Diam-Diam

Ini bukan protes. Ini sekedar cerita saja.

Ternyata diam-diam -entah sudah berapa lama- Telkom meregister nomor telpun rumah ke paket bebas lokal/interlokal sekian menit yang abonemennya dari normalnya 27,5rb diam-diam -entah sudah berapa lama- jadi 45rb.

Ketauannya saat kami mutus langganan Speedy (Speedy-nya doang, bukan saluran PSTN-nya). Saat kami tanyakan komponen biaya (tetap) kami, oleh Mbak CS dijawab hanya koneksi Speedy sebesar sekian rupiah dan abonemen gratis bicara lokal/interlokal sekian menit sebesar 45rb.

“Lho, koq bisa kami diikutkan paket gituan Mbak?”

“Mungkin dulu ada penawaran dari 147 yang disetujui Bapak/Ibu…”

“Rasanya, kami enggak pernah menyetujui penawaran apapun dari 147 Mbak…”

Si mbak terdiam saja. Dan kami menandatangi form penghentian berlangganan Speedy mulai hari ini.

Tapi si Mbaknya tetep mengucapkan terima kasih kepada kami dan tersenyum saat kami pamitan, dan kami balas dengan senyum pula.

Koneksi Speedy yang sudah sekian tahun menemani hari-hari kami dalam kegetiran ini terpaksa dengan berat hati kami putus karena saat ini bisa dibilang sudah enggak terlalu useful: dengan koneksi kabel tua sering koneksi super lelet, jauh dari optimasi speed layak/wajarnya.

Mungkin inilah fungsinya istilah up-to dalam penawaran penjualan, yang artinya speed/bandwidth bisa dibagi hingga habis ke banyak pelanggan, bukan lagi dibagi secara wajar. Sehingga pelanggan hanya mendapatkan koneksi teoritis -hanya sekedar konek meski tanpa kecepatan- bukan koneksi realitis. Mirip dengan jalan tol yang (sering) macet, yang artinya pelanggan hanya menikmati jalan berbayar, bukan jalan yang lancar/bebas hambatan meski dipakai bersama-sama.

Sementara itu, mereka serasa tak berniat masang jaringan FO (fiber optic) dalam waktu dekat ini ke rumah (padahal 500 meter dari rumah sudah ada saluran FO – kami ngecek dari web indihome).

Bukan kami tak bersyukur: untung-untung ada koneksi internet sementara di banyak daerah di pelosok negeri ini masih buta koneksi. Bukan. Hanya saja, kalo semua hanya (sekedar) disyukuri tanpa ada penambahan/peningkatan (mutu koneksi) yang semakin cepat seiring pesatnya perkembangan jaman, apalagi ini fenomena komersial bukan sosial, ya malahan enggak worthed pelanggan seperti kami ini ngeluarkan duit.

Yakh, kami hanya bisa berdoa, semoga segera bermunculan ISP lokal/nasional yang bersedia memberikan penawaran koneksi broadband dengan tarif yang kompetitif dan produktif, mengingat harga teknologi sekarang semakin murah dan semakin murah.

***

Yth. Telkom Indonesia, bilamana ada rekaman bahwa kami pernah menyetujui ikutan paket abonemen gratis bicara sekian menit lokal/interlokal, kami tunggu konfirmasinya.

Silakan komen di bawah alamat email yang kami bisa menyebutkan nomor PSTN kami 🙂

Terima kasih dan mohon maaf jika ada salah kata.

Advertisements

Usulan Taktis untuk Pemeritah

Usulan taktis saya untuk negara:

I

Redenominasi. Memang tidak mengurangi nilai uang dan hanya mengurangi angkanya saja, namun ini akan lebih merapikan gelontoran nol pada pembukuan; dan saya yakin sanering akan menjadi semangat baru, karena uang kita (seakan) lebih bernilai.

Bayangkan, dengan 12 rupiah kita udah dapet seliter BBM, bukan lagi dengan 12.000 rupiah! Meski itu artinya gaji kita juga akan menjadi 3.000 rupiah dari sebelumnya 3 jt rupiah.

Tapi bukan itu, semangat baru (dengan sanering) ini yang kita perlukan. Semangat ini yang priceless.

II

Swastakan SIM (Surat Ijin Mengemudi). Yang mau nyari SIM:

– Harus dapet sertifikat safety-driving dari lembaga yang berijin dan berlisensi dari pemerintah. Biayanya bisa ditetapkan oleh pemerintah atau diatur batasan-batasannya.
– Kemudian baru ikut ujian SIM di lembaga khusus di bawah kepolisian, bukan sekedar unit di kepolisian. Kalo bisa ujian ini gratis.

Peserta mungkin akan sama-sama keluar duit 300-500rb misalnya, tapi kalo dulu duit segitu buat nyogok polisi (langsung poto SIM tanpa ujian), kini duit segitu buat mbayar serifikasi resmi.

Nanti kalo ada driver/rider yang kecelakaan karena kesalahannya (melanggar regulasi jalan raya); si lembaga yang ngeluarkan sertifikasi mengemudinya akan dapat point minus.

Kalo point minusnya terakumulasi sampai beberapa point, maka lembaga tersebut dicabut ijin/lisensinya berikut orang-orangnya ndhak boleh ngasih pelatihan/sertifikasi (di-skors) selama beberapa taon ke depan. Jadi biar mereka beneran mendidik dan memberi sertifikat calon driver/ridernya.

Swastanisasi SIM ini harapannya:

1. Mengurangi jual-beli SIM di unit SIM lembaga kepolisian kita; dan mengurangi keributan operasional pada unit SIM.

Kita tau, ngajukan SIM itu bener-bener kontra-produktif dengan waktu/aktivitas kita: nunggunya lama, antri panjang, kadang musti bolak-balik, dll. Pokoknya kontra-produktif dan ndhak efektif blass.

Kalo proses kawah candradimuka (calon) driver/rider sudah digodok oleh lembaga sertifikasi mengemudi, maka diharapkan proses ujian SIM di lembaga penguji bisa disederhanakan dan waktunya bisa diperingkas.

2. Memastikan bahwa semua pengemudi di jalan raya bener-bener memahami bahwa driving is driving, rule is rule.

3. Dengan swastaisasi SIM, maka akan muncul lembaga-lembaga sertifikasi SIM (yang ijin/lisensinya diberikan dengan sangat ketat), tentunya ini akan membuka lapangan kerja.

Dapat ditambahkan ketentuan: pembuka lembaga sertifikasi SIM dari warga kota setempat harus diberikan prioritas ketimbang pengaju lembaga yang berasal dari kota lain. Agar terjadi pemerataan.

III

Terbitkan beleid/regulasi keringan pajak dll. pada motor ber-cc (di bawah) 50cc atau dengan kecepatan maksimal 60kpj (atau kalo perlu cukup 40kpj) dengan warna plat baru yang pengemudinya mungkin tidak perlu SIM tapi jalurnya juga dibatasi (ndhak boleh ke jalan raya atau semacamnya).

Pertimbangannya: mau ngakui atau ndhak, pemotor di jalanan saat ini lebih banyak tololnya ketimbang benernya. Mereka ngaco cara berkendaranya sementara motor yang mereka bawa kenceng-kenceng. Bahasa sederhananya: mereka cuma bisa mengendarai tapi ndhak sanggup menguasai kendaraan dan menguasai psikologi/mentalitas mengemudi mereka sendiri.

Nah, buat mereka yang emang ndhak mau menguasai kendaraan & mentalitasnya, berikan saja kendaraan yang tidak rumit untuk dikuasai. Yakni motor yang kemampuannya sangat dibatasi.

Ini ditujukan untuk pekerja yang rutin berangkat pagi pulang sore atau untuk orang tua yang cuman nganter-jemput anak sekolah atau ibu-ibu yang pergi ke pasar doang; sama sekali bukan buat pemotor/rider yang emang mau bepergian (touring).

Pemerintah harus memastikan bahwa produsen bener-bener merancang motornya melaju tidak bisa lebih dari 40kpj (atau 60kpj, manalah yang bagus pertimbangannya yang tetep mengedepankan safety untuk pesepeda motor awam) dan warna plat nomornya bedakan dengan motor kenceng.

Harapannya: jadi pemerintah bisa tetep dapet pajak, sementara biaya sosial (BJPS) buat ngurusi rider-rider bahlul yang kecelakaan karena males mengindahkan regulasi safety-riding bisa dikurangi. Sementara untuk rider beneran, berlaku syarat sertifikasi-mengemudi yang lebih ketat dengan swastanisasi SIM tersebut di atas.

IV

Terbitkan beleid/regulasi: 2x24jam jalan berlobang harus ditambal. Terbitkan regulasi: ada kendaraan pemerintah yang tugasnya keliling sambil bawa aspal tambalan.

Jadi aspal berlobang tidak harus nunggu pengajuan, laporan masyarakat, dll.

Ini mirip kereta api yang punya kontrol rutin internal terhadap kondisi rel-rel mereka.

Aspal tambalan emang bikin ndhak nyaman perjalanan. Tapi (masalah kenyamanan ini bisa diabaikan dan) ini ndhak penting ketimbang aspal berlobang yang bisa ngancam nyawa dan keselamatan perjalanan kita. Nyawa lik urusannya, nyawa!

V

Ada regulasi pembuangan sampah: bahwa sampah haru dibuang menurut jenisnya (plastik, logam, dll.); tidak dibuang secara tercampur. Dan setiap rumah tangga wajib punya dua-tiga jenis tempat sampah di depan rumahnya.

Pasti akan rame pada awalnya, karena ini akan menyangkut anggaran (pembelian tempat sampah). Tapi santai aja, konversi elpiji kemarin atau keikutsertaan BJPS yang awalnya ribut juga bisa senyap setelah publik tau manfaatnya (atau tak ada pilihan lain).

Kalo membuang sampah sesuai kategorinya ini sudah jadi habbit, Insha Allah hal ini tidak akan jadi keributan.

VI

1 >> Berikan pajak yang sangat tinggi untuk (pembangunan) landed-house dan beri insentif setinggi-tingginya untuk (pembangunan) vertical-house yang prinsipnya makin rendah harga jualnya maka makin tinggi insentifnya.

2 >> Tetapkan keputusan penggunaan listrik dan air gratis sampai batas tertentu, regresif sesuai dengan wattage/kubikasi pelanggan listrik/air, dan umumkan kepada semua pengguna listrik/air.

Misal untuk pelanggan listrik 900 watt, maka sampai sekian kwh pertama gratis; katakanlah 15 kwh pertama. Nanti untuk pelanggan listrik 1300 watt gratis -katakanlah- untuk 10 kwh pertama. Untuk pelanggan PAM/PDAM, sampai sekian kubik air pertama gratis. Biar pelanggan bisa mengatur penggunaan listrik dan airnya yang berorientasi pada penghematan dan penggunaan seperlunya.

3 >> Termasuk internet, apapun saluran koneksi internet masyarakat, harusnya pada speed sekian atau hingga volume sekian, pemerintah harus/mewajibkan internet service provider (ISP)/penyedia layanan internet menggratiskan biayanya.

Misal jika berbasis kecepatan/speed: internet 128/256/512 kbps harus gratis, pelanggan hanya membayar biaya instalasi atau abonemen bulanan saja (yang tarifnya juga ditetapkan rendah oleh pemerintah). Baru koneksi 1 mbps ke atas yang mbayar sesuai harga komersial masing-masing ISP.

Atau jikalau berbasis volume/kuota data: hingga sekian MB/GB pertama harus gratis, selanjutnya baru membayar.

Situs-situs berdomain .go.id (kalo bisa sekalian .sch.id atau .ac.id pun .mil.id) harusnya juga gratis/dibebaskan dari pembebanan biaya koneksi apapun! Ini untuk edukasi dan public-service soale.

VII

Penggal leher mafia yang bikin harga komoditi agrikultur di sini merosot. Kelakuan mereka jelas koq: pupuk dibikin susah, kemudian volume panen hasil pertanian anjlok, dan mereka punya alasan impor komoditi pertanian.

Jadinya kalo petani pas panen raya, harga tetep anjlok karena daya serap pasar rendah, soale udah penuh komoditas impor.

Ini bukan lagi hukum alam, saya yakin ini murni rekayasa segolongan manusia. Dan pemerintah tau mereka-mereka itu siapa tapi ndhak berani ngambil tindakan.

Kita hidup dhak butuh-butuh banget mobil, gadget, dll. Kita hidup paling mendasar butuh: makan!

Kalo urusan komoditas pertanian sudah dikendalikan (oleh segelitir pihak), maka ini sama artinya nyawa kita ada di tangan manusia, bukan di tangan Tuhan lagi.

***

LAINNYA itu, saya sedang berpikir:

>> Bahwa trasportasi publik kita wajib di-undang-undangkan. Jadi kendaraan umum punya jadwal tetap yang frekuensinya disesuaikan dengan kepadatan penduduk, jadi bukan sekedar diserahkan pada hukum pasar.

>> Bulog dikasih diskersi buat bikin minimarket yang isinya menampung produk/komoditi pertanian, khususnya yang melimpah saat panen, dengan harga kulakan yang ditetapkan pemerintah sehingga tidak merugikan petani yang panen raya.

INI semua sekedar IMHO saya, mohon koreksi sebesar-besarnya.

Menghargai Diri Sendiri

Saya pernah ‘menasihati’ (sombong banget kesanya: menasihati) si Mas, seorang pelaku wirausaha jasa. Meskipun dalam pekerjaannya dia tidak murni menjual jasa (tenaga, waktu, dan pikiran) namun juga ada barang yang disertakan, namun konteks pekerjaannya tetap dikategorikan sebagai penjual jasa. Intinya adalah: bagaimana/seberapa pantas kita harus menjual jasa kita?

(Sengaja di sini tidak saya sebutkan detail pekerjaannya, karea khawatir akan melebar membahas standarisasi pada jenis pekerjaan tersebut.)

Sudah menjadi kelumrahan, tarif jasa itu super relatif. Jenis pekerjaan yang sama persis, dengan beban kerja yang dianggap sama persis, waktu pengerjaan yang sama persis, dan peralatan kerja yang sama persis, bahkan di lokasi yang nilai investasi atau harga sewa lokasinya sama persis, dll. yang dianggap sama persis bisa menghasilkan harga jasa yang berbeda.

Kenapa? Karena upah jasa sesugguhnya adalah bagaimana kita menilai diri sendiri.

Ini berbeda dengan profit-taking pada kondisi kita menjual barang. Setidaknya kita masih bisa membayangkan kita mau ngambil profit-margin berapa (persen) dari harga kulakan barang. Maka banyak-sedikitnya pendapatan, akan ditentukan seberapa banyak kita bisa menjual barang. Sederhananya demikian.

(Hampir) sepuluh tahun silam saat saya memutuskan berhenti jadi karyawan dan mencoba mengadu nasib dengan berwirausaha sebagai penjual jasa: penjual ide eceran di Awindo Creative berkongsi dengan rekan akrab, kami juga bingung setiap kali menentukan berapa menilai jasa kami.

Dengan jam kerja? Dari kerumitan kerja? Ini relatif… Mendesain sebuah brosur warung makan misalnya, kadang menghabiskan jam kerja lebih banyak ketimbang membuat poster dari korporasi gedhe. Ndhak bener rasanya bagi kami jika menghitung ongkos kerja sepenuhnya dari jam kerja atau kerumitan desain, karena (maaf) klien kecil kadang memerlukan perancangan material komunikasi lebih rumit ketimbang klien gedhe, namun aneh aja rasanya kalo kemudian kami nge-charge klien kecil itu jauh lebih mahal ketimbang korporasi gedhe.

Akhirnya, harga yang ada tetaplah relatif: sepantasnya. Menurut jam kerja yang kami habiskan, menurut depresiasi perangkat dan perlatan kerja yang kami gunakan, menurut pulsa dan listrik serta bensin yang kami habiskan, ditambah harga subyektif atas ide yang kami tuangkan.

Dengan kata lain; pertimbangannya super kompleks, kontekstual, dan sangat tidak bisa berlaku umum/generik.

Seperti kisah si Mas yang sedang saya hadapi ini.

“Yang lain biasa menjual paket ginian 600-800rb Mas… Saya menjual cukup 200rb saja. Soale persaingan di sini ketat. Kalo ndhak banting harga gini, susah dapat pelanggan…” Curhat dia.

“Tapi Mas, kalo cuman banting-bantingan harga saja, efeknya banyak ndhak benernya ketimbang benernya. Nafas kita jadi pendek: kita akan kekurangan cadangan modal untuk beragam keperluan, katakanlah perangkat dan peralatan kerja, yang itu kita kembalikan/mendukung pelayanan kita buat kustomer.

Trus lagi, kalo mau ambil sedikit untung, jatuhnya kita terdorong untuk berbuat curang.

Memasang harga relatif terlalu tinggi memang akan mengurangi daya saing kita di pasar. Jatuhnya, kustomer akan lari. Tapi kalo terlalu rendah kita menghargai diri sendiri, kita juga akan mati pelan-pelan dan susah mengsustainabilitas usaha kita.

Ambilah jalan tengahnya. Pasang harga jasa kita yang tidak terlalu tinggi tapi layak untuk membuat nafas kita berjala panjang, berjalan terus.

Asal pelayanan kita sungguh-sungguh dan ikhlas, asal kita jujur mengerjakan sesuatu: karena banyak hal, kesibukan, keribetan, perjuangan, dll. di belakang layar yang klien tak pernah tau dan yang ini merupakan bagian dari kejujuran proses kerja – maklum biasanya klien hanya menilai hasilnya belaka tanpa pernah peduli proses kerja kita, wong kita dibayar untuk menyodorkan hasil bukan proses koq; Insha Allah proses itu akan menghasilkan sesuatu yang nampak dan memuaskan.

Tapi ini bukan berarti kita tak punya tantangan lho… Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali pasti kepeleset juga. Sejagoan-jagoannya kita di bidang kita, sesekali pasti pernah bikin kesalahan pada klien. Asal ndhak terus-terusan, ndhak apa-apa. Itu sebagai pengingat agar kita terus belajar.

Namun bukan berarti pernahnya kita kepelset lantas mendorong kita untuk sungkan ngasih harga diri… maksudnya, sungkan menetapkan harga jual jasa kita ke kustomer secara ‘pas’. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.

Sekali lagi, kita harus bisa menghargai diri sendiri justru agar kita punya nafas panjang untuk terus melayani kustomer.

Kalo misalnya di sana mereka pasang harga 600-800rb, Mas jangan latah pasang harga 200rb. Kasihan ntar kalo alat kerja rusak sementara harga segitu belom break-even-point ke investasi perangkat dan peralatan kerja kita.

Yaaa… gampangnya kata, pasanglah harga 400-500rb namun dengan pelayanan yang penuh totalitas. Yang intinya: jangan pernah menyerah untuk melayani kustomer…” Demikian saya panjang lebar ‘menasihati’nya.

Si Mas manggut-manggut mendengarkan petuah saya.

“Meski harga jual Mas naik dari 200rb, asal pelayanan konsisten, ndhak-ndhak kalo kustomer hilang. Yakin aja Mas, yang jual murah terus-terusan, nafasnya mungkin ndhak bisa panjang.

Saya pernah koq kehilangan klien, karena kompetitor yang pasang harga murah. Namun belakangan klien balik lagi ke saya, karena nafas kompetitor sudah ndhak kuat, dan terpaksa mereka menaikkan harga dalam waktu yang sangat cepat. Ini bikin klien jadi merasa aneh!” Lanjut saya.

Si Mas kembali manggut-manggut mendengarkan petuah saya.

Kemudian pas saya order kerjaan ke dia untuk jenis kerjaan yang barusan kami bahas, “Jadi berapa saya harus bayar ke Mas untuk kerjaan ini?”

“500rb!” Jawab dia setelah mendengarkan petuah saya.

Sepertinya, mungkin, saya menjadi kustomer pertama yang dia kasih ‘harga tengah’ setelah saya menasihati agar tidak menjual jasanya dengan harga 200rb lagi tapi juga jangan menjual 600rb – 800rb sebagaimana pelaku usaha serupa lainnya. Makanya dia kemudian mematok harga 500rb. 😀

(Keindahan) Pohon Pisang

Kami berembug merumuskan sesuatu:

  • Kami butuh tanaman yang bisa memproduksi oksigen, menambah kesejukan alami kala siang hari;
  • Sekaligus tanaman tersebut bisa mengaburkan pandangan dari luar langsung ke dalam rumah saat kami membuka gordin dan pintu rumah, sehingga isi rumah tidak terlihat langsung dari luar karena satu dan lain alasan;
  • Tanaman tersebut sebisa mungkin sekalian tanaman produktif, bukan sekedar tanaman hias. Jadi bisa two-in-one, ya menjadi tanaman yang enak dipandang, menyejukkan hati kala dilihat, menghasilkan oksigen, tapi juga ada nilai produktivitasnya (bisa dipetik sayur atau buahnya);
  • Akarnya tidak membahayakan (tidak berpotensi mencongkel) pagar atau lantai; dan
  • Jika daunnya kering, rontokannya tidak berpotensi ditiup angin sampai ke lahan tetangga.

Setelah berembug, kami merumuskan dua kandidat: pohon pepaya atau pisang. Namun berhubung pepaya daunnya tidak ‘selebat’ pisang, dan pisang akarnya kami dengar tidak akan mencongkel lantai, maka pilihan pemenang kami putuskan: pisang.

Akhir 2014, kami tanam pisang Marlin/morlin/barlin dan Maraseba (morosebo) di tanah yang terlapisi pasir muntahan letusan Kelud 14022014 silam, mendampingi Palem dan Sawo yang telah menancap beberapa tahun sebelumnya. Oh ya, sawo kami telah beberapa kali berbuah, buahnya manisss karena ia cuman kami beri pupuk kompos tanpa pupuk kimia; dan kini sudah setengah tahun ada batangnya yang kami cangkok.

Satu lagi pisang raja sebenarnya, namun patah batangnya dan tumbang terkena angin kencang saat baru ditanam, musim penghujan kemarin.

KINI sudah delapan bulan pohon pisang tersebut tumbuh di depan. Kemarau ini, daunnya sedikit layu. Harusnya kami potong agak banyak untuk mengurangi evaporasi air. Namun kami labih suka melihatnya lebat. Konsekuensinya, harus kami siram secara berkala.

Hanya saja rerumputan di bawahnya kering kerontang karena kemarau ini. Khusus untuk rerumputan ini, kami enggak kuat nyiraminya habis-habisan, soale listriknya kerasa. Pakai sanyo soale. Eh, bukan sanyo siy, melainkan shimizu 😀 Kebiasaan niy menyebut pompa air dengan sanyo 😀

Lagian, cuman (nyiramin) rumput penutup tanah; itu enggak penting-penting amat. Paling cuman enggak enak aja dilihatnya. Biarin selama itu tidak mengganggu aktivitas kami.

Selain masalah (mahalnya harga listrik), masih banyak sodara-sodara kita di berbagai belahan bumi pertiwi pun di muka bumi ini yang bahkan untuk air minum pun mereka kesulitan. Mosok kami tega mbuang air cuman buat nyiramin rumput atau tanaman hias yang enggak punya fungsi produktif?

Kalo pisangnya periodikal kami siramin. Biar enggak layu. Toh sebentar lagi musim penghujan, rumput-rumput itu seperti yang sudah-sudah, mereka akan mendadak lebat dan hijau segar lagi. Dan biarlah ini berlangsung secara alami: ijo royo-royo (hijau segar lebat) saat musim penghujan dan dormansi saat musim kemarau. Toh mereka -rerumputan itu- tidak mati dan tidak kami matikan.

Keindahan

POHON pisang ini, sempat jadi rerasan emak-emak kumpulan arisan yang saya ikuti. “Depan rumah koq ditanami pohon pisang?”

Kami tahu, mereka pasti gregetan lihat halaman depan kami tanami pohon pisang alih-alih tanaman hias yang enak dipandang bersama.

Kami bukan tidak suka dengan tanaman hias. Tapi jika ada tanaman produktif yang sekaligus bisa jadi hiasan, kenapa tidak?

Tanaman hias identik dengan keindahan. Namun bagi kami, segala sesuatu yang fungsional, itulah keindahan. Ini preferensi kami tentang keindahan.

Hidup tanpa keindahan emang garing, serasa kita mati dalam hidup. Namun keindahan itu sendiri hanyalah masalah persepsi.

Rumput liar pun jika kita anggap, kita pandang, dan kita nilai itu indah, maka ia juga akan tampak indah.

Kenapa rumput liar kita anggap tidak indah? Karena kita memandangnya tidak indah.

Pikiran kitalah yang arogan dan egois dalam menilai segala sesuatu yang preferensif dan subyektif. Kita menilai tanaman itu indah atau tidak, adalah menurut kehendak dan kemauan kita. Padahal semua tanaman, sesungguhnya semuanya indah dengan keindahan masing-masing.

Kita arogan dan egois dalam menilai segala sesuatu secara preferensif dan subyektif jika harus kita batasi dengan parameter-parameter ciptaan dan sesuai kemauan kita; jika keindahan misalnya harus sesuai dengan persepsi dan keinginan kita.

Lain soal kalo urusannya menimbulkan gangguan. Misal rumput liar itu jenisnya berduri sehingga bisa membahayakan kaki jika terkena pas berjalan di sampingnya, maka itu layak kita pandang sebagai gangguan.

Tinggal kita biarkan saja itu rumput/tanaman yang seperti itu tumbuh di tempat yang semestinya, yakni yang tidak berpotensi mengganggu (kita).

Lagian apapun (tanaman) itu, itu adalah halaman sah kekuasaan kami, suka-suka kami mengapa-apakannya asal engak melanggarkan norma/hukum/agama, tidak menimbulkan polusi/gangguan apapun (bau, suara, sampah, dll.), kecuali gangguan (preferensi)psikologis, yakni bikin gregetan cuman buat tetangga yang reseh aja 😀

– Ibune Rahman

Refs.:
– Pohon pisang lainnya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/03/26/pohon-pisang/
– Sebuah kronikel tentang pohon pisang https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/05/22/pisang/