Kebenaran

Hanya ada dua golongan muslim:

Yang PERTAMA adalah mereka yang bisa membuka diri kepada dunia, mau berkumpul dan bersodara dengan umat apapun, dan meyakini tidak akan pernah kehilangan keislamannya hanya dengan rukun, berbaur, dan bercampur dengan umat (agama) apapun (=lakum dinukum waliyadin).

Golongan orang yang pertama ini lebih suka menggunakannya agamanya untuk menjadikan tuntunan bertindak dirinya kepada orang lain/sesamanya/semuanya seisi alam raya ini. Mereka justru menggunakan agamanya untuk berbaur, bercampur, dan melebur sebagai sesama manusia/makhluk ciptaan Tuhan.

Mereka ini orang-orang yang mencari kebenaran dengan tanpa pernah menyalah-nyalahkan pihak lain (padahal secara semantik biasanya sesuatu dianggap benar jika ada sesuatu yang menjadi parameter salahnya). Mereka begitu meyakini bahwa kebenaran itu hanyalah milik Tuhan. Mereka semua ini hanya bisa mencari kebenaran tanpa pernah bisa memastikan apakah kita sudah bener-bener bener atau tidak. Makanya mereka lebih suka berbuat baik ketimbang (merasa) berbuat benar.

Golongan pertama ini berprinsip: mengayomi (kegiatan ibadah) pemeluk agama lain tetap bukanlah bagian dari ibadahnya, namun merupakan bagian dari keimanan dan keislamannya: karena sesungguhnya mereka mengayomi sesama manusia ciptaan Tuhan, dan Tuhan memang mentakdirkan manusia ini berbeda-beda dalam jalannya berbicara kepada-Nya.

Orang-orang golongan pertama ini luas dalam memaknai kepasrahan Islam, makanya mereka tidak khawatir dan justru mengayomi adanya kegiatan (ibadah) umat agama lain. Dan mereka tidak khawatir dengan keberadaan beragam dan berbagai tradisi. Karena tradisi juga bagian dari seni – sesuatu yang membuat idup ini indah, selama semuanya sesungguhnya hakikatnya berbicara kepada Sang Pencipta, berbicara hanya kepada Sang Pencipta.

Dan mereka luas pula memaknai arti kebenaran dalam Quran. Quran bisa menjadi sesuatu yang universal dalam keberagaman di tangan orang-orang ini. Mereka ketakutan sekali mengkafir-kafirkan dan mengsesat-sesatkan pihak lain dan meyakini bahwa yang berhak menilai manusia itu kafir dan sesat hanyalah Tuhan YME. Ayat-ayat tentang kekafiran dan kesesatan yang terpampang dalam Quran lebih dibaca untuk ditudingkan ke mukanya sendiri, bukan ke muka pihak lain.

Sederhana kata prinsip mereka: kebenaran itu satu, namun implementasi bahkan parameternya beragam, seberagam kondisi apa-apa yang bergerak dan berubah yang ada di muka bumi ini, di jagad raya ini.

***

Yang KEDUA adalah mereka yang meyakini bahwa berbaur, bercampur, dan mengupas (=menerima dan memahami) keyakinan/agama-agama adalah bagian dari pelemahan iman dan Islam mereka.

Golongan yang kedua ini justru strict memisahkan agama dan aktivitas dunia: mereka beranggapan bahwa berinteraksi dengan umat apapun/umat agama lain cukup hanya sesama manusia dan aktivitas duniawi saja. (Lho, malah sekuler tho ini, urusan dunia dan agama dipisah?)

Golongan kedua ini biasanya berprinsip, kalo bisa adat dan tradisi agama saya diterima di tempat yang dominan dihuni/diisi umat pemeluk agama lain sebagai keyakinan bahwa itu adalah syiar yang harus disebarkan; sementara adat dan tradisi atau kegiatan ibadah umat pemeluk agama lain harus diberangus keberadaanya dari lingkungannya bahkan dari muka bumi karena itu dianggap hal yang salah dan bukan kebenaran Islam, dan umat agama lain harus dirayu untuk masuk Islam, biar menemukan kebenaran katanya.

Akhirnya, Quran menjadi kebenaran yang sempit dan sektarian di tangan orang-orang ini. Kalo diajak diskusi dan diskursus, biasanya mereka bukan meladeni dengan argumentasi, persuasi dan sebagainya namun lebih mengerucut kepada stempelisasi: yang ndhak sepakat dengan saya maka ente kafir dan sesat.

Sementara urusan agama harus “dijaga jaraknya” dengan cara mengupas keyakinan/agama lain dalam koridor sesuatu yang salah, disalah(-salahkan), dan harus terus (dinilai/diangap) salah. Dengan terus menyalah-nyalahlan pihak lain itulah mereka serasa mendapatkan kebenaran, sebagaimana klausul semantik bahwa kebenaran itu ada karena ada parameter salahnya.

Golongan kedua ini lebih suka menggunakan agamanya untuk menilai pihak lain.

Sederhana kata prinsip mereka: kebenaran itu satu, maka implementasi bahkan parameternya juga harus seragam, dan kondisi apa-apa yang bergerak dan berubah yang ada di muka bumi ini, di jagad raya ini harus diseragamkan semua.

***

INI semua cuman penilaian saya pribadi. Bisa salah bisa benar. Dan mohon divirtualisasikan bahwa semua frasa atau kalimat atau paragraf senantiasa saya awali dengan kata ‘konon’ tanpa harus saya tuliskan berulang-ulang.

Tapi yang jelas, rekan-rekan baik non-muslim ataupun muslim sendiri yang memilih menjadi glongan pertama, kalo ketemu golongan kedua, rekan-rekan harap sabar ya… 😀

– FHW,
…tidak benar, benar tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s