Turing Bukan Mudik

H-2 hingga H-1 Lebaran. 14-15 Juli 2015. Kami keluarga kecil muter-muter di sekitar sinian saja: saya, Bapaknya AleefRahman, dan si kecil Aleef Rahman. Sebenarnya perjalanan ini karena ada keperluan kerjaan Bapaknya Aleef Rahman. Berhubung salah satu tempat yang dituju adalah kota kecil Wlingi, tempat Akung-Utinya Aleef Rahman, kami berdua ngikut.

Rutenya rumah Kediri ~> jalan Kediri – Blitar yang melewati kaki gunung Kelud ~> ketemu jalan raya Blitar – Malang di titik Garum ~> Wlingi.

Kami nginep semalem di Wlingi. Dan keeseokan malamnya melanjutnya perjalanan ke Tulungagung via kota kecil Ngunut. Di Tulungagung pit-stop sebentar di sebuah angkringan yang menunya luar biasa, hingga hampir tengah malam kemudian kami melanjutkan stage terakhir: pulang ke Kediri.

SELASA MALAM, 14 JULI 2015 KEDIRI – WLINGI

Kami berangkat habis buka puasa. Rute ini menelwati dua kategori jalanan: jalanan kabupaten, yakni mulai dari rumah hingga masuk sebagian kawasan Kabupaten Blitar, dan jalan provinsi yakni mulai Garum hingga Wlingi.

Jalanan di kawasan administrasi pemerintahan Kabupaten Kediri sudah dilapis ulang menjelang lebaran ini. Mulai berangkat dari rumah hingga perbatasan kawasan Blitar, aspal sudah mulus mampus. Padahal sebelumnya dan biasanya “senantiasa” penuh lubang nan menganga, membahayakan dan mengancam nyawa pengendara yang melintas. Yakh, kita lihat saja kuat bertahan berapa lama ini aspal baru…

Masuk kawasan administrasi pemerintahan Kabupaten Blitar, aspal jalanan agak kasar. Di kawasan kaki gunung Kelud, sedang dilakukan pengecoran jalan di beberapa ruas, sehingga kendaraan harus jalan bergantian (buka-tutup).

Di beberapa ruas lagi, kondisi aspal kami nilai pada taraf membahayakan keselamatan pengendara: bikin rusak komponen kaki-kaki mobil atau bikin pengendara motor terjungkal karena lubang.

Sayang beribu sayang, ruas yang sudah selesai dicor duluan beberapa waktu silam (tahun kemarin sepertinya) kini sudah lobang-lobang lagi… Entah kualitas pengecorannya yang abal-abal, atau karena banyaknya truk material pengangkut pasir Gunung Kelud yang dibiarkan melaju dengan berlebihan beban (overload). Padahal truk-truk itu dulu sempat didemo masyarakat. Entah kenapa kini koq terus ada lagi.

Setelah kecamatan Ngegok hingga Garum, jalanan mulus mampus. Tampaknya baru di-layering juga aspalnya.

Nyampe Wlingi sekitar dua jam setengah, saya dan Aleef Rahman di-drop di rumah Akung/Uti, Bapaknya Aleef Rahman lanjut jalan ketemu kolega-koleganya karena ada suatu urusan/keperluan.

RABU, 15 JULI 2015 WLINGI – TULUNGAGUNG – KEDIRI

Sedianya kami hendak meninggalkan Wlingi habis sahur, agar siangnya bisa beraktivitas di Kediri. Namun karena satu dan lain hal, perjalanan kami tunda hingga habis buka puasa lagi.

Seharian, Bapaknya Aleef Rahman masih harus melanjutkan keperluan/urusannya. Sebelum sore kebetulan keperluan/urusannya udah kelar, kami sekeluarga menyempatkan ngabuburit main ke Taman Idaman Hati/Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota kecil Wlingi.

Taman kota ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tak terlalu luas, namun cukup lumayan untuk mengakomodasi keriangan warga Wlingi. Hanya tahun kemarin barusan dibenahi: dipercantik penataannya dengan diberi tambahan jogging-track, rejuvenasi playground, dan area parkir depan yang manis.

Kami tak punya banyak foto di sini karena harus nuruti Aleef Rahman yang berlarian ke sana-kemari, padahal dia puasa. Kalau ada aktivitas, dia memang lupa jika sedang puasa. Tapi kalau diam saja, dia sering mengeluh perutnya lapar 😀

Dasar anak-anak!

Lebih detail tentang Taman Idaman Hati/Ruang Terbuka Hijau Wlingi ini bisa rekan-rekan simak di sini https://travellers2009.wordpress.com/2014/10/15/hutan-kota-wlingi-blitar/ atau pada klip youtube ini.

Usai ngabuburit, pas hendak meninggalkan tekape, eh di sebelah ada gelaran bagi-bagi takjil dari Alumni SMPN 1 Wlingi ’86. Alhamdulillah, si kecil Aleef Rahman dikasih. Kami minta satu saja, dipaksa nerima dua. Ya udah, alhamdulillah wasyukurillah, barokallah…

Selanjutnya kami ngumpul bukber dengan keluarga. Dan setelahnya melanjutkan perjalanan ke Tulungagung via Blitar – Ngunut.

Di Tulungagung, kami mampir di sebuah angkringan yang unik, nikmat, luar biasa! Akan kami ceritakan dalam postingan tersendiri lain waktu.

Hingga hampir tengah malam kemudian kami melanjutkan stage terakhir: pulang ke Kediri.

Kondisi aspal jalanan relatif mulus mampus semua. Sedikit kasar di beberapa ruas, namun sama sekali enggak sampai membahayakan keselamatan pengendara: enggak bikin rusak komponen kaki-kaki mobil atau bikin pengendara motor terjungkal karena lubang.

PERILAKU PENGENDARA

Namanya hendak lebaran, lalu-lintas ramai lancar. Di ruas Blitar – Ngunut malah relatif lancar banget, cenderung sepi di beberapa ruas. Namun kendaraan tetap harus melaju beriringan, agak susah mendahului karena selalu saja ada kendaraan dari depan.

Pada kondisi demikian, ada dua catatan penting yang kami ingat.

Melaju Terlalu Pelan

Beberapa kali kami ngikuti kendaraan yang melaju terlalu pelan padahal di depannya jalanan kosong melompong. Sementara dia susah disalip karena kendaraan dari arah berlawanan lumayan ramai lancar. Alhasil barisan kendaraan di belakangnya antri berbaris cukup memanjang.

Perilaku pengemudi yang seperti ini memang enggak membahayakan keselamatan di jalan raya, tapi membuat antrian mengekor panjang di belakangnya, ini sungguh merupakan perilaku yang kurang manusiawi di jalan raya.

Dan padahal juga, kendaraan yang melaju pelan ini bukan kendaraan tua yang bisa dimaklumi. Mereka bahkan kendaraan yang modelnya masih sedang keluar/dijual sekarang.

Entah apa motivasi dan sebab pengendara berperilaku seperti ini, kami tak mendapati jawabnya. Semoga saja mereka bukan karena sedang mainan hape sambil nyetir.

Mendahului Paksa

Berkebalikan dengan pengendara yang jalan pelan sekali, beberapa kali kami juga mendapati pengendara yang tak sabaran. Saat lalu-lintas ramai lancar dan kendaraan melaju berbaris dengan rapi dan tenang, beberapa kendaraan mendahului dengan space mendahului begitu ketat dengan datangnya kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah mendahului dengan paksa ini, mereka kemudian memaksa masuk lagi ke barisan kendaraan.

Semua orang pingin cepat. Semua orang pingin segera sampai. Tapi masih banyak orang yang peduli keselamatan bersama alih-alih berperilaku ala koboi begituan.

Koq ya kebetulan, itu kendaraan yang suka nyalip dengan membahayakan kendaraan lain kebanyakan yang kami temui adalah jenis low-MPV yang memang terkenal ringan badan kendaraannya sehingga mesinnya serasa kelebihan tenaga, sementara daya dukung stabilitas dan kemananan itu kendaraan agak-agak bikin riskan dan rasanya kurang sesuai dengan (kelebihan)tenaga mesinnya.

KONDISI BERKENDARA

Mobil kami sebenarnya enggak dalam kondisi sehat walafiat. Kaki-kakinya sedang keseleo kata Bapaknya Aleef Rahman. Ada parts kaki-kaki yang pecah karet-karetnya sehingga hantaman suspensi menjadi kasar jika terkena jalanan kasar.

Kecepatan rata-rata perjalanan ini sekitar 50-60 kmh. Sesekali saja bapaknya Aleef Rahman bisa tancap gas hingga menyentuh 80 kmh. Tapi itu juga cuman sebentar.

Membawa mesin V8 (delapan silinder dengan bentuk mesin V) 3000cc dengan kondisi lalu-lintas ramai-lancar seperti ini sebenarnya tetap kurang optimum. Mesin ini, menurut buku manualnya, kecepatan optimum agar konsumsi bahan bakar pada titik paling efisien justru melaju pada rentang 80-90 kmh. Hiks…

Alhasil, setelah kami hitung-hitung, perjalanan sepanjang 150 km ini, kami menghabiskan satu setrip bahan bakar atau setara sekisar 20 liter, termasuk puter-puter di Wlingi. Itungan kasarnya sekitar 1 liter : 7,5 km. Cukup memuaskan untuk mesin V-delapan silinder demikian.

SATU hal yang kami petik dari perjalanan singkat dan pendek ini: secanggih apapun kendaraan Anda dan sehebat apapun skill Anda berkendara, tanpa kesabaran dan tata krama serta sopan santun di jalan raya, semuanya adalah percuma dan sia-sia.

Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berkumpul bersama keluarga, selalu hati-hati di jalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s