(Keindahan) Pohon Pisang

Kami berembug merumuskan sesuatu:

  • Kami butuh tanaman yang bisa memproduksi oksigen, menambah kesejukan alami kala siang hari;
  • Sekaligus tanaman tersebut bisa mengaburkan pandangan dari luar langsung ke dalam rumah saat kami membuka gordin dan pintu rumah, sehingga isi rumah tidak terlihat langsung dari luar karena satu dan lain alasan;
  • Tanaman tersebut sebisa mungkin sekalian tanaman produktif, bukan sekedar tanaman hias. Jadi bisa two-in-one, ya menjadi tanaman yang enak dipandang, menyejukkan hati kala dilihat, menghasilkan oksigen, tapi juga ada nilai produktivitasnya (bisa dipetik sayur atau buahnya);
  • Akarnya tidak membahayakan (tidak berpotensi mencongkel) pagar atau lantai; dan
  • Jika daunnya kering, rontokannya tidak berpotensi ditiup angin sampai ke lahan tetangga.

Setelah berembug, kami merumuskan dua kandidat: pohon pepaya atau pisang. Namun berhubung pepaya daunnya tidak ‘selebat’ pisang, dan pisang akarnya kami dengar tidak akan mencongkel lantai, maka pilihan pemenang kami putuskan: pisang.

Akhir 2014, kami tanam pisang Marlin/morlin/barlin dan Maraseba (morosebo) di tanah yang terlapisi pasir muntahan letusan Kelud 14022014 silam, mendampingi Palem dan Sawo yang telah menancap beberapa tahun sebelumnya. Oh ya, sawo kami telah beberapa kali berbuah, buahnya manisss karena ia cuman kami beri pupuk kompos tanpa pupuk kimia; dan kini sudah setengah tahun ada batangnya yang kami cangkok.

Satu lagi pisang raja sebenarnya, namun patah batangnya dan tumbang terkena angin kencang saat baru ditanam, musim penghujan kemarin.

KINI sudah delapan bulan pohon pisang tersebut tumbuh di depan. Kemarau ini, daunnya sedikit layu. Harusnya kami potong agak banyak untuk mengurangi evaporasi air. Namun kami labih suka melihatnya lebat. Konsekuensinya, harus kami siram secara berkala.

Hanya saja rerumputan di bawahnya kering kerontang karena kemarau ini. Khusus untuk rerumputan ini, kami enggak kuat nyiraminya habis-habisan, soale listriknya kerasa. Pakai sanyo soale. Eh, bukan sanyo siy, melainkan shimizu ๐Ÿ˜€ Kebiasaan niy menyebut pompa air dengan sanyo ๐Ÿ˜€

Lagian, cuman (nyiramin) rumput penutup tanah; itu enggak penting-penting amat. Paling cuman enggak enak aja dilihatnya. Biarin selama itu tidak mengganggu aktivitas kami.

Selain masalah (mahalnya harga listrik), masih banyak sodara-sodara kita di berbagai belahan bumi pertiwi pun di muka bumi ini yang bahkan untuk air minum pun mereka kesulitan. Mosok kami tega mbuang air cuman buat nyiramin rumput atau tanaman hias yang enggak punya fungsi produktif?

Kalo pisangnya periodikal kami siramin. Biar enggak layu. Toh sebentar lagi musim penghujan, rumput-rumput itu seperti yang sudah-sudah, mereka akan mendadak lebat dan hijau segar lagi. Dan biarlah ini berlangsung secara alami: ijo royo-royo (hijau segar lebat) saat musim penghujan dan dormansi saat musim kemarau. Toh mereka -rerumputan itu- tidak mati dan tidak kami matikan.

Keindahan

POHON pisang ini, sempat jadi rerasan emak-emak kumpulan arisan yang saya ikuti. “Depan rumah koq ditanami pohon pisang?”

Kami tahu, mereka pasti gregetan lihat halaman depan kami tanami pohon pisang alih-alih tanaman hias yang enak dipandang bersama.

Kami bukan tidak suka dengan tanaman hias. Tapi jika ada tanaman produktif yang sekaligus bisa jadi hiasan, kenapa tidak?

Tanaman hias identik dengan keindahan. Namun bagi kami, segala sesuatu yang fungsional, itulah keindahan. Ini preferensi kami tentang keindahan.

Hidup tanpa keindahan emang garing, serasa kita mati dalam hidup. Namun keindahan itu sendiri hanyalah masalah persepsi.

Rumput liar pun jika kita anggap, kita pandang, dan kita nilai itu indah, maka ia juga akan tampak indah.

Kenapa rumput liar kita anggap tidak indah? Karena kita memandangnya tidak indah.

Pikiran kitalah yang arogan dan egois dalam menilai segala sesuatu yang preferensif dan subyektif. Kita menilai tanaman itu indah atau tidak, adalah menurut kehendak dan kemauan kita. Padahal semua tanaman, sesungguhnya semuanya indah dengan keindahan masing-masing.

Kita arogan dan egois dalam menilai segala sesuatu secara preferensif dan subyektif jika harus kita batasi dengan parameter-parameter ciptaan dan sesuai kemauan kita; jika keindahan misalnya harus sesuai dengan persepsi dan keinginan kita.

Lain soal kalo urusannya menimbulkan gangguan. Misal rumput liar itu jenisnya berduri sehingga bisa membahayakan kaki jika terkena pas berjalan di sampingnya, maka itu layak kita pandang sebagai gangguan.

Tinggal kita biarkan saja itu rumput/tanaman yang seperti itu tumbuh di tempat yang semestinya, yakni yang tidak berpotensi mengganggu (kita).

Lagian apapun (tanaman) itu, itu adalah halaman sah kekuasaan kami, suka-suka kami mengapa-apakannya asal engak melanggarkan norma/hukum/agama, tidak menimbulkan polusi/gangguan apapun (bau, suara, sampah, dll.), kecuali gangguan (preferensi)psikologis, yakni bikin gregetan cuman buat tetangga yang reseh aja ๐Ÿ˜€

– Ibune Rahman

Refs.:
– Pohon pisang lainnya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/03/26/pohon-pisang/
– Sebuah kronikel tentang pohon pisang https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/05/22/pisang/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s