Pedal Gas

Ada sedikit perbedaan sederhana, sepele, namun signifikan pada mobil menurut saya pribadi, yakni konstruksi pedal gas.

Di Audi, pedal gas dipasang menggantung. Ini ternyata bikin capek kaki saat perjalanan jauh, terutama jika posisi tapak kaki kita ndhak fit.

Kelelahan ini memang bisa dieliminasi, dengan syarat tapak kaki harus fit. Maksudnya: jangan sampai kita nyetir sambil pakai sandal yang longgar dan sejenisnya.

Jadi gunakan sepatu yang rapat membungkus kaki.


– Posisi pedal gas Audi.

Sementara, beruntunglah Anda yang menggunakan BMW. BMW merancang pedal gasnya menapak pada lantai, meski aslinya dia tetep menggerakkan tuas gas yang berada di ujung atas pedal gas.

Tapi secara ergonomis, maka pedal gas ini tetep dinilai sebagai pedal gas yang menapak lantai.

Konstruksi seperti ini ternyata bikin tapak kaki lebih nyantai. Nyetir pake sandal jepit ndhak terlalu ngefek tergeser-geser. Meski secara safety-driving kita tetap harus menapakkan tapak kaki pas pada posisi tapak pedal, dan sebaiknya tetap menggunakan sepatu yang fit membungkus kaki.


– Posisi pedal gas BMW.

Saya ndhak tau apakah posisi pedal Audi bisa dimodifikasi menjadi seperti konstruksi pedal BMW. Toh sejauh ini saya bisa menyesuaikan kaki jika harus nyetir jauh pake Audi.

Tapi biar bagaimanapun, semenyesuaikan diri kita dengan model pedal gas gantung, macam punya Audi, tetep tak pernah mengalahkan nyamannya mbejek gas dengan pedal gas menapak lantai, macam punya BMW.

Ini sekedar pengalaman belaka. Saya kurang paham pertimbangan masing-masing pabrikan memilih konstruksi pedal gas menggantung atau menapak pada lantai.

Yang sepintas terlihat siy posisi pedal gas menggantung lebih sederhana konstruksinya dan terlihat lebih sigap menerima perintah ngegas yang mendadak. Sementara pedal gas menapak lantai seperti punya BMW tampak lebih ribet rancang bangunnya ketimbang pedal gas nggantung.

Namun untungnya keduanya dari kendaraan jenis sedan yang mana seating-positionnya enak: tinggi jok terhadap lantai relatif rendah dan posisi kaki lebih nyelonjor.

Tanpa bermaksud sambat/mengeluh dan ini murni hanya sekedar bercerita untuk mengkomparasikan secara deskriptif: saya pernah nyetir AKAP (antar kota antar provinsi) dari Kediri – Bandung – Jakarta – Kediri pake Kijang.

Secapek-capeknya kaki (tapak kaki, kentol/betis, dan paha pake Audi yang pedal gasnya menggantung masih juuuauh lebih capek mbejek gas Kijang. Yang selain posisi pedal gasnya nggantung juga karena seating positionnya mirip duduk di kursi biasa: jok lebih tinggi terhadap lantai dibanding sedan, badan lebih tegak dan kaki lebih nekuk,

plus sistem kaki-kaki yang simpel, yang memang dioreintasikan kepada beban bukan kepada kenyamanan sehingga bantingannya begitu menusuk pinggang.

Tapi ini ndhak comparable sebenarnya. Sebab itu Audi & BMW Sedan ndhak bisa dibuat nggelar kasur buat tiduran di dalam kabin. Kijang bisa baget! 😀

Saat kita butuh kendaraan dengan ruang kargo melimpah, mungkin ini kali ya yang membuat station-wagon alias touring alias estate alias avant alias shooting-break lebih laku di Eropa ketimbang SUV yang lebih tinggi dimensi bodinya?

Apakah karena seating-position yang nyaman ditambah infrastruktur jalan di Eropa yang ndhak ber-SNI (standar nasional Indonesia) melainkan ber-SNE (standar noh Eropa) yang mulus halus maknyus sehingga orang sana lebih suka wagon dan tak terlalu butuh SUV?

Pun sedan/wagon di luar negeri juga jamak banget pake sistem penggerak AWD (all wheel drive) yang konon diorientasikan untuk stabilitas jalan raya, misalnya saat kondisi bersalju. Jadi, tak harus SUV untuk ber-AWD.

Udah gitu, SUV era sekarang sudah mulai banyak meninggalkan era Jip. Meski ground-clearance tetep lebih tinggi ketimbang sedan/wagon, namun signifikansinya mulai tak terlalu ekstrim. Bahkan produsen sekelas BMW pun tak berani menamai produknya sebagai SUV (sport utility vehicle) dan memunculkan nama baru: SAV (sport activity vehicle). Saya pikir ini bukan sekedar nama dagang belaka, melainkan lebih dari itu: memang karena karakter produknya ndhak begitu SUV, yang mana SUV kadang dipandang serasa harus memiliki kemampuan (lite)offroad yang mumpuni.

Padahal SUV era sekarang nyamannya udah setara sedan. Namun yang namanya ‘setara’, pasti tetep ada bedanya dibanding ‘sama’.

Entahlah. Gara-gara pedal gas kita sampe melebar ngomongin bentuk kendaraan 😀

Jadi, well, selamat bagi Anda yang telah memilih BMW atau mobil dengan pedal gas menapak lantai.

– FHW,
seorang tukang nyacat yang asal njeplak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s