Enyahlah Palestina

Sepanjang tahun 2012-2014, dua area Palestina yang terpisah udah semakin tergerus dan semakin tergerus oleh Israel. (http://mondoweiss.net/2015/02/israel-demolished-palestinians/)

Ya, selanjutnya Palestina akan lenyap tak berbekas. Padahal, per September 2015, 136 (70.5%) dari 193 negara anggota UN/PBB mengakui kedaulatan Palestina. (https://en.wikipedia.org/wiki/State_of_Palestine)

Hiks… RIP humaninty, RIP UN. Sementara, Allah ndhak akan mengubah nasib suatu kaum -kaum manusia, kaum terjajah, kaum tertindas- kecuali kita-kita sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri kita.

Ini bukan masalah agama; ini masalah kemanusiaan, kewajiban asasi, hak asasi, dan (masih berlangsungnya) penjajahan di muka bumi. (http://www.bbc.com/news/world-middle-east-28666562)

Dan saya cuman do nothing terhadap ini semua. Malah asyik mengkonsumsi barang-barang produksi perusahaan multinasional yang mungkin saja keuntungannya buat memasok pendanaan untuk mengenyahkan Palestina. Who knows…

Di Palestina sana, anak-anak bahkan bayi yang ndhak tau apa-apa bertaruh nyawa saban hari, mereka terkena mortir entah dari mana asalnya. Beberapa publikasi berdalih wanita dan anak-anak itu dijadikan temeng hidup pasukan Hamas yang berperang melawan Israel. Orang tua bergantian rutin menangisi kematian anak-anaknya.

Sementara di sini saya susahnya cuman karena bingung miara mesin V8, ngurusi kaki-kaki yang tak kunjung selesai, dan sibuk menghias interior agak tampak rapi dan dipuji orang – meski gaya saya merendah dan berkata, “Ah ini biasa aja koq… Masih cupu banget saya ini gan…”

Tapi mana ada orang menginclongkan kendaraannya namun menghindar(i) dari pandangan (kagum) orang lain?

Mustahil!

Padahal tanpa (V8) ini semua sesungguhnya saya ndhak mati dan mungkin hidup saya malah enteng, ringan tanpa ada beban; serta punya banyak waktu luang untuk mendoakan Palestina, mendoakan seluruh umat manusia, memperbanyak nanam sayur di pekarangan, menyendiri di pedesaan menghirup udara segar tanpa kontanimasi polusi, bebas asap rokok orang lain saat harus meeting dengan klien atau berkumpul dengan rekan-rekan komunitas.

Padahal tanpa (V8) ini semua mungkin hidup saya malah nyaman, ringan tanpa ada beban. Serta punya banyak waktu luang untuk merayu Tuhan agar mengintervensi kehidupan di Palestina agar perang segera berangsur surut dan mereka semua bisa bekerja dengan tenang tanpa was-was, infrastruktur yang dibangun bisa terus dimanfaatkan dan ndhak hancur lagi dan lagi karena perang.

Padahal tanpa (V8) ini semua mungkin hidup saya malah tenang. Bukan pening mikirin ganti suspensi dan galau mikirin gimana caranya beli gasket baru. Serta tidur tak nyenyak karena tekanan kompetisi kehidupan: harus mikirin deadline, mikir target, mikirin tagihan yang belom cair sementara hutang harus segera dibayar. Atau berbaik sama klien bukan karena ikhlas namun karena aslinya saya hanya menginginkan uang mereka terus-terusan.

Mungkin karena lembeknya saya yang tak bisa menahan diri melihat mesin V8 inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, sehingga saya bisa melanggengkan kelembekan hidup saya sepanjang masa; bukan saya lahir sebagai anak bangsa Palestina yang punya semangat juang tinggi membela bangsanya dengan berbagai cara, hingga cara berperang langsung melawan militer Israel yang terlatih dan bersenjata lengkap lagi super canggih. Mirip dengan para moyang nusantara yang gigih dan ulet membangun peradaban pada masanya.

Mungkin karena saya susahnya cuman karena suspensi dan gasket -hal yang belom pasti berguna- inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia yang banyak orangnya permisif pada banyak hal tak berguna: permisif pada premanisme, permisif (banget) pada korupsi, permisif menggandakan harga obat farmasi, permisif merobotkan anak-anak melalui tekanan belajar sehingga les-lesan anak SD menjamur merajalela, permisif pada banyak penyelewengan. Bahkan begitu permisif menyajikan kekayaan alam negeri ini buat antek asing begitu saja.

Ah ndhak koq, ndhak sepenuhnya bangsa ini permisif. Bagi Anda yang telat mbayar pajak, biarpun cuman sehari, denda langsung menerkam anggaran rumah tangga Anda dengan penuh seringai. Sementara tak adanya sanksi pada pemerintah karena telatnya pemerintah menambal aspal bolong, yang bukan hanya telat sehari namun bisa berbulan-bulan, itu urusan lain yang berbeda dengan (denda atas) telatnya rakyat membayar pajak.

Mungkin karena merasa hepi saat mengendarai mesin V8 inilah Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, karena di sini orang sukses itu jika Anda bisa menampilkan kebendaan wah: membangun rumah megah, bisa tampil perlente, atau bisa bawa Panther, Taft, atau Xenia saat pulang ke desa.

Ya, mungkin karena saya suka prestasi angkawi inilah hingga Tuhan mentakdirkan saya lahir di Indonesia, karena di sini prestasi itu hanya diukur dengan penjualan yang meningkat, omzet yang terus naik, atau korporasi bisa ekspansi dan melantai di bursa saham. Karena ada hal sama seperti itu yang tersembunyi di dalam diri saya atas nama pencapaian “prestasi”: memajang jumlah klien, memajang hasil/portofolio kerja; mengungkapkan nilai omzet bulanan, dan semacamnya yang saling melengkapi.

Prestasi?

– FHW,
mung bisa ndonga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s