Jihad vs Kristenisasi

Kisah nyata saya: tetangga (di tempat asal istri saya) ada yang hidupnya miskin dan keleleran. Dia seorang muslim yang tinggal di lingkungan muslim.

Akhirnya hidupnya ditolong gereja. Dia dikasih makan. Disantuni. Dididik. Diperhatikan dan diayomi hidupnya.

Dan tanpa ada paksaan serta penuh kedamaian dia masuk Kristen.

Pas seorang rekan Kristiani berdiskusi dengan saya (akun beliau ada di firendlist fesbuk saya dan pakliks semua pada kenal kalo saya sebutkan terbuka namanya) bilang: “Sungguh Om Freema, kalo kami ngasih itu beneran ikhlas! Tanpa ada maksud kristenisasi – menjadikan/menarik orang agar masuk Kristen. Setidaknya itu saya dan teman-teman saya. Ndhak tau kalo kelompok Kristen yang lain.”

Saya bilang: “Sekalipun itu agenda kristenisasi, saya malah bersyukur. Gara-gara kristenisasi dengan menyejahterakan orang miskin, maka seperti tetangga saya tersebut akhirnya bisa hidup layak. Keluar dari kemiskinan. Bisa hidup normal senormalnya manusia…

Ini justru tamparan keras bagi saya yang muslim ini, karena cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata. Berkoar-koar tentang agama namun gagal menyelamatkan kesejahteraan hidupnya (tetangga) yang dijerat kemiskinan akut.

Agama itu untuk kedamaian-kebaikan dunia-akhirat.

Kalo kehadiran Islam tidak bisa membuatnya (tetangga tersebut) hidup normal dan layak, sementara dengan kehadiran gereja bisa membuatnya hidup normal dan layak, maka saya harus berterima kasih dan menyalami kalian, rekan-rekan dari gereja.

Dosa kalo saya sampe membenci apa yang kalian lakukan. Sebab yang layak adalah saya harus membenci diri saya sendiri yang cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata. Buktinya: saya gagal menyelamatkan tetangga dari kemiskinannya sementara kalian berhasil.

So, ayo kita berlomba saja, kita rangkul sebanyak-banyaknya orang miskin yang masih kelaparan, yang masih terjepit dan tertindas hidupnya, dan masih susah bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan. Saya pake cara islamisasi, dan ente pake kristenisasi. Ayuk kita berlomba. Yang penting manusia rukun, adil, damai, sejahtera. Perkara nanti sesiapa berbicara dengan Tuhan dengan bahasa (agama) apa, itu wallahualam – hanya Allah yang maha tahu.

Kalo ada orang miskin masuk Islam/tetep Islam karena didukung hidupnya oleh kaum muslimin, ya itu prestasi kami. Pun kalo ada orang miskin kemudian masuk Kristen karena hidupnya disejahterakan oleh gereja, ya itu buah prestasi rekan-rekan juga…”

Bagi saya, justru “ndhak layak” menyuarakan suara Tuhan di tengah gemuruh suara perut mereka yang keroncongan. Bagi saya, “ndhak patut” menyuarakan kalam-firman Tuhan pada mereka yang yang badannya tinggal kulit dan tulang karena miskin dan kemiskinan. Kecuali setelah perut mereka terisi. Mungkin baru mereka akan siap lapar, siap sengsara, siap berkorban demi Tuhan dan kemanusiaan sesuai agama/keyakinan masing-masing.

Mereka butuh makan, Mereka perlu hidup. Dan agama sudah sepantasnya hidup, menghidupi, dan menghidupkan kehidupan ini.

“Kalo toh memang rekan-rekan Kristiani dengan menyejahterakan manusia: memberi perhatian kepada manusia yang terabaikan, terpinggirkan, dinistakan-dihina oleh sesama manusia itu sedang/memang punya agenda kristenisasi, maka lakukanlah!” Itu kata saya.

Rekan saya terdiam.

Dia pasti ndhak nyangka saya beneran ngomong gini: ngomong di mulut dan saya pastikan ini juga dari hati saya.

Sebab dia sendiri tau, kalo ada muslim “mendukung” kristenisasi kayak saya gini, kayak apa yang saya utarakan di atas, pasti udah kena cap halal darahnya untuk disembelih.

Saya mendukung kristenisasi?

Tidak kalo itu maksudnya adalah (kristenisasi dengan) peperangan antar (umat ber)agama. Sebagaimana saya juga benci dengan mereka-mereka yang mencatut nama Islam untuk perang senjata tanpa jelas apa maksud, tujuan, dan artinya selain sekedar menjadi korban perdagangan senjata.

(Well kita tahu bahwa dengan berbagai dalih perang memang harus diciptakan sekarang ini, agar bisnis senjata terus berjalan. Sebab bisa jadi yang memasok senjata ke kedua belah pihak yang berperang dengan slogan kebenaran masing-masing hanya satu pihak saja.)

Tapi kalo mereka melakukan gerakan (kristenisasi) itu untuk menyejahterakan kaum miskin, saya akan dengan jantan menyalami mereka. Sebab saya sebagai muslim, nyata cuman bisa koar-koar tanpa bisa melakukan apa-apa dan bertindak nyata dibanding mereka (rekan-rekan Kristiani telah) melakukannya.

Kecuali kalo ada keluarga muslim baik-baik kemudian dihasut untuk masuk Kristen, saya juga akan menentang mereka yang melakukannya jika demikian. Sebagaimana saya juga ndhak akan pernah mau menghasut keluarga Kristiani yang hidup baik-baik untuk masuk Islam: yakni sesiapa yang hidup untuk kebaikan bersama, kerukunan bersama, kedamaian bersama, kemajuan bersama, dan membangun peradaban bersama.

Kecuali juga kalo ada rekan-rekan Kristiani menjelek-jelekkan Islam, maka saya juga akan membela Islam dengan memberikan penjelasan tentang Islam semampu/sekuat saya. Sebagaimana saya juga muak dengan kaum muslimin yang kerjaannya cuman menjelek-jelekkan umat lain, seolah dia udah sempurna sebagai manusia.

Terlebih lagi jika ada rekan-rekan Kristiani mengintimidasi umat muslim dengan dalih, cara, tindakan, maksud, dan motivasi apapun, saya juga akan melawan (secara hukum). Sebagaimana saya pribadi juga melawan sesama muslim yang suka mengintimidasi umat beragama lain dengan dalih, cara, tindakan, maksud, dan motivasi apapun!

Bagi saya, jihad bukanlah (sekedar) melawan (secara membabi-buta) tindakan-tindakan kristenisasi dari rekan-rekan gereja. Bagi saya, inilah jihad dan peperangan nyata era sekarang ini: peperangan melawan kemiskinan, kebodohan, perpecahan (=cengkrah) manusia; menghancurkan kesenjangan dan jurang pemisah kehidupan; mencegah kerusakan lingkungan, dan melawan kooptasi-hegemoni ekonomi-politis dari siapapun.

Sebab jika itu semua bisa kita lakukan senantiasa: memberangus kemiskinan, membasmi kebodohan, menghancurkan perpecahan sesama anak manusia dan membuat semua saling mengayomi, manyayangi, dan mengasihi; menyatukan jurang pemisah kehidupan – si kaya tidak lagi menghindari si miskin dan si miskin tak lagi melawan si kaya; alam-lingkungan terjaga kelestarian dan sustainabilitasnya; serta kita berhasil mendepak segala kooptasi-hegemoni ekonomi-politis dari siapapun; maka di situlah agama -yakni segala perintah Tuhan untuk amar maruf nahi munkar, menghindari yang batil dan menjalankan yang haq, membuat maslahat kehidupan dan menebarkan rahmat pada semesta alam ini- hadir, ada, dan nyata keberadaannya.

Agama hadir bukan untuk membuat hidup kita tertekan dan terpenjara. Agama hadir untuk menjadikan kita merdeka menjadi diri sendiri: diri yang bertakwa & mengagungkan Tuhan dengan mengelola bumi ini untuk kesejahteraan, pencerdasan, dan kemakmuran bersama demi mengisi waktu dan mempersiapkan diri untuk menuju akhirat;

bukan bersama-sama mengorbankan dunia ini selaksa upeti cuman buat segelintir pihak -siapapun itu- sambil pura-pura lupa dengan dalih diri ini sedang sibuk mengingat akhirat.

Wallahualam bisawab. Maaf lahir dan batin semuanya.

Advertisements

Turing Bukan Mudik

H-2 hingga H-1 Lebaran. 14-15 Juli 2015. Kami keluarga kecil muter-muter di sekitar sinian saja: saya, Bapaknya AleefRahman, dan si kecil Aleef Rahman. Sebenarnya perjalanan ini karena ada keperluan kerjaan Bapaknya Aleef Rahman. Berhubung salah satu tempat yang dituju adalah kota kecil Wlingi, tempat Akung-Utinya Aleef Rahman, kami berdua ngikut.

Rutenya rumah Kediri ~> jalan Kediri – Blitar yang melewati kaki gunung Kelud ~> ketemu jalan raya Blitar – Malang di titik Garum ~> Wlingi.

Kami nginep semalem di Wlingi. Dan keeseokan malamnya melanjutnya perjalanan ke Tulungagung via kota kecil Ngunut. Di Tulungagung pit-stop sebentar di sebuah angkringan yang menunya luar biasa, hingga hampir tengah malam kemudian kami melanjutkan stage terakhir: pulang ke Kediri.

SELASA MALAM, 14 JULI 2015 KEDIRI – WLINGI

Kami berangkat habis buka puasa. Rute ini menelwati dua kategori jalanan: jalanan kabupaten, yakni mulai dari rumah hingga masuk sebagian kawasan Kabupaten Blitar, dan jalan provinsi yakni mulai Garum hingga Wlingi.

Jalanan di kawasan administrasi pemerintahan Kabupaten Kediri sudah dilapis ulang menjelang lebaran ini. Mulai berangkat dari rumah hingga perbatasan kawasan Blitar, aspal sudah mulus mampus. Padahal sebelumnya dan biasanya “senantiasa” penuh lubang nan menganga, membahayakan dan mengancam nyawa pengendara yang melintas. Yakh, kita lihat saja kuat bertahan berapa lama ini aspal baru…

Masuk kawasan administrasi pemerintahan Kabupaten Blitar, aspal jalanan agak kasar. Di kawasan kaki gunung Kelud, sedang dilakukan pengecoran jalan di beberapa ruas, sehingga kendaraan harus jalan bergantian (buka-tutup).

Di beberapa ruas lagi, kondisi aspal kami nilai pada taraf membahayakan keselamatan pengendara: bikin rusak komponen kaki-kaki mobil atau bikin pengendara motor terjungkal karena lubang.

Sayang beribu sayang, ruas yang sudah selesai dicor duluan beberapa waktu silam (tahun kemarin sepertinya) kini sudah lobang-lobang lagi… Entah kualitas pengecorannya yang abal-abal, atau karena banyaknya truk material pengangkut pasir Gunung Kelud yang dibiarkan melaju dengan berlebihan beban (overload). Padahal truk-truk itu dulu sempat didemo masyarakat. Entah kenapa kini koq terus ada lagi.

Setelah kecamatan Ngegok hingga Garum, jalanan mulus mampus. Tampaknya baru di-layering juga aspalnya.

Nyampe Wlingi sekitar dua jam setengah, saya dan Aleef Rahman di-drop di rumah Akung/Uti, Bapaknya Aleef Rahman lanjut jalan ketemu kolega-koleganya karena ada suatu urusan/keperluan.

RABU, 15 JULI 2015 WLINGI – TULUNGAGUNG – KEDIRI

Sedianya kami hendak meninggalkan Wlingi habis sahur, agar siangnya bisa beraktivitas di Kediri. Namun karena satu dan lain hal, perjalanan kami tunda hingga habis buka puasa lagi.

Seharian, Bapaknya Aleef Rahman masih harus melanjutkan keperluan/urusannya. Sebelum sore kebetulan keperluan/urusannya udah kelar, kami sekeluarga menyempatkan ngabuburit main ke Taman Idaman Hati/Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota kecil Wlingi.

Taman kota ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tak terlalu luas, namun cukup lumayan untuk mengakomodasi keriangan warga Wlingi. Hanya tahun kemarin barusan dibenahi: dipercantik penataannya dengan diberi tambahan jogging-track, rejuvenasi playground, dan area parkir depan yang manis.

Kami tak punya banyak foto di sini karena harus nuruti Aleef Rahman yang berlarian ke sana-kemari, padahal dia puasa. Kalau ada aktivitas, dia memang lupa jika sedang puasa. Tapi kalau diam saja, dia sering mengeluh perutnya lapar 😀

Dasar anak-anak!

Lebih detail tentang Taman Idaman Hati/Ruang Terbuka Hijau Wlingi ini bisa rekan-rekan simak di sini https://travellers2009.wordpress.com/2014/10/15/hutan-kota-wlingi-blitar/ atau pada klip youtube ini.

Usai ngabuburit, pas hendak meninggalkan tekape, eh di sebelah ada gelaran bagi-bagi takjil dari Alumni SMPN 1 Wlingi ’86. Alhamdulillah, si kecil Aleef Rahman dikasih. Kami minta satu saja, dipaksa nerima dua. Ya udah, alhamdulillah wasyukurillah, barokallah…

Selanjutnya kami ngumpul bukber dengan keluarga. Dan setelahnya melanjutkan perjalanan ke Tulungagung via Blitar – Ngunut.

Di Tulungagung, kami mampir di sebuah angkringan yang unik, nikmat, luar biasa! Akan kami ceritakan dalam postingan tersendiri lain waktu.

Hingga hampir tengah malam kemudian kami melanjutkan stage terakhir: pulang ke Kediri.

Kondisi aspal jalanan relatif mulus mampus semua. Sedikit kasar di beberapa ruas, namun sama sekali enggak sampai membahayakan keselamatan pengendara: enggak bikin rusak komponen kaki-kaki mobil atau bikin pengendara motor terjungkal karena lubang.

PERILAKU PENGENDARA

Namanya hendak lebaran, lalu-lintas ramai lancar. Di ruas Blitar – Ngunut malah relatif lancar banget, cenderung sepi di beberapa ruas. Namun kendaraan tetap harus melaju beriringan, agak susah mendahului karena selalu saja ada kendaraan dari depan.

Pada kondisi demikian, ada dua catatan penting yang kami ingat.

Melaju Terlalu Pelan

Beberapa kali kami ngikuti kendaraan yang melaju terlalu pelan padahal di depannya jalanan kosong melompong. Sementara dia susah disalip karena kendaraan dari arah berlawanan lumayan ramai lancar. Alhasil barisan kendaraan di belakangnya antri berbaris cukup memanjang.

Perilaku pengemudi yang seperti ini memang enggak membahayakan keselamatan di jalan raya, tapi membuat antrian mengekor panjang di belakangnya, ini sungguh merupakan perilaku yang kurang manusiawi di jalan raya.

Dan padahal juga, kendaraan yang melaju pelan ini bukan kendaraan tua yang bisa dimaklumi. Mereka bahkan kendaraan yang modelnya masih sedang keluar/dijual sekarang.

Entah apa motivasi dan sebab pengendara berperilaku seperti ini, kami tak mendapati jawabnya. Semoga saja mereka bukan karena sedang mainan hape sambil nyetir.

Mendahului Paksa

Berkebalikan dengan pengendara yang jalan pelan sekali, beberapa kali kami juga mendapati pengendara yang tak sabaran. Saat lalu-lintas ramai lancar dan kendaraan melaju berbaris dengan rapi dan tenang, beberapa kendaraan mendahului dengan space mendahului begitu ketat dengan datangnya kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah mendahului dengan paksa ini, mereka kemudian memaksa masuk lagi ke barisan kendaraan.

Semua orang pingin cepat. Semua orang pingin segera sampai. Tapi masih banyak orang yang peduli keselamatan bersama alih-alih berperilaku ala koboi begituan.

Koq ya kebetulan, itu kendaraan yang suka nyalip dengan membahayakan kendaraan lain kebanyakan yang kami temui adalah jenis low-MPV yang memang terkenal ringan badan kendaraannya sehingga mesinnya serasa kelebihan tenaga, sementara daya dukung stabilitas dan kemananan itu kendaraan agak-agak bikin riskan dan rasanya kurang sesuai dengan (kelebihan)tenaga mesinnya.

KONDISI BERKENDARA

Mobil kami sebenarnya enggak dalam kondisi sehat walafiat. Kaki-kakinya sedang keseleo kata Bapaknya Aleef Rahman. Ada parts kaki-kaki yang pecah karet-karetnya sehingga hantaman suspensi menjadi kasar jika terkena jalanan kasar.

Kecepatan rata-rata perjalanan ini sekitar 50-60 kmh. Sesekali saja bapaknya Aleef Rahman bisa tancap gas hingga menyentuh 80 kmh. Tapi itu juga cuman sebentar.

Membawa mesin V8 (delapan silinder dengan bentuk mesin V) 3000cc dengan kondisi lalu-lintas ramai-lancar seperti ini sebenarnya tetap kurang optimum. Mesin ini, menurut buku manualnya, kecepatan optimum agar konsumsi bahan bakar pada titik paling efisien justru melaju pada rentang 80-90 kmh. Hiks…

Alhasil, setelah kami hitung-hitung, perjalanan sepanjang 150 km ini, kami menghabiskan satu setrip bahan bakar atau setara sekisar 20 liter, termasuk puter-puter di Wlingi. Itungan kasarnya sekitar 1 liter : 7,5 km. Cukup memuaskan untuk mesin V-delapan silinder demikian.

SATU hal yang kami petik dari perjalanan singkat dan pendek ini: secanggih apapun kendaraan Anda dan sehebat apapun skill Anda berkendara, tanpa kesabaran dan tata krama serta sopan santun di jalan raya, semuanya adalah percuma dan sia-sia.

Selamat hari raya Idul Fitri, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berkumpul bersama keluarga, selalu hati-hati di jalanan.

Krisis

“Ternyata sekarang Puerto Rico juga menyatakan diri tak dapat membayar hutang luar negeri. Dan kali ini Amerika sebagai pelindungnya justru menjadi biang kebankrutan pulau ini.

Memang kebijakan yang tampak menguntungkan tak selalu memberikan implikasi baik pada akhirnya. Oleh sebab itu kita sebaiknya ikut memantau kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun negara asing terhadap perekonomian kita agar tak jatuh dalam perangkap yang merugikan.

Perkembangan dalam berbagai sektor harus juga diperhatikan, karena jika perkembangan dititik beratkan pada sektor tertentu saja akan membahayakan negara. Jika sektor itu kolaps bukan tidak mungkin negara akan terseret rubuh mengikutinya.”

-Susan, temen saya yang luar biasanya pandangannya.-

Trigger/Pemicu

Posting rekan saya ini tidak akan kerasa gregetnya jika (amit-amit semoga ndhak pernah terjadi) negeri ini belom kolaps/bangkrut atau kena krisis (ekonomi) lagi yang kayaknya beneran terjadi karena dipicu hanya karena ulah dua pihak:

  • Pemerintah yang cuman jadi cecunguk asing dan ndhak peduli rakyatnya. Contoh: masih terus dilanjutkannya kontrak pengelolaan kekayaan alam negeri ini yang lebih menguntungkan pihak asing ketimbang rakyat sendiri. Atau sistem pendidikan yang masih banyak muatan pengajaran ketimbang penanaman budi pekerti. Dll.
  • Rakyat yg ndhak peduli bangsa, negara, & kehidupannya dalam berbagai bentuk. Contoh: banjir. Itu sepenuhnya bukan karena kehendak alam, tapi murni undangan manusia yang (bermentalitas) mbuang sampah seenaknya dan justru menentang takdir alam.

Pun dengan krisis segala krisis lainnya.

Krisis ekonomi/finansial misalnya. Ekonom akan mengatakan penyebabanya, pemicunya, atau klausulnya mungkin akan berputar-putar di faktor cadangan devisa, keseimbangan neraca ekspor-impor, inflasi, dsb.

Inti Penyebab

Saya tak akan mengupas hal-ihwal teknis apapun di sini. Karena saya memang bukan ahlinya yang berkemampuan untuk itu semua. Saya pribadi hanya mencoba memandangnya lebih dalam dari itu semua. Krisis apapun bentuknya, disebabkan oleh dua hal penting:

  • Mentalitas individual: esensi/hakikat kalah dengan kondisi teknis.
  • Mentalitas komunal: hal kemasyarakatan kalah dengan hal individual.

Dengan kata yang lebih luas, krisis apapun bentuknya, terjadi karena mentalitas kita yang membiarkan keliaran pada diri sendiri maupun diri bersama. Kita meliarkan konsumsi yang tak terkendali, dalam pengertian: membeli barang yang tidak diperlukan, mengacaukan sistem yang harusnya demi kemaslahatan bersama dan berkesinambungan dengan tindakan-tindakan sepihak dan sesaat belaka. Dll.

Krisis Individual – Internal

Kita meliarkan kegiatan mendahulukan kebutuhan yang belum tentu kebutuhan yang hakiki dan esensial dibanding kebutuhan yang bener-bener lebih hakiki dan esensial, sekalipun penting. Misal: membeli mobil untuk pergi ke kantor padahal sebenarnya kita bisa berdamai dengan motor plus angkutan umum/kereta/bis ketimbang membeli rumah sekalipun itu kecil dan (teramat sangat) sederhana.

Krisis rumah tangga terjadi belom tentu karena faktor (kesulitan) ekonomi. Namun bisa jadi karena kita kehilangan pengendalian diri: kurangnya pengendalian atas ketidaksabaran dan kurangnya pengendalian pada ketidakuletan dalam berusaha.

Dengan kata lain: krisis rumah tangga terjadi karena kita kurang bersyukur. Bersykur dengan rejeki yang ada, bersyukur dengan kesempatan yang terpampang, bersyukur dengan istri/suami yang kita dapatkan, dan bersykur dengan takdir yang harus kita jalani.

Tapi kan memang kita harus nyari makan?

Ya! Dan barangsiapa ketakutan tidak akan mendapatkan makan esok hari, sesungguhnya kita sudah meragukan jaminan Tuhan pada kita, Tuhan yang pasti ngasih/nyediakan makanan, kecuali kita menolaknya.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. 11:6)

“Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. 67:21)

Krisis Individual – Eksternal

Termasuk bisa jadi menimbulkan krisis (ekonomi) adalah ketika kita meliarkan kegiatan individual ketimbang komunal: kita lebih gemar umrah dsb. (=kesalehan individual) atau holiday ke luar negeri dengan memanfaatkan tiket diskonan ketimbang menghabiskan uang untuk menjamin pendidikan sebanyak mungkin anak-anak penerus bangsa dsb. misalnya (=kesalehan komunal).

Apa yang saya katakan wajar jika tak Anda sepakati. Sebuat semua itu seolah akan terjadi refleks sebagai bagian dari reaksi kita menghadapi keadaan.

Namun jika kita terlatih mengendalikan diri, fainsha Allah semuanya akan berbeda.

Seseorang mungkin akan menunda kepergian/pembayaran ongkos hajinya hingga dia memastikan tak ada anak dan orang sakit terlantar di kampungnya, sekalipun ribuan ustadz berteriak bahwa sesiapa pergi haji makan akan dijaminkan sorga untuknya.

Namun siapa yang lebih memilih memantau terus perkembangan anak-anak & orang sakit (agar) tidak terlantar ketimbang mendengarkan teriakan ustadz yang terus-menerus mengatakan akan dijamin surga bagi kita yang pergi haji?

Hanya orang yang berani terasing dan disingkan yang berani memilih/melakukannya, yakni diasingkan dari mainstream sudut pandang publik luas. Padahal apa yang dilakukanya sungguh merupakan salah satu benteng dari krisis: yakni turut berpartisipasi pada pemerataan dan keadilan kehidupan bersama.

Saya yakin, Tuhan pasti akan ‘menghajikan’ sendiri orang yang demikian ini. Sayangnya, ini cuman keyakinan saya belaka. Bukan kata ustadz di tivi-tivi itu.

Dan sayangnya lagi, saya yakin, akumulasi publik dari “krisis individual – eksternal” tersebut, yakni ketika kebutuhan pribadi lebih kita dahulukan -sekalipun itu atas nama Tuhan- ketimbang kebutuhan komunal, maka ini akan memicu krisis komunal di masyarakat: kesenjangan taraf hidup sosial, kesenjangan akses pendidikan & kesehatan, kesenjangan informasi, dll.

Mohon jangan salah artikan di sini saya menentang kesalehan indiidual Anda. Saya hanya ingin mengajak kita membuka mata, bahwa kesalehan individual juga berkaitan dengan kondisi kontekstual yang mana itu justru menjadi ladang bertanam kesalehan komunal kita.

Mentalitas Pengendalian: Individual & Komunal

KRISIS, apapun bentuknya, karena hilangnya mentalitas pengendalian pada diri sendiri dan bersama/komunal. Krisis, apapun bentuknya, terjadi karena kita melakukan kerusakan. Mentalitas pengenadalian tersebut telah kalah dengan hal-hal pengrusakan. Pengrusakan terhadap diri sendiri, pengrusakan terhadap alam-lingkungan, pengrusakan terhadap sistem-sitem kemasyarakatan yang membangun dan memartabatkan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. 30:41)

Krisis pribadi/keluarga terjadi karena kita berbuat kerusakan pada tatanan pribadi/keluarga: kita gunakan kartu kredit demi menggesek hape terbaru sementara hape lama masih fungsional sekali sehingga pendapatan bisa dialokasikan untuk kehidupan bukan untuk beban; kita belanja/konsumsi bukan untuk keluarga;

Krisis lingkungan karena kita merusak alam-lingkungan; kita buang sampang seenaknya sehingga banjir yang bikin kerugian pribadi dan kerugian sosial tinggi; kita membabat hutan tanpa kesinambungan. Kita menggerus kekayaan alam tanpa kesinambungan riset & teknologi pengganti: kita habiskan minyak bumi dan batu bara tanpa bikin mesin elektrik atau perangkat penghasil energi terbarukan untuk kendaraan/sistem transportasi pribadi & massal, perangkat penghasil energi terbarukan untuk pembangkit energi listrik, dll.

Krisis ekonomi karena kita melakukan kerusakan pada keseimbangan, pemerataan, dan sustainabilitas ekonomi: kita menghabiskan (cadangan) kekayaan alam hanya untuk masa sekarang, kita menimpangkan pemerataan pemanfaatan kekayaan alam bukan kepada semua pihak melainkan hanya kepada segelintir pihak, kita menimpangkan pemerataan suplai dari banyak pihak ke segerombol pihak saja; kita membiarkan keadaan yang membentuk high-concumption & high-cost economic: narik pungli pada segala arsip perijinan yang masuk dan layak berkas; memberikan ijin kepada rekanan/keluarga yang tidak feasible pengajuan ijinnya; atau membiarkan infrastruktur rusak sehingga menyebabkan overhead-cost (biaya tak terduga) segala operasional ekonomi membengkak tinggi dan banyak belanja yang dibelanjakan sia-sia; atau kita memberikan kredit kepada debitur yang tidak layak (feasible) sekedar demi menutup target sehingga akan memicu bom waktu economic-buble, saluran ekonomi yang kelak akan terumbat dan meledak menjadi krisis karena banyaknya perputaran aspek-aspek ekonomi yang non-performing lagi.

Krisis pendidikan karena kita merusak hakikan dan esensi pendidikan menjadi pengajaran belaka. Pengajaran adalah bagian dari pendidikan, namun pendidikan bukan hanya pengajaran belaka! Pendidikan harus membangun budi pekerti sebelum semua siswa/peserta didik diisi dengan berbagai skill sesuai dengan minat-bakat bidang masing-masing. Ingat, setiap manusia ditakdirkan memiliki perbedaan.

Krisis sosial terjadi bisa jadi karena kita suka menumpuk kekayaan dan melupakan manusia lain yang berhak atas harta yang kita miliki. Krisis sosial mungkin terjadi karena kita menganggap manusia lain berderakat sesuai dengan gaji yang diterima atau upah yang kita berikan. Krisis sosial mungkin terjadi karena kita merusak fitrah bahwa kita adalah makhluk sosial yang tak pernah bisa hidup tanpa orang lain.

Krisis politik terjadi karena parlemen cuman dijadikan ajang jual-beli pasal. Kepentingan rakyat tidak lagi dibela dengan sebenar-benarnya dan sepnuh-penuhnya, justru rakyat dijadikan ajang perasan dengan membuat program-program penghisap anggaran berbasis proyek bukan berbasis kinerja dan hasil.

Atau lebih fokus lagi dari semua perian di atas, segala krisis terjadi karena kita sengaja menjerumuskan diri menuju kebinasaan. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 2:195)

Cegah – Tanggulangi Krisis Multidimensi: Kembali ke Esensi/Hakikat Kehidupan

YUK kita bentengi diri dan kesemuanya bersama dengan kembali ke esensi atau hakikat hidup. Mari kita kembali perkuatan tatanan diri sendiri, tatanan keluarga, tatanan masyarakat, tatanan bangsa dna negara ini, dan tatanan dunia yang berkeadilan sosial, bukan berketimpangan sosial. Kita pasti bisa asal punya kemauan dan usaha!

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. 13:11)

Semua itu akan berat, memang berat. Menahan dan mengendalikan: keliaran diri, keliaran masyarakat, keliaran ekonomi, keliaran sosial, dsb. itu memang maha berat. Butuh mentalitas super pada diri kita masing-masing sebagai bagian dari keseluruhan pelaku dan penerus peradaban ini.

Dan memang akan ada ujiannya. Intinya: sabar!

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. 2:155)

Tapi jangan khawatir, Tuhan sendiri ngasih janji yang luar biasa koq tentang rejeki kita:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. 2:245)

So, ayuk kita kembali pada bidang kita masing-masing; mengendalikan diri kita bersama menahan krisis.

Jangan jadi ekonom yang kuat menumpuk kekayaan dan membelanjakan income kita untuk kesenangan parsial-duniawi semata, tapi jadilah ekonom yang mampu memberikan produktivitas pada semua elemen masyarakat dan jangan takut lapar karena Tuhan menjamin hidup kita. Jangan jadi ilmuwan yang kuat menjual ilmu dan penemuan, tapi jadilah ilmuwan yang menggelontorkan berbagai penemuan dan ciptaan untuk kemaslahatan umat. Jangan jadi politisi yang memeras rakyat, tapi jadilah politisi yang membela mati-matian kepentingan rakyat.

Dan jangan jadi presiden yang menjual negeri ini. Percayalah, Anda hanya akan mati syahid jika Anda harus ditembak mati karena berani menolak paksaan kontrak pengelolaan (baca: penghidapan) kekayaan alam negeri ini oleh pihak asing dan mendahulukan semuanya dari, oleh, dan untuk rakyat negeri ini serta peradaban dunia dan berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

ISTIGHFAR PRIBADI & ISTIGHFAR SOSIAL UNTUK MENAHAN KRISIS

KRISIS ini, terjadi karena istigfar kita masih mentok di komat-kamit bibir, belom terwujud pada aksi nyata istighfar kehidupan:

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi penggunaan kartu kredit demi menggesek hape terbaru sementara hape lama masih fungsional sekali sehingga pendapatan bisa dialokasikan untuk kehidupan bukan untuk beban; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi buang sampang seenaknya sehingga banjir yang bikin kerugian pribadi dan kerugian sosial tinggi bisa direduksi; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi belanja/konsumsi bukan untuk keluarga;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi high-concumption & high-cost economic; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi permintaan pungli pada segala arsip perijinan yang masuk dan layak berkas; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pemberian ijin kepada rekanan/keluarga yang tidak feasible pengajuan ijinnya;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi jual-beli pasal di parlemen; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pembabatan hutan secara tak terkendali dan berkesinambungan;

istighfar untuk menghentikan dan tidak mengulangi ketidakpedulian kita pada siswa didik yang membutuhkan bimbingan budi pekerti;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pembiaran lapak liar kakilima sampai numpuk-numpuk; istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi pemberian kredit pada debitur yang tak layak;

istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi bolak-balik umroh sementara di kampung sebelah beberapa anak kesulitan beli buku penunjang pelajaran;

atau istighfar dengan menghentikan dan tidak mengulangi penyerahan kekayaan alam negeri ini pada antek asing.

Termasuk istighfar dengan menghentikan pelarian kita sebagai makhluk sosial, yang mana kita sibuk menjilat-jilat Tuhan; dan kembali menyadari bahwa kita adalah manusia yang hidup bersama, dan kita lahir dengan tugas untuk menjadi khalifah – pemimpin peradaban ini. Siapapun kita, dalam kapasitas kita masing-masing.

Wallahualambisawab.

– Freema HW,
posting ini murni merupakan pandangan pribadi saya sendiri. Mohon maaf beribu maaf jika posting ini bener-bener bikin eneg, krisis tatanan/susunan penyampaian, krisis manfaat, dan krisis muatan. Maklum, yang nulis biasa krisis ide & pemikiran. Dan demi masa, sesungguhnya saya juga lagi krisis isi dompet! Hiks…

Badak Biru: Pensiunan Tentara

Kami rapat keluarga.

Adik: “Badak biru kita restorasi yuk?”

Saya: “Jangan, kondisi jalanan sekarang udah beda banget dengan lima taon kemarin pas kita ngangkat badak V8 ini. Kemarin mesin V8 sungguh nyaman dipakai SEHARI-HARI: pergi dari Kediri ke Blitar jam berapapun, apalagi dibawa ke Jakarta overnight driving.

Sekarang jalanan sungguh rame, kendaraan sungguh sesak. Kita hanya bisa optimal pake badak kala tengah malam doang, itu pun musti di lintas luar kota.

Dulu Kediri – Blitar average sejam bahkan kurang, sekarang bisa dipastikan setidaknya 1,5 jam bahkan lebih. Jalan malam juga ndhak njamin lancar. Mending anggaran restorasinya kita belikan kendaraan lain yang lebih efisien, namun tetep nyaman.”

Akhirnya setelah rapat keluarga memutuskan, jadilah anggaran restorasi badak biru V8 digeser buat nebus sebuah Audi A4(B5), lawan pasar dari BMW Seri 3 E36 atau Volvo S40 atau Mercy C-Class.

Mesinnya si Audi A4(B5) ini tetep V-configuration siy, V6 2.6litres 150hp. Tapi konsumsi BBM-nya beda lumayan signifikan dibanding badak biru buluk jadul purba tua bangka ini. Mirip dengan FC (fuel-consumption) rata-rata E36 323i yang masih bisa dapet 1:11 liter/km rata-rata luar kota.

Terlebih lagi, ruang kabin Audi lebih lega ketimbang E36. Karena Audi pake penggerak depan (FWD – front wheel drive) dan tidak merancang kendaraannya punya weight-distribution 50:50 yang menjamin stabilitas handling khas ala BMW, maka Audi ndhak bingung harus memanjangkan moncong dan memundurkan kabin ala BMW/Mercy yang bikin space kabin terpangkas.

Khas kendaraan yang murni dirancnag untuk fungsionalitas, moncong dibikin secukupnya, sehingga ruang kabin bisa lebih maju ke depan.

Dengkul penumpang belakang jadi jauh lebih nyaman di Audi A4 ketimbang BMW E36. Mungkin di Volvo bakal lebh lega lagi, soale mesinnya Volvo transversal/melintang, so moncongnya bisa dibikin lebih pesek lagi dan kabinnya bisa punya ekstra space lagi ketimbang Audi yang mesinnya masih longitudinal dan makan space.

(Kata rekan-rekan Volvo, Volvo 850 yang FWD dengan mesin transversal space kabinnya berasa lebih lega ketimbang 940/960 yg RWD/rear wheel drive dan mesinnya longitudinal).

Si badak biru V8 ini kini akhirnya jadi veteran perang. Bukan, tepatnya mungkin pensiunan tentara, belom veteran. Masih bisa kickdown, kabinnya masih senyap, dan interiornya masih kami jaga sekuat tenaga; tapi tugasnya tak seaktif kemarin-kemarin, saat kami menghabiskan kurleb 100rb km perjalanan dalam lima taon kisah kasih bersamanya.

Kelak, kalo ada duit, badak biru tetep bakal kami restorasi, tapi pindah fungsi telak. Kalo sebelomnya kami beli demi fungsi/penggunaan sehari-hari, kini mungkin bakal sekedar jadi barang koleksi yang kami gunakan sesekali.

Tapi dengan munculnya tol baru Cipali, dan Pejagan-Pemalang yang rencananya taon depan kelar, kini sebenarnya harapan dan semangat hidup si badak biru tumbuh kembali di dalam diri kami.

Kalo udah ketemu tol, BMW seperti katak ketemu kolam, seperti ketemu habitat hidupnya. Optimasi tingkah polah dan kelakuan(power)nya bisa dimunculkan kembali.

Yakh, liat aja nanti… Lets see aja. Ini semua ndhak kami planning, ngalir aja segimananya nanti. Soale urusannya dengan anggaran yang lumayan tinggi.

Yang pasti, saban hari kini saya rutin bawa motor buat ke sana-kemari. 😀 Hehehehehe…

– Freema HW,
Supir badak biru buluk besret-besret baret-baret mblegadhus akacadut tua jadul purba V8 Kediri, badak biru yang (bagi kami senantiasa tetap) luar biasa selamanya.

*Tentang si Badak Biru V8 pencet di sini.

NOTE: Badak sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh Cak Rizal kepada BMW Seri 5 E34 M30 535i-nya yang kebetulan juga berwarna biru. Entah kenapa entah gimana ceritanya nama ini kemudian jadi julukan generik buat BMW Seri 5 E34.