(Jalan) Tol

Beberapa hari silam saya dan beberapa rekan semobil dalam perjalanan pulang dari Jakarta kembali ke Kediri. Kami melewati jalan alternatif Gemolong, sudah mendekati kawasan Sragen kota.

Di tengah perjalanan, tampak di kiri-kanan membentang urukan tanah, memanjang dari kejauhan sisi kanan menuju kejauhan sisi kiri. Membelah persawahan. Dan sedang ditancapkan tiang pancang di bakal persilangan dengan jalan yang kami lalui. Tampaknya untuk fly-over.

Dilematis perasaan saya sendiri memandangnya. Satu sisi, saya tentu senang dengan pembangunan jalan tol yang notabene menjadi ruas trans Jawa ini. Kelak jika ke Jakarta, saya tinggal menuju arah Kertosono (36km). Masuk tol, keluar-keluar udah nyampe Jakarta (jika Semarang – Pemalang kelak juga udah tersambung).

Senangnya lagi, pesimisme saya dengan mobil mesin besar yang memang rakus bensin kini justru berbalik menjadi optimisme. Mobil mesin (cc) besar justru optimal untuk cruising stabil. Titik optimum efisiensinya justru ada pada kecepatan jalan tol. E34 530i V8 justru punya titik efisiensi optimum pada kecepatan 80-90 kmh. Kurang dan lebih dari kecepatan itu justru boros. Dan paling boros malah pada kecepatan rendah.

Jalan tol memungkinkan kondisi ini. Dan justru di jalan tol kita ndhak boleh melaju dengan kecepatan rendah. Range sekisar 60-110 kmh (teorinya. Kalo jalanan sepiii, jarum speedo bisa semaunya muter ke kanan. Xixixixixixi…)

Artinya, efisiensi yang diberikan oleh jalan tol memang owlrait beibeh pokoknya. Kecuali tol di Jakarta yang paradoksal. Jalan tol di sana bukan = jalan bebas hambatan melainkan jalan berbayar (toll). Perkara tidak bebas hambatan, itu bukan urusan pengelola jalan tol dan pemerintah yang dari dulu hingga detik ini tak pernah becus menyajikan angkutan publik yang bisa memberangus kepadatan kendaraan pribadi di jalan tol. Yang salah seolah angin yang bertiup dan rumput yang bergoyang.

Well sekali lagi, pembangunan jalan tol yang saya lihat kemarin benar-benar membangkitkan harapan saya akan mesin besar. Riwayatnya tidak tamat!

Belom nanti kalo kit konversi dari bensin ke gas semakin mature dan murah plus suplai BBG melimpah di banyak SPBU/SPBG, apa ndhak bahagia ini pake V8? 😀

Namun dilema saya lebih besar ketimbang kebahagiaan saya. Alasannya hanya satu hal, sekali lagi: ribuan hektar sawah lenyap karena jalanan ini. Sementara jalan tol dibangun, saya belom mendengar udah dibukanya lahan sawah baru untuk cadangan makanan bangsa, untuk suplai murah periuk dapur ibu-ibu rumah tangga se-Indonesia.

Info kasar beredar, impor komoditi makanan/bahan pokok masih lancar jaya dengan alasan kita kekurangan suplai bahan pangan.

Sementara lahan bahan pangan kita sejatinya telah dikonversi menjadi jalan tol, perumahan, dan berbagai bangunan industrialias yang mungkin saja semu.

Kita akan kesulitan membuka lahan persawahan baru di Kalimantan. Sumatera, Jawa, Sulawesi adalah hamparan tanah optimal untuk menumbuhkan segala tanaman pemenuh nutrisi bangsa.

Paling jitu sebenarnya jika kita pindah saja ibukota negara ini ke Kalimantan, Palangkaraya misalnya, sehingga pembangunan fisik/infrastruktur bisa berduyun-duyun pindah ke sana.

Jalan tol bisa dibentangkan ribuan kilometer dari Tarakan hingga Pontianak, menyilang-nyilang tanah Borneo, termasuk menyisir perbatasa dengan tetangga Malaysia, agar kepadatan pembangunan bisa berjajar di sepantang tepian batas negara. Demikian ini Indonesia tambah menunjukkan kedaulatannya.

Dan Jawa bersama Sumatera dan Sulawesi cukup menjadi suplier utama bahan sarapan anak-anak sekolah dan pekerja kantoran serta semua pekerja di negeri ini: kuli bangunan, artsitek perawat, dokter dan tenaga medis, guru, buruh pabrik, wiraswastawan konter hape toko komputer alat tulis, wiraswastawan bengkel, supir angkutan umum, semuanya!

Tapi maling kayu, penyerakah tambang isi perut bumi, dan kapitalis sawit pasti benci dengan rencana ini. Simpel.

Pun Anda yang membaca posting ini pasti eneg. Punya keilmuan apa saya sampe beraninya berbicara demikian ini? Kumpulan profesor yang sejak jaman ndhak enak telah lama merekomendasikan agar ibukota negara ini pindah ke Palangkaraya aja diabaikan pendapatnya sama pemerintah, apalagi omongan dan pendapatan saya ini. Jadilah ini cuman omong kosong.

So, selamat Anda telah membaca posting tak berguna dari saya.

Freema HW,
Fuck off dengan apa kata orang, saya suka V8.

# poto nyomot dari internet.

Advertisements

Menyisakan Makanan = Membuang Uang

Saya tercengang menatap klip iklan layanan masyarakat tersebut. Klip yang menayangkan koki restoran mengolah bahan-bahan makanan dalam bentuk uang, karena bahan-bahan makanan kita memang bernilai nominal. Kemudian menyajikannya kepada pelanggan (dalam tayangan berwujud makanan lezat). Namun pelanggan menyisakan makanan yang dipesannya, dan pelayan mengambil piring berisi uang-uang (kertas dan logam), gambaran dari sisa makanan yang sebenarnya bernilai itu.

Buffer-lah sejenak klip tersebut, pesannya sungguh to the point, sama sekali tanpa bias: bahwa menyisakan makanan, membuang makanan sisa itu = membuang uang.

Kembali saya teringat, inilah kenapa ortu kami bisa meledak amarahnya kalo kami enggak ngabisin makanan. Kembali saya teringat, almarhum Bapada saya begitu asyik menikmati kepala lele goreng, hingga benar-benar tinggal tulang keras yang tak lagi bisa terkunyah – dan menjadi jatah semut atau nutrisi tanaman.

Inilah kenapa, urat malu saya jadi putus: saya suka meludeskan sajian terhidang (yang berpotesi sisa) pas ada acara-acara yang menunya kadang bukan prasmanan (kondangan, dll.).

Inilah kenapa, si kecil kami didik serupa, dan sama-sama tak punya malu seperti saya: suka menenggak kuah rawon/soto hingga bersih, dan membuat temen-temen arisan/kondangan manten Uti-nya sampe merasa ‘kasihan’ melihatnya: “Bu, cucunya kalo masih laper diambilkan lagi aja maemnya…”

“Enggak Ibu-Ibu, dia kalo maem memang seperti itu: bahkan kuahnya pun tidak dia sisakan…”

Dan kemudian semuanya terdiam. Entah tersindir, entah memandang kami ini ‘kere’ yang selalu kelaparan. Entah.

Terhadap makanan yang saya ambil sendiri lantas saya sisakan tak habis saya makan, mendadak saya punya bayangan kotor…. Kelak di neraka, semua makanan yang saya si(s)a-si(s)akan itu akan dijejalkan ke perut saya.

Mending-mending kalo ini perut kemudian meledak dan makanannya dijejalkan ulang, setidaknya saya masih punya jeda untuk bernafas.

Lha gimana (logat Jarwo) kalo semua makanan sisa saya semasa hdup di dunia dijejalkan ke perut saya, kemudian sepanjang masa di neraka itu makanan tidak pernah meledak dari perut?

Naudzubillahimindzalik… Astagfirullah…

Mending putus urat malu saya: ludeskan semua menu yang kita makan, ludeskan porsi yang saya terima, dan bagusnya kemudian terbuang sebagai ampas kompos. Dan cukup tulang belulang saja buat semut-semut yang berbaris di dinding menatapku curiga.

Pun dengan klip ini, semakin menyemangati saya -kami sekeluarga- untuk memutuskan urat malu jika meludeskan makanan. No gengsi menyisakan makanan!

Justru yang suka menyisakan makanan (terlebih yang porsinya diambil sendiri) itulah yang enggak bergengsi sama sekali! Itulah ndeso bin kampungan yang sesungguhnya!

Jika bandwidth Anda melimpah, silakan putar klip-klip berikut ini.

Well, pesan saya kepada diri saya sendiri: jangan menyisakan makanan, karena mungkin kita yang membaca posting ini belom pernah merasakan gimana rasanya bertahan hidup, menyambung nyawa, dan memperpanjang nafas dengan memakan makanan sisa…

Freema HW,
– Rakus

Maaf jika terlalu banyak klip youtube saya pajang di sini.