Ngeles

– Saya katakan, ini adalah posting yang tidak patut Anda baca! Sebab saya sama sekali tidak punya dasar atas segala ocehan saya di bawah ini!

Okey saya nyumbang Rp 200 per liter untuk ketahanan energi. Tapi berani ndhak pengelola negara ini menjamin bahwa Indonesia bebas 99% dari kelangkaan energi?

Bukan cuman energi, semua pokok persoalan kita berasal dari ketidakikhlasan. Ketidakikhlasan menjalani jabatan. Ketidakikhlasan menjalani angka-angka upah dan gaji. Ketidakikhlasan pada diri sendiri.

Repot ya melafalkan ketidakikhlasan ini? Mungkin biar ndhak repot, kita lupakan saja masalah ke(tidak)ikhlasan ini. Kita jalani saja hidup dengan kalkulasi. Sukur-sukur kalkulasinya kita sistemikkan dengan landasan dan dasar hukum.

{Sebab ketidakikhlasan yang dilegalkan oleh hukum, itulah yang saya pandang sebagai riba. Saya kurungi kalimat ini, saya tidak ingin Anda membacanya, tapi saya cantumkan biar saya tak lupa kalo saya pernah mikirn ini pas bikin posting ini. Ini adalah telor yang ditetaskan ayam(, yakni ayam yang menetas dari seonggok telor kehidupan). Dan kemudian ini akan menjadi telor yang akan menetaskan ayam.}

Berkembang…. Manusia harus berkembang. Berkembang itu harus. Dan tentu semua golongan punya kosakata berkembang. Mulai dari kaum ikhwan/akhwat-akhi/ukhti hingga komplotan mafia. Semua tentulah pengin berkembang, dalam persepsi masing-masing. Bukan seuntai persepsi yang bisa berlaku untuk semua jenis golongan kelompok manusia & kemanusiaan di muka bumi ini. Di jagad raya. Untuk semesta alam.

Iya ndhak ya?

Tapi berkembang selalu kita parameter dengan sesuatu semua segala hal yang punya satuan. Oh…

Riba itulah pangkal pemicu dan pemacunya. Riba adalah perwujudan semua ketidakikhlasan kita. Korupsi adalah saranya utamanya. Cuman ini titik satu-satunya yang membuat negara ini morat-marit.

Negeri kecil lain punya pabrik mobil untuk menekan riba, kita masih rajin dan terus meriba tanpa jelas jluntrungnya. Kalimat kekurangan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan jadi alasannya.

Rakyat butuh itu semua: infrastruktur, pendidikan, kesehatan. Dan pemerintah wajib, sekali lagi: wajib menyediakannya. Dan tanpa riba kita bisa melakukannya. Tuhan sudah ngasil modal banyak cuk!

Tapi emas tembaga minyak dan semuanya malah kita hambur-hamburkan. Matamu suwek! Sori, mataku suwek!

Hentikan riba, jangan pernah takut melawan Bank Dunia dan kroco-kroconya, bromocorah yang memeras darah negeri ini dengan jeratan riba.

Ikhlaslah menjadi penjabat. Keikhlasan Anda adalah sumbu kedamaian di hati rakyat. Kedamaian kedamaian adalah sepupu kerukunan. Kerukunan adalah pangkal stabilitas di negeri ini, di dunia ini. Kerukunan adalah modal dasar kuatnya negeri ini – dunia ini untuk susah diadu domba.

Hai rakyat, mari kita semua menyembah Tuhan, bukan menyembah nabi, menyembah agama, menyembah kitab suci, apalagi sampe menyembah (fatwa) ulama. Goblok lagi kalo cuman menyembah ponsel atau mobil berkecepatan tinggi.

Penyembahan pada agama, penyembahan pada kitab suci, penyembahan pada jabatan dan kedudukan, itu abstrak wujudnya. Tak bisa langsung dilihat seperti orang menyembah batu dan pohon.

{Manusia semakin maju dan modern. Penyembahan bukan kepada Tuhan -bukan kepada Tuhan atau kepada bukan Tuhan?- kadang justru menyaru seolah kegiatan penyembahan kepada Tuhan itu sendiri. Saya kurung lagi kalimat ini. Sebab bukan untuk Anda baca. Cuman sekedar saya catat di sini biar saya ndhak lupa.}

Kalo kita menyembah Tuhan; maka fainsha Allah IMF, World Bank, dan semua pasukan rentenir asing bakal mêntal untuk masuk negeri ini. Kalo rakyat dunia ini menyembah Tuhan, setan penabur riba penjerat kehidupan bakal terbakar oleh cairan dirinya sendiri. Tanpa perlu harus kita teriaki dan kita demonstrasi.

Berkembang…. berkembang itu harus. Tapi berkembang selalu kita parameter dengan semua yang punya satuan. Tak bisakah kita berkembang tanpa parameter satuan?

Satuan-satuan itu memang konkrit, tapi bisa jadi dia absurd. Benar-benar tak adakah parameter abstrak tapi tak absurd?

Kami yakin ada, jika kita bersedia memejamkan mata dan memandang dunia.

Mari, ikhlaslah jadi manusia. Kita tak tentu akan mati syahid hanya dengan mengepalkan tangan dan meneriakkan Allahu Akbar. Tapi saya yakin, kesyahidan lekat dengan sesiapa saja yang ikhlas, yang berani menghibahkan dirinya sendiri untuk dunia.

Sebab manusia datang hadir dihadirkan untuk menjadi manusia di dunia ini.

Oia maaf, mohon ganti semua kata Anda dia mereka atau semacam sejenisnya di atas dengan kata Freema. Maklum, seperti biasa, kadang yang kosong itu penuh yang penuh mungkin saja kosong. Melompong. Sepertinya inilah kekeliruan dan ketidakkeliruan.

Ya, kekeliruan dan ketidakkeliruan. Kita tidak bicara kebenaran di sini. Apalagi biacara kesalahan. Jancuk, kesalahan – kekeliruan?

Jika kita sudah bersedia melepaskan penyembahan bukan kepada Tuhan -atau kepada bukan Tuhan- dengan ikhlas menghibahkan diri kita untuk dunia kehidupan peradaban, maka tarikan Rp 200 (atau yang sejenisnya semacamnya temen-temennya sebangsanya senada setara mirip sepertinya) mungkin tak akan pernah ada. Tidak pernah ada karena kita akan mengikhlaskan kekayaan isi perut bumi negeri ini untuk rakyat Indonesia, untuk peradaban manusia seutuhnya semuanya. Bukan mempersembahkannya kepada setan penghisap keringat rakyat manusia.

– Ingat, itu semua tadi adalah posting yang tidak patut Anda baca! Sebab saya sama sekali tidak punya dasar atas segala ocehan saya di atas! Dan jika Anda terlanjur membacanya sampai bait ini, mending jangan percayai ocehan saya. Saya ini orang yang tak pantas Anda percayai. Kalo sampe Anda percaya, koq mau-maunya Anda…, wong istri saya sendiri aja kalo saya jelaskan tentang sesuatu juga ndhak percaya sama saya. Dia selalu bilang, “Halah gombal!”

Saya, Freema Bapakne Rahman, seperti biasa menyapa malam dan matahari. Menyapa Anda jika Anda berkenan. Damai sejahtera bagi kamu, semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dan berkah dari Allah.

– FHM,
makhluk berfisik manusia namun sedang mempertanyakan manusiakah Anda dia mereka… ummm sori, saya?

u

Advertisements

One thought on “Ngeles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s