Perlakuan Transmisi Matic BMW

#BongkarPM

Selamat siang Om. Apa kabarnya niy?

Saya ada sedikit pertanyaan nih. Saya belum lama beralih ke e46, sama halnya juga saya belum lama menggunakan mobil matic. Cara saya mengendarai matic juga cuma berdasarkan pengetahuan awam saya, sesuai kebanyakan cara orang mengendarai mobil matic.

Pertanyaan saya, apa benar ada beberapa perbedaan antara transmisi matic BMW dengan mobil lain pada umumnya, katakan saja dengan mobil Jepang?

Untuk pertanyaan saya ini hanya saya fokuskan pada cara mengendarainya.

Simpelnya yang saya tau pada mobil matic kebanyakan, jika berkendara kemudian berhenti sesaat mesin hidup seperti di traffic light, baiknya memindahkan tuas ke N jangan di tahan di D. Namun saya pernah dengar dan baca juga, jika pada BMW hal tersebut justru tidak dianjurkan.

Matic pada BMW didesain untuk memudahkan pengguna, cukup pindahkan ke D ketika hendak berjalan, dan N ketika sudah berhenti lalu pindah ke P saat mesin dimatikan. Apakah benar begitu om? Lalu tuas N itu baiknya digunakan saat posisi mobil sedang bagaimana?

Terimakasih sebelumnya om.

Badak birunya om matic apa manual ya?

Pak Dosen Alfa William Rose

Well, tengkiu PM-nya. Badak biru matic koq… πŸ˜€

Transmisi matic BMW rasanya sama aja kayak mobil lain, khususnya yang udah matic pake ECU (pindah giginya udah dikendalikan komputer, bukan pake tekanan oli/mekanis). Dan nyaris semua mobil matic era milenium ini udah pake ECU matic. Dan penggunaannya sebagaimana yang njenengan utarakan: cukup pindahkan ke D ketika hendak berjalan, dan N ketika sudah berhenti lalu pindah ke P saat mesin dimatikan. Udah, itu aja πŸ˜€

Cuman, transmisi D emang boleh ditahan -pas lampu merah misalnya- asal ndhak lebih dari 120detik. Mungkin tiap tipe beda, pastinya cek di buku manual. Lebih dari itu, pindahkan ke N (konon agar oli maticnya tetep terus diputar), so jangan lupa handbrake.

P, sesuai namanya, dipakenya pas parking aja. Tapi ati-ati kalo parkingnya di tempat yang ndhak datar. Upayakan berhenti, tarik handbrake dulu, baru pindah tuas ke P. Kalo ndhak, biasanya akan ada sedikit geser, jadi mobil bisa ngejedhag pas mau dijalankan lagi.

MUNGKIN yang dikhawatirkan kebanyakan orang agar jangan suka mindah-mindah tuas matic adalah buat mobil matic jaman dulu, yang perpindahannya masih mekanis. Mobil matic jaman dulu emang belom bisa shift on the fly. Mindah giginya, mobil mesti berhenti atau pada kecepatan sangat rendah. Kalo ndhak, matic bisa ambrol.

ECU Pinter

Mobil matic sekarang udah pinter-pinter. Bahkan ECU maticnya bisa berpikir juauh lebih cepat ketimbang kita memutuskan pake gigi berapa umpanya pake manual. Kita jalan nyantai, kemudian jalannya agak nanjak. Kala komputer mobil membaca ada reduksi kecepatan pada rpm yang stabil, dia akan shift-down dengan sendirinya.

Belom lagi mulai generasi tertentu (mulai E34 generasi kedua kayaknya), maticnya udah punya multi-mode. Rentang RPM perpindahan giginya beragam. Tidak harus di titik 2500 RPM. Tergantung kondisi kita berkendara, dan itu semua dianalisis komputer dengan waktu yang super cuepattt! :O

Belom lagi fitur “lepas converter”. Pada kecepatan tinggi dan stabil, matic tidak lagi digerakkan oleh konverter. Konverter akan diistirahatkan, tenaga dari mesin bisa langsung ke penggerak! :O

Pun dengan steptronic (nama dagang manumatic di BMW). Sesungguhnya itu adalah matic udah bisa kita main-mainkan seenaknya, asal ada pertimbangan dan perhitungannya.

Pada matic biasa, yang cuman 1-2-3-4-D, tuas bisa kita naik-turunkan sesukanya. Tapi pada kecepatan tinggi kemudian tuas kita geser ke 2, ya mesin akan meraung kesakitan. Artinya, sepandai dan secanggihnya matic, tetep kita manusianya inilah yang masih punya kekuasaan penuh untuk menentukan nasibnya πŸ˜€ Hehehehe….

***

JADI jangan khawatir dengan matic njenengan. Pakai dengan santai aja seperti pakem itu tadi: cukup pindahkan ke D ketika hendak berjalan, dan N ketika sudah berhenti lalu pindah ke P saat mesin dimatikan. Udah, itu aja πŸ˜€

Dan sekali-sekali mbok dimainkan itu steptronicnya. Makenya persisi kayak mobil manual, kecuali kita ndhak perlu nginjek kopling lagi. Dan jangan kaget, meskipun itu “manual”, kalo RPM nyentuh redline, komputer akan shift-up dengan sendirinya, agar mesin dan matic ndhak menggos-menggos dan berpotensi rusak.

Terakhir, jangan lupa maintenisnya. Kuras oli maticnya secara teratur sesuai buku manual atau sesuai spek olinya. Jangan kayak saya πŸ˜›

Selamat menikmati matic canggih BMW, meski itu ada di BMW taon tua πŸ˜€

IMHO, CMIIW, CMIIW, CMIIW. Kalo ada koreksi, mohon dikomeng. Dan kalo chit-chat, selalu paling enak emang di angkringan-online.

– FHW,
masih bisa kick-down

Mengenal Transmisi Automatic ada di di sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/10/04/mengenal-transmisi-automatic/

Advertisements

Mobil Kaleng, Mobil Boros

Ini posting murni curcol. Bukan komplain, bukan protes, bukan pula sebuah paparan. Bukan analisis, bukan opini, apalagi pengungkapan data dan fakta. Ini posting murni curcol.

Wajar orang mungkin marah kalo kita ngatakan ‘mobil kaleng’ kepada jenis kendaraan tertentu. Layak jika ada yang membela, “Orang punya mobil punya pertimbangan dan kebutuhan masing-masing sendiri-sendiri. Kenapa harus pakai paradigma Anda yang berbeda dengan mereka?”

Semua orang punya kebutuhan, alasan, dan pemikiran masing-masing sendiri-sendiri dalam membeli mobilnya. Termasuk jenis mobil yang kadang dikatai sebagai ‘mobil kaleng’ itu.

Well, okey…

Kalo mengatakan ‘mobil kaleng’ itu dilarang; yang artinya biarin aja mobil mereka kayak gimana – karena itu urusan mereka, itu mobil-mobil mereka sendiri, dibeli pake uang mereka sendiri, yang make mereka sendiri, yang ngurusi mereka sendiri;

lantas kenapa pas saya/kami-kami ini di cucian mobil, di bengkel AC, di bengkel kaki-kaki/spooring-balancing dsb. biasa didatangi orang dan mengungkapkan pertanyaan empirik, “Ini mobilnya boros ya Mas? Spare-parts mahal ya? Dibenerin susah ya? Harga jualnya jatoh ya Mas?”

Kenapa mereka yang iseng kayak gitu -yang iseng ngurusin mobil kita-kita ini, entah mau ada bensinnya mau ndhak itu urusan kita, mau parts-nya mau kita ganti mau ndhak itu urusan kita, mau kita nangis atau ngakak saat harga jualnya jeblog itu adalah urusan kita, dsb.- itu ndhak ada yang marahi? Apakah ini semua bukan termasuk iseng ngurusi mobil orang lain juga?

Kenapa cuman yang iseng ngurusi mobil orang lain dengan menilainya sebagai mobil kaleng aja yang dilarang?

Kenapa?

Dan…

Kenapa saat mobil premium ngisi Premium sepertinya banyak yang memarahi sementara mobil diesel common-rail ngisi solar yang isinya sampah itu kayaknya ndhak ada yang marahi?

Entahlah…

Ini posting murni curcol. Bukan komplain, bukan protes, bukan pula sebuah paparan apalagi analisis, opini, lebih-lebih pengungkapan data dan fakta. Ini posting asli ngasal ngawur.

Kalo isinya salah mentah, ya panteslah… πŸ˜€

– FHW,
curcol!

Escape Go Further

Mendadak sore ini Indonesia gempar. Ford Motor Indonesia (FMI) menghentikan operasinya di Indonesia setelah akhir taon kemarin menghantikan pula operasinya di Jepang.

Padahal, di pameran akbar otomotif Indonesia taon silam, Ford meluncurkan serentak beberapa model plus tambahan sembilan dealer. Artinya ada sekitar 40an dealer (?) di seantero Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Ford tidak terdeteksi sebagai merk yang kelihatan susah. Bahkan dirilisnya dapur pacu EcoBoost pada beberapa modelnya barusan kemarin juga lumayan membuat gempar jagad otomotif kita. Mesin kecil namun bertenaga besar sekaligus irit.

Model-model produknya juga bisa dibilang populer di sini. Harganya juga tidak terlalu ‘mencerminkan mobil Amerika yang mahal’, alias 11-12 aja sama mobil Jepangan. Secara aslinya produk-produk Ford yang di sini merupakan kembaran produk-produk Mazda, yang mana Ford punya saham di situ.

Mengejutkan. Saya ikuti di lini massa semua tampaknya bener-bener terkejut. Detikoto sampe menulis: tak ada angin tak ada apa, mendadak ada berita ini. Meskipun Ford tetep meneruskan layanan pelanggannya. Namun mereka tak jualan produk (baru) lagi 😦 Pernyataan resmi pihak Ford Indonesia bisa disimak di sini http://www.ford.co.id/about/newsroom?article=1249195504702 atau di sini http://www.ford.co.id/about/newsroom?article=1249195504702.

Sepertinya, rasa-rasanya, berita tutupnya Ford Indonesia ini sedikit berbeda dengan tutupnya GM Indonesia sebelomnya, yang tidak ada berita bagus banget tentang penjualan Chevy Spin, kecuali Captiva yang justru cukup kondang.

Data-data angkawi tentang berapa jumlah dealer Ford, macam-macam produknya berikut harga jualnya, saat posting ini saya ketik masih bisa diakses di laman Ford.co.id atau banyak laman lainnya.

Saya tak ingin berbicara tentang angkawi ini.

Pertanyaan yang berkecamuk di benak saya adalah: dengan produk-produknya yang cantik, spesifikasi dan fitur yang memumpuni, dan harga yang worth to buy serta jaringan penjualan yang tak sedikit, kenapa penjualannya dianggap masih dinilai jeblok/tak menutupi operasional Ford Motor Indonesia?

Atau dengan kata lain, kenapa Ford tak laku di sini?

Jawaban klasik dari pertanyaan di atas mungkin: itulah nasib mobil Amerika/Eropa di sini. Tak bisa laris seperti mobil Jepang yang irit, murah, dan handal.

Sekali lagi: apakah Ford tidak irit, tidak (relatif) murah, dan tidak handal?

Tesis point ini mentah jika menurut saya. Ford yang masuk ke sini bukanlah F150, F250, Ford Explorer, E-Series, dll. yang buesarrr-buesarrr bodi dan mesinnya. Ford yang masuk sini menurut saya sudah Asia banget, Indonasia banget. Apalagi dengan basis teknis dari Mazda itu tadi.

***

Okey, kalo jawaban ini mentah, mungkin karena: dealernya tidak sebanyak Toyota/Suzuki.

Bisa, tapi apakah ini jaminan? Rasanya dealer Ford lumayan mendekati kantung-kantung pasarnya. Dan relatif mudah diakses dari kota-kota yang melingkupinya. Pembeli Ford di Kediri ini misalnya, bisa memilih ke Surabaya atau Malang untuk merawat Ford mereka. Lumayan memang jaraknya: 120an km. Tapi waktu tempuhnya tak jauh beda seperti dari Cinere/Blok M ke Ford Fatmawati

Saya masih kurang yakin dengan alasan jumlah dealer ini.

***

Kira-kira lagi: karena tampangnya yang kaku ala Amerika, sehingga orang sini ndhak suka.

Yakin? Emang Fiesta gitu jauh kerennya dari Mazda 2 atau Yaris? Emang ranger ndhak sekeren Hilux atau Strada? Serius tampangnya ndhak pas dengan kultur dominan masyarakat sini?

Terakhir, saya pribadi justru punya dua poin kenapa Ford mengenaskan nasibnya di sini. Pertama, mereka tak punya low-end MPV, khususnya 7-seater. Dulu kondisi ini menimpa Nissan dan Honda. Belakangan Nissan meluncurkan Livina dan sukses, sementara Honda yang sekian lama bertahan nafasnya dengan Jazz kemudian terus menguatkannya dengan Mobilio.

Suzuki yang kondang dengan Carry meneruskan nasib baiknya dengan Ertiga.

Toyota masih kaya-raya, usai merintis Kijang lantas menggariskan jamannya dengan Avanza. Daihatsu yang kondang dengan Zebra masih terus meringis girang dengan GranMax dan Xenia.

GM yang agak menyedihkan. Entah kenapa Spin-nya yang bagus speknya, punya varian diesel lagi, tetep sial nasibnya. Hyundai-KIA masih tertolong dengan city-car imut mereka, macam Visto atau i10 meski bukan 7-seater. Intinya: punya low-MPV.

Kedua, sekalipun punya low-MPV, kayaknya masalah desain memang sangat menentukan. Buktinya Aveo, Spin, juga tak terlalu laku. Bisa jadi karena desain mereka yang terlalu ‘kaku’ ala Amerika tadi.

Lantas kenapa masalah desain ini sangat berpengaruh?

Saya pribadi masih membantahnya sebenarnya. Xeniavansa terbaru ii desainnya amburadul. Innova juga gak keren menurut saya. Kerenan Innova generasi paling pertama.

Bisa jadi, alasan mobil-mobil yang tak laku itu kenapa tak laku, karena ada satu faktor pada konsumen yang saya tak bisa menelaahnya apa dan kenapa bisa muncul, yakni: latah.

Konsumen di sini membeli kendaraan bukan dengan pemikiran: formulasi kebutuhan kendaraan, perilaku mengendarai kendaraannya (=menyesuaikan diri dengan karakter masing-masing kendaraan), dan semacamnya.

Bisa jadi, konsumen di sini membeli mobil yang sama dengan kebanyakan orang, agar mereka merasa aman dan nyaman karena banyak temannya.

Teman untuk melakukan hal sama.

Sekalipun mereka belom tentu benar-benar membutuhkannya.

Mungkin, inilah kultur masyarakat di sini. Bisa jadi.

Well, yang pasti sekarang dengan lenyapnya GM dan Ford, Indonesia cuman bakal didominasi mobil-mobil Jepang yang tampangnya cuman cantik di depan namun langsung membosankan tak seberapa lamanya.

Semakin sedikit lagi penyeimbang mobil-mobil Eropa-Amerika yang masih mengusung kesan “kaku” namun ayu.

Jalanan Indonesia, mungkin akan semakin terasa menjemukan, isinya akan semakin seragam dan itu-itu saja yang terlihat; khususnya dalam pandangan mereka kaum minoritas penggemar pabrikan barat atau mereka yang menyukai keberagaman.

Ini semua cuman umek-uneg di benak saya yang maha dangkal analisis dan segala pertimbangannya.

Mohon tanggapan rekan-rekan.

– FHW,
terpesona pada Fiesta dan All New Everest.

Menggandakan Kunci BMW

Saya naik motor, mendatangi tukang kunci di depan SDN Jagalan, Kediri.

“Pak, ndherek tanglet rumiyin nggih? Saged ngukir tengah kunci mekaten punika?” (Pak, nanyak-nanyak dulu boleh kan? Bisa ngukir kunci kayak gini?) Kata saya sambil menyodorkan blank key BMW dan foto kunci master dari hape.

“Saged, Mas!” (Bisa, Mas!) Kata si Bapak tukang kunci sambil membolak-balik itu blank key kemudian gantian liat poto kunci master di hape.

“Pinten ongkosipun Pak?” (Berapa ongkosnya, Pak?)

“Kunci mobil napa punika Mas?” (Kunci mobil apa ini Mas?) Tanya balik si Bapak kepada saya. Padahal ada logo kecilnya di itu blank key yang dia lihat-lihat.

“Kuncinipun BMW Pak…”

“Oh, setunggal atus Mas…” (Oh, 100rb Mas…)

“Niki kuncine pun lami Pak… Pun kirang gathuk pleg teng mobil…” (Ini kuncinya udah lawas banget Pak, ada kurang presisinya di mobil…) Saya mencoba menjelaskan term and condition-nya.

“Dicobi rumiyin kemawon Mas… Niki kuncine pun di-set?” (Ya kita lihat dulu aja Mas… BTW, ini kuncinya udah di-setting?) Tukas si Bapak menunjukkan profesionalitasnya.

Di-set? Sepintas saya mengernyitkan dahi. Sejurus kemudian saya paham maksudnya: dikloning immo-nya. Canggih niy bapak, ngerti masalah immo juga πŸ˜€

“Oh, chip immobilizer tho Pak? Mangke kula ingkang mindah piyambak…” (Oh, chip immo tho Pak? Itu nanti urusan saya, saya pindah sendiri koq…) Saya mencoba meredam kekhawatiran si Bapak tentang immo.

Si Bapak manggut-manggut.

“Kula biasa nggarap kunci Innova, CRV, lan lintune Mas… Biasane tiyang tumbas teng dealer, lajeng diukir teng mriki. Saged ugi pesen teng sales, regine selisih saking nem atus namung dadhos satus kalih dasa. Mangke ongkose tigang dasa… Kula sukani selangkungan menawi ngukir kalih.”

(Saya biasa ngukir kunci Innova, CRV, dll. Mas… Biasanya orang beli di dealer –blank key sama kloning chip immonya kala saya tangkep nuansa penjelasan si Bapak itu tadi- lantas diukir di sini. Bisa juga pesen ke suplier anak kunci, harga jauh lebih murah, selisih lumayan dari 600an rb di dealer, di sales cuman 120an rb – tinggal 20%nya dari dealer. Dan ongkos ukirnya 30rb aja… Atau 25rb sebiji kalo ngukir dua anak kunci.)

Gantian saya yang manggut-manggut. Kalo anak kunci (mobil) pasaran ongkos ukirnya cuman segitu 😦 Hiks…

“Inggih, mangke menawi siyos, mobile kula begtane mriki… Kersane saged langsung dicobi… Tutup jam pinten Pak?” (Okey deh Pak, nanti kalo jadi, mobilnya sekalian saya bawa sini… Tutup jam berapa Pak?)

“Kula jam 3 Mas… Minggu kΓ¨ndΓͺl…” (Kalo saya tutup jam 3 Mas, minggu libur.)

Saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan.

Saya starter motor, pindah ke tukang kunci yang sebelah agak sonoan, yang ndhak keliatan dari lapak si Bapak, di pusat perkuncian kawasan Pasar Setonobethek. Di sini tukang kunci berjajar-jajar. Dari yang alatnya lumayan lengkap buat ngelayani kunci aneh-aneh sampe yang ngelayani kunci tipis gepeng dan ngukirnya masih cukup pake kikir! πŸ˜€

Rekan-rekan Kedirian pasti ngeh jarak dari kawasan Jagalan ke Setonobethek: ndhak jauh, tapi cukup untuk ‘menghilangkan diri’.

Selain menggandakan, mereka di sentra perkuncian Pasar Setonobethek tersebut kebanyakan juga terima jasa bongkar pasang kunci macet atau kunci ilang. Juga terima reparasi bonggolan kunci dan rumahannya. Kebanyakan siy emang kunci rumah, kunci motor, atau mobil model pasaran gitu.

Kalo pandai nawar, harga bisa jauh lebih miring ketimbang beli satu set rumah kunci. Rumah kunci motor atau silinder kunci pintu rumah misalnya.

Jeleknya, saya kurang ahli nawar-nawar harga. Biasanya saya cuman ngandelkan sreg apa ndhak di hati.

Pun saya juaranggg banget urusan sama bongkar-pasang/reparasi kunci. Paling-paling cuman nggandakan kunci rumah biar seisi rumah megang satu-satu karena anak kunci bawaannya masih kurang sebiji-dua-tiga. Kalo cuman nggandakan kunci umuman gini, biasanya mereka ngasih harga pas aja.

Cuman saya kurang tau, apakah mereka bisa ngegandakan kunci digital, yang pake kartu atau slot key berisi chip itu, bisa dibilang udah ndhak pake batangan berukir gitu; baik buat pintu rumah atau kunci mobil. Dan kayaknya khusus yang ginian ini belom ada. Mungkin dari Anda ingin membuka bisnis ini, pastinya belom ada pesaingnya di sini. Mengingat mobil-mobil sekarang udah banyakan yang keyless-entry dan kunci pintu rumah juga bisa dipake sistem digital.

Pasar? Kalo belom ada, bisa diciptakan! Kuncinya pada edukasi dan keseimbangan harga vs manfaatnya price vs value. πŸ˜€

Di depan tukang kunci.

“Pak, ndherek tanglet rumiyin nggih? Saged ngukir tengah kunci mekaten punika?” (Pak, nanyak-nanyak dulu boleh kan? Bisa ngukir kunci kayak gini?) Kata saya sambil menyodorkan blank key BMW dan foto kunci master dari hape.

“Saged, Mas!” (Bisa, Mas!) Kata si Bapak tukang kunci sambil membolak-balik itu blank key kemudian gantian liat poto kunci master di hape.

“Pinten ongkosipun Pak?” (Berapa ongkosnya, Pak?)

“Kunci mobil napa punika Mas?” (Kunci mobil apa ini Mas?) Tanya balik si Bapak kepada saya. Padahal ada logo kecilnya di itu blank key yang dia lihat-lihat.

“Kuncinipun mobil tuwaaa sanget Pak… Kagungane rencang punika, punika wau nitip teng kula kersane kula tangletne rumiyin…” (Kunci mobmwil tua bmwangka Pak… Punyak temen koq , ini tadi nitip ke saya buat nanyak-nyak dulu…) Saya ndhak bohong, emang itu blank key punya Om Abi.

“Pitung dasa gansal Mas…” (75rb Mas…)

“Niki kuncine pun lami Pak… Pun kirang gathuk pleg teng mobil…” (Ini kuncinya udah lawas banget Pak, ada kurang presisinya di mobil…) Saya mencoba menjelaskan term and condition-nya.

“Dicobi rumiyin kemawon Mas…” (Ya kita lihat dulu aja Mas…) Tukas si Bapak menunjukkan profesionalitasnya.

“Inggih, rencang kula kabarane rumiyin. Mangke menawi siyos, mobile kersane dibegta mriki… Supadhos saged langsung dicobi… Tutup jam pinten Pak?” (Okey deh Pak, temen saya kabari dulu. Nanti kalo jadi, mobilnya biar sekalian dibawa sini… Biar bisa langsung dicoba. Tutup jam berapa Pak?)

“Kula jam gangsal Mas…” (Saya tutup jam 5 Mas…)

Saya mengucapkan terima kasih dan berpamitan.

Moral cerita ini: kalo urusan sama BMW, mending bawa motor, dan upayakan jangan ngaku apa-apa tentang BMW. Lumayan, itu nyari info ngukir anak kunci aja udah turun 25rb (25%) hanya karena saya ndhak nyebutkan merk BMW πŸ˜€

Sukur-sukur kalo bisa ngerayu tukang kunci agar blank key BMW diukir pola luar -bukan pola dalam- kayak anak kunci mobil pasaran gitu, mungkin ongkosnya bisa turun jadi 30rb. Malah 25rb per biji kalo ngukirkan dua anak kunci(BMW, dengan pola ukir mobil kebanyakan)! πŸ˜€

Jadi inget pas beli semangka di sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/04/23/bmw-yang-luar-binasa/: suatu sore saya sama istri naik motor beli semangka, sekilo dihargai 5rb. Tepat besok paginya saya kembali ke penjual yang sama bersama istri bawa BMW, sekilo harganya 6rb nett dari awalnya ditawarkan 7rb. Udah beda 20% πŸ˜€

Bawa BMW koq nyari murah? Gengsi donk!

Makan aja itu gengsi, sampe kenyang sono! πŸ˜€

– FHW,
saya bukan anti gengsi, saya cuman gagal nyari gengsi apalagi sampe jaga gengsi.

Miara Biem di Pedalaman

Ada rekan yang komeng di posting sebelumnya https://freemindcoffee.wordpress.com/2016/01/06/e36-atau-e39/comment-page-1/#comment-395 tapi saya putuskan jadi posting baru, soale saya pikir pertanyaan+jawabannya bisa melahirkan tema baru: miara biem di pedalaman πŸ˜€

Saya copas komengnya:

“Yth. Mas Freema, Salam kenal. Saya Ovan dari Depok sekarang lagi berdinas di Tj. Balai Karimun (TBK). Mohon waktunya untuk berdiskusi masalah Biem.

Saya pernah merawat E30-M40 yang bisa dibilang cukup sukses, serta E46-N42 yang amburadul karena masalah transmisi matic, dan sampai hari ini masih trauma kalau bicara Biem matic.

Seperti yang saya sampaikan bahwa saat ini sedang bertugas di daerah antah berantah yang hampir tidak ada bengkel perawatan untuk Biem.

Tapi ada kekangenan yang amat sangat dari saya dan istri untuk kembali meminang biem.

Biem yang kita mau adalah yang bertransmisi manual dan CC yang cukup besar. Jatuhlah pilihan kepada E36-323i limited edition yang sudah 2500cc.

Rencananya mobil akan dicari di Jakarta, dan kirim pakai container ke TBK.

Bagaimana menurut Mas Freema? Mohon masukannya.”

Menurut subyektif saya pribadi: perfecto!

Pertama, E36 itungannya paling simpel dan murah maintenisnya. Untuk kondisi Om Ovan yang seperi itu, saya pikir sudah pas pilihannya. E36 (323i): tampangnya modis, tapi galaknya sadis, sementara maintenisnya ndhak bikin nangis. Performanya buas tenaganya bengis, namun irit bensinnya masih bisa bikin mringis, dan pajaknya terhitung ekonomis. Jadi mobil keluarga kecil pun terlhat manis. Pas gerimis, tebal plat bodinya -khas BMW- bikin kabin juga masih senyap syahdu romantis.

Elektrikalnya juga masih lumayan simpel meski 323i adalah opsi tertinggi yang -katakanlah- paling rumit dibanding varian bawah-bawahnya.

E46, apalagi mesin N-series, mungkin masih service-friendly kalo kita tinggal di Jakarta/kota besar Jawa. Di kota kecil Jawa kayak Kediri ginipun, rasanya masih serem-serem nikmat miara mesin magnesium gitu.

Tapi ya semua kembali ke (dompet) masing-masing siy… Tapi overall, menurut hemat saya, E36 adalah pilihan yang paling pas untuk kondisi sedemikian tadi. Sementara kalo E34, mungkin cuman orang-orang tertentu saja yang bisa memahami aura gagahnya. Kebanyakan menilai E34 biasanya terlalu jadul karena lampunya yang telanjang itu πŸ˜€

Restorasi Worry-Free

Kedua, Kalo bisa jangan cuman beli kemudian langsung dikirim ke TBK. Kalo bisa, restorasilah dulu biem pilihan Anda sampe pada kondisi dan status worry-free. Ini mengingat dan dengan asumsi seperti yang njenengan utarakan tadi: bisa dikata tak ada bengkel yang bisa nangani biem.

Daripada daripada, mendingan mendingan. Daripada ntar masih ada apa-apa pas mobil udah nyampe TBK, mending anggaran keluar buanyakkk untuk -katakanlah- menjamin itu mobil reay to run.

Beberapa otem yang perlu dipastikan dalam restorasi:

  • Buka cylinder-head bersihkan kerak-kerak dan ganti top-set. Termasuk ganti o-ring pada rumah (housing) filter oli dan ganti pula seal-seal klepnya. Sekalian lanjut tune-up: ganti oli, ganti busi, ganti filte rudara, ganti filter bensin.
  • Ganti packing girbok, kalter/bak oli (oil pan)
  • Ganti selang power-steering jika udah keras/gembung. Ganti seal-sealnya juga
  • Periksa cooling-system: ganti selang-selang yang udah tua, gembung, dan terlihat mulai getas pada ujung-ujungnya yang diklem. Ganti thermostat (berikut housingnya tentunya) dan water-pump. Ganti juga radiator jika keliatan buanyak keraknya. Setidaknya bersihkan sebersih mungkin dalemannya.
  • Ganti visco-fan, pake yang bagus/ori. Jangan pake yang KW, dijamin buang uang!
  • Cek/ganti engine-mounting.
  • Kuras freon AC: ganti drier dan katup akspansi. Termasuk oli kompresor tentunya. Kalo selang-selang AC udah bisul-bisul, ganti! Jangan lupa bersihkan evap, dan pasang lagi filter kabin yang baru,
  • Ini paling penting: cek kaki-kaki, ganti komponen yang rusak maupun yang setengah rusak. Jangan cuman ganti yang rusak aja. Contoh rusak: joint udah oblak. Contoh setengah rusak: joint bisa muter. Contoh masih bagus: joint bisa digoyang, tapi ndhak bisa diputer. Saat ngerestorasi kaki-kaki, jangan pernah lupa: support-shock wajib diganti.
  • Ini “sepele” tapi juga wajib normal: wiper musti berfungsi normal, washer bisa nyemprot(lebih aman kalo pompanya dimodif terpisah dari tabung pake pompa washer punya Jepangan), power-windows musti berfungsi normal, instrument-cluster berfungsi semua (cek pake scanner), lampu-lampu nyala/berfungsi semua termasuk tuas lampu parkir (gandeng sama tuas sein), dan upayakan headlight-levelizer masih bekerja normal. Kalo lampu low-beam diganti HID, upayakan pake barang branded dan cukup 4500 Kelvin (putih agak sedikit kuning) aja ya? Jangan yang 6000 Kelvin (putih tih tih) apalagi lebih dari itu (biru). Kasihan pengendara dari depan…

Merestorasi biem di Jakarta kemudian baru diboyong ke pedalaman Indonesia, demikian jika boleh saya simpulkan. Kalo seperti itu sekenarionya, saya pribadi jikalau diperkenankan berpesan: “jangan hemat ngabisin duit buat ngerestorasi total E36 pilihan Anda.”

Ngabisin duit bukan berarti menghamburkan tanpa perhitungan lho! Pilih bengkel yang cermat bekerja dan melayani dengan sepenuh hati, bukan sekedar sepenuh upah dan sepenuh gaji.

Jika udah siap, stock beberapa fast moving: filter oli, filter udara, busi, S-belt. Stock sekuat anggaran sampe mentok. Jangan cuman sebiji dua, kalo perlu setengah lusin setidaknya, khususnya filter oli.

Jadi di sana ntar mobil bener-bener tinggal dipake. Selanjutnya taati pakem 10.000 km ini https://www.facebook.com/notes/bimmerische-mataramen-werke/jadwal-perawatan-bmw/530192663732363.

NAH, berhubung restorasi tersebut bakal menyedot anggaran sederas air terjun, maka nyari biemnya yang setengah bahan aja, yang harganya sebisa mungkin luar biasa murah. Yang penting bodi utuh dan interior utuh rapi (dan surat ada tentunya). Toh nantinya mesin – kaki-kaki – cooling systempower-steering system – dll. tersebut bakal kita benahi total semuanya. Anggaran mending buat kita ludeskan di restorasi ketimbang di beli awalnya πŸ˜€

Nantinya di tahun ketiga – misalnya, jikamana kondisi medan…. eh, kondisi Tanjung Balai Karimun lumayan bikin sengsara kaki-kaki, anggarkan segera impor parts kaki-kaki.

Cari bengkel kaki-kaki, cek bushing/joint yang oblak sama parts yang setengah rusak tadi, kemudian minta pasang lagi dan kasih ongkos checking.

Selanjutnya impor kaki-kaki sepaket: jangan yang udah rusak aja, yang mulai rusak juga ganti sekalian.

Di depan, saya pastikan Om bakal sengsara dua belas. Anggaran bakal kesedot luar biasa sadis. Selanjutnya, jika udah terestorasi maka kerasalah yang namanya biem itu: nikmat, ganas, tapi yang E36 ini masih ekonomis πŸ˜‰

Sedikit tambahan:

  • Audio, bagusan dipasang di Jakarta sekalian. Pasang ke instalatir yang biasa masang audio BMW. Ketimbang salah-salah ntar ngeganggu sistem kelistrikannya. Dan pastikan ndhak usah dikasih alarm tambahan yang cuit-cuit itu. Sistem anti-theft bawaan BMW udah jauh lebih canggih ketimbang alarm ndeso itu.
  • Oia, sekalian kalo bisa belilah oil-reseter, barangkali aja di sana toko olinya punya oil-changer tapi ndhak punya resetter-nya.


– OBD I Oil-Resetter.

Matic atau Manual?

Yang ini saya ndhak punya preferensi tersendiri. Kalo alasannya kemudahan perbaikan, memang transmisi manual memang juauh lebih gampang dan murah untuk diperbaiki.

Tapi kalo alasannya anggaran, well Om, transmisi matic sejauh ndhak telat mainteisnya (kuras oli); dia bisa awet sampe luuuama koq!

Tapi mengingat Om pernah punya preseden dengan matic, dan untuk njagani sisi psikologis keluarga, mending tetep manual aja gpp.

Penyakitnya tranmisi manual kalo di BMW sama kayak mobil kebanyakan koq: kopling abis, seal master bisa njeblos kalo telat ganti minyak kopling.

Menurut beberapa testimoni, sering master kopling atas di E36 diganti punyanya Seri 5 E34. Jadi tambah enteng nginjeknya.

Jeleknya transmisi manual BMW, saya belom denger master koplingnya gampang disubtitusi dengan punyanya Jepangan. Dan kalo misalnya jebol, biasanya musti beli master sepaket 😦

***

Sementara ini yang saya pribadi bisa ikut sumpang saran. Biar saran saya terfilter dan terverifikasi, saya sarankan Om rajin nimbrung dan posting pertanyaan dimari angkringan-online https://m.facebook.com/groups/bimmerfan.mataraman.

Itu dulu, selamat kembali berbiem!

– FHW,
mandi air anget trus tepar (lagi).

E36 Atau E39?

Menarik mengomentari pertanyaan seorang rekan di angkringan-online:

Saya mau tanya kalok Seri 5 tepatnya E39 pros dan cons-nya gimana? Serta dengan harga yang sama pilih E36 full-modif ato Seri 7 bahan?

Bisma Wiratara

Kalo baru mulai miara BMW, saya pribadi nyarankan koq mending E36 aja, cari semi-bahan kemudian direstorasi sampe bener-bener ready to drive.

E39 meski udah makin murah maintenisnya, tapi rasanya masih njepat lumayan jauh beda dibanding E36. Kecuali niat banget dan siap dengan segala hujan angin ribut badai prahara rumah (te)tangga, monggo aja bungkus E39.

Pros:

  • Tampang manis, udah meninggalkan generasi klasik lampu telanjang. Kaum perempuan biasanya approve kalo disodori E39. Tapi ane yakin pasti noleh ke E46 kalo di sebelahnya ada E46, atau ada E36 dengan kondisi klimis. πŸ˜€
  • Mesin di sini maksimal 6 silinder, relatif murah dalam maintenis. (Hiy, biem koq cuman 6 silinder, apaan tuh? πŸ˜› Weksss!) Dan konsumsi bensinnya juga worthed mengingat dia BMW.
  • Harga ngangkat udah murih-murih sekarang. Lumayan, anggaran restorasi bisa dialokasikan lebih banyak lagi.
  • Nyamannya pleg Seri 7, meski dimensinya lebih langsing dikit.
  • Dimensinya yang lebih langsing dari seri 7 itu justru membuat E39 masih mall-able. Bisa naik sampe ke parkiran atas. Bawa Seri 7, saya agak-agak pesimis dua belas untuk parkiran mall pada umumnya bisa layak dia parkiri.
  • Meski seri 5, handling-nya okey bingit, karena udah pake steering-rack. Beda sama E34 yg masih pake borem/steering worm.
  • Seri 5 itu pas ruang dengkul belakangnya, sementara Seri 7 itu banyak ruang terbuang sia-sia. Ini kalo kita murni ngomong fungsionalitas.

Cons:

  • E39 itu cuman cocok buat bimmerfan pasaran. Bimmerfan sejati yang anti-mainstream pasti milih E34 dong… Khususon V8. Aw aw aw! Cek aja, pengguna E34 di sini cuman manusia-manusia terpilih: Cak Rizal (M30 535i); Kang Vino (M50TU); Kang Suwardi Tedja (M60 530i), Om Taffy (S38 M5 Edan); Mister Tony Gurney (S38 M5 Gila & M60 Manual, upgraded from M60B30 to M60B40!!!); Lik Ghofar Ilmi (M60 530i); Lik Gideon Putera Yudha (M60 530i); dan tentunya si jomblo Adi Nugroho Budi Utomo. Sangar lagi Om Warastra Adi yang punya badak pasaran tapi langka tuh: E34 M40 518i. Jangan lupa, camat-online kita juga pecandu badak sejati. Belom manusia tersembunyi di kaki semeru Lik Dimas Adi Senopati atau Mas gaul Dika At Cool yang ngegas M60 Manual! Dan muasih buanyakkk lagi manusia-manusia terpilih yang bisa menyelami arti sebuah E34 dan memahami makna indahnya mbejek gas E34. Ouch!

    Sementara pengguna E39 paling ya orang-orang model Lik Abi sama Brian gitu. Sucks!
  • Pajak kalo di Jatim masih mencekik leher. Paling tua aja (taon ’96) masih 3 juta sekian lumayan. 😦
  • Kalo kondisinya ndhak restored dan cuman dibenahi asal bisa jalan, saya pesimis bakal dapet kenikmatan E39. Hiks…
  • Ini penting ndhak penting, E39 itu punya center-bore alias lobang tengah velg beda sendiri dari semua BMW. Yang lain umumnya 72,6 mm, E39 74,1 mm sendiri. Alhasil, nyari velg variasi buat E39 itu susyahnya minta ampyun, tingkat adu nasib dan untung-untungannya tinggi. Kecuali Anda ikhlas membubut velg 72,6 mm jadi 74,1 mm. Milih velg Seri 5 selain E39 yang center-bore-nya 72,6 mm aja gampang-gampang susah, apalagi nyari velg opsional buat E39… Hiks…

Sebenarnya masalah BMW restored ini berlaku bukan cuman buat E39 siy… Nyaris semua BMW kalo ndhak restored, biasanya cuman jadi biem weekend. Kalo weekend selalu main ke bengkel maksudnya.

Nah masalahnya, ngrestorasi biem itu kadang bisa bikin orang mundur di depan sebelom meminang. 😦

Kalo memang belom punya tetapan niat, sekalian mumpung belom kena kadung (terlanjur) Seri 5, dengan budget yang sama, saya pribadi masih menyarankan pilihlah E36 dengan kondisi worry-free alias full-retored dan ada jaminan bebas perbaikan besar/berat. Jadi tinggal isi bensin untuk sekian tahun ke depan lamanya dan bisa didapat kenikmatannya sebuah BMW.

Kecuali emang udah punya tetapan niat sebelomnya, monggo bungkus E39 atau E38 bahkan. Soale kalo udah kena Seri 5, selain kadang bisa bikin males kalo mau pindah ke Seri 3, juga bisa susyah-susyah gimana gitu kalo mau njual lagi.

E36 itu bener-bener positif dari segala sisi. Handling-nya paling stabil; buat audio stagging-nya mudah dapet; konsumsi bensinnya bener-bener menolak stigma BMW itu boros; dijual kembali realtif gampang dan mudah untuk ukuran biem tua; pajaknya bikin tidur nyenyak sekalipun itu di jatim; maintenisnya juga ndhak bikin ribut sama bini atau ortu.

Satu lagi, bawa E36 buat mobil harian, kuliah ato ngantor misalnya, masih super layak koq secara ekonomis. Khususon yang empat silinder.

Dan entah ini penting ato ndhak, pilihan velg untuk Seri 3 itu melimpah ruahhh. Pilihannya buuuanyakkk. Tinggal nanyak isi dompet aja mau yang kayak gimana, pilihan kayak gimananpun nyaris semuanya tersedia.

Meskipun E36 atau Seri 3 tentu tak akan pernah bisa senikmat seri di atasnya, tapi cobalah bandingkan nyetir jauh bawa E36 vs mopang compact. Bandingkan aja biar tau gimana rasanya:

  • Pas hujan kabin E36 lebih senyap ketimbang mopang
  • Pas jalan jauh gimana rasanya punggung ndhak kena back-pain.
  • Kalo parkir pun kadang masih perlu mbuka kaca agar kedengeran aba-aba pak tukang parkirnya πŸ˜€

Ini semua keunggulan tak terlihat dari sebuah BMW.

Kalo seri 7, well… kalo saya boleh njeplak: jadilah bimmerfan bertahun-tahun dulu untuk bisa menjinakkannya. Kecuali duit Anda tak terbatas nomer serinya dan selalu parkir vallet di mall.

Atau kalo budgetnya masih ngejar, sekalian aja E46. Maintenisnya mirip E39 (sedikit lebih murah karena elektrikalnya tak sekompleks E39); dan kenyamanannya sudah mendekati Seri 5, meninggalkan ciri khas E36. Serta yang paling penitng: tampangnya muanisss.

Kecuali untuk E46 4-cyls face-lift, Anda memang perlu sedikit training langsung untuk memantapkan niat atau menggugurkannya sebelom terlanjur. Maintenisnya jangan sampe (terlalu) telat. Banyak konsekuensi menghadang. πŸ˜€

Seperti biasa, ini semua IMHO dan CMIIW.

– FHW,
abis nenggak parasetamol dan antasida.

Jonru

Jonru memang fenomenal. Dari no-one sekarang -sejak pilpres kemarin- dia mendadak kondang. Dengan apalagi kalo bukan dengan posting-postingnya yang bisa dibilang kontroversial (karena cenderung berisi hujan opini ketimbang paparan data faktual otentik). Penggemar Jonru meng-share habis-habisan postingnya karena mereka menganggap itulah kebenaran; yang anti-jonru juga meng-share habis-habisan postingnya untuk mem-bully-nya. Apapun motivasi orang membagi posting-posting Jonru, yang pasti jadinya: Jonru tenar!

Bisa jadi, Jonru tidak membenci atau tidak menyukai Jokowi. Pun dengan Prabowo, mungkin saja Jonru tidak menentang atau tidak mendukungnya!

Kata Mbah Muhsin “James Bons(ai)” Riyadi -salah satu master blogger Indonesia yang saya berteman dengan akunnya- di sini http://bonsaibiker.com/2016/01/03/mau-sukses-ngeblog-cara-instan-tiru-jonru-komentarin-jokowi-benar-salah-perkara-belakangan/, Jonru (sekarang) cuman numpang ketenaran Jokowi (baik karena disuka maupun dibenci) dan menggunakan momen pilpres kemarin untuk sekedar menaikkan rating dan ranking lamannya.

Kalo dengan posting-posting kontroversialnya Jonru kemudian dipuji atau dimaki, itu sekedar konsekuensi dan sepertinya dia tidak ambil pusing dengan itu semua. Nampaknya yang Jonru peduli hanya satu: hit! (Hit = jumlah kunjungan di laman).

Yup, kayaknya yang Jonru cari cuman hit, hit, dan hit laman-nya. Saya juga tidak membenci atau menyukai Jokowi, sebagaimana saya juga tidak menolak atau menentang Prabowo. Gobloknya, saya tidak memanfaatkan fenomena pilpres dulu itu untuk nyari hit kayak Jonru. πŸ˜›

Kala itu, hingga sekarang, berkubu kepada Jokowi atau Prabowo akan sama-sama menguntungkan. Baik kubu yang kita “dukung” menang maupun kalah, laman-laman penuh buaian kita akan di-share ke mana-mana, baik oleh pendukung yang memuja maupun penentang yang membully dengan penuh frustasi. Hasil akhirnya = hit.

Nyari duit via dunia maya, hit itu = artinya duit. Semakin banyak hit di sebuah laman, maka potensi dipasangi iklan sangat besar. Dan iklan yang terpasang berpotensi dilihat banyak mata atau dibagi oleh banyak klik. Pemilik laman akan memperoleh bayaran lumayan hanya dengan duduk manis di depan monitor dengan cara ini. Jangan salah, revenue laman yang hit, baik di blog, youtube, dll. bisa buanyakkk juta rupiah lho kalo lamannya udah kondang.

YA, sepertinya ini bukan masalah kebencian atau kesukaan, ini murni masalah duit. Di hadapan duit; semua orang agama, ideologi, prinsip, dan kelakuannya akan mendadak sama.

So, jangan pernah gampang terbuai dengan segala informasi yang sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Selalu tabayyun – cek kebenarannya alias cover both side story.

Dan jangan pernah gampang membenci dengan segala informasi yang tidak sejalan, searah, atau seprinsip dengan ideologi Anda. Jadikan informasi itu sebagai bahan cover both side story.

Buanyak kejadian posting viral yang katanya tentang kerusuhan agama, belakangan muncul edisi klarifikasinya kalo ternyata gambar-gambar yang diviralkan tersbut bukan sebagaimana yang diviralkan. Padahal saat memviralkan posting-posting yang belum jelas kebenarannya tersebut, nama Tuhan dibawa-bawa. Kalo sudah seperti ini -menyebut-nyebut Subhanallah, Masya Allah, Astagfirullah, dll.- saat membagi atau mengomentari posting/berita yang belum tervalidasi keotentikan faktualnya ini masuk ranah/kategori melecehkan Tuhan bukan?

Padahal mustinya kalo datang suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kita tidak mencelakakan suatu pihak karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kita menyesali perbuatan itu. Gali data-data atau bukti-bukti faktual otentik sejelas-jelasnya dulu sebelum menelan informasi. Dan sekali lagi: tabayyun/cover both side stroy!

PILPRES kemarin, orang Indonesia kelihatan tabiat aslinya: mendadat buta pikiran. Bahkan buanyak rekan saya yang berpendidikan tinggi, mendadak seperti saya: menjadi sampah intelektual. Mereka semua menjadi manusia yang tidak bersedia meng-cover-both-side story.

Tentang adanya berita, kita tidak pernah tau yang benar yang mana sampai ada fakta otentik tentangnya.

Manusia Indonesia hawa-hawanya masih harus menemukan kebenaran dengan menciptakan kesalahan/penyalahan. Masih banyak yang belom sanggup menemukan dan mendapatkan kebenaran tanpa harus ada parameter kesalahan/penyalahan.

Alhasil, segala hal yang berbau bersekongkol/berkubu/bersekutu dengan apa yang satu persepsi/pandangan/ideologi/keyakinan menjadi fenomena/tindakan/aksi sehari-hari di masyarakat sini. Dengan kata lain, segala hal yang berbeda masih dianggap tabu dan harus dihindari/dilenyapkan.

Wujud nyata dari sangkaan subyektif saya di atas, masyarakat kita guuuaaampanggg banget terbelah/terpecah hanya karena perbedaan, bahkan sekecil apapun itu.

Ghibah/bergosip alias menguatkan pandangan nirfakta dan miskin otentifikasi menjadi sarana bagi itu semua.

Saya harus mengakui, Jonru sangat cerdik memanfaatkan fenomena ini. Fenomena tabiat asli rakyat Indonesia: ghibah (bergosip, tidak bertabayyun alias males covering both side story). Baik pendukung maupun penentang Jokowi/Prabowo, bisa jadi mereka semua cuman dikadali oleh Jonru buat menaikkan hit-nya saja, agar transfer pemasukan dari adsense, wordads, dll. jadi tinggi. Mungkin demikian.

SAYA tidak membenci atau menyukai (viral-viral) Jonru. Saya cuman memandangnya seperti Anda semua memandang (posting-posting) saya: (cuman bikin) malezzz aja…

Dan yang pasti, cek dulu kebenaran informasi dalam posting saya ini. Jangan langsung percaya pada apa yang saya tuliskan, apalagi sampai Anda percaya sama saya. Wong istri saya aja ndhak percaya sama saya. Tiap kali saya menjelaskan sesuatu kepadanya, selalu dia bilang, “Halah, gomballl!”

Percayalah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.