Muslim Nusantara

Saya sudah mencoba menghindari posting yang berbau (kajian) agama sebenarnya. Saya lebih suka berdiskusi tentang segala hal yang aplikatif-implementatif dan membangun peradaban. Namun kali ini saya tergoda ingin berpendapat tentang keributan yang seolah permanen muncul dan berganti-ganti terus temanya, serasa ada yang nge-update keributan preferensif yang dirancang agar kita para manusia ini untuk lupa dengan tugas kita menjadi khalifah di muka bumi, yakni tugas kita untuk membangun peradaban.

Kali ini ributnya tentang jargon islam nusantara, yang saya tengarai muncul sebagai antitesis dari islam arab, yakni universalitas Islam yang tanpa sadar serasa ingin diseret bentuk teknisnya ke kultur-etnikal Arab.

Konon, denger-denger yang menggelontorkan kampanye islam nusantara itu dari rekan-rekan nahdiyin, organisasi massa muslim (ter)besar di negeri ini yang konsisten mengusung kearifan lokal, moderat, dan penuh toleransi. Yang sering dicap muslim kultural, padahal hal “arab” kental banget dalam keseharian mereka: ngajinya aja pake arab gundul!

SAYA memahami mereka yang mengutarakan pemikiran islam nusantara. Maksud mereka baik: ingin menjadikan Islam ini sebagai jalan hidup yang universal, tidak sektarian. Islam yang bisa dimiliki oleh semua pihak, bukan harus mengacu kepada satu kumpulan saja.

Namun mungkin mereka sedikit terpeleset dalam kekeliruan semantik – pengunaan/pemaknaan kata-nya belaka: wujud implementasi Islam yang universal itu mestinya ada pada diri kita, para muslim, yang ingin bercorak nusantara.

Mungkin mestinya jargon yang harus didengungkan adalah muslim nusantara, bukan islam nusantara.

Sementara terminologi/istilah yang diusung sudah tepat menurut saya: bahwa Islam itu luas dan wawas, bukan sempit dan kerdil.

Mengayomi dan menentramkan, bukan men-judge dan mendakwa.

Islam yang penuh kedamaian dan keberkahan, bukan Islam yang penuh ancaman dan (menebar) ketakutan.

Hanya saja ada satu “kekeliruan” sepele dari mereka-mereka yang mengusung pemikiran islam nusantara. Ya kesalahan semantik itu.

ISLAM itu hal yang konseptual, sesuatu yang prinsipal dan bebas dari penguncian teknis. Islam itu tekstual sekaligus kontekstual, qauliyah dan kauniyah. Karena itu bebas dari penguncian definitif. Sederhana kata misalnya, orang ijab-qabul bisa pake bahasa arab, inggris, indonesia, bahkan Jawa saya rasa. Asal maknawinya sama.

Islam adalah bagaimana kita bersikap.

Pelacuran itu salah dalam alasan apapun. Namun bagaimana bersikap kepada pelacur, itulah implementasi dan aplikasi dalam Islam. Di sinilah umat Islam akan menunjukkan keberagaman dalam bersikap: ada yang main tunjuk jari: “Tuhan memberikan banyak pintu rejeki, kenapa kalian harus menujual diri?”

“Mereka itu berzina, bukan mencari rejeki!”

“Apakah kalian tak percaya bahwa Tuhan menghidupi dan telah menyediakan rejeki bagi kita?”

Dll.

Ungkapan-ungkapan yang benar. Namun menyakitkan. Dan dibungkus dengan dalih: kebenaran memang menyakitkan. Sesiapa yang mendengarnya, kemudian memandang seolah merekalah pemilik cahaya.

Ada yang soft dan mengayomi, memberikan semangat hidup dan kedamaian batin kepada sesiapa yang harus dientaskan dari lembah hitam tersebut. Tak ada kata-kata pelacur dalam setiap kalimat yang meluncur tenang dari mulutnya, yang ada hanya memandang perempuan yang dibayar atas setiap kencan mereka itu sebagaimana manusia yang sama persis dengan dirinya: sama derajat kemanusiaannya dan sama bagaimana harus diperlakukan sebagai manusia.

Gelontoral semangat mengalir deras: bahwa tugas dan kewajiban masing-masing manusia itu adalah berproses. Maka lahirlah kekuatan batin dan badan untuk bangkit dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Bahwa cahaya adalah milik kita semua siapapun dan apapun kita, cahaya harus ditebar kepada semua.

Di sini akhirnya stigma bahwa kebenaran itu menyakitkan, runtuh jadinya. (Cahaya) kebenaran itu ternyata menyejukkan dan menghangatkan!

PENDIDIKAN itu wajib dalam Islam, inilah satu-satunya klausul di mana Tuhan terang-terangan menyatakan akan meninggikan derajat orang berilmu. Tapi berilmu itu seperti apa, klausul kontekstualnya harus diselimuti dan dilingkupi oleh rentengan ayat kalamullah lainnya. Lebih dari sekedar definitif: S1, atau punya ijazah ini, atau punya gelar ini, dsb. (itu bersekolah mungkin, belom pati “berilmu”).

Jika sudah ada pemahaman maknawi, maka pendidikan itu lebih luas dari sekedar jadwal kelas. Pendidikan akan memiliki lingkup-lingkup yang sinergis: bagaimana mengawal generasi usia dini, anak, remaja, dan bagaimana mendidik orang dewasa.

Bagaimana mengenal kelas sekolah dan bagaimana mengenal kelas kehidupan.

Jika pendidikan telah dipahami dengan maknawi, maka masjid bukan lagi sekedar bangunan kotak dengan mihrab kecilnya, namun dunia ini adalah masjid. Tempat kalamullah dikumandangkan dan dijalankan.

Seperti inilah prinsip-kontekstual.

INI adalah Islam, yakni tentang bagaimana kita bersikap. Sebab apa itu Islam, sudah terang penjelasannya dalam 6236 ayat yang komplit dan lengkap, pada kitab yang jadi pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini dan bertakwa; kitab yang benar; yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta di jelaskan secara terperinci; pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

SEMOGA koreksi terhadap frasa islam nusantara ini tidak melunturkan penjiwaan kebenaran Islam pada kebesaran nusantara. Islam itu benar, nusantara itu besar. Bisa keduanya berpadu, maka bangsa Indonesia ini akan teramat mengerikan kekuatannya di kancah khalifatul peradaban dunia.

Oleh karena itu, kedua frasa itu harus dipisahkan, jangan pernah dipadukan. Islam itu benar, nusantara itu besar. Pisahkan keduanya, agar hancur bangsa ini, hancur peradaban ini.

Pisahkan keduanya, agar kebenaran Islam tidak mendapati salah satu wujud implementasinya, dan kebesaran Indonesia bisa hancur dengan sendirinya.

Maka Islam harus ‘dimilikkan’ ke bangsa Arab dengan segala dalihnya: nabi diturunkan di sana, Al Quran pakai bahasa Arab, yang kemudian akan dikonstruksi pemikiran bahwa seolah inilah kehendak Tuhan: umat muslim harus seperti (tradisi & budaya) Arab.

Dan sebab tidak mungkin Amerika menjadi penguasa segala tetek-bengek yang berbau Islam. Dan sebab Amerika harus menggunakan Arab untuk menaklukkan kaum muslimin.

Namun sebagian muslimin menyadari ini semua. Sekali lagi: maknawi Islam itu universal sekalipun nabi dan kitabnya dari/berbahasa Arab dan ini akan terus dijaga sepanjang masa – Tuhan sendiri yang memelihara kitabullah ini.

Sebagian muslimin menyadari bahwa manknawi Islam bisa melingkupi segala budaya dan kearifan setempat. Bahwa Islam itu untuk amar ma’ruf – nahi munkar. Karena itu, Islam dan nusantara bisa berpadu!

Sehingga sekarang jelas kenapa Islam dan nusantara harus dipisahkan. Sebab jika keduanya berpadu dalam diri muslim nusantara, maka dengan keislamannya bangsa indonesia ini akan memimpin peradaban. Jelas ini sungguh mengerikan!

Islam teteplah Islam yang maknawi dan universal. Sementara nusantara teteplah punya definitif fisikal. Perpaduan keduanya hanya ada pada diri muslimnya: muslim nusantara!

***

Well… Ini cuman pemikiran saya yang maha dangkal dan tak layak dipercaya. Sebab saya ini ndhak ngerti agama. Ndhak mondok dan ndhak ikutan ormas muslim manapun. Namun kini saya bisa mengatakan, saya ini (ingin menjadi) muslim nusantara!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s