Soul

Jamak kita baca di forum, banyak yang membandingkan untungnya beli mobil premium seken ketimbang mobil pasaran baru. Meski seken, kadang mobil premium masih mengusung teknologi, fitur, performa yang melebihi, setidaknya setanding dengan mobil pasaran baru.

Well, saya pribadi menganggap hal demikian ini wajar, karena kadang spesifikasi kebutuhan kita pada si mobil tidak menjurus atau mengerucut ke satu hal yang spesifik selain sebagai alat transportasi (belaka). Misal: si mobil cuman dominan buat ngantor, kondangan, jalan-jalan/turing bersama keluarga (kecil), dll. yang mana itu semua tidak mempersyaratkan jumlah seat atau kapasitas kargo si mobil.

Alhasil, pada jenis kebutuhan demikian, range/batasan kisaran budget dan kalkulasi value for money-lah yang cenderung, atau sebutlah: bolehlah, menentukan/menjadi penentu/influencer-nya.

Berkaca pada hal value for money, sederhananya dalam batasan pengertian ‘dengan biaya semurah mungkin bisa dapat mobil senayaman dan seenak mungkin’ inilah kemudian sering membentuk paradigma mending beli mobil premium seken ketimbang mobil pasaran baru.

Dengan budget beli mobil sejuta umat 100jt katakanlah, bisa buat beli mobil premium seken senilai 60jt, kemudian yang 40jt bisa buat benah-benah sampai si mobil relatif layak dinyatakan worry-free meski tanpa garansi resmi dari pabrikan lagi.

Namun ini semua juga memerlukan wawasan dan pengetahuan tambahan bagi si pembeli dibanding membeli mobil baru yang kalo mogok tinggal telpun bengkel resmi dan semua diurusi karena ada garansi.

Membeli mobil seken sekaligun terestorasi hingga relatif worry-free tadi masih memerlukan wawasan: di mana bengkel spesialis rujukan, jika mogok langkah-langkah dasar apa yang musti kita lakukan, dan biaya perlu berinteraksi dengan sesama pengguna merk mobil tersebut agar kita bisa senatiasa connecting dengan si mobil. That is!

***

Bicara tentang value for money tadi, berfokus pada kenyamanan dan fitur/teknologi, sebenarnya mopang untuk kelas premium, sebutlah Lexus, Toyota Crown, dll. teknologinya ndhak jadul juga koq…

Bisa dibilang teknologi mereka imbang dengan mobil premium Eropa, macam Mercy/BMW/Volvo misalnya. Mereka juga pakai jok kulit, wood-panel, transmisi otomatis yang dikendalikan komputer, AC dual-zone, rem belakang cakram, mesin dengan banyak silinder. dan banyak sensor untuk memantau kondisi si mobil atau mengendalikan kinerja dan performanya.

Dan itu semua ada di era lampau, era 20 tahunan silam atau lebih lama lagi.

Bahkan kadang malah sebaliknya. BMW E30 misalnya, di Indonesia sini rem belakangnya masih tromol, sementara corola GTi kala itu rem belakangnya udah cakram.

Jadi, jika kita murni bicara teknis bukan bicara tentang value for money alias sisi ekonomisnya belaka, kurang head-to-head sebenarnya mengkomparasikan BMW misalnya dengan Ertiga ato Innova dan sejenisnya. Karena segmentasinya beda, dan perbedaan segmentasi tersebut membawa dampak pada pemangkasan kemutakhiran fitur/teknologi, karena urusannya dengan pemangkasan harga jual pada kondisi si mobil baru.

Yang saya pribadi dapatkan dari BMW misalnya, selain mobil seken dengan fitur melimpah dan teknologi tinggi namun harganya murah, adalah soul-nya.

Tiap seri dan model yang BMW keluarkan, senantiasa punya soul yang khas. Sebagaimana ciri khas sebagian pabrikan mobil Eropa. Inilah yang secara subyektif saya nilai membedakannya dengan produk Jepang.

Lexus itu luar biasa lho mewahnya. Nissan GTR juga lebih buas dan lebih mengerikan ketimbang M-Series. Bahkan CJ7 banyak dinilai ndhak ada apa-apanya ketimbang FJ/BJ Series. Kalo Land Rover, entahlah… mendeskripsikannya seperti memerlukan prameter-parameter tersendiri dan berbeda. Sama tapi berbeda gitu…

*Lupakanlah, Land Rover punya ruang, waktu, dan bahasa tersendiri rasanya. Serasa sama ngomongin Cadillac gitu…*

Hilux dari awal hingga detik ini masih banyak diakui sebagai mobil yang bikin orangnya KO duluan ketimbang mobilnya. Reputasi yang bahkan jarang dimiliki oleh SUV-SUV/pikap Amerika yang serasa cuman gedhe doang badannya tapi memble kemampuannya. Yaaa… kecuali Ford F-Series atau RAM siy… Tapi Hilux rasanya sama atau bahkan melebihi kekondangan mereka!

Reputasi Civic dari masa ke masa juga senantiasa diakui dunia: baik di belahan benua biru maupun di negeri Amerika yang sering identik dengan arogansi preferensinya.

Belum lagi jika kita menyebut Toyota Supra. Inilah salah satu legenda nan sesungguh-sungguhnya.

Namun menyaksikan M-Series atau Dodge Chalenger/Charger atau Ford Mustang atau Aston Martin dari masa ke masa, senantiasa ada “connecting soul” yang konsisten (meski mereka sempat ganti tampang telak pada beberapa generasinya atau bahkan mem-badge engineering produk Jepang! seperti misalnya Aston Martin Cygnet dari Toyota iQ) ketimbang menyaksikan GTR (yang tetep buas dan mengerikan) dari dulu hingga kini.

Yang cinta mati sama Mitsubishi Evo mungkin tak akan pernah tertarik dengan M3 pun sebaliknya.

Yang kadung jatuh hati sama Porsche mungkin juga tak menoleh kala ditawari Nissan 370Z yang lebih kencang sekligus lebih murah ketimbang Porsche.

Termasuk penggemar Corolla atau Civic atau Maestro mungkin juga tak akan pernah tergoda dengan sebuah E36. Pun maniak E36 mungkin juga tak akan pernah sedikitpun mengagumi habis Corolla, Civic, atau Maestro di depan mata.

Dan soul inilah pula yang yakin didapati oleh penggemar Mercy dengan Mercy mereka. Pawang Singa dengan Pug mereka. Bahkan penggemar Mazda konon juga berat hatinya jika harus berpisah dan berpaling dari Mazda-nya.

Dan jelas saya tak pernah tau apa alasan yang tersemayam di dasar lubuk hati mereka masing-masing.

Cuman satu poin yang saya pribadi salut adalah para penggemar Volvo kotak. Mereka bak sufi dan kompetisi hedoni duniawi. Mereka seperti bisa menyepi dalam keramaian. Menikmati Volvo-Volvo kotak mereka dalam ketenangan batin kala mobil pilihannya justru banyak diabaikan dan dijauhi oleh hiruk-pikuk keramaian dunia otomotif.

Ini semua, bukan masalah baik-buruk atau benar-salahnya sebuah mobil, melainkan sudah menyangkut perasaan hati!

Benar atau tidak?

😀

Ini semua, pilihan masing-masing orang pada kendaraannya, sudah masuk urusan selera. Selera yang terbangun dari soul sebuah merk atau tipe/model/seri kendaraan.

Dan selera itu, seperti memilih menu makanan. Nutrisi dan komposisi ada di dasar piring, mungkin malah di baliknya.

Jenis masakan dan karakter rasa sudah merasuk dan merangsek terlebih dahulu sebelum itu makanan kemudian kita nikmati.

Satu yang ingin saya tegaskan kepada Anda, masalah soul ini saya rasa hanyalah sekedar preferensi masing-masing. Plus lagi, posting ini saya pastikan cuman subyektif saya belaka.

Konyolnya lagi, jangan tanyakan masalah soul yang saya bicarakan di sini, sebab saya juga ndhak bisa menjelaskan. Saya cuman sekedar merasakan.

Yang mana perasaan saya mungkin berbalik telak dengan perasaan Anda.

***

Jamak kita baca di forum, banyak yang membandingkan untungnya beli mobil premium seken ketimbang mobil pasaran baru. Meski seken, kadang mobil premium masih mengusung teknologi, fitur, performa yang melebihi, setidaknya setanding dengan mobil pasaran baru.

Jamak?

I don’t think so… Sebab mobil premium (seken), nyaman siy nyaman, selalu mendapatkan predikat serasa permanen berupa stigma: bensinnya boros, spare parts/suku cadangnya mihil, perawatannya susyah, dijual lagi ndhak laku-laku, pajak tinggi, dan seterusnya.

Dan seperti biasanya, posting ini super IMHO dan mohon CMIIW CMIIW CMIIW.

– FHW
sedang menggali soul diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s