Krisis

“Ternyata sekarang Puerto Rico juga menyatakan diri tak dapat membayar hutang luar negeri. Dan kali ini Amerika sebagai pelindungnya justru menjadi biang kebankrutan pulau ini.

Memang kebijakan yang tampak menguntungkan tak selalu memberikan implikasi baik pada akhirnya. Oleh sebab itu kita sebaiknya ikut memantau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun negara asing terhadap perekonomian kita agar tak jatuh dalam perangkap yang merugikan.

Perkembangan dalam berbagai sektor harus juga diperhatikan, karena jika perkembangan dititik beratkan pada sektor tertentu saja akan membahayakan negara. Jika sektor itu kolaps bukan tidak mungkin negara akan terseret rubuh mengikutinya.”

-Susan, temen saya yang luar biasanya pandangannya.-

Trigger/Pemicu

Posting rekan saya ini tidak akan kerasa gregetnya jika (amit-amit semoga ndhak pernah terjadi) negeri ini belom kolaps/bangkrut atau kena krisis (ekonomi) lagi yang kayaknya beneran terjadi karena dipicu hanya karena ulah dua pihak:

  • Pemerintah yang cuman jadi cecunguk asing dan ndhak peduli rakyatnya. Contoh: masih terus dilanjutkannya kontrak pengelolaan kekayaan alam negeri ini yang lebih menguntungkan pihak asing ketimbang rakyat sendiri. Atau sistem pendidikan yang masih banyak muatan pengajaran ketimbang penanaman budi pekerti. Dll.
  • Rakyat yg ndhak peduli bangsa, negara, & kehidupannya dalam berbagai bentuk. Contoh: banjir. Itu sepenuhnya bukan karena kehendak alam, tapi murni undangan manusia yang (bermentalitas) mbuang sampah seenaknya dan justru menentang takdir alam.

Pun dengan krisis segala krisis lainnya.

Krisis ekonomi/finansial misalnya. Ekonom akan mengatakan penyebabanya, pemicunya, atau klausulnya mungkin akan berputar-putar di faktor cadangan devisa, keseimbangan neraca ekspor-impor, inflasi, dsb.

Inti Penyebab

Saya tak akan mengupas hal-ihwal teknis apapun di sini. Karena saya memang bukan ahlinya yang berkemampuan untuk itu semua. Saya pribadi hanya mencoba memandangnya lebih dalam dari itu semua. Krisis apapun bentuknya, disebabkan oleh dua hal penting:

  • Mentalitas individual: esensi/hakikat kalah dengan kondisi teknis.
  • Mentalitas komunal: hal kemasyarakatan kalah dengan hal individual.

Dengan kata yang lebih luas, krisis apapun bentuknya, terjadi karena mentalitas kita yang membiarkan keliaran pada diri sendiri maupun diri bersama. Kita meliarkan konsumsi yang tak terkendali, dalam pengertian: membeli barang yang tidak diperlukan, mengacaukan sistem yang harusnya demi kemaslahatan bersama dan berkesinambungan dengan tindakan-tindakan sepihak dan sesaat belaka. Dll.

Krisis Individual – Internal

Kita meliarkan kegiatan mendahulukan kebutuhan yang belum tentu kebutuhan yang hakiki dan esensial dibanding kebutuhan yang bener-bener lebih hakiki dan esensial, sekalipun penting. Misal: membeli mobil untuk pergi ke kantor padahal sebenarnya kita bisa berdamai dengan motor plus angkutan umum/kereta/bis ketimbang membeli rumah sekalipun itu kecil dan (teramat sangat) sederhana.

Krisis rumah tangga terjadi belom tentu karena faktor (kesulitan) ekonomi. Namun bisa jadi karena kita kehilangan pengendalian diri: kurangnya pengendalian atas ketidaksabaran dan kurangnya pengendalian pada ketidakuletan dalam berusaha.

Dengan kata lain: krisis rumah tangga terjadi karena kita kurang bersyukur. Bersykur dengan rejeki yang ada, bersyukur dengan kesempatan yang terpampang, bersyukur dengan istri/suami yang kita dapatkan, dan bersykur dengan takdir yang harus kita jalani.

Tapi kan memang kita harus nyari makan?

Ya! Dan barangsiapa ketakutan tidak akan mendapatkan makan esok hari, sesungguhnya kita sudah meragukan jaminan Tuhan pada kita, Tuhan yang pasti ngasih/nyediakan makanan, kecuali kita menolaknya.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. 11:6)

“Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. 67:21)

Krisis Individual – Eksternal

Termasuk bisa jadi menimbulkan krisis (ekonomi) adalah ketika kita meliarkan kegiatan individual ketimbang komunal: kita lebih gemar umrah dsb. (=kesalehan individual) atau holiday ke luar negeri dengan memanfaatkan tiket diskonan ketimbang menghabiskan uang untuk menjamin pendidikan sebanyak mungkin anak-anak penerus bangsa dsb. misalnya (=kesalehan komunal).

Apa yang saya katakan wajar jika tak Anda sepakati. Sebuat semua itu seolah akan terjadi refleks sebagai bagian dari reaksi kita menghadapi keadaan.

Namun jika kita terlatih mengendalikan diri, fainsha Allah semuanya akan berbeda.

Seseorang mungkin akan menunda kepergian/pembayaran ongkos hajinya hingga dia memastikan tak ada anak dan orang sakit terlantar di kampungnya, sekalipun ribuan ustadz berteriak bahwa sesiapa pergi haji makan akan dijaminkan sorga untuknya.

Namun siapa yang lebih memilih memantau terus perkembangan anak-anak & orang sakit (agar) tidak terlantar ketimbang mendengarkan teriakan ustadz yang terus-menerus mengatakan akan dijamin surga bagi kita yang pergi haji?

Hanya orang yang berani terasing dan disingkan yang berani memilih/melakukannya, yakni diasingkan dari mainstream sudut pandang publik luas. Padahal apa yang dilakukanya sungguh merupakan salah satu benteng dari krisis: yakni turut berpartisipasi pada pemerataan dan keadilan kehidupan bersama.

Saya yakin, Tuhan pasti akan ‘menghajikan’ sendiri orang yang demikian ini. Sayangnya, ini cuman keyakinan saya belaka. Bukan kata ustadz di tivi-tivi itu.

Dan sayangnya lagi, saya yakin, akumulasi publik dari “krisis individual – eksternal” tersebut, yakni ketika kebutuhan pribadi lebih kita dahulukan -sekalipun itu atas nama Tuhan- ketimbang kebutuhan komunal, maka ini akan memicu krisis komunal di masyarakat: kesenjangan taraf hidup sosial, kesenjangan akses pendidikan & kesehatan, kesenjangan informasi, dll.

Mohon jangan salah artikan di sini saya menentang kesalehan indiidual Anda. Saya hanya ingin mengajak kita membuka mata, bahwa kesalehan individual juga berkaitan dengan kondisi kontekstual yang mana itu justru menjadi ladang bertanam kesalehan komunal kita.

Mentalitas Pengendalian: Individual & Komunal

KRISIS, apapun bentuknya, karena hilangnya mentalitas pengendalian pada diri sendiri dan bersama/komunal. Krisis, apapun bentuknya, terjadi karena kita melakukan kerusakan. Mentalitas pengenadalian tersebut telah kalah dengan hal-hal pengrusakan. Pengrusakan terhadap diri sendiri, pengrusakan terhadap alam-lingkungan, pengrusakan terhadap sistem-sitem kemasyarakatan yang membangun dan memartabatkan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. 30:41)

Krisis pribadi/keluarga terjadi karena kita berbuat kerusakan pada tatanan pribadi/keluarga: kita gunakan kartu kredit demi menggesek hape terbaru sementara hape lama masih fungsional sekali sehingga pendapatan bisa dialokasikan untuk kehidupan bukan untuk beban; kita belanja/konsumsi bukan untuk keluarga;

Krisis lingkungan karena kita merusak alam-lingkungan; kita buang sampang seenaknya sehingga banjir yang bikin kerugian pribadi dan kerugian sosial tinggi; kita membabat hutan tanpa kesinambungan. Kita menggerus kekayaan alam tanpa kesinambungan riset & teknologi pengganti: kita habiskan minyak bumi dan batu bara tanpa bikin mesin elektrik atau perangkat penghasil energi terbarukan untuk kendaraan/sistem transportasi pribadi & massal, perangkat penghasil energi terbarukan untuk pembangkit energi listrik, dll.

Krisis ekonomi karena kita melakukan kerusakan pada keseimbangan, pemerataan, dan sustainabilitas ekonomi: kita menghabiskan (cadangan) kekayaan alam hanya untuk masa sekarang, kita menimpangkan pemerataan pemanfaatan kekayaan alam bukan kepada semua pihak melainkan hanya kepada segelintir pihak, kita menimpangkan pemerataan suplai dari banyak pihak ke segerombol pihak saja; kita membiarkan keadaan yang membentuk high-concumption & high-cost economic: narik pungli pada segala arsip perijinan yang masuk dan layak berkas; memberikan ijin kepada rekanan/keluarga yang tidak feasible pengajuan ijinnya; atau membiarkan infrastruktur rusak sehingga menyebabkan overhead-cost (biaya tak terduga) segala operasional ekonomi membengkak tinggi dan banyak belanja yang dibelanjakan sia-sia; atau kita memberikan kredit kepada debitur yang tidak layak (feasible) sekedar demi menutup target sehingga akan memicu bom waktu economic-buble, saluran ekonomi yang kelak akan terumbat dan meledak menjadi krisis karena banyaknya perputaran aspek-aspek ekonomi yang non-performing lagi.

Krisis pendidikan karena kita merusak hakikan dan esensi pendidikan menjadi pengajaran belaka. Pengajaran adalah bagian dari pendidikan, namun pendidikan bukan hanya pengajaran belaka! Pendidikan harus membangun budi pekerti sebelum semua siswa/peserta didik diisi dengan berbagai skill sesuai dengan minat-bakat bidang masing-masing. Ingat, setiap manusia ditakdirkan memiliki perbedaan.

Krisis sosial terjadi bisa jadi karena kita suka menumpuk kekayaan dan melupakan manusia lain yang berhak atas harta yang kita miliki. Krisis sosial mungkin terjadi karena kita menganggap manusia lain berderakat sesuai dengan gaji yang diterima atau upah yang kita berikan. Krisis sosial mungkin terjadi karena kita merusak fitrah bahwa kita adalah makhluk sosial yang tak pernah bisa hidup tanpa orang lain.

Krisis politik terjadi karena parlemen cuman dijadikan ajang jual-beli pasal. Kepentingan rakyat tidak lagi dibela dengan sebenar-benarnya dan sepnuh-penuhnya, justru rakyat dijadikan ajang perasan dengan membuat program-program penghisap anggaran berbasis proyek bukan berbasis kinerja dan hasil.

Atau lebih fokus lagi dari semua perian di atas, segala krisis terjadi karena kita sengaja menjerumuskan diri menuju kebinasaan. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 2:195)

Cegah – Tanggulangi Krisis Multidimensi: Kembali ke Esensi/Hakikat Kehidupan

YUK kita bentengi diri dan kesemuanya bersama dengan kembali ke esensi atau hakikat hidup. Mari kita kembali perkuatan tatanan diri sendiri, tatanan keluarga, tatanan masyarakat, tatanan bangsa dna negara ini, dan tatanan dunia yang berkeadilan sosial, bukan berketimpangan sosial. Kita pasti bisa asal punya kemauan dan usaha!

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. 13:11)

Semua itu akan berat, memang berat. Menahan dan mengendalikan: keliaran diri, keliaran masyarakat, keliaran ekonomi, keliaran sosial, dsb. itu memang maha berat. Butuh mentalitas super pada diri kita masing-masing sebagai bagian dari keseluruhan pelaku dan penerus peradaban ini.

Dan memang akan ada ujiannya. Intinya: sabar!

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. 2:155)

Tapi jangan khawatir, Tuhan sendiri ngasih janji yang luar biasa koq tentang rejeki kita:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. 2:245)

So, ayuk kita kembali pada bidang kita masing-masing; mengendalikan diri kita bersama menahan krisis.

Jangan jadi ekonom yang kuat menumpuk kekayaan dan membelanjakan income kita untuk kesenangan parsial-duniawi semata, tapi jadilah ekonom yang mampu memberikan produktivitas pada semua elemen masyarakat dan jangan takut lapar karena Tuhan menjamin hidup kita. Jangan jadi ilmuwan yang kuat menjual ilmu dan penemuan, tapi jadilah ilmuwan yang menggelontorkan berbagai penemuan dan ciptaan untuk kemaslahatan umat. Jangan jadi politisi yang memeras rakyat, tapi jadilah politisi yang membela mati-matian kepentingan rakyat.

Dan jangan jadi presiden yang menjual negeri ini. Percayalah, Anda hanya akan mati syahid jika Anda harus ditembak mati karena berani menolak paksaan kontrak pengelolaan (baca: penghidapan) kekayaan alam negeri ini oleh pihak asing dan mendahulukan semuanya dari, oleh, dan untuk rakyat negeri ini serta peradaban dunia dan berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

ISTIGHFAR PRIBADI & ISTIGHFAR SOSIAL UNTUK MENAHAN KRISIS

KRISIS ini, terjadi karena istigfar kita masih mentok di komat-kamit bibir, belom terwujud pada aksi nyata istighfar kehidupan:

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi penggunaan kartu kredit demi menggesek hape terbaru sementara hape lama masih fungsional sekali sehingga pendapatan bisa dialokasikan untuk kehidupan bukan untuk beban; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi buang sampang seenaknya sehingga banjir yang bikin kerugian pribadi dan kerugian sosial tinggi bisa direduksi; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi belanja/konsumsi bukan untuk keluarga;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi high-concumption & high-cost economic; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi permintaan pungli pada segala arsip perijinan yang masuk dan layak berkas; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pemberian ijin kepada rekanan/keluarga yang tidak feasible pengajuan ijinnya;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi jual-beli pasal di parlemen; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pembabatan hutan secara tak terkendali dan berkesinambungan;

istighfar untuk menghentikan dan tidak mengulangi ketidakpedulian kita pada siswa didik yang membutuhkan bimbingan budi pekerti;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pembiaran lapak liar kakilima sampai numpuk-numpuk; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pemberian kredit pada debitur yang tak layak;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi bolak-balik umroh sementara di kampung sebelah beberapa anak kesulitan beli buku penunjang pelajaran;

atau istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi penyerahan kekayaan alam negeri ini pada antek asing.

Termasuk istighfar dengan menghentikan pelarian kita sebagai makhluk sosial, yang mana kita sibuk menjilat-jilat Tuhan; dan kembali menyadari bahwa kita adalah manusia yang hidup bersama, dan kita lahir dengan tugas untuk menjadi khalifah – pemimpin peradaban ini. Siapapun kita, dalam kapasitas kita masing-masing.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
posting ini murni merupakan pandangan pribadi saya sendiri. Mohon maaf beribu maaf jika posting ini bener-bener bikin eneg, krisis tatanan/susunan penyampaian, krisis manfaat, dan krisis muatan. Maklum, yang nulis biasa krisis ide & pemikiran. Dan demi masa, sesungguhnya saya juga lagi krisis isi dompet! Hiks…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s