Swap Mesin/Ganti Jadi Karbu

Ini subyektif saya, ini pemikiran saya pribadi, bukan analisis, bukan kalkulasi, formulasi, apalagi sampe hipotesis.

Subyektif saya pribadi, biem di-swap mesin (merk/pabrikan) lain itu sah, namun tragis. Bikin miris. Situnya yang swap, temennya malah yang ngempet tangis, ndhak bisa lagi meringis.

Swap mesin mungkin dilakukan untuk:

  1. Meningkatkan performa, biasanya ke mesin yang lebih powerfull. Kalo saya pribadi, biem mau ganti mesin apapun asal tetep mesin biem, apalagi mesin standar ke mesin S-Series, it’s so okey!

    Kalo swap mesin biem ke lain pabrikan/merk sekalipun itu katakanlah lebih powerfull, saya susah ngomentari. Kalo prinsip saya, mending pelan gpp deh, asal biem mesinnya tetep biem, bukan 2JZ atau RB-DETT.

    Selain menghargai kerja keras tukang insinyurnya, ada sense tersendiri di mata subyektif saya jika tetep/terus menggunakan mesin dari grup/pabrikan yang sama, sekalipun itu mesin yang dibikin joinan/keroyokan dengan pabrikan lain atau mesin yang produksinya dilimpahkan ke manufakturasi lain. Asal tetep (ada identifikasi) dari si (grup) pabrikan.

    Tapi orang punya alasan masing-masing (untuk masang mesin pabrikan/merk lain ke biem). Dan itu alasan orang. Bukan saya.

  2. Putus asa. Mungkin yang miara biem jauh dari peradaban, atau mungkin ndhak kenal mekanik yang bisa nangani/nyembuhkan penyakit biem atau biaya nyembuhkannya dirasa teramat mahal sehingga harus pake jalan pintas transplantasi yang dinilai lebih murah.

    Kategori putus asa ini tentunya nge-swap ke mesin yang lebih sederhana teknologinya pun parts KW-nya tersedia melimpah bukan cuman KW1, KW2, atau KW3 melainkan sampe KW16.

Termasuk kategori putus asa ini bukan saja yang swap ke mesin yang lebih (sangat) sederhana, melainkan bisa jadi juga yang mbuang perangkat/mekanisme injeksi dan menggantinya dengan karburator.

Konon sebagian orang berpandangan pake karbu itu lebih mudah nyetting, dan karena ketemu settingannya maka mesin jadi lebih irit nenggak bensin; pun kalo dipake balap konon karbu lebih mumpuni.

  • Pake karbu lebih irit? Iya kalo dibandingkan dengan mesin injeksi yang porak-poranda sistem/komponen/perangkatnya. CPD… Injeksi itu sebenarnya bikin mesin lebih irit sekaligus tetep powerfull sesuai kapasitas/speknya.
  • Pake karbu lebih mudah nanganinya?Kalo mekaniknya handal, doi mustinya bisa nyembuhkan penyakit si biem secara lebih langsung, efektif, efisien, dan relatif murah. (Jadi masalah ada di mekaniknya mungkin, bukan di masalah karbu atau injeksinya.)
  • Buat balap karbu lebih mumpuni? Ngemeng-ngemeng balap, itu yang balapan di Sentul koq tetep pake injeksi, ndhak pada dibuang pake karbu kalo (emang) karbu lebih mumpuni?

SAYA nebak, biang paling kerok injeksi diganti karbu kayaknya masalah pada AFM (air-flow meter).

So, saya meyakini kalo mbuang injeksi jadi karbu itu tergolong kategori putus asa, meski ini putus asa yang sah, namun tragis. Bikin miris. Situnya yang swap, temennya malah yang ngempet tangis, ndhak bisa lagi meringis.

Ini subyektif saya, ini pemikiran saya pribadi, bukan analisis, bukan kalkulasi, formulasi, apalagi sampe hipotesis.

– FHW,
biemku “irit”.

Advertisements

2 thoughts on “Swap Mesin/Ganti Jadi Karbu

  1. Satu lagi alasannya bos: lebih murah kalo pasang karburator, hehe. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s