Ngejrenk

Seorang rekan pernah nyelutuk, “Sayangnya BMW di sini dominan hadir dengan warna-warna standar dan kaku: merah, biru, hijau, hitam, dan sejenisnya…”

Well, temen saya ndhak salah juga. Bukan cuman BMW, nyaris semua pabrikan hadir dengan warna-warna ‘standar’ dan ‘kaku’ seperti di atas kala itu di sini. Makanya kita inget saat Daihatsu Feroza hadir, Indonesia dibuat terbelalak dengan warna-warna permennya yang kala itu dianggap mendobrak pakem.

Di luar negeri, BMW (dan mungkin pabrikan lain – saya belum menelusuri) sebenarnya sudah sejak jaman ndhak enak sudah hadir dengan warna-warna ngejrenk yang ciamik. Dibalik kekakuan (baca: kegantengan) tampang BMW, BMW sebenarnya centil juga. Mereka juga bisa menelurkan warna-warna permen yang lucu, gaul, dan sangat berjiwa muda.

Mungkin karena tidak populer/populasinya memang terbatas khususnya di negeri ini, BMW sayangnya serasa dominan hanya hadir dengan warna-warna kaku. Padahal Seri 3 pertama si E21 misalnya, sudah hadir dengan warna oranye yang ngejreng.

Seri 5 E34 yang sekarang bisa dibilang sudah tua bmwangka pun sebelum Feroza bikin gempar dengan warna-warna permennya juga hadir dengan warna krem yang cerah atau Daytona-violet yang gaul atau Calypso Red Metallic yang menawan mata atau yang lainnya di Indonesia sini; warna-warna “turunan ke sekian” yang saya perhatikan baru muncul di mopang beberapa tahun kemudian (mohon dengan sangat koreksinya atas pengamatan pribadi saya ini).

E34 yang usianya sudah 20an tahun jalan, di luar negeri malah ada Estoril Blue yang ceria, Dakkar-Yellow yang menggoda selera, dan masih buuuanyakkk lagi, termasuk tentunya yang kondang: British Racing Green. Lebih lengkap cek di sini BMW E34 Exterior Color


– Estoril Blue


– Santorin Blue


– British Racing Green


– Calypso Red Matallic

Yang lumayan kondang di sini adalah warna-warna limited-nya E36. Limited untuk pasar Indonesia sepertinya, dan belom tentu limited untuk pasar luar negeri. (Rekan-rekan E36Ers mohon koreksi info ini, tq.) Kondang di sini E36 dengan Dakkar-yellow, Estoril-blue, Daytona-violet yang catchy.

Barusan ini, BMW merilis videonya untuk produksinya dengan warna-warna “aneh” lagi. Silakan di-buffer video ini.

Well, mungkin warna-warna ini bisa menjadi inspirasi Anda yang sedang berniat me-repaint BMW atau kendaraan lainnya. Selamat menggali inspirasi!

– FHW,
seorang bapak yang berwarna item manis.

Pedal Gas

Ada sedikit perbedaan sederhana, sepele, namun signifikan pada mobil menurut saya pribadi, yakni konstruksi pedal gas.

Di Audi, pedal gas dipasang menggantung. Ini ternyata bikin capek kaki saat perjalanan jauh, terutama jika posisi tapak kaki kita ndhak fit.

Kelelahan ini memang bisa dieliminasi, dengan syarat tapak kaki harus fit. Maksudnya: jangan sampai kita nyetir sambil pakai sandal yang longgar dan sejenisnya.

Jadi gunakan sepatu yang rapat membungkus kaki.


– Posisi pedal gas Audi.

Sementara, beruntunglah Anda yang menggunakan BMW. BMW merancang pedal gasnya menapak pada lantai, meski aslinya dia tetep menggerakkan tuas gas yang berada di ujung atas pedal gas.

Tapi secara ergonomis, maka pedal gas ini tetep dinilai sebagai pedal gas yang menapak lantai.

Konstruksi seperti ini ternyata bikin tapak kaki lebih nyantai. Nyetir pake sandal jepit ndhak terlalu ngefek tergeser-geser. Meski secara safety-driving kita tetap harus menapakkan tapak kaki pas pada posisi tapak pedal, dan sebaiknya tetap menggunakan sepatu yang fit membungkus kaki.


– Posisi pedal gas BMW.

Saya ndhak tau apakah posisi pedal Audi bisa dimodifikasi menjadi seperti konstruksi pedal BMW. Toh sejauh ini saya bisa menyesuaikan kaki jika harus nyetir jauh pake Audi.

Tapi biar bagaimanapun, semenyesuaikan diri kita dengan model pedal gas gantung, macam punya Audi, tetep tak pernah mengalahkan nyamannya mbejek gas dengan pedal gas menapak lantai, macam punya BMW.

Ini sekedar pengalaman belaka. Saya kurang paham pertimbangan masing-masing pabrikan memilih konstruksi pedal gas menggantung atau menapak pada lantai.

Yang sepintas terlihat siy posisi pedal gas menggantung lebih sederhana konstruksinya dan terlihat lebih sigap menerima perintah ngegas yang mendadak. Sementara pedal gas menapak lantai seperti punya BMW tampak lebih ribet rancang bangunnya ketimbang pedal gas nggantung.

Namun untungnya keduanya dari kendaraan jenis sedan yang mana seating-positionnya enak: tinggi jok terhadap lantai relatif rendah dan posisi kaki lebih nyelonjor.

Tanpa bermaksud sambat/mengeluh dan ini murni hanya sekedar bercerita untuk mengkomparasikan secara deskriptif: saya pernah nyetir AKAP (antar kota antar provinsi) dari Kediri – Bandung – Jakarta – Kediri pake Kijang.

Secapek-capeknya kaki (tapak kaki, kentol/betis, dan paha pake Audi yang pedal gasnya menggantung masih juuuauh lebih capek mbejek gas Kijang. Yang selain posisi pedal gasnya nggantung juga karena seating positionnya mirip duduk di kursi biasa: jok lebih tinggi terhadap lantai dibanding sedan, badan lebih tegak dan kaki lebih nekuk,

plus sistem kaki-kaki yang simpel, yang memang dioreintasikan kepada beban bukan kepada kenyamanan sehingga bantingannya begitu menusuk pinggang.

Tapi ini ndhak comparable sebenarnya. Sebab itu Audi & BMW Sedan ndhak bisa dibuat nggelar kasur buat tiduran di dalam kabin. Kijang bisa baget! πŸ˜€

Saat kita butuh kendaraan dengan ruang kargo melimpah, mungkin ini kali ya yang membuat station-wagon alias touring alias estate alias avant alias shooting-break lebih laku di Eropa ketimbang SUV yang lebih tinggi dimensi bodinya?

Apakah karena seating-position yang nyaman ditambah infrastruktur jalan di Eropa yang ndhak ber-SNI (standar nasional Indonesia) melainkan ber-SNE (standar noh Eropa) yang mulus halus maknyus sehingga orang sana lebih suka wagon dan tak terlalu butuh SUV?

Pun sedan/wagon di luar negeri juga jamak banget pake sistem penggerak AWD (all wheel drive) yang konon diorientasikan untuk stabilitas jalan raya, misalnya saat kondisi bersalju. Jadi, tak harus SUV untuk ber-AWD.

Udah gitu, SUV era sekarang sudah mulai banyak meninggalkan era Jip. Meski ground-clearance tetep lebih tinggi ketimbang sedan/wagon, namun signifikansinya mulai tak terlalu ekstrim. Bahkan produsen sekelas BMW pun tak berani menamai produknya sebagai SUV (sport utility vehicle) dan memunculkan nama baru: SAV (sport activity vehicle). Saya pikir ini bukan sekedar nama dagang belaka, melainkan lebih dari itu: memang karena karakter produknya ndhak begitu SUV, yang mana SUV kadang dipandang serasa harus memiliki kemampuan (lite)offroad yang mumpuni.

Padahal SUV era sekarang nyamannya udah setara sedan. Namun yang namanya ‘setara’, pasti tetep ada bedanya dibanding ‘sama’.

Entahlah. Gara-gara pedal gas kita sampe melebar ngomongin bentuk kendaraan πŸ˜€

Jadi, well, selamat bagi Anda yang telah memilih BMW atau mobil dengan pedal gas menapak lantai.

– FHW,
seorang tukang nyacat yang asal njeplak.

Konvoi Apa Balapan?

Kalo biasanya trending-topic tentang kelakuan ugal-ugalan di jalanan sering didominasi oleh bus, turing/konvoi moge yang seperti konvoi motor ucrit kelakuannya, kali ini Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) mendadak jadi trending-topic.

Ada video turing yang diunggah salah satu member mereka ke laman Fesbuk TKCI yang dinilai banyak pihak begitu ugal-ugalan dan membahayakan keselamatan bersama di jalan raya. Berkuasa makan jalan, menggunakan sirine/strobo dan mengeluarkan anggota badan/mengibas-kibaskan tangan kepada pengendara lain.

Tapi bukan sekedar itu masalahnya. Saat banyak yang komplain dan protes, justru ditanggapi dengan kesan arogan oleh member-membernya. Mereka merasa tindakannya sudah benar dan justru menjawab pertanyaan orang dengan kata-kata yang terlihat kasar.

Belakangan video tersebut hilang hari FB TKCI. Namun sempat ada yang mengunggahnya ulang di Youtube.

Beberapa screenshot postingan dari fesbuk juga terkoleksi di thread Kaskus ini http://m.kaskus.co.id/thread/5652ddfc5074109c188b4567/kelakuan-member-tkci-yg-arogan-serta-ugal—ugalan-membahayakan-pengguna-jalan-lain/

Saya bukan member TKCI. Namun saya yakin yakin, fenomena sebagian oknum yang mencoreng nama baik klub/komunitas ini bukan hanya menimpa TKCI saja. Mungkin klub/komunitas lain juga pernah harus sibuk duduk bersama membahas kelakuan anggotanya yang seperti itu.

Makanya, lebih baik peristiwa ini semua dijadikan koreksi bersama saja untuk tidak diikuti/tidak diulangi lagi untuk yang kedua kalinya.

***

Kepada TKCI atau semua klub/komunitas mobil apa saja, jika ada membernya membaca ini atau sesiapa mungkin bisa menyampaikan ke pihak TKCI dan klub/komunitas lain, mohon maaf sebelumnya jika ada salah kata:

coba deh itu yang ugal-ugalan di jalanan diarahkan buat turun ke sirkuit Sentul. Biar lebih terarah potensinya dan menjadi prestasi kemampuan nyetirnya.

Bukan menjadi sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain, lebih dari sekedar mengganggu ketertiban atau kenyamanan orang lain.

Atau kalo pihak TKCI atau klub/komunitas apapun sudah biasa bikin track-day di Sentul, mungkin diperbanyak track-daynya. Biar semua bisa tersalurkan bakat mbejek gasnya.

Seperti TKCI yang punya 58 cabang dan buanyakkk anggotanya itu, mungkin akan lebih mudah meramaikan Sentul dan mungkin bisa diskon lebih banyak dari pengelola sirkuit kalo mau bikin track-day di sana.

“Yaaa… Rumah kita kan jauh dari Jakarta Gan…”

Ya koordinasilah dengan Polres & Pemda setempat, barangkali bisa nutup jalan untuk bikin track-day lokal sehingga ndhak perlu datang ke Jakarta.

Jika proposalnya layak, relatif aman dan relatif tidak mengganggu aktivitas masyarakat kota/wilayah setempat namun ijinnya ndhak dikasih sama Polres/Pemda, laporkan aja ke Menpora karena tidak serius memfasilitasi meratanya sirkuit olah raga otomotif di beberapa titik di Indonesia yang luas ini.

Intinya, lakukan langkah legal sampe mentok semuanya. Baru kalo pemerintah tetep mbisu-tuli, gunakan petisi massa agar suara Anda lebih didengar.

***

“Lho Gan, Kijang kan sesungguhnya bukan mobil balap melainkan mobil turing/keluarga?”

Ya sudah kalo begitu, jangan bikin kelakuan ala balapan di jalan raya. Mengendarailah sebagaimana semestinya jika memang itu mobil turing/mobil keluarga, bukan mobil balap yang memang punya kapabilitas & relatif bisa dikendalikan untuk menghadapi oversteer, understeer, rolling, spinning pada kecepatan tinggi.

Wong mobil sedan yang relatif siap untuk itu aja tetep ndhak patut koq berlagak ala balapan Sentul di jalan raya: duel di tikungan, overtaking dalam celah sempit, dan hanya dipacu untuk melaju menjadi paling terdepan tanpa harus memikirkan adanya kendaraan dari arah berlawanan. Kesemuanya adalah kondisi yang memang hanya disiapkan di sirkuit dan berbeda telak dengan kondisi nyata di jalan raya.

COBALAH turun atau ikuti dunia sirkuit. Biar Anda semua ngerti akan arti satu-satunya nyawa.

Pembalap-pembalap Sentul yang begitu liar dan ganas di sirkuit, justru mereka sangat ngerti artinya safety: paham perlu dan pentingnya perangkat safety minimal sabuk keselamatan di jalan raya serta paham perlu danpentingnya safety-driving di jalanan publik/jalan raya. yang mana the keyword is: jangan sampai membahayakan keselamatan orang lain.

Makanya meski mereka liar di sirkuit, mereka justru sangat santun dan bertata-krama di jalan raya.

WELL, semua peringatan yang Anda baca ini, sungguh sebenarnya khususon saya tujukan paling utama untuk diri saya sendiri.

Sebab saya kadang nge-pause kenormalan dan kewarasan pikiran sendiri saat berkendara santai-santai mendadak ada mobil yang nyalip dan memotong laju saya. Sesuatu yang bukan sekedar mengganggu kenyamanan -kalo masalah kenyamanan saya gampang melupakan- melainkan ini sudah menjurus ke sesuatu yang mengganggu keselamatan.

Regards,
– Freema HW,
belum merasa menjadi pengemudi yang baik, sopan, dan bertatakrama di jalan raya.

Semalam Bersama Rekan-Rekan

Ini kisah bersama rekan-rekan E30 Register, dan awalnya hendak saya juduli posting ini “Semalam Bersama Rekan-Rekan E30 Register”.

Tapi kisah yang saya alami ini bukan sekedar menunjukkan ke-E30-an atau ke-E30 Register-an, melainkan lebih dari itu: menunjukkan bagaimana kaum bimmerfan (seharusnya)!

Ada apa siy emangnya?

Jadi gini…

SORE 13 November. Saya sedang bermotor di jalanan kota Kediri untuk turut menyiapkan keperluan rekan-rekan Kedirian yang hendak menggelar acara gathering dengan para bimmerfan tetangga se-Jawa Timur lusa harinya. Silakan ke sini jika Anda punya waktu luang dan bandwidth berlebih untuk menyelami acara tersebut.

Mendadak ada telepun dari rekan Brian dari Blitarian, menanyakan apakah saya ikutan ke Pacitan menghadiri acara E30 Meet, atau sederhananya gathering E30 Register meski mengundang juga pengguna dan penggemar biem apapun kendaraannya. Kata Brian, nanti aku bisa dijemput sama bro Imam dari Malang.

Mendadak teringat, sebelumnya di angkringan-online: aku, Brian, Abi dikejar-kejar rekan-rekan E30 Register, diancam bakal bonyok kalo kami sampe ndhak datang ke Pacitan πŸ˜€

Maklum, mereka semua adalah sebagian dari semua rekan baik saya.

Terpaksa saya nyerah.

“Baiklah, Imam aku tunggu di Kediri…” Pesan saya ke Brian dan Imam.

Malam itu jam 10an malem, akhirnya saya dan Imam serta br Caesar OTW ke Pacitan. Menembus kegelapan malam melintasi jalur Trenggalek – Panggul – Lorok/Soge/Jalinsel (Jalur Lintas Selatan) yang berkelok-kelok sambil menanjak atau menukik tajam, sungguh mengasyikkan.

Dini hari sekitar pukul 3 kami nyampe di Pacitan. Dan bobok di parkiran pantai Teleng Ria karena semua rekan tampaknya pada terlelap di kamar penginapan masing-masing.

ADA sedikit kejadian yang kami turut sesali malam itu. Rekan Brian, Om Abi, bersama Pak No salah satu sesepuh Blitarian tersesat ke hutan lebat dengan jalanan super ekstrim menanjak dan super sempit. Justru mereka tersesat karena panduan GPS!

Saya beberapa kali pernah membantah GPS – global positioning system dan lebih suka mengandalkan panduan GPS – gunakan penduduk setempat atau info rute yang dipelajari dari awal. Karena tak terhitung banyaknya kabar dari banyak rekan yang “tersesat” justru karena GPS.

Tersesat di sini bukan berarti tidak sampe tujuan, nyampe siy pasti nyampe. Cuman rute yang dilalui kadang jalan kerbau dan sapi yang kondisinya sungguh ancur dan kurang layak dilalui kendaraan.

Maklum, GPS cuman menunjukkan rute (terdekat), tidak menunjukkan kondisi rute. Kecuali di kota besar, GPS online macam Google Maps sudah bisa menunjukkan kemacetan atau adanya aksiden d jalan. So, seumur-umur saya menggunakan GPS, saya pribadi hanya punya satu kesimpulan: GPS cuman berguna di kota besar yang kita bener-bener ndhak tau arah!

Alhasil, karena nyasarnya ekstrim dan lost-signal segala signal dan menyebabkan kondisi fisik Pak No drop mendadak, rombongan Om Abi akhirnya balik kanan balik ke Blitar – sekitar 4 jam dari Pacitan, padahal mereka tinggal 40an km dari TKP. 😦 Well, setidaknya Alhamdulillah ndhak terjadi suatu apa kepada mereka bertiga.

Pagi tanggal 14 barulah saya berkumpul dengan semua. Berformasi menjajar mobil di tepi pantai Teleng Ria, bercengkrama merajut kebersamaan dan persaudaraan.

Sorenya acara dilanjutnya mengintip hidden-paradise Pantai Soge, sekitar 30an km dari Pacitan atau sejam perjalanan karena medan yang berkelok-menanjak.

Di Soge, kami (saya, Imam, Caesar) pamit duluan cus ke Kediri, karena saya mau ikutan siap-siap bersama rekan-rekan Kedirian nyiapkan acara besok paginya. Nyampe Kediri sekitar 3 jam berikutnya atau jam 7an malam.

Dan rombongan rekan-rekan E30 Register menyusul nyampe ke Kediri dini harinya sekitar pukul 2! Karena beberapa jam mereka harus terhenti karena ada kendala rem di mobil Om Dodi yang kemudian diinapkan di Polsek Suruh, Trenggalek.

Minggu pagi tanggal 15 November, semua: rekan-rekan dari E30 Register, ada perwakilan pengurus pusat BMWCCI juga, bersama rekan-rekan dari Sidoarjo, Surabaya, Malang, Madiun, dan Kediri sendiri tentunya berkumpul bersama: bersilaturahmi dan saling berjabat erat.

Usai acara, saya sedianya bersama panitia Kedirian hendak beres-beres. Pasti perlu sekian jam ke depan untuk menuntaskannya. Tapi Om Abi dan rekan-rekan E30 nyeret saya agar ikutan kembali ke Trenggalek.

Kembali ke Trenggalek?

Ya, mobilnya Om Dodi Rasyid sempat jeblos rem-nya dalam perjalanan menuju Kediri dan diinapkan di Polsek Suruh, polsek terdekat kejadian. Lanjut Om Dodi + istri nebeng mobil rekan lain rombongan.

Dan usai acara di Kediri itulah Om Abi + Brian dikontrak buat mbenahi rem. Dan saya ikutan diseret, ditemani Lik Vaull dari Kedirian/Blitarian.

Saya mohon ijin ke Ki Lurah Kedirian: Pak Moe, dan Mas Fian sang Bendahara. Diijinkan. Lanjut cus ke Trenggalek namun sempat mampir isi perut dulu dan ngedrop Om Taufik yang musti ngelaskan knalpotnya di tukang las terdekat (dekat tempat makan siy). Belakangan Om Taufik lanjut ketemuan di Ngawi, ndhak perlu nyusul muter ke Trenggalek dulu.

***

Tiga jam menembus kepadatan lalu-lintas sore, kami sampe Suruh, Trenggalek.

Langsung Om Abi dan Brian mengeksekusi rem belakang E30 Om Dodi yang udah jadi cakram dari aslinya tromol.

Sepanjang dua rekan hangat kami sibuk dengan rem, semua rekan yang ada keluar tabiat aslinya: ngelawak abis-abisan!

Saya yakin, mereka semua pasti capek setelah menempuh perjalanan Jakarta – Pacitan via selatan. Kemudian Pacitan – Kediri yang lumayan bikin lemes. Dan malam itu mereka masih harus menyusuri (katakanlah nyaris) 1000 km lagi ke Jakarta.

Tapi semua kecapekan yang tak tersembunyikan itu dilibas oleh keguyuban mereka, keriangan mereka menjalani ‘apa yang harus dijalani’, dan kebersamaan mereka menghadapi banyak hal dan apapun.

Seperti kasus jebolnya seal rem Om Dodi tersebut. Mereka tetep keroyokan bareng-bareng muter ke Trenggalek lagi. Menemani rekannya sambil para ibu dan bapak sibuk menjaga dan menghibur anak-anak kecilnya bagi yang bawa anak-anak.

Terlebih, mereka semua bukan sekedar saling berbicara sendiri antar/sesama mereka yang sudah saling kenal. Mereka juga membangun komunikasi yang sederajat dan seimbang dengan kami: saya, Om Abi, Brian, Vaull yang ‘jarang mereka ketemui’ ini.

Hal ‘sepele’ tapi sungguh besar dampaknya bagi terjaganya kerukukan dunia! Saya haqul-yaqin ini!

***

Kejadian -kebersamaan nyata- ini memang tak akan mudah dibayangkan jika kita tak melihatnya langsung. Mungkin hanya bisa kita resapi saat kita pernah mengalami hal serupa demikian.

Harus menguatkan mental demi saling menemai. Bukan sekedar memastikan troubel rekannya tertangani kemudian kita tinggal teruskan perjalanan karena beragam alasan.

Hingga saya mengetik posting ini, saya masih merasakan hawa kebersamaan yang sama dengan malam tanggal 15 November kemarin ini.

Terlebih saat pulang, kami berempat dikasih kado (sisa) kaos E30 Meet. Yang mana yang kami terima sesungguhnya bukanlah kaos, melainkan sebuah hubungan yang tak ingin terputuskan.

***

USAI urusan rem, rekan-rekan lanjut cus ke barat via Ponorogo. Kami berpisah di persimpangan batas kota Trenggalek dan harus kembali mengarah ke (Karya) Timur. Melajukan kendaraan kami dengan tambahan aditif semangat persaudaraan yang susah untuk kami ungkapkan, hanya bisa kami resapi dan rasakan.

Dan entah bagaimana caranya kami bisa menggambarkan rasa persaudaraan yang kami rasakan ini sama kepada rekan-rekan, kami susah mencari caranya. Karena begitu mendalamnya ini semua.

Semua semangat ini bener-bener mengejawentahkan semangat #AllBimmerAreBrother, bukan (Not)AllBimmerAreBrother.

Rindu kami buat rekan-rekan E30 Register, semoga lain waktu kita bisa bersua dan ngelawak lagi.

# semua foto ngelink dari foto rekan-rekan (Om Bruse, Lik Aryono, Mas Agus, Lik Ardian, dkk.), hak cipta ada pada masing-masing pemilik.

Gadis China

Enggg… gini, pas kondisi siap nikah dulu, saya pingin banget nikah ama gadis China yang manis. Yaaa, kasarnya ngomong, buat “memperbaiki keturunan”. Maklum, saya kan item manis. Hahahaha…

Dan biasa, keluarga, relasi, kolega beragam pendapatnya.

Ada yang menentang karena alasan untuk mempertahankan agama sehingga jangan sampai menikah dengan non-muslim (lho, padahal etnis Cina kan ada yang muslim juga to?) sehingga biar anakku kelak pasti jadi muslim juga; ada yang melarang karena khawatir terjadi cultural-gap & lag pemikiran/pola pandang, dll. Termasuk dengan alasan stigma kaum etnis China yang eksklusif, belom bisa bercampur secara cair dengan warga asli pribumi, dll.

Bener-bener alasan yang emosional. Ada-ada aja…

Ada pula yang mendukung dengan alasan agama tidak melarang koq menikah dengan gadis non-muslim, apalagi ‘sekedar’ beda etnis. Sekaligus ini keren agar terjadi perbauran kultural, dan ini bagus untuk kerukunan, dll. Toh semua manusia sama. Kaum etnis China belom tentu lebih baik atau lebih buruk ketimbang kita-kita (kaum pribumi). Semua kembali pada masig-masing manusianya. Dan segala alasan lain yang sungguh masuk akal dan bener-bener indah untuk kehidupan ini.

Dan seiring perjalanan waktu, yakh, “ternyata” yang saya dapet gadis Jawa juga. Cuman untungnya dia kulitnya putih, dan matanya sipit juga untuk ukuran gadis Jawa, jadi miriplah dengan gadis Cina. *menghibur diri mode-on* πŸ˜€

Apakah saya menyesal dengan ‘pilihan’ku ini? Sama sekali tidak.

Sebab saya meyakini, apa yang jadi jodohku ini adalah takdir dan sudah diatur Gusti Allah. Gusti Allah pasti punya alasan tersendiri kenapa saya dipasangkan dengan istriku sekarang, yang harus saya jaga dia sepanjang masa saya sanggup menjaga dan menemaninya. Sebagaimana dia juga berniat dan melakukan hal yang sama kepada saya.

Apakah kemudian ini artinya lebih baik ketimbang umpama saya menikah dengan gadis China?

Saya yakin sama sekali tidak. Karena bagiku semua manusia tetep sama di hadapan Tuhan. Polah kelakuan kita semasa hidup inilah yang jadi pembedanya, dan satu-satunya penilai yang berhak memberikan penilaian hanya Tuhan YME, tak seorang manusiapun berhak.

Mau dia gadis China, gadis item manis Papua, gadis Jawa, gadis Melayu, gadis Minang, gadis Sunda, gadis Minahasa, gadis Bali atau Nusa Tenggara, semua sama manisnya di mataku dalam beragam warna kulit, bentuk mata, atau jenis rambut masing-masing.

Mereka semua manis sejauh makan makanan sehat dan tidak menumpuk bahan kimia di kulit dan dagingnya. Mereka semua cantik sejauh bersih hatinya: ndhak suka bergunjing, suka membaca, tabayyun (cover both-side story), tidak menyakiti binatang, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan kata lain, tak ada bedanya saya menikah dengan siapapun, sejauh ini memang jodohku, which means: (pernikahan ini adalah) tugasku dari-Nya untuk kujalani dengan segala kesepenuhan, keikhlasan, kemantaban hati plus rasa syukur yang semoga tiada pernah putus dan henti.

Istriku bukan wanita paling sempurna di dunia ini. Dia bukan wanita yang lebih dibanding wanita lain atau kurang dibanding wanita lain. Semua wanita dan manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya yang pasti, tentu dia adalah wanita paling pas dan paling cocok untukku, dalam penilaian dan penentuan Tuhan, bukan penilaian dan penentuan manusia.

Dan saya yakin inilah yang pasti juga Anda rasakan saat memandang istri Anda masing-masing.

KINI yang saya yakini, saya masih harus melanjutkan tugas menjaga kerukunan, menjaga perbauran, menjaga kebersamaan, dan menjaga kesetraaan kemanusiaan antar manusia apapun agama – suku- bahasa – budaya – latar belakang – dll.nya. setiap saat setiap waktu, tanpa harus dengan menikahi gadis China.

Dan yang jelas kelak ketika si kecil dewasa kemudian mengenalkan seorang gadis manis kepada kami orang tuanya ini untuk minta ijin dia sunting, kami Insha Allah akan merestuinya; apapun latar belakangnya, sejauh dia bertakwa – tunduk, patuh, dan taat kepada Tuhan yang esa, entah dengan cara atau bahasa apa.

Dan sejauh mereka saling mencintai, dan sejauh meyakini bahwa pernikahan itu adalah tugas yang diperintahkan oleh Tuhan kepada kita: bersatu dengan pasangan kita untuk mengingat kebesaran-Nya.

Pernikahan adalah hal yang sama, apapun bentuk dan kondisinya. Menjalani pernikahan itulah yang beragam kondisinya.

Ada yang berjuang dalam kemiskinan, menahan segala ketidakpunyaan, sebab dengan itulah iman dan takwa pasangan itu diuji.

Ada pula pasangan yang dilimpahi dengan harta. Sebab dengan harta itulah, sesungguhnya sepasang pasangan/suami-istri lebih diuji lagi.

Wallahu a’lam bishawab.