusnya.

Ngemeng-ngemeng artistik, yang pasti, rumah tradisional Papua itu kalo saya lihat keren beud! Honai untuk kaum laki-laki atau Ebei untuk tinggal kaum perempuan dan Wamai untuk kandang ternak; (aslinya) tanpa jendela untuk menahan hawa dingin dari luar. Bentuknya bunder: itu dalam bahasa desain fisik erat berasosiasi dengan streamline. Streamline itu adalah syarat dasar efisiensi.

Perang

MEMANDANG itu koteka, yang aku rasakan cuman satu: orang-orang Papua itu sebenarnya ‘terbuka’, ndhak suka menutup-nutupi, alias fair pun apa adanya. Mungkin demikian maknanya. Dan mereka menjaga sekali kehormatan dan kejantanannya. Nyatanya, mereka yang kadang masih dibilang telanjang (secara harfiah) toh menutup kotekanya, menutup alat vital nan sakral dalam kehidupan ini.

Sementara memandang itu barisan anak panah di rumah, benak saya berkecamuk. Menurut cerita alm. bapak yang sama dengan beberapa referensi yang saya dapati sekian waktu usai bapak berkisah, konon kalo dipake perang, di ujung anak panahnya dikasih racun nan mematikan.

Konon kalo perang, mereka – dua pihak/dua suku yang berperang punya lokasi yang khusus, katakanlah lapangan medan perang. Dalam bahasa Jawa, mungkin ini yang disebut <em?kalangan alias lapangan pertandingan.

Di belakang lokasi/kalangan tersebut terdapat dapur umum berikut barisan emak-emak yang menyuplai makanan/logistik plus ‘balai pengobatan’.

Konon perang itu teratur waktunya: dari pagi hingga petang. Dan yag “unik”, mereka dilarang menembakkan anak panah langsung ke sasaran/lawan, melainkan ke udara yang diperkirakan pada sudut tertentu hingga kembali jatuh bisa mengenai musuh.

Tanpa harus pake perjanjian macam-macam, di luar ketentuan waktu dan lokasi itu maka dengan sendirinya bermakna gencatan senjata. Haram untuk berperang diluar ketentuan yang jantan tersebut.

Dan yang terpenting: perang hanya dilakukan oleh laki-laki cukup umur, serta dilarang mengenai/menyakiti/membunuh wanita dan anak-anak.

Dulu mereka mungkin berperang karena pola pikir mereka – suku-suku di sana masih seperti itu untuk mempertahankan (harga) diri. Kini seiring kemajuan jaman, metode perang ini telah bermetamorfisis menjadi tarian perang artistik dan menjadi obyek pembelajaran pun wisata.

Jikalau prinsip perang ala Papua nan jantan ini terimplementasikan secara benar ke berbagai lini kehidupan, niscaya semua orang akan berlaku dengan kejantanan seperti itu. Kaum laki-laki yang notabene pelaksana hidup ini akan menjaga kesakralan kelaki-lakian mereka; plus tak ada saling sikut politis, menang sendiri, berlaku culas dan licik, dan semacamnya – yakni metode-metode pertarungan yang sama sekali tak jantan.

Melengkapi kejantanan para laki-laki Papua, kaum perempuan berbaris menjadi leher bagi tegaknya kepala para laki-laki.

Melihat metode dan gambaran ini, jelas sekali jika kultur Papua tidak pernah mengisahkan atau mewariskan nuansa LGBT: laki-laki harus menjadi laki-laki, harus jantan dan berperang dengan sesama laki-laki, bukan menindas perempuan. Perempuan ya harus menjadi perempuan, menjadi golongan yang menegakkan laki-laki (ya ‘kan: laki-laki “ditegakkan” oleh perempuan tho?), bukan menjadi golongan yang memberontak kepada laki-laki. Semuanya dimulai dari pendidikan sejak dini di honai.

***

MELENGKAPI kisah alm. bapak, ibu saya berkisah sedikit. Kata ibu, dulu jaman bapak kerja di Papua, di sana katanya beragam ancaman juga sering menerpa. Jika belakangan ini kita biasa mendengar adanya ancaman kelompok separatis yang menyerang pekerja tambang, dulu katanya ancaman senada juga ada. Cuman bukan pake desingan peluru senapan melainkan lesatan anak panah. Dan berita ginian dulu jarag terdengar/tersebar karena masih belom adanya TV, beda sama sekarang.

Saya masih bingung dengan mereka semua para separatis itu. Jika mereka memang berjiwa Papua, koq kelakuan mereka yang menyerang secara sembunyi-sembunyi itu tidak Papua sama sekali…

Saya tidak ingin berbicara mana yang benar mana yang salah dalam hal ini. Saya cuman penasaran: mereka itu siapa? Sekelompok pihak yang benci karena tanah mereka dijarah asing? Sekelompok pihak yang tidak rela Papua menjadi bagian dari Indonesia? Sekelompok pihak yang dibiayai agar Papua bisa lepas dari Indonesia? Sekelompok pihak yang dikelola untuk “menyakiti diri sendiri” demi menarik empati dunia? Atau siapa? Entahlah… banyak pihak yang kayaknya menjawab dengan versinya masing-masing.

Entahlah. Mungkin cuman mereka, BIN, dan Tuhan yang tahu pastinya. Oia, biasanya siy yang kayak ginian Pentagon juga pasti tahu. Cuman semua ini bukan merupakan sesuatu yang perlu untuk diberitahukan ke publik.

Publik cukup diberitahu berita gosip artis dan gosip politik saja. Biar terus bergosip di sepanjang hidupnya, di semua lini hidupnya. Bergosip di ranah pendidikan, ranah kemasyarakatan, ranah agama, apalagi ranah politik pastinya tentunya.

Dan ketika masing-masing korban gosik digosok, alih-alih diredam oleh akseptor gosip yang ada malah di-forward-lah kemana-mana ke seantero bangsa. Jadi semakin sip-lah bagi bangsa ini untuk dikocar-kacirkan, diacak-acak, dicarut-karut, diobrak-abrik, ditabrak-tabrakkan, diporak-porandakan. Semua hanya perlu dimulai dari (ditelannya) gosip.

– FHW,
bangga sama koteka.

Maaf saya ndhak majang foto koteka, barisan anak panah, dan foto bapak saya bersama kepala suku di sini. Semua ada di rumah. Silakan mampir kalo mau lihat.

Advertisements

One thought on “Gosip – Koteka

  1. koteka … oleh2 favorit dari papua

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s