Menyisakan Makanan = Membuang Uang

Saya tercengang menatap klip iklan layanan masyarakat tersebut. Klip yang menayangkan koki restoran mengolah bahan-bahan makanan dalam bentuk uang, karena bahan-bahan makanan kita memang bernilai nominal. Kemudian menyajikannya kepada pelanggan (dalam tayangan berwujud makanan lezat). Namun pelanggan menyisakan makanan yang dipesannya, dan pelayan mengambil piring berisi uang-uang (kertas dan logam), gambaran dari sisa makanan yang sebenarnya bernilai itu.

Buffer-lah sejenak klip tersebut, pesannya sungguh to the point, sama sekali tanpa bias: bahwa menyisakan makanan, membuang makanan sisa itu = membuang uang.

Kembali saya teringat, inilah kenapa ortu kami bisa meledak amarahnya kalo kami enggak ngabisin makanan. Kembali saya teringat, almarhum Bapada saya begitu asyik menikmati kepala lele goreng, hingga benar-benar tinggal tulang keras yang tak lagi bisa terkunyah – dan menjadi jatah semut atau nutrisi tanaman.

Inilah kenapa, urat malu saya jadi putus: saya suka meludeskan sajian terhidang (yang berpotesi sisa) pas ada acara-acara yang menunya kadang bukan prasmanan (kondangan, dll.).

Inilah kenapa, si kecil kami didik serupa, dan sama-sama tak punya malu seperti saya: suka menenggak kuah rawon/soto hingga bersih, dan membuat temen-temen arisan/kondangan manten Uti-nya sampe merasa ‘kasihan’ melihatnya: “Bu, cucunya kalo masih laper diambilkan lagi aja maemnya…”

“Enggak Ibu-Ibu, dia kalo maem memang seperti itu: bahkan kuahnya pun tidak dia sisakan…”

Dan kemudian semuanya terdiam. Entah tersindir, entah memandang kami ini ‘kere’ yang selalu kelaparan. Entah.

Terhadap makanan yang saya ambil sendiri lantas saya sisakan tak habis saya makan, mendadak saya punya bayangan kotor…. Kelak di neraka, semua makanan yang saya si(s)a-si(s)akan itu akan dijejalkan ke perut saya.

Mending-mending kalo ini perut kemudian meledak dan makanannya dijejalkan ulang, setidaknya saya masih punya jeda untuk bernafas.

Lha gimana (logat Jarwo) kalo semua makanan sisa saya semasa hdup di dunia dijejalkan ke perut saya, kemudian sepanjang masa di neraka itu makanan tidak pernah meledak dari perut?

Naudzubillahimindzalik… Astagfirullah…

Mending putus urat malu saya: ludeskan semua menu yang kita makan, ludeskan porsi yang saya terima, dan bagusnya kemudian terbuang sebagai ampas kompos. Dan cukup tulang belulang saja buat semut-semut yang berbaris di dinding menatapku curiga.

Pun dengan klip ini, semakin menyemangati saya -kami sekeluarga- untuk memutuskan urat malu jika meludeskan makanan. No gengsi menyisakan makanan!

Justru yang suka menyisakan makanan (terlebih yang porsinya diambil sendiri) itulah yang enggak bergengsi sama sekali! Itulah ndeso bin kampungan yang sesungguhnya!

Jika bandwidth Anda melimpah, silakan putar klip-klip berikut ini.

Well, pesan saya kepada diri saya sendiri: jangan menyisakan makanan, karena mungkin kita yang membaca posting ini belom pernah merasakan gimana rasanya bertahan hidup, menyambung nyawa, dan memperpanjang nafas dengan memakan makanan sisa…

Freema HW,
– Rakus

Maaf jika terlalu banyak klip youtube saya pajang di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s