Desain: Software Bajakan

Di kota kecil Kediri, harga jasa setting cuman 20rb. Di sini, kebanyakan orang ngertinya cuman setting, belom sampe taraf (memahami) desain. Plus penyedia jasa layanan setting ndhak perlu mengembalikan investasi pembelian software/perangkat lunak orisinal yang harganya bukan lagi mahal, tapi mihil.

Yang tinggal di Kediri pasti memahami hawa ginian ini.

Kalo ndhak pinter-pinternya menyusupkan charge desain ke layanan, alamat babak belur jadi desainer di kota kecil kayak Kediri gini.

Di sini, siapa coba mau kena charge minimal 500rb untuk kerjaan tanpa bentuk barang, hanya berwujud sebuah desain (yang itu dikerjakan siang-malam berhari-hari)?

Di sini, siapa coba mau pesanan ratusan lembar undangan uniknya di-charge 15rb sebiji hanya karena keunikan desainnya? Paling segelintir orang yang susah diharapkan kontinyuitasnya. Yang lain pasti minta yang 4rb sebiji, atau seribuan sebiji.

Di sini, siapa coba yang mau mbayar kalo pesanan banner 10 meternya seharga 20an rb per meter kena ongkos desain 150-250rb?

Di sini siapa coba mau kena charge yang komponennya adalah: pengembalian investasi perangkat keras (hardware), biaya operasional (listrik dll.), plus brainware: bukan lagi sekedar ongkos kerja tapi juga plus ongkos pikiran?

Tanpa bermaksud mengeluh atau males bersaing secara profesional, gimana kita bisa ngembalikan investasi pembelian perangkat lunak orisinal yang harganya jutaan rupiah?

Di kota kecil Kediri, kebanyakan orang ngertinya cuman setting, belom sampe taraf (memahami) desain.

Di sini, persaingan bisa dibilang cuman harga, harga, dan harga. Kompetisi profesional bukan pada indah-menarik/atraktif-komunikatifnya sebuah karya desain (grafis). Percayalah, sepertinya hanya satu-dua yang berani membayar nuansa mahakarya Anda di kota kecil yang diapit gunung Kelud dan gunung Wilis serta dibelah oleh kali Brantas ini. Yang satu-dua ratus klien mungkin hanya akan menanyakan, “Berapa harganya?”

Di sini, Anda tak perlu berinvestasi sebuah workstation, baik desktop maupun mobile dengan dua biji prosesor masing-masing berinti enam atau lebih yang ber-thread ganda dengan memory hingga empat hingga enam slot {dua atau tiga kali lebih banyak ketimbang mainboard biasa} ber-dedicated GPU (graphic processing unit) yang kesemuanya makan listrik banyak watt untuk merender gambar dengan puluhan layer atau ribuan poly hasil karya grafis yang Anda kerjakan siang malam siang malam siang malam {atau jikapun tanpa layer dan poly ratusan(ribu) mungkin risetnya yang berhari-hari} demi menciptakan masterpiece yang mempesona, menarik perhatian (calon) kustomer klien Anda, dan diharapkan menciptakan brand-awareness tinggi untuk mengikat atau menguatkan loyalitas kustomernya.

Di sini Anda cukup berinvestasi ke komputer rakitan, atau branded kelas pasaran dengan wattage rendah yang cukup buat nyetting spanduk atau selebaran -maaf- alakadarnya: yang penting warnanya norak dan penuh kolase tanpa perlu kalkulasi efektivitas penyampaian message; yang cukup diisi aplikasi bajakan – dengan alasan (baca: pembenaran) menekan harga jual jasa, karena (sekali lagi baca: pembenaran) kita tak perlu menghargai kerja keras dan jerih payah pembuat software sebab toh kerja keras kita juga dihargai murah oleh klien.

Bahkan mungkin, di sini jika Anda sampai galau karena masih menggunakan perangkat lunak bajakan dan berusaha sekuat tenaga menggunakan perangkat lunak legal (dengan membeli atau pakai perangkat lunak bebas/open-source) mungkin Anda juga akan diketawai sinis, mendapat penolakan, atau semacam dianggap sinting.

“Ngapain aneh-aneh sih? Pake yang ginian ajalah… Semua juga pake ginian…” Sedihnya kalo yang bilang gitu justru orang yang ngerti aiti (IT maksudnya alias teknologi informasi – koq kebalik kepanjanganya?) 😦

“Waduh, ndhak sanggup ane ngoperasikan Linux. Susah mennn… Biasa pake Windows niy…!” Padahal mereka yang bilang gitu mungkin juga bingung ngadepi (kerumitan) perbedaan Windows 10 usai biasa ngadepi tampeng Windows XP atau 7.

Seru lagi kalo misalnya kita rajin menyebarkan dakwah: “Amalan ini akan dilipatgandakan pahalanya berlipat-lipat ratusan ribuan kali; amalan ini membuat pintu dan cahaya sorga terbuka untuk kita; jangan begini biar ndhak dicambuk api neraka; yang ini haram, ndhak boleh! Umat harus konsisten menegakkan panji-panji kebenaran! Basmi kekafiran! Tinggalkan kesesatan!”

Dan menuliskannya itu semua pake perangkat lunak bajakan. Kalo kami bayangkan, ini seperti orang menyebarkan kitab Quran hasil nyolong entah dari mana. Atau mungkin seperti kita pakai baju rapi, gamis, tapi hasil ngembat dari orang lain.

“Ah, (perkara software bajakan) ini kan cuman urusan duniawi… Yang penting kita rajin menyembah Tuhan…” Sambil komat-kamit teriak dalil menegakkan syariat katanya.

Jadi…, sementara bisa kita simpulkan, bahwa menggunakan perangkat lunak bajakan itu tidak melanggar syariat, tidak membuat kita kecemplung ke neraka. Perkara (penggunaan/menggunakan) perangkat lunak ini bukan bagian dari ibadah, apalagi pada zaman Rasulullah ndhak ada perangkat lunak. Yang bikin kita kecemplung ke neraka adalah kalo tidak mau beribadah. Menggunakan perangkat lunak bajakan ini bukan perbuatan sesat. Sesat itu kalo kita mempertahankan tradisi jaman baheula. Begitu ya?

Dan sangat disayangkan kalo ada yang dengan santainya bilang, “Udahlah ndhak usah nyari repot…”

Padahal sesungguhnya bagian dari tugas dan perjalanan hidup kita adalah dengan kuat/tenang/jernih/jitu/cerdas/mantab menaklukkan kerepotan demi kerepotan (baca: tantangan, untuk) membuat terang keadaan dengan keterbukaan; terbuka bahwa ada perangkat lunak legal dan ilegal. Bukan menjadikan sepanjang hidup nan indah terang elok cantik ini menjadi senantiasa kita pandang gelap karena kesempitan dan ketertutupan pikiran kita.

Tapi ini semua sesungguhnya bukan pembenaran buat beli aplikasi bajakan. Sebab bajakan bukanlah tentang keterbukaan informasi.

Bajakan apapun alasannya, teteplah maling, pencurian, tindakan haram. Kita dapat duit makan dari penggunaan software/perangkat lunak haram, sesungguhnya tak ada bedanya dengan kita makan dari duit hasil korupsi.

Hei, itu kan bikinan Zionist?

M#t#mu suwek kuwi… Bahkan seorang polisi mencuri barang hasil curian maling pun dia menjadi maling juga. Apalagi ini perangkat lunak yang sesungguhnya begitu membantu dan memudahkan kehidupan kita, plus bisa menghasilkan uang.

Sodaramu, temenmu, keluargamu, bahkan bisa jadi (kelak) anak-anakmu bisa jadi (kelak) jadi programer yang dapat duit buat makan dan menyambung hidup dari bikin software.

Gimana kalo hasil karya mereka anak-anakmu sodaramu keluargamu dibajak tetanggamu sendiri, dibajak rekan sekantor, dibajak rekan sekomunitas, dibajak oleh banyak orang? Masih berani bilang ikhlas?

Ati-ati, jangankan ucapan seriusmu, ucapan batin seriusmu pun didenger sama Tuhan.

Well,, terima kasih bagi Anda yang telah membaca tulisan ini hingga di kalimat ini. Namun mohon jangan berpikir macam-macam, tulisan ini kami tujukan buat bayangan diri kami sendiri yang terpampang di depan cermin koq! Jikapun ada manfaat atau inspirasi yang bisa Anda dapatkan, itu semua cuman titipan Allah via tulisan ini. Dan jika ada sesuati yang nj#ncuki dari tulisan ini, itu murni kelakuan kami.

– FHW,
designlessspeechless.
#Gambar nge-link dari laman orang.#

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s