Jihad vs Kristenisasi

Kisah nyata saya: tetangga (di tempat asal istri saya) ada yang hidupnya miskin dan keleleran. Dia seorang muslim yang tinggal di lingkungan muslim.

Akhirnya hidupnya ditolong gereja. Dia dikasih makan. Disantuni. Dididik. Diperhatikan dan diayomi hidupnya.

Dan tanpa ada paksaan serta penuh kedamaian dia masuk Kristen.

Pas seorang rekan Kristiani berdiskusi dengan saya (akun beliau ada di firendlist fesbuk saya dan pakliks semua pada kenal kalo saya sebutkan terbuka namanya) bilang: “Sungguh Om Freema, kalo kami ngasih itu beneran ikhlas! Tanpa ada maksud kristenisasi – menjadikan/menarik orang agar masuk Kristen. Setidaknya itu saya dan teman-teman saya. Ndhak tau kalo kelompok Kristen yang lain.”

Saya bilang: “Sekalipun itu agenda kristenisasi, saya malah bersyukur. Gara-gara kristenisasi dengan menyejahterakan orang miskin, maka seperti tetangga saya tersebut akhirnya bisa hidup layak. Keluar dari kemiskinan. Bisa hidup normal senormalnya manusia…

Ini justru tamparan keras bagi saya yang muslim ini, karena cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata. Berkoar-koar tentang agama namun gagal menyelamatkan kesejahteraan hidupnya (tetangga) yang dijerat kemiskinan akut.

Agama itu untuk kedamaian-kebaikan dunia-akhirat.

Kalo kehadiran Islam tidak bisa membuatnya (tetangga tersebut) hidup normal dan layak, sementara dengan kehadiran gereja bisa membuatnya hidup normal dan layak, maka saya harus berterima kasih dan menyalami kalian, rekan-rekan dari gereja.

Dosa kalo saya sampe membenci apa yang kalian lakukan. Sebab yang layak adalah saya harus membenci diri saya sendiri yang cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata. Buktinya: saya gagal menyelamatkan tetangga dari kemiskinannya sementara kalian berhasil.

So, ayo kita berlomba saja, kita rangkul sebanyak-banyaknya orang miskin yang masih kelaparan, yang masih terjepit dan tertindas hidupnya, dan masih susah bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan. Saya pake cara islamisasi, dan ente pake kristenisasi. Ayuk kita berlomba. Yang penting manusia rukun, adil, damai, sejahtera. Perkara nanti sesiapa berbicara dengan Tuhan dengan bahasa (agama) apa, itu wallahualam – hanya Allah yang maha tahu.

Kalo ada orang miskin masuk Islam/tetep Islam karena didukung hidupnya oleh kaum muslimin, ya itu prestasi kami. Pun kalo ada orang miskin kemudian masuk Kristen karena hidupnya disejahterakan oleh gereja, ya itu buah prestasi rekan-rekan juga…”

Bagi saya, justru “ndhak layak” menyuarakan suara Tuhan di tengah gemuruh suara perut mereka yang keroncongan. Bagi saya, “ndhak patut” menyuarakan kalam-firman Tuhan pada mereka yang yang badannya tinggal kulit dan tulang karena miskin dan kemiskinan. Kecuali setelah perut mereka terisi. Mungkin baru mereka akan siap lapar, siap sengsara, siap berkorban demi Tuhan dan kemanusiaan sesuai agama/keyakinan masing-masing.

Mereka butuh makan, Mereka perlu hidup. Dan agama sudah sepantasnya hidup, menghidupi, dan menghidupkan kehidupan ini.

“Kalo toh memang rekan-rekan Kristiani dengan menyejahterakan manusia: memberi perhatian kepada manusia yang terabaikan, terpinggirkan, dinistakan-dihina oleh sesama manusia itu sedang/memang punya agenda kristenisasi, maka lakukanlah!” Itu kata saya.

Rekan saya terdiam.

Dia pasti ndhak nyangka saya beneran ngomong gini: ngomong di mulut dan saya pastikan ini juga dari hati saya.

Sebab dia sendiri tau, kalo ada muslim “mendukung” kristenisasi kayak saya gini, kayak apa yang saya utarakan di atas, pasti udah kena cap halal darahnya untuk disembelih.

Saya mendukung kristenisasi?

Tidak kalo itu maksudnya adalah (kristenisasi dengan) peperangan antar (umat ber)agama. Sebagaimana saya juga benci dengan mereka-mereka yang mencatut nama Islam untuk perang senjata tanpa jelas apa maksud, tujuan, dan artinya selain sekedar menjadi korban perdagangan senjata.

(Well kita tahu bahwa dengan berbagai dalih perang memang harus diciptakan sekarang ini, agar bisnis senjata terus berjalan. Sebab bisa jadi yang memasok senjata ke kedua belah pihak yang berperang dengan slogan kebenaran masing-masing hanya satu pihak saja.)

Tapi kalo mereka melakukan gerakan (kristenisasi) itu untuk menyejahterakan kaum miskin, saya akan dengan jantan menyalami mereka. Sebab saya sebagai muslim, nyata cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata dibanding mereka (rekan-rekan Kristiani telah) melakukannya.

Kecuali kalo ada keluarga muslim baik-baik kemudian dihasut untuk masuk Kristen, saya juga akan menentang mereka yang melakukannya jika demikian. Sebagaimana saya juga ndhak akan pernah mau menghasut keluarga Kristiani yang hidup baik-baik untuk masuk Islam: yakni sesiapa yang hidup untuk kebaikan bersama, kerukunan bersama, kedamaian bersama, kemajuan bersama, dan membangun peradaban bersama.

Kecuali juga kalo ada rekan-rekan Kristiani menjelek-jelekkan Islam, maka saya juga akan membela Islam dengan memberikan penjelasan tentang Islam semampu/sekuat saya. Sebagaimana saya juga muak dengan kaum muslimin yang kerjaannya cuman menjelek-jelekkan umat lain, seolah dia udah sempurna sebagai manusia.

Terlebih lagi jika ada rekan-rekan Kristiani mengintimidasi umat muslim dengan dalih, cara, tindakan, maksud, dan motivasi apapun, saya juga akan melawan (secara hukum). Sebagaimana saya pribadi juga melawan sesama muslim yang suka mengintimidasi umat beragama lain dengan dalih, cara, tindakan, maksud, dan motivasi apapun!

Bagi saya, jihad bukanlah (sekedar) melawan (secara membabi-buta) tindakan-tindakan kristenisasi dari rekan-rekan gereja. Bagi saya, inilah jihad dan peperangan nyata era sekarang ini: peperangan melawan kemiskinan, kebodohan, perpecahan (=cengkrah) manusia; menghancurkan kesenjangan dan jurang pemisah kehidupan; mencegah kerusakan lingkungan, dan melawan kooptasi-hegemoni ekonomi-politis dari siapapun.

Sebab jika itu semua bisa kita lakukan senantiasa: memberangus kemiskinan, membasmi kebodohan, menghancurkan perpecahan sesama anak manusia dan membuat semua saling mengayomi, manyayangi, dan mengasihi; menyatukan jurang pemisah kehidupan – si kaya tidak lagi menghindari si miskin dan si miskin tak lagi melawan si kaya; alam-lingkungan terjaga kelestarian dan sustainabilitasnya; serta kita berhasil mendepak segala kooptasi-hegemoni ekonomi-politis dari siapapun; maka di situlah agama -yakni segala perintah Tuhan untuk amar maruf nahi munkar, menghindari yang batil dan menjalankan yang haq, membuat maslahat kehidupan dan menebarkan rahmat pada semesta alam ini- hadir, ada, dan nyata keberadaannya.

Agama hadir bukan untuk membuat hidup kita tertekan dan terpenjara. Agama hadir untuk menjadikan kita merdeka menjadi diri sendiri: diri yang bertakwa & mengagungkan Tuhan dengan mengelola bumi ini untuk kesejahteraan, pencerdasan, dan kemakmuran bersama demi mengisi waktu dan mempersiapkan diri untuk menuju akhirat;

bukan bersama-sama mengorbankan dunia ini selaksa upeti cuman buat segelintir pihak -siapapun itu- sambil pura-pura lupa dengan dalih diri ini sedang sibuk mengingat akhirat.

Wallahualam bisawab. Maaf lahir dan batin semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s