Gosip – Koteka

Di rumah kami ada koteka. Dulu dicerita alm. bapak dengan bangganya: itu hadiah dari salah satu kepala suku saat bapak masih kerja di Irian Jaya/Papua sana. Bersama koteka itu ada barisan anak panah dan sebingkai foto bapak bersama orang -suku asli Papu dan berpakaian tradisional Papua yang penuh rumbai dan pakai koteka- yang bapak sebut salah satu kepala suku.

Meski cuman kami pajang dalam diam, kami tidak pernah berkeinginan menyingkirkan itu koteka dan barisan anak panah Papua itu. Cuman saya juga ndhak mau make. Bukan karena apa, takutnya itu koteka kekecilan kalo saya pake 😛 😛 😛 😛 😛

Intinya, kami tidak memfungsikan benda-benda itu kecuali sebagai hiasan pun kenangan. Koteka dan anak-anak panah itu simpel-sederhana bentuknya, ndhak seperti artefak jawa yang penuh liku dan ukiran njelimet. Namun meski simpel lagi sederhana, dimensionalnya artistik juga kalo saya amat-amati.

Artistik atau ndhak, itu mungkin relatif bagi beragam orang. Tapi memahami sisi artistik koteka gini, ya jangan sampe ndhak mau fair memahami nilai artistiknya dan begitu buta langsung mencapnya haram, najis, dan seterusnya.

Ngemeng-ngemeng artistik, yang pasti, rumah tradisional Papua itu kalo saya lihat keren beud! Honai untuk kaum laki-laki atau Ebei untuk tinggal kaum perempuan dan Wamai untuk kandang ternak; (aslinya) tanpa jendela untuk menahan hawa dingin dari luar. Bentuknya bunder: itu dalam bahasa desain fisik erat berasosiasi dengan streamline. Streamline itu adalah syarat dasar efisiensi.

Perang

MEMANDANG itu koteka, yang aku rasakan cuman satu: orang-orang Papua itu sebenarnya ‘terbuka’, ndhak suka menutup-nutupi, alias fair pun apa adanya. Mungkin demikian maknanya. Dan mereka menjaga sekali kehormatan dan kejantanannya. Nyatanya, mereka yang kadang masih dibilang telanjang (secara harfiah) toh menutup kotekanya, menutup alat vital nan sakral dalam kehidupan ini.

Sementara memandang itu barisan anak panah di rumah, benak saya berkecamuk. Menurut cerita alm. bapak yang sama dengan beberapa referensi yang saya dapati sekian waktu usai bapak berkisah, konon kalo dipake perang, di ujung anak panahnya dikasih racun nan mematikan.

Konon kalo perang, mereka – dua pihak/dua suku yang berperang punya lokasi yang khusus, katakanlah lapangan medan perang. Dalam bahasa Jawa, mungkin ini yang disebut <em?kalangan alias lapangan pertandingan.

Di belakang lokasi/kalangan tersebut terdapat dapur umum berikut barisan emak-emak yang menyuplai makanan/logistik plus ‘balai pengobatan’.

Konon perang itu teratur waktunya: dari pagi hingga petang. Dan yag “unik”, mereka dilarang menembakkan anak panah langsung ke sasaran/lawan, melainkan ke udara yang diperkirakan pada sudut tertentu hingga kembali jatuh bisa mengenai musuh.

Tanpa harus pake perjanjian macam-macam, di luar ketentuan waktu dan lokasi itu maka dengan sendirinya bermakna gencatan senjata. Haram untuk berperang diluar ketentuan yang jantan tersebut.

Dan yang terpenting: perang hanya dilakukan oleh laki-laki cukup umur, serta dilarang mengenai/menyakiti/membunuh wanita dan anak-anak.

Dulu mereka mungkin berperang karena pola pikir mereka – suku-suku di sana masih seperti itu untuk mempertahankan (harga) diri. Kini seiring kemajuan jaman, metode perang ini telah bermetamorfisis menjadi tarian perang artistik dan menjadi obyek pembelajaran pun wisata.

Jikalau prinsip perang ala Papua nan jantan ini terimplementasikan secara benar ke berbagai lini kehidupan, niscaya semua orang akan berlaku dengan kejantanan seperti itu. Kaum laki-laki yang notabene pelaksana hidup ini akan menjaga kesakralan kelaki-lakian mereka; plus tak ada saling sikut politis, menang sendiri, berlaku culas dan licik, dan semacamnya – yakni metode-metode pertarungan yang sama sekali tak jantan.

Melengkapi kejantanan para laki-laki Papua, kaum perempuan berbaris menjadi leher bagi tegaknya kepala para laki-laki.

Melihat metode dan gambaran ini, jelas sekali jika kultur Papua tidak pernah mengisahkan atau mewariskan nuansa LGBT: laki-laki harus menjadi laki-laki, harus jantan dan berperang dengan sesama laki-laki, bukan menindas perempuan. Perempuan ya harus menjadi perempuan, menjadi golongan yang menegakkan laki-laki (ya ‘kan: laki-laki “ditegakkan” oleh perempuan tho?), bukan menjadi golongan yang memberontak kepada laki-laki. Semuanya dimulai dari pendidikan sejak dini di honai.

***

MELENGKAPI kisah alm. bapak, ibu saya berkisah sedikit. Kata ibu, dulu jaman bapak kerja di Papua, di sana katanya beragam ancaman juga sering menerpa. Jika belakangan ini kita biasa mendengar adanya ancaman kelompok separatis yang menyerang pekerja tambang, dulu katanya ancaman senada juga ada. Cuman bukan pake desingan peluru senapan melainkan lesatan anak panah. Dan berita ginian dulu jarag terdengar/tersebar karena masih belom adanya TV, beda sama sekarang.

Saya masih bingung dengan mereka semua para separatis itu. Jika mereka memang berjiwa Papua, koq kelakuan mereka yang menyerang secara sembunyi-sembunyi itu tidak Papua sama sekali…

Saya tidak ingin berbicara mana yang benar mana yang salah dalam hal ini. Saya cuman penasaran: mereka itu siapa? Sekelompok pihak yang benci karena tanah mereka dijarah asing? Sekelompok pihak yang tidak rela Papua menjadi bagian dari Indonesia? Sekelompok pihak yang dibiayai agar Papua bisa lepas dari Indonesia? Sekelompok pihak yang dikelola untuk “menyakiti diri sendiri” demi menarik empati dunia? Atau siapa? Entahlah… banyak pihak yang kayaknya menjawab dengan versinya masing-masing.

Entahlah. Mungkin cuman mereka, BIN, dan Tuhan yang tahu pastinya. Oia, biasanya siy yang kayak ginian Pentagon juga pasti tahu. Cuman semua ini bukan merupakan sesuatu yang perlu untuk diberitahukan ke publik.

Publik cukup diberitahu berita gosip artis dan gosip politik saja. Biar terus bergosip di sepanjang hidupnya, di semua lini hidupnya. Bergosip di ranah pendidikan, ranah kemasyarakatan, ranah agama, apalagi ranah politik pastinya tentunya.

Dan ketika masing-masing korban gosik digosok, alih-alih diredam oleh akseptor gosip yang ada malah di-forward-lah kemana-mana ke seantero bangsa. Jadi semakin sip-lah bagi bangsa ini untuk dikocar-kacirkan, diacak-acak, dicarut-karut, diobrak-abrik, ditabrak-tabrakkan, diporak-porandakan. Semua hanya perlu dimulai dari (ditelannya) gosip.

– FHW,
bangga sama koteka.

Maaf saya ndhak majang foto koteka, barisan anak panah, dan foto bapak saya bersama kepala suku di sini. Semua ada di rumah. Silakan mampir kalo mau lihat.

Advertisements

Lik Sugik

Anda kira Om Abi itu orang yang segala tahu, wikibmwedia berjalan, paham banyak hal tentang biem, menguasai berbagai bidang perbieman, mahir ngoprek elektrikal, lihai remap ECU, punya tingkat hafalan yang super tinggi, gila melahap jutaan referensi;

paham karakteristik semua mesin biem, tau banyak spek biem, handal ilmu fisiokimia otomotif, ngelontok catatan historikal BMW, baik hati dan ndhak songong, suka polah-raga, rajin menyabung, dan sangat expert matematika – fisika – astronomi?

Anda kira Bung Arnold Jonathan itu orang yang segala tahu, wikipedia berjalan, paham banyak hal apapun, menguasai berbagai bidang keilmuan, mahir fotografi, mengerti dunia industri, punya tingkat hafalan yang super tinggi, gila melahap jutaan referensi;

paham karakteristik semua mesin & elektris, tau banyak spek perangkat, handal ilmu kimia-nutrisi, ngelontok catatan sejarah (baca: PSPB), baik hati dan ndhak sotong, suka polah-raga, rajin menyambung, dan sangat expert bidang geologi – fisika – astronomi?

I don’t think so!!! Never!!! Khayal!!! Mustahil!!!

Itu semua karena Anda ndhak pernah kenal secara filosofis siapa itu Lik Sugik!

***

Lik Sugik adalah orang yang tahu sama segala hal meski segala hal ndhak tempe sama dia.

Lik Sugik adalah wikibmwedia berjalan(pelan, super lemot, dan nyaris berhenti), paham banyak hal tentang biem(acakadut), menguasai berbagai bidang per(kawatan)bieman, punya tingkat hafalan(pengkawatan) yang super tinggi, (beneran ndhak waras alias)gila melahap jutaan referensi (ngakali biem);

paham karakteristik semua mesin(ancur) biem, tau banyak spek biem(brodhol), handal ilmu sosiokimia otomotif, ngelontok catatan historikal BMW(nya sendiri, BMW-nya sendiri juga pada ngelontok), baik hati dan tidak sombong, suka polah-raga, rajin menabung, dan sangat mengerti ilmu geofisika (menengarai hujan) dan astronokonomi! (Bulik Astro, Lik Eko, dan Lik Nami)

Lik Sugik adalah satu-satunya pakar aerokawatikal dan telepatika (matematika dengan telepati alias ngira-ngira). Kapabilitas keilmuan dan kompetensi keahliannya maksyur. Rilis (tak)ilmiahnya begitu mengagumkan. Tesisnya: “Pemanfaatan Oli Copotan dan Minyak Seken Secara Sempurna Untuk Melanjutkan Kehidupan Maroon”. Sementara desertasinya: “Metode Aman Penggunaan Air Ledeng/PAM untuk Rehidrasi Radiator”.

Kita semua tau, saking panasssnya matahari, tak ada satupun manusia yang sanggup pergi ke sana. Kecuali Lik Sugik.

Dia berangkatnya malam hari. Jadi aman ndhak kepanasan.

Anda kagum dengan kemampuan seseorang? Think again, and (don’t ever) think Lik Sugik!

***

JUJUR saya akui, saya ini pengagum pemikiran Lik Sugik nan brilian. Dia adalah kepala keluarga kecil dengan cewek dan cowok imut nan lucu. Meski hidup apa adanya dan bukan adanya apa, setiap kali saya menjumpai Lik Sugik pun keluarganya, yang ada dan terpancar hanyalah aura bahagia dan kebahagiaan.

Saya yakin, dibalik itu semua, pasti ada kerikil-kerikil masalah rumah-tetangga dan tantangan kehidupan sebagaimana semua keluarga mengalaminya dalam bentuk masing-masing. Namun setidaknya, saya ndhak pernah menjumpai langsung atau menemukan sendiri adanya dahan dan ranting basah semua persoalan rumah-tetangga Lik Sugik, apalagi sampe keluar apalagi menyebar ke mana-mana. Tak gendong…♪♪♫♫

Inilah sesungguhnya berumah-tangga. Saat suka dan duka bisa dijalani bersana dan membuat semua saling menguatkan, terus memberi dan menerima, menjalani suka dan menghadapi duka: bersama.

Inilah Lik Sugik, yang mana lika-liku rumah-tetangganya -biasanya siy ceritanya cuman berputar-putar seputar nota bengkel vs sudip (sutil/spatula) istrinya- dia ungkapkan sebagai untaian inspirasi yang berlaku universal, dan bukan mengumbar jeroan dapur rumah-tetangga apalagi mempublikasikannya secara massif dan sistematis. Emangnya dia artis(shitnetron)?

MESKI pake biem – mobil yang sering dituduh sebagai mobil mahal oleh banyak orang padahal aslinya biem itu cuman mobil mewah, Lik Sugik ndhak malu mengakui kalo belom tentu dia sanggup ngopeni biem dan bergaya hidup sebagaimana standar kaum ber-uang yang biasa beli parts mihil dan beli aksesoris/pernak-pernak kelas atas. Prinsipnya ini yang sungguh menginspirasi saya.

Ndhak kayak saya yang aliran kere kiri, tapi masih belagu suka lirak-lirik seolah bingung mau mbuang velg standar dan galau mau ganti pake Alpina, ACS, Hartge, Breyton, dll. yang harga sekennya juga masih setara motor pasaran baru.

Seringkali biem Lik Sugik BENERAN kehabisan bensin dan itu si Maroon cuman bisa bubuk pulas (baca: sekarat) di kandangnya sehingga dia harus cukup bermotor kemana-mana. Tak gendong…♪♪♫♫

Cuman, dari seluruh kekaguman saya itu, satu hal saja yang saya ndhak pernah menyetujui kelakuannya Lik Sugik. Yakni kalau dia ngajak kedua anak lucunya bermotor ratusan kilometer: didera panas dan dingin, dilanda terik dan hujan, diserang ngantuk dan lelah, diterpa angin dan asap tebal kendaraan lain yang tak pernah peduli kesehatan bersama dan cuman mementingkan kepentingan dirinya sendiri dengan dalih mahalnya harga parts dan membiarkan asepnya terus tebal plus pemerintah yang banci (ndhak)bersikap tegas terhadap kendaraan-kendaraan berasap tebal yang mengganggu kesehatan bersama ini.

Woalah Lik…

***

Yen pancen mobil lagi ora ana bensine kan kepeksa motoran, mbok anakmu dititpke dulurmu apa kepriye ngono… Asli Lik, sing kaya mangkono – nggawa anak motoran pirang-pirang jam lan adhoh banget/atusan kilometer ngono, kuwi jenenge ora nyenengke anak ning malah berpotensi nyilakani.

Siji-sijining polahmu sing ora bakal dhaksarujuki salawase urip ki mung ngejak anakmu motoran ratusan kilometer ngono kuwi Lik!

Yen kowe arep ngawati biemmu mbok arepa kepriye amrih bisaning terus ambegan, aku ora peduli. Malah yen ana sing ngenyek, dhakunen-unenane wonge! Ning nggawa anak, loro pisan, motoran ratusan kilometer: no way!!!

Kaya anakmu koajak motoran Madiun – Semarang, Madiun – Malang PP ngana kae, asline kabeh ki dha ngenes Lik! Yen pancen lagi ora ana bensin lan (sepurane) ora ana pentinge, mbok ning ngomah wae… Ora usah meksa motoran Madiun – Malang nggawa cah lucu loro ngono…

Amit-amit, aku ora ngarepke apa-apa, ning yen nganti ana apa-apa krana anakmu koajak motoran adhoh, piye perasaanmu jal? Getun ki anane tansah aneng mburi Lik…

Kalo emang mobil lagi ndhak ada bensinnya dan terpaksa harus motoran (demi berhemattt), mbok anakmu dititipkan sodara/famili atau gimana gitu… Sungguh Lik, yang kayak gitu itu: mbawa anak bermotor berjam-jam dan jauh banget – ratusan kilometer gitu, itu namanya bukan lagi menyenangkan anak, sebaliknya malah berpotensi mencelakakan! 😦

Satu-satunya kelakuan ente yang ndhak pernah aku setujui sepanjang hidup ini ya kalo ente ngejak anak-anakmu bermotor ratusan kilometer gitu Lik!

Kalo ente mau ngawati biem, biemu mau ente (akali kayak) gimanakan demi menyambung nafasnya, aku ndhak ambil pusing. Malah kalo ada yang menghina ente, aku sanggup ngata-ngatai sesiapapun dia orangnya! Tapi kalo mbonceng anak, dua lagi, bermotor ratusan kilometer: no way!!!

Kayak kala anakmu ente ajak motoran Madiun – Semarang, Madiun – Malang PP gitu, sesungguhnya kita semua ini nelangsa banget Lik… Kalo emang lagi ndhak ada bensin lan acaranya (maaf) ndhak penting banget, mbok di rumah aja… Ndhak usah nekat ngeyel ngotot bermotor Madiun – Malang mbonceng dua bocah imut dan lucu gitu…

Amit-amit, aku ndhak pernah mau mbayangkan yang ndhak-ndhak, tapi kalo sampe ada apa-apa karena anak-anakmu ente ajak bermotor juauh gitu, gimana perasaanmu coba?

Penyesalan tuh selalu datengnya belakangan Lik… Sebab kalo dateng di depan, itu namanya pendaftaran.

***

Itulah Lik Sugik. Bahwa kita semua tau; karena saking panasssnya matahari maka tak ada satupun manusia yang sanggup pergi ke sana, cuman Lik Sugik yang sanggup. Dia berangkatnya malam hari. Jadi aman ndhak kepanasan.

Anda kagum dengan seseorang? Think again, and (don’t ever) think Lik Sugik!

Bai nde wei, du yu ‘nnow wott ai min? Plis tel mi bikows ai sendiri dont ‘nnow wott ai min.

– FHW,
diiringi tokekan nyaring si Franky. Dan entah dimana si Zulfikar sekarang, biasanya si Franky di balik bupet dan si Zulfikar di balik lemari.

Leica

Rasanya (wajar jika) kita masih perlu banyak kata-kata untuk menerangkan/menjelaskan (apa itu) Audi, BMW, Mercy, Lexus, Cadillac, dan barisan kereta premium lain ke dunia sana.

Namun rasanya tak perlu ada kata-kata apa-apa untuk (menerangkan/menjelaskan apa) Leica ini.

Bagi yang belom pernah mendengarnya, mungkin – bisa jadi teramat susah untuk mengkata-katakannya, mempenetrasikan pemahaman hingga menyesap ke dalam benak. Kecuali sekedar mendeskripsikan secara harfiah bahwa itu adalah kamera.

Bagi yang sudah paham ini apa, tentu kita tak perlu kata-kata apa-apa untuk menjelaskannya, menjelaskan (Leica) ini apa, menjelaskan sensasinya. Cukup diam dan menatapnya, terbentuk dan terbangunlah sebuah bayang yang penuh nuansa dan hawa tersendiri. Bukan sebuah aura harfiah yang datar.

Cukup diam dan menatapnya, sontak runtuhlah kegaduhan segala bahasan berkosakata Nikon, Canon, Olympus, Pentax, Sony, Fujifilm, dan kawanannya. Mendadak mereka semua menjadi seperti Fiat, Opel, Peugeot, Toyota, Honda, atau Suzuki. Mendadak mereka semua menjadi kata yang harfiah, nuansa yang datar, namun membuat sesiapa penggunanya bersyukur. Terlebih jika kita megang pricelist Nikon, Canon, Sony, Olympus vs Leica.

Mungkin Mamiya atau Hasselblad atau Sinar akan sedikit mengganggu ketenangan & kenyamanan indulgensi kita saat dalam diam kita terlamat menatapnya, menatap Leica. Namun mereka semua bertarung di kamar yang berbeda. Bukan lawan sepanggung sepertandingan.

Rasanya (wajar jika) kita masih perlu banyak kata-kata untuk menerangkan/menjelaskan (apa itu) Audi, BMW, Mercy, Lexus, Cadillac, dan barisan kereta premium lain ke dunia sana. Bahkan Roll-Royce atau Bentley atau Pagani pun McLaren sekalipun!

Namun rasanya tak perlu ada kata-kata apa-apa untuk (menerangkan/menjelaskan apa) Leica ini. Kita cukup diam dan bersama-sama memandangnya.

Bahkan, diamnya serasa berbeda dengan diamnya Lamborghini atau Ferrari. Bahkan Koenigsegg atau Bugatti sekalipun. Dan ini juga bukan sebuah diskusi tentang Porsche atau Nissan GT-R.

Kalo saya bilang, sensasi sebuah Leica, jauh lebih sangar ketimbang sebuah BMW.

Dan kembali kita diam melamat sensasinya; Leica.

– FHW
# BelomPernahMegangLeica
# LevelStatus:Mimpi

SAV


BMW X-Series bisa semiring Nissan Patrol ini ndhak ya?

Kalo ndhak sanggup, wajar… lha wong BMW menyebut X-Series bukan sebagai SUV (sport utility vehicle) melainkan SAV (sport activity vehicle), yang konon denger-denger itu dimaknai sebagai “SUV yang agak ‘banci’” gitu.

Busuknya, udah definisinya “ndhak jelas”, SUV… eh, SAV-SAV BMW malah banyak dijadikan benchmark alias acuan/tolok ukur oleh banyak pabrikan lain. Mercy ngeluarin GLC buat menandingi BMW X3. BMW X1 juga kemudian menggoda Mercy untuk melahirkan GLA atau Audi yang melahirkan Q3, berbasis VW Tiguan yang mana mereka emang turut bernaung di bawah grup VAG (VW-Audi Group) bersama juga Porsche dkk. Jauh sebelomnya, santer terdengar kalo Mercy W201 atawa cikal-bakal Klasse-C dibuat buat menghambat popularitas BMW Serie 3.

Di media massa otomotif, jamak beberapa produk BMW dijadikan benchmark oleh para penulis/editornya saat mengupas suatu produk (baru).

Anda layak mengatakan saya subyektif; tapi di mata saya, manajemen BMW emang lihai menelurkan sebuah produk berikut positioning-nya hingga kemudian dominan menguasai segmen pasarnya, jika tidak pada volume penjualannya setidaknya pada product-image-nya.

***

ENTAH apa pertimbangan di belakang layar yang kemudian menjadi kekuatan BMW untuk menelurkan kategori baru spesies mobil. Saya menebak, penetasan kategori spesies baru oleh BMW ini didasari pergerakan pasar {entah pergerakan atau digerakkan} yang semakin menggeser semua barang fungsionalitas ke arah life-style, dengan tetap tanpa mengurangi atau menghilangkan fungsi asli/fungsi dasar si barang.

Mungkin ini yang melatari kenapa pihak BMW kemarin yakin banget menelurkan SAV ketimbang SUV, meski SAV pertama mereka: X5 E53 aslinya adalah copas dari Range-Rover saat BMW memiliki Land-Rover kala itu.

SAV, saya pandang mencerminkan fokus BMW yang direformulasi sejak era 60-an yang ingin konsisten bermain bersih dan kencang di jalan raya alih-alih ikutan belepotan dan berkotor ria di kubangan lumpur, habitat normal para SUV.

SAV dipilih BMW, karena sepertinya SUV akan hilang kejantanannya jika melaju di jalan raya, sementara roda-roda yang menggelinding di muka bumi kini semakin diakomodasi oleh aspal yang laik dan layak ketimbang makadam apalagi jalur tanah berbebatuan seperti sekian dekade silam.

Paling kondang dan sukses menggemparkan dunia dan mendobrak kungkungan kotak persepsi kategori spesies/jenis-jenis kendaraan yang selama ini ada adalah saat BMW menelurkan X6, spesies yang bisa dibilang sama sekali baru, yang mengulangi lahirnya spesies minoritas sebelum-sebelumnya dalam perjalanan sejarah otomotif dunia: spesies out of the box.

Ide dasar X6 sebenarnya sederhana: coupe-SUV… sorry, coupe-SAV. Jadi heboh karena secara bentukan, spesies baru ini tidak jelas diletakkan dimana.

Alhasil, menurut kategori kasta life-style-lah akhirnya jenis baru ini mendapatkan pasarnya. Kasta life-style ini tidak lagi berbicara kendaraan untuk mengangkut apa, melaju dimana, dan menghadapi medan yang seperti apa.

Kasta life-style ini akhirnya merumuskan kendaraan: dibeli oleh orang yang pekerjaan dan aktivitasnya apa (direktur, semiman, fashion-designer, karyawan administrasi, pelajar, ibu rumah tangga, dll.); dengan gaya hidup seperti apa; duit belanjanya rata-rata berapa; suka beli item apa aja; dan semacamnya.

Itu sebenarnya pakem baku yang digunakan untuk merumuskan STP (segment, target, positioning) sejak dulu, cuman konteksnya aja dirancang lebih kekinian. Intinya, kalo boleh saya bahasakan: kustomernya yang kemudian diredefinisikan, bukan kendaraannya dan diredefinisikan.

Hasil redifinisi (gaya hidup) kustomer inilah yang selanjutnya melahirkan definisi spesies baru kendaraan. Atau jika tidak disebut baru, mungkin dia adalah hasil redefinisi ekstrim dari jenis kendaraan yang sudah ada sebelumnya.

Seperti mengulang saat Mercy yang konon menelurkan Klasse-C untuk menghambat laju popularitas Serie 3, X6 sekonyong-konyong memaksa Mercy merancang GLE Coupe untuk menghadang kesuksesannya.

CERUK pasar SAV memang ada – dan sepertinya semakin tumbuh, atau setidaknya mereka temukan, atau telah berhasil mereka (re-)create/lahirkan (kembali). Gambaran ini niscaya semakin diperkuat dengan Land-Rover yang lantas mencetuskan Evoque nan centil, keluar dari pakem Land-Rover salama ini yang seolah: tidak perlu jalanan untuk berjalan.

Dan kemudian BMW sukses menjadi pionir untuk kategori pasar tertentu, pionir di ranah yang mereka ciptakan (ulang) atau mereka lahirkan (kembali) sendiri, yakni ceruk-ceruk baru dan aneh. Aneh karena batasan pengkategoriannya semakin kabur dari bentuk dasar kendaraan: antara ia wagon, hatchback, bahkan sedan.

Setidaknya (masih) aneh untuk saat ini, namun keanehan ini sudah semakin cepat pudar, dan menjelma menjadi definisi baru kategori spesies kendaraan: lebih berdasarkan kasta life-style-nya, bukan lagi menomorsatukan bentuk kendaraan atau peruntukan dasarnya sebagaimana kemarin kita hanya mengenal saloon/sedan, wagon, van, dll.

Pelajaran yang mungkin bisa kita dapat dari ulasan bolah-ruwet ini: jangan takut berbeda jika ada pertimbangan, tujuan, dan benefit/manfaatnya. Bahkan berbeda itu bisa menguatkan posisi kita.

IMHO, CMIIW.

– FHW,
sama. Eh, berbeda.

Swap Mesin/Ganti Jadi Karbu

Ini subyektif saya, ini pemikiran saya pribadi, bukan analisis, bukan kalkulasi, formulasi, apalagi sampe hipotesis.

Subyektif saya pribadi, biem di-swap mesin (merk/pabrikan) lain itu sah, namun tragis. Bikin miris. Situnya yang swap, temennya malah yang ngempet tangis, ndhak bisa lagi meringis.

Swap mesin mungkin dilakukan untuk:

  1. Meningkatkan performa, biasanya ke mesin yang lebih powerfull. Kalo saya pribadi, biem mau ganti mesin apapun asal tetep mesin biem, apalagi mesin standar ke mesin S-Series, it’s so okey!

    Kalo swap mesin biem ke lain pabrikan/merk sekalipun itu katakanlah lebih powerfull, saya susah ngomentari. Kalo prinsip saya, mending pelan gpp deh, asal biem mesinnya tetep biem, bukan 2JZ atau RB-DETT.

    Selain menghargai kerja keras tukang insinyurnya, ada sense tersendiri di mata subyektif saya jika tetep/terus menggunakan mesin dari grup/pabrikan yang sama, sekalipun itu mesin yang dibikin joinan/keroyokan dengan pabrikan lain atau mesin yang produksinya dilimpahkan ke manufakturasi lain. Asal tetep (ada identifikasi) dari si (grup) pabrikan.

    Tapi orang punya alasan masing-masing (untuk masang mesin pabrikan/merk lain ke biem). Dan itu alasan orang. Bukan saya.

  2. Putus asa. Mungkin yang miara biem jauh dari peradaban, atau mungkin ndhak kenal mekanik yang bisa nangani/nyembuhkan penyakit biem atau biaya nyembuhkannya dirasa teramat mahal sehingga harus pake jalan pintas transplantasi yang dinilai lebih murah.

    Kategori putus asa ini tentunya nge-swap ke mesin yang lebih sederhana teknologinya pun parts KW-nya tersedia melimpah bukan cuman KW1, KW2, atau KW3 melainkan sampe KW16.

Termasuk kategori putus asa ini bukan saja yang swap ke mesin yang lebih (sangat) sederhana, melainkan bisa jadi juga yang mbuang perangkat/mekanisme injeksi dan menggantinya dengan karburator.

Konon sebagian orang berpandangan pake karbu itu lebih mudah nyetting, dan karena ketemu settingannya maka mesin jadi lebih irit nenggak bensin; pun kalo dipake balap konon karbu lebih mumpuni.

  • Pake karbu lebih irit? Iya kalo dibandingkan dengan mesin injeksi yang porak-poranda sistem/komponen/perangkatnya. CPD… Injeksi itu sebenarnya bikin mesin lebih irit sekaligus tetep powerfull sesuai kapasitas/speknya.
  • Pake karbu lebih mudah nanganinya?Kalo mekaniknya handal, doi mustinya bisa nyembuhkan penyakit si biem secara lebih langsung, efektif, efisien, dan relatif murah. (Jadi masalah ada di mekaniknya mungkin, bukan di masalah karbu atau injeksinya.)
  • Buat balap karbu lebih mumpuni? Ngemeng-ngemeng balap, itu yang balapan di Sentul koq tetep pake injeksi, ndhak pada dibuang pake karbu kalo (emang) karbu lebih mumpuni?

SAYA nebak, biang paling kerok injeksi diganti karbu kayaknya masalah pada AFM (air-flow meter).

So, saya meyakini kalo mbuang injeksi jadi karbu itu tergolong kategori putus asa, meski ini putus asa yang sah, namun tragis. Bikin miris. Situnya yang swap, temennya malah yang ngempet tangis, ndhak bisa lagi meringis.

Ini subyektif saya, ini pemikiran saya pribadi, bukan analisis, bukan kalkulasi, formulasi, apalagi sampe hipotesis.

– FHW,
biemku “irit”.

Om, kalo kunci BMW E34 udah immobilizer belum yah? Hahaha… Gak ngerti soalnya… Aku pas beli kemarin cuma dapat 1 kunci nya Om… Kalo bikin duplikat apakah semudah kunci biasa untuk e34 530i? Maksudnya gak harus ada chip-chipan segala. Heheh… Soalnya kemarin si Om ada postingan pengalaman duplikat kunci biem. Hehehe… Thanks Om…

-Kang Iwan Susanto-

E34 530i M60 udah pake immo. So, musti menggandakan ke yang biasa nggandakan kunci immo.

Apakah batang kuncinya kudu beli dari dia juga atau ndhak, tergantung tukang nggandakannya mungkin, dia punya apa ndhak. Tapi biasanya siy punya, minimal bisa nyarikan gitu.

Solusi lain: immo-nya di-disabel. Tapi yang ngerjakan musti bener-bener biasa ngerjakan ginian.

Immobilizer intinya buat gaya-gayaan keamanan. Penting pula pake immo mustinya adalah para motor yang ‘guampang’ banget dicongkel maling gitu, biar ndhak gampang lagi digondol.

Mobil juga sama pentingnya tentunya, khususnya yang konstruksi mekanisnya lemah dan lumayan ‘malingable’.

Cuman, meski pake immo yang teorinya menjamin mobil aman dari tangan-tangan orang lucu atau tak berguna, yakin semua mobil ber-immo pasti ndhak diincar maling?

Cuman lagi, andaikan bisa maling nggondol mobil ber-immo, pertanyaannya – tanpa bermaksud menggampangkan sama sekali, siapa siy yang mau maling BMW, apalagi BMW V8 jadul purba tua bmwangka? 😀

– FHW,
immo… hiks… immo…

(Jancuk) Aku Lagi Mbatin

<HEAD>
Ini cuman mbatin!
<TITLE>Mbatin</TITLE>
</HEAD>

<—Mbatin mulai—>

##Mungkinkah harus saya simpulkan:
##mereka yang teriak-teriak anti-wahabi adalah syiah,
##dan
##mereka yang teriak-teriak anti-syiah adalah wahabi?

##Namun kayaknya,
##keduanya pasti ndhak terima saya katai demikian.
##Masing-masing masih selalu menganggap dirinya paling benar,
##tetep benar,
##mungkin.

##Cuman segitu kemampuan mereka menjaga iman.
##Kebenaran harus ada dengan menyalahkan
##pada pihak lain.
##Padahal kebenaran adalah pencarian kita.

##”Jangan pernah ragu, syiah bukan Islam!”

##”Organisasi yang kenceng teriak anti-syiah,
##di belakangnya pasti didanai wahabi!”

##Wong-wong kuwi pancen kaya aku, orang-orang itu emang mirip aku: jancuk kabeh!

<—Mbatin selesai—>

– FHW,
lagi mbatin.