Ridwan Kamil for (Next) RI1

To the point aja judul posting saya kali ini: Ridwan Kamil for (Next) RI1. Maaf kalo keminggris, sekedar iseng aja.

Ridwan Kamil (Kang Emil). Arsitek yang jadi walikota Bandung ini kondang, khususnya di dunia maya. Alhamdulillah sejauh ini karena prestasinya. Nyaris semua mengenalnya via media massa/maya.

Saya tidak mengenal Kang Emil secara pribadi bahkan secara emosi: saya bukan warga Bandung/Jawa Barat, saya bukan alumni ITB. Saya hanya ingin mencermati kiprahnya sebagai pemimpin: wali kota Bandung. Via lalu-lintas berita di linimaya tentunya.

Di linimaya, berita-beritanya lumayan positif semua. Kang Emil dan Ibu keduanya juga aktif di linimassa, berinteraksi langsung dengan warganya/publik. Kata mereka, lini massa membuat komunikasi lebih ringkas dan sederhana. (Saya lupa dari mana ini asalnya, sepertinya dari laman web pribadi Bu Atalia Kamil. Bantu saya menemukannya, plz & tq).

Prestasinya bejibun, karya-karyanya yang terpampang di media maya sungguh cantik.

Satu lagi yang saya suka dan salut, Kang Emil (saya yakin beliau pribadi yang taat beragama) begitu cinta dan gigih membela Indonesia – bukan hanya sekedar membela (rakyat) Bandung atau Persibnya saja.

Bahkan -sebagai walikota- menjawab beberapa netizen berkomentar saat Kang Emil mengunjungi gereja ke gereja untuk memastikan umat kristiani bisa melaksanakan Natal dengan lancar:

– “Saya harap Pak Emil jaga bicara ya di atas panggung. ‘Untukmu agamamu, untukkulah agamaku’ Al-Kafirun : 6.”

– “Smoga pak wali bisa kaya Erdogan: ngajinya pinter, membela islam, toleransi boleh jangan ikut-ikutanan masuk greja lah pak.”

Kang Emil “marah” besar.

– “Gak usah maen ancam mengancam ama saya. Saya tau persis apa yg saya pertanggungjawabkan.”

– “… saya tidak mau kayak erdogan. saya mau jadi diri saya sendiri. Kalo saya seorang warga biasa, dalil tidak boleh itu bisa dipahami. Saya ini pemimpin semua umat beragama. Ada kewajiban melindungi. surga nerakanya pemimpin ada pada adil tidaknya keputusan untuk umatnya. Saya sudah disumpah untuk adil pada SEMUA warga Bandung. Kamu tau dari mana, bisa mengukur kadar akidah saya? …”

“Semoga damai selalu hadir di setiap diri kita.” Demikian ungkap Kang Emil dalam postingnya di akun fesbuknya https://www.facebook.com/RKbdg/posts/599838340167991

TERLALU dini mungkin menyimpulkan sosok Kang Emil hanya dari segelintir berita, posting, dan hanya dari linimaya. Namun saya merasakan memang seperti itulah hawanya: Kang Emil ini mirip Soekarno!

Sama-sama arsitek/insinyur dan jebolan ITB, sama-sama gigih membela rakyat, membela nusantara.

Dan saya juga teringat kisah Umar bin Khatab yang ‘mengancam’ gubernur Mesir Amru bin Ash yang hendak ‘menggusur’ gubuk reyot seorang Yahudi tua untuk pelebaran masjid.

Usai mendapatkan komplain dari si Yahudi tua, Umar mengirimkan goresan lurus pada sebongkah tulang untuk sang gubernur. Kiriman yang bermakna bahwa apa pun pangkat dan kekuasaannya, suatu saat sang gubernur akan bernasib sama seperti tulang itu, karena itu bertindak adillah seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala sang gubernur.

Atau kala Umar jalan-jalan. Dia mendengar seorang ibu miskin menenangkan anaknya yang lapar dengan merebus batu. Umar lantas memikul sendiri sekarung gandum untuk sang ibu dan anak-anaknya. Tindakan pemimpin yang memperhatikan rakyatnya. http://news.detik.com/berita/3060454/membandingkan-tindakan-kapolres-cianjur-dan-kisah-khalifah-umar-bin-khattab

Dan Kang Emil mengusung ‘gandum kebijakan’ ini dengan beberapa aksi nyata dalam pemerintahannya: dia tata Bandung lebih maknyusss lagi. Postingan-postingan Kang Emil saya pandang mencerminkan ke-Umar-an ini.

RASANYA, saya pribadi pantas jika berharap beliau menjadi RI 1 berikutnya, agar Indonesia lebih tertata lagi. Tertata pemerintahannya, kehidupan masyarakatnya, dan tertata lingkungannya: Indonesia menjadi negara yang cantik dan artistik. Indah dan menyamankan rakyatnya.

Ridwan Kamil for (Next) RI1, saya berharap Kang Emil bersedia dan Tuhan mengabulkan. Insya Allah, Allahuma aamiin.

– FHW,
posting subyektif ini murni suara pribadi, 100% bukan pesanan.atay

Advertisements

Ngeles

– Saya katakan, ini adalah posting yang tidak patut Anda baca! Sebab saya sama sekali tidak punya dasar atas segala ocehan saya di bawah ini!

Okey saya nyumbang Rp 200 per liter untuk ketahanan energi. Tapi berani ndhak pengelola negara ini menjamin bahwa Indonesia bebas 99% dari kelangkaan energi?

Bukan cuman energi, semua pokok persoalan kita berasal dari ketidakikhlasan. Ketidakikhlasan menjalani jabatan. Ketidakikhlasan menjalani angka-angka upah dan gaji. Ketidakikhlasan pada diri sendiri.

Repot ya melafalkan ketidakikhlasan ini? Mungkin biar ndhak repot, kita lupakan saja masalah ke(tidak)ikhlasan ini. Kita jalani saja hidup dengan kalkulasi. Sukur-sukur kalkulasinya kita sistemikkan dengan landasan dan dasar hukum.

{Sebab ketidakikhlasan yang dilegalkan oleh hukum, itulah yang saya pandang sebagai riba. Saya kurungi kalimat ini, saya tidak ingin Anda membacanya, tapi saya cantumkan biar saya tak lupa kalo saya pernah mikirn ini pas bikin posting ini. Ini adalah telor yang ditetaskan ayam(, yakni ayam yang menetas dari seonggok telor kehidupan). Dan kemudian ini akan menjadi telor yang akan menetaskan ayam.}

Berkembang…. Manusia harus berkembang. Berkembang itu harus. Dan tentu semua golongan punya kosakata berkembang. Mulai dari kaum ikhwan/akhwat-akhi/ukhti hingga komplotan mafia. Semua tentulah pengin berkembang, dalam persepsi masing-masing. Bukan seuntai persepsi yang bisa berlaku untuk semua jenis golongan kelompok manusia & kemanusiaan di muka bumi ini. Di jagad raya. Untuk semesta alam.

Iya ndhak ya?

Tapi berkembang selalu kita parameter dengan sesuatu semua segala hal yang punya satuan. Oh…

Riba itulah pangkal pemicu dan pemacunya. Riba adalah perwujudan semua ketidakikhlasan kita. Korupsi adalah saranya utamanya. Cuman ini titik satu-satunya yang membuat negara ini morat-marit.

Negeri kecil lain punya pabrik mobil untuk menekan riba, kita masih rajin dan terus meriba tanpa jelas jluntrungnya. Kalimat kekurangan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan jadi alasannya.

Rakyat butuh itu semua: infrastruktur, pendidikan, kesehatan. Dan pemerintah wajib, sekali lagi: wajib menyediakannya. Dan tanpa riba kita bisa melakukannya. Tuhan sudah ngasil modal banyak cuk!

Tapi emas tembaga minyak dan semuanya malah kita hambur-hamburkan. Matamu suwek! Sori, mataku suwek!

Hentikan riba, jangan pernah takut melawan Bank Dunia dan kroco-kroconya, bromocorah yang memeras darah negeri ini dengan jeratan riba.

Ikhlaslah menjadi penjabat. Keikhlasan Anda adalah sumbu kedamaian di hati rakyat. Kedamaian kedamaian adalah sepupu kerukunan. Kerukunan adalah pangkal stabilitas di negeri ini, di dunia ini. Kerukunan adalah modal dasar kuatnya negeri ini – dunia ini untuk susah diadu domba.

Hai rakyat, mari kita semua menyembah Tuhan, bukan menyembah nabi, menyembah agama, menyembah kitab suci, apalagi sampe menyembah (fatwa) ulama. Goblok lagi kalo cuman menyembah ponsel atau mobil berkecepatan tinggi.

Penyembahan pada agama, penyembahan pada kitab suci, penyembahan pada jabatan dan kedudukan, itu abstrak wujudnya. Tak bisa langsung dilihat seperti orang menyembah batu dan pohon.

{Manusia semakin maju dan modern. Penyembahan bukan kepada Tuhan -bukan kepada Tuhan atau kepada bukan Tuhan?- kadang justru menyaru seolah kegiatan penyembahan kepada Tuhan itu sendiri. Saya kurung lagi kalimat ini. Sebab bukan untuk Anda baca. Cuman sekedar saya catat di sini biar saya ndhak lupa.}

Kalo kita menyembah Tuhan; maka fainsha Allah IMF, World Bank, dan semua pasukan rentenir asing bakal mΓͺntal untuk masuk negeri ini. Kalo rakyat dunia ini menyembah Tuhan, setan penabur riba penjerat kehidupan bakal terbakar oleh cairan dirinya sendiri. Tanpa perlu harus kita teriaki dan kita demonstrasi.

Berkembang…. berkembang itu harus. Tapi berkembang selalu kita parameter dengan semua yang punya satuan. Tak bisakah kita berkembang tanpa parameter satuan?

Satuan-satuan itu memang konkrit, tapi bisa jadi dia absurd. Benar-benar tak adakah parameter abstrak tapi tak absurd?

Kami yakin ada, jika kita bersedia memejamkan mata dan memandang dunia.

Mari, ikhlaslah jadi manusia. Kita tak tentu akan mati syahid hanya dengan mengepalkan tangan dan meneriakkan Allahu Akbar. Tapi saya yakin, kesyahidan lekat dengan sesiapa saja yang ikhlas, yang berani menghibahkan dirinya sendiri untuk dunia.

Sebab manusia datang hadir dihadirkan untuk menjadi manusia di dunia ini.

Oia maaf, mohon ganti semua kata Anda dia mereka atau semacam sejenisnya di atas dengan kata Freema. Maklum, seperti biasa, kadang yang kosong itu penuh yang penuh mungkin saja kosong. Melompong. Sepertinya inilah kekeliruan dan ketidakkeliruan.

Ya, kekeliruan dan ketidakkeliruan. Kita tidak bicara kebenaran di sini. Apalagi biacara kesalahan. Jancuk, kesalahan – kekeliruan?

Jika kita sudah bersedia melepaskan penyembahan bukan kepada Tuhan -atau kepada bukan Tuhan- dengan ikhlas menghibahkan diri kita untuk dunia kehidupan peradaban, maka tarikan Rp 200 (atau yang sejenisnya semacamnya temen-temennya sebangsanya senada setara mirip sepertinya) mungkin tak akan pernah ada. Tidak pernah ada karena kita akan mengikhlaskan kekayaan isi perut bumi negeri ini untuk rakyat Indonesia, untuk peradaban manusia seutuhnya semuanya. Bukan mempersembahkannya kepada setan penghisap keringat rakyat manusia.

– Ingat, itu semua tadi adalah posting yang tidak patut Anda baca! Sebab saya sama sekali tidak punya dasar atas segala ocehan saya di atas! Dan jika Anda terlanjur membacanya sampai bait ini, mending jangan percayai ocehan saya. Saya ini orang yang tak pantas Anda percayai. Kalo sampe Anda percaya, koq mau-maunya Anda…, wong istri saya sendiri aja kalo saya jelaskan tentang sesuatu juga ndhak percaya sama saya. Dia selalu bilang, “Halah gombal!”

Saya, Freema Bapakne Rahman, seperti biasa menyapa malam dan matahari. Menyapa Anda jika Anda berkenan. Damai sejahtera bagi kamu, semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dan berkah dari Allah.

– FHM,
makhluk berfisik manusia namun sedang mempertanyakan manusiakah Anda dia mereka… ummm sori, saya?

u

Blog: Sejarah, Buat Apa?

Mengikuti banyak blog beredar di dunia maya, kami jadi tercekat sendiri. Blog-blog dengan trafik kencang, hits tinggi, dan like/share banyak itu rasanya dominan cuman semacam retype dari laman-laman berita atau postingan viral di media sosial!

Dan itu “laku” banget semuanya!

Koq bisa ya?

Pingin banget rasanya bisa bikin blog kayak gitu. Meski rasanya cuman penuh repost-repost dari laman yang aslinya cukup di-share langsung ke berbagai lini medsos, tapi para bloger itu pilih ngetik ulang ke blognya ketimbang langsung nge-share ke saluran medsos…

Udah gitu, meski cuman repsol-repsol gitu ternyata trafiknya bisa kencang, pengunjungnya buanyakkk, hitnya tinggi, yang komeng juga berderet, plus di-reshare berulang-ulang kali.

Koq bisa ya?

Pingin bikin blog yang kayak gitu. Yang isinya dominan cuman semacam retype dari informasi beredar yang udah ada. Sehingga isinya bisa ringan dan santai.

Tapi berulang kali mencoba, kami malah kesusahan sendiri. Susah bagi kami untuk me-retype informasi dari laman yang sudah ada ketimbang langsung meng-share-nya ke saluran medsos. Susah bagi kami untuk tidak mengungkapkan isi pikir sendiri, terlepas benar atau salah tuangan pemikiran kami.

Paling sekali-dua kami coba menyarikan ulang laman-laman berita/blog asing. Itu pun cuman berdasar ketertarikan kami pribadi pada kontennya, bukan berdasar apa yang sekiranya menarik dan diminati oleh banyak orang.

Sampai suatu saat seorang rekan bertanya, “Om Freema/Tante Deasy bikin blog tanpa ada yang membaca gitu, buat apa?”

Kami cuman bisa tersenyum. “Setidaknya buat anak kami. Agar kelak jika dia udah dewasa dan berkesempatan membaca blog kami ortunya ini, dia bisa menyelami apa yang jadi pikiran orang tuanya. Entah benar atau salah apa yang pikiran bapak-ibunya ini, setidaknya ada torehan sejarah yang bisa dia ikuti, untuk menjadi hikmah dan pelajaran dalam hidupnya. Tidak terputus begitu saja oleh jaman dan waktu…”

Dan kalau toh blog – tuangan pemikiran kami ini ada yang berkenan menyelami dan mengikutinya, kami berharap dan berdoa, semoga Tuhan melimpahkan rahmat pengetahuan, wawasan, ide, atau pemikiran bagi hidup Anda. Jika ada benarnya, itu semata karena Tuhan menuntun tangan kami mengetik. Jika ada salahnya pada segenap tuangan pemikiran kami melalui blog ini, itu murni karena bandelnya kami dan semoga itu menjadi bahan koreksi bagi Anda. Pun bagi putra kami.

Ini bukan blog sejarah atau sejarah blog. Ini bukan masalah benar atau salah. Ini tentang apa yang menjadi pikiran kami. Ini adalah potongan sejarah kami. Ini bagian dari hidup kami.

Bagi kami, tulisan-tulisan ini adalah harta kami. Harta yang kami nikmati dalam hidup ini. Tulisan-tulisan ini hidup dari jiwa kami, tulisan-tulisan ini menghidupi jiwa kami. Ini adalah bagian dari hidup kami.

Terima kasih bagi Anda dan sesiapa saja yang sudi-sudinya berkunjung dan membaca ungkapan-ungkapan kami. Ijinkan kami berbagi.

– Freema & Deasy
Bapak-Ibunya Aleef Rahman H.

Terima Kasih Avanza Hitam

Siang ini di kota kecil Kediri, 26 Desember 2015, hari kesekian dan masih awal-awal sesi libur panjang akhir tahun ini. Saya mengemudi sendiri, sedang terjebak kemacetan di salah satu titik keramaian kota Kediri, kota yang cuman ‘sejengkal’ ini.

Mendadak, sebuah Avanza (atau Xenia?) hitam berteriak kepada saya sambil berlalu agak cepat, “Pak pintunya kurang rapat!”

Kurang lebih mungkin itu kalimatnya. Entah apa yang beliau ucapkan tadi, saya kurang ngeh. Tapi saya yakin itu maksudnya.

Secara refleks saya mengangguk dan melambaikan tangan. Semoga mereka paham jika dengan gerakan itu saya hendak mengucapkan terima kasih.

Saya membuka dikit untuk kemudian menarik-menutup pintu saya lebih rapat.

TERIMA KASIH Avanza hitam. Salut buat penumpang kiri depan (ibu-ibu berjilbab, menemani si bapak yang konsentrasi nyetir tampaknya, beserta keluarga seisi mobil – mudah-mudahan saya tak salah lihat tadi) yang sepertinya sengaja membuka sebentar kacanya hanya untuk menyampaikan peringatan kepada saya.

Sayangnya saya masih tetap tertahan di lajur saya, tidak bisa menyusul itu Avanza di lajur sebelah saya yang duluan bergerak dan maju beberapa mobil ke depan.

Hingga lolos dari kemacetan, saya tak bisa mengejar itu Avanza untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.


– Ilustrasi.

KEDIRI kota kecil yang cuma ‘sejengkal’ ini, siang tadi dilanda kemacetan parah. Jalur yang saya lalui siang ini tadi: Nabatiyasa, pusat kota Jalan Dhoho, Pattimura isinya macet semua. Di jembatan baru Semampir, kendaraan ke arah barat ekor kemacetannya bahkan sampai lampu merah Semampir.

Entah dengan kawasan Alun-Alun, saya tak hendak lewat sana ini tadi, udah keburu bete aja di jalan tadi. Cuman buat ngiteri jalur yang tak seberapa panjang tadi, (nyaris) satu setrip bensin ludes terbakar jadi emisi.

Walapun cuman sedikit kilometer dan tidak makan waktu berjam-jam ala Jakarta, namun rasanya Kota kecil yang cuman sejengkal ini sudah mulai belagu hendak menandingi Jakarta atau Malang. Sebab sejauh ini Kediri tidak mengenal kemacetan. Paling ya masih “antri lumayan agak lama”, begitu kalo saya mengistilahkan ‘kemacetan’ Kediri kala weekend-weekend biasanya.

Entah dengan hari sebelumnya, apakah seperti ini macetnya atau tidak. Siang ini tadi saya terpaksa keluar karena memang ada urusan. Bukan sekedar jalan-jalan menghabiskan liburan. Sementar amulai awal sesi libur panjang akhir tahun 2015 ini saya banyak menghabiskan waktu di Blitar.

KEPADA Avanza (atau Xenia?) hitam yang tak sempat saya perhatikan nomor polisinya karena serasa begitu cepatnya kejadian tadi, saya ucapkan terima kasih tiada terkira. Semoga posting ini sempat sampai ke layar ponsel/kompie Anda. Dan semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa menyertai Anda sekeluarga, Allahuma aamiin.

Regards,
FHW
– Bimmerfan (BMWCCI Kediri; Angkringan-online Bimmerfan Mataraman – not club not community; Blitarian Bimmer; BUCKS; dll. mana aja saya okey buat diajak koq! πŸ˜€ Hehehehe…)

Ayam

Ini bukan gosip, dan ini bukan vonis. Ini murni sekedar kisah tanpa bermaksud apapun, apalagi sampai menghakimi unsur-unsur tertentu.

Seciul… eh, secuil kisah tentang Daihatsu Espass.

Dulu, Lik Monster Kain Pel alias Lik C Sudiro itu maniak banget sama daihatsu Espass. Baginya, Daihatsu Espass adalah the perfect-car.

Sampai suatu ketika di sebuah pasar tradisional, beliaunya mendapati ada Espass dengan bodi depan penyok (Jawa: legok/dhesok), melesak dengan kontur serupa bentuk ayam.

Dengan kata lain, itu Espass langsung mblesek hanya karena (berhantaman dengan) seekor ayam. Mblesek dengan pola dan bentuk kayak si ayam. (Well, sekenceng-kencengnya momen timbukan dengan ayam, kenceng mana siy dibanding timbukan antara pesawat terbang dengan burung? πŸ˜€ Hehehehehe…)

Sejak itulah Daihatsu Espass dicoret dari daftar hidupnya.

Dan BMW -yang harganya 11-12 sama Espass- menjadi mobil terbaiknya sepanjang masa, sekalipun sempat overheat.

Itu versi gosipnya. Versi nyatanya: itu emang Espass-nya Lik C sendiri. Nubruk ayam yang nyebrang sambil terbang. Di daerah Pemalang, Brebes, atau Tegal doi lupa. Pokoknya daerah situ deh.

Enam tahun, dari baru sampai dijual, hanya mogok sekali, di Kedunghalang – Bogor, karena melibas genangan air. Terpaksa harus dijual karena musti bayar sekolah anaknya. Cman punya waktu hari hari untuk melunasi bayaran sekolah.

#Haru Biru#

Ini bukan gosip!

– FHW,
bigos, biang gosip.

Sprinter: We Like Mercedes-Benz!

Barusan, di kota Kediri yang kecil ini, boncengan motor sama si kecil dan melihat sebiji Mercedes-Benz Sprinter 2nd-gen (NCV3) face-lift baru/plat putih terparkir di halaman sebuah resto milik salah satu juragan di kota ini, resto masakan tradisional (tapi harganya modern) yang berada persis di seberang rumah sang juragan yang baik hati.

Rekan-rekan Kedirian pasti kenal siapa beliaunya.

Beliaunya emang terkenal sebagai kolektor mobil-mobil eksotik: W140 S600, Ferrari, dan buuuanyakkk lagi belom moge-mogenya (sepertinya Hummer juga). Anak-anaknya siy tunggangannya yang simpel-simpel saja: VW New Beetle atau Ford Fiesta. Simpel. Cuman jadi tak simpel lagi mengingat dealer kedua merk tersebut tak ada di Kediri!

Entahlah itu Mercy Sprinter baru dibeli sang juragan atau sekedar mampir, yang jelas sudah dari kemarin itu mobil besar terparkir manis di sana. Kata si kecil saat melihatnya, “Buuuesarrr ya Pak?” πŸ˜€

Yang pasti, Mercy Sprinter tadi -warnanya Maroon- semua jendelanya kaca, bukan panel/cargo van (berdinding plat semua tanpa jendela kaca). Atapnya tinggi (hi-roof) dan wheelbase-nya panjang. Saya menebak, ini versi trim tertinggi sprinter, (sekali lagi) jelas untuk passenger bukan panel/cargo-van.


– MB Sprinter 170″ hi-roof.


– MB Sprinter 170″ extended-length.

Mercedes-Benz Sprinter kalo saya bayangkan adalah Isuzu Elf-nya orang sono. Dia punya banyak varian, mulai chasis-cab, pikap, panel/cargo-van, crew-cab, sampe passenger-van dan minibus. Cuman, alih-alih hendak menggesur Isuzu Elf, rasanya Mercy Sprinter bermain di kelasnya sendiri(an) setelah melihat harganya yang sepertinya dua-tiga kali lipat dibanding Elf 😦

Untuk passenger-van-nya, tersedia dua wheelbase dan variannya: 144″ dengan standar atau hi-roof dan 170″ yang pasti hi-roof dengan standar atau extended-length.

Di sono, MB Sprinter di-rebadge juga jadi VW Crafter dengan mesin dari VW sendiri. Saya tidak tahu di Indonesia beredar versi yang mana aja, soale informasi dari laman Mercedes-Benz Indonesia begitu minim, bahkan foto MB Sprinter yang ada pun masih versi pre-facelifted.

Mercy Sprinter yang kami temui, tidak terlihat interiornya seperti apa, soale kaca-kacanya tertutup korden cantik semua. Mau kami dekati, takut diusir satpam. Maklum, kami bertampang acakadut dan cuman bermotor kucel, sangat berpotensi menimbulkan syak wasangka bagi pak Satpam πŸ˜€

Tapi baguslah tak kelihatan interiornya. Sebab bisa bikin kami ngompol andai itu Mercy Sprinter ternyata edisi business-lounge yang super muewah ruang dalemnya.

Dan melihat velg-nya yang (sebutlah)aluminium-alloy bukan kaleng serta (semoga ingatan saya tak salah) bumpernya yang sewarna bodi, sangat susah meyakini jika versi tersebut cuman versi transporter dengan buanyak seat.


– Macam di atas itu MB Sprinter yang kami lihat tadi. Dan bayangkan jika minibus-minibus yang beredar di jalanan negeri kita ini berubah menjadi kayak gini:

Kami -saya dan si kecil- emang suka Mercy juga.

Tapi Mercy yang kami sukai khususon yang dua pintu bermesin common-rail diesel Euro 5 bertenaga 250, 360, 420, atau 730 hp.

Bukan Klasse C, E, atau S. πŸ˜€

– FHW Sprinter,
Klasse-V Axor Actros.

Foto-foto ngelink dari internet.
REFS: http://www.mbvans.com/sprinter/home

BMW F30 LCI 340i

Ini bukan F30 modifan. Ini asli 340i, “cc” (pake tanda petik lho ini) terbesar dalam sejarah seri 3!

BMW 340i! Menurut nomenklatur BMW, maka ini artinya seri 3 dengan kapasitas 40(00)cc – injection/intelligent. Sementara LCI (life cycle impulse) adalah nama dagang BMW untuk produk facelifted-nya.

BMW Seri 3 F30 sendiri adalah Seri 3 generasi keenam dimulai dari E21, E30, E36, E46, E90 (sedan)/E91 (Touring)/E92 (coupe)/E94 (cabriolet/convertible), dan F30 (sedan)/F31 (Touring)/F34 (Gran Turismo)/F35 (LWB/long wheel base sedan) ini. Sementara versi coupe/cabliolet di F30 ini menjadi Seri 4 (F32 coupe, F33 cabriolet/convertible, dan F36 Gran Coupe). Cek lebih lengkap tentang Seri 3 F30 di sini https://en.wikipedia.org/wiki/BMW_F30. Cek lebih lengkap tentang sejarah Seri 3 di sini https://en.wikipedia.org/wiki/BMW_3_Series

BMW F30 340i, sebenarnya cc aslinya bukan 4000cc. Ia punya kapasitas 3000cc dari mesin modular B58. Ini generasi mesin terbaru BMW, mesin modular yang tiap lobang bakar punya kapasitas 500cc. Sehingga kalo jumlah silindernya 6, maka kapasitasnya 6x500cc = 3000cc.

Mesin modular ini, sesuai namanya: modular, dirancang tinggal dikali-kalikan saja besarannya. Saat ini mesin modular BMW ada tiga mesin sesuai jumlah silindernya: 3 silinder, 4 silinder, dan 6 silinder. Sekali lagi, tiap silinder berkapasitas 500cc. Tinggal dikalikan dengan jumlah silindernya. Baik mesin bensin dan diesel bisa dibilang sama pleg rancang bangunnya, dan tentu bedanya di sektor sistem (suplai dan injeksi/pembakaran) bahan bakarnya aja.

Dan kembali ingat, penyematan turbo membuatnya tidak bisa dibaca langsung sesuai jumlah cc-nya. Seperti contoh B58 ini, 3000cc ditambah turbo sehingga dianggap setara 4000cc tanpa turbo (non-turbo = NA/naturally-aspirated).

Mesin modular di F30 LCI ini menggantikan (replacing) F30 pre-facelifted 335i bermesin N55(B30) yang juga 3000cc. Baik N55 maupun B58 dianggap berbeda cc pada nomenklaturnya karena jejalan turbo (FI/forced induction)-nya.

Kapasitas mesin yang berbeda dengan nomenklaturnya ini bukan baru-baru ini terjadi di BMW. Pada Seri 3 E36, E36 323i punya mesin 2500cc namun tenaganya dianggap setara 2300cc pada line-up E36 kala itu.

BMW Seri 5 E39 523i juga bermesin 2500cc namun tenaganya dianggap setara 2300cc pada line-up E39 kala itu.

Dan kelakuan “melenceng” (perbedaan cc mesin dengan nomenklatur) ini bukannya surut, ternyata malah menjadi-jadi pada BMW-BMW tipe semakin baru. Mesin N20B20 4 silinder misalnya, punya versi: 154hp, 181hp, 215hp, dan 281hp. Jadi BMW Seri 5 F10 520i, 525i, dan 528i sesungguhnya punya mesin yang sama, yakni N20B20 tsb. hanya beda di force-induction-nya.

Tapi bukan cuman BMW. Pabrikan lain yang menyematkan nomenklatur kapasitas mesin di seri/variannya juga banyak yang kelakuannya melenceng kayak gini. Sebutlah Mercy Klasse-C W204 C250 yang harusnya bermesin 2500cc, ternyata juga cuman menggendong mesin 1800cc. Namun Mercy W204 C300 mesinnya malah berkapasitas 3500cc.

BMW F30 340i ini dirilis untuk peringatan 40 taon seri 3. Selama enam generasi Seri 3 senantiasa menjadi pemimpin di kelasnya ini. Nah, apakah ntar kalo Seri 3 umurnya udah 50 taon bakal nongol 350i dan kalo 60 taon nongol 360i? πŸ˜€

BMW F30 340i ini punya keluaran tenaga 322hp dengan torsi 450Nm. Sebagai perbandingan, E36 318i M43 bertenaga 113hp; E36 323i = 168hp; E46 318i N42 (facelift) = 141hp; E46 325i = 189hp; E46 330i = 238hp.

BTW, seperti apakah tampang Seri 3 itu? BMWBLOG menyebutnya dengan mata kerbau di ujung senapan! πŸ˜€ Cek bagaimana Seri 3 terbaru seperti melahirkan kembali kejayaan Seri 3 era silam sebelum-sebelumnya di sini http://www.bmwblog.com/2015/07/28/test-drive-bmw-340i-vs-bmw-323i-e36/

Lebih lengkap tentang ulasan BMW F30 LCI 340i berikut buuuanyakkk fotonya silakan kunjungi laman-laman ini http://paultan.org/2015/07/22/gallery-bmw-f30-lci-340i-in-mediterranean-blue/ sama ini http://www.bmwblog.com/2015/05/10/live-photos-bmw-340i-sedan/bmw-3er-f30-lci-sport-line-mediterran-blau-340i-01/ juga ini http://www.caranddriver.com/reviews/2016-bmw-3-series-340i-first-drive-review

Trus, untuk masalah perawatannya F30 ini gimana, jangan nanyak saya. Karena selain model ini mestinya masih garansi pabrikan, saya juga ndhak punya F30. Megang juga belom pernah πŸ˜€ Yaaa doakan aja saya bisa punya. Nanti yang mau minjem saya pinjemi.

Dan ingat, jangan pernah nanyakan BMW ke saya. Untuk chit-chat perilah biem, silakan ngangkring – posting pertanyaan – becanda tawa dimari saja Angkringan-online https://m.facebook.com/groups/323699264381705

– F30HW,
CMIIW.