Puasa

Dari jibunan ucapan puasa di linimassa maya saya yang (maaf tanpa bermaksud mengesampingkan sama sekali namun) isinya “itu-itu” saja, ada satu posting dari sobat saya, posting yang membuat saya bener-bener diem terpekur seolah tak bisa berhenti mengulang-ulang membacanya, agar tak hilang maknanya dari daya serap saya:

“Menahan marah?

Para pegawai mungkin sudah biasa bertahun tahun menahan diri dari omongan kasar bos. Begitu juga sebaliknya mungkin para bos juga menahan marah jika pegawainya salah.

Melatih kesabaran?

Coba tanya orang-orang yang kerja di Jakarta. Mereka cukup sabar meladeni macetnya Jakarta berangkat subuh pulang larut. Jarang-jarang ketemu matahari secara langsung.

Menahan lapar?

Para pekerja kasar sampai model cantik pun menahan lapar walaupun beda alasan.

Jadi puasa buat apa?

Puasalah dari merasa benar sendiri. Puasalah menulis dan membagi artikel-artikel provokatif. Berita seperti ini sangat dekat dengan fitnah. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. Dampaknya harus dipikirkan juga.

Puasalah dari merasa paling bijak.

Berbukalah dengan pikiran yang positif, berbukalah dengan empati. Dan tentu saja berbukalah dengan silahturahmi. Dengan sekitarmu. Bukan dengan medsos!

Selamat menjalankan kebiasaan baru: puasa untuk awal yang baru. Karena memilih menjadi bijaksana diantara banyak pilihan sikap adalah puasa sepanjang hidup.”

Fitria Suryani,
sohib saya yang masih jomblo sampe hari ini.

Sayangnya, dia bukan jomblo ece-ece. Doski bener-bener tipikal jomblo yang bener-bener sungguh berkualitas: bernas berpikirnya, wawas gagasnya, lugas, ikhlas, dan sungguh mulia hatinya.

Setengah saja jomblo di Indonesia kayak dia, Indonesia dan dunia ini bakal tenang aman adhem-ayem rukun sentosa.

Anda laki-laki bermutu yang pingin pedekate ke dia, bisa melalui saya atau kontak langsung doski 😀

Muslim Nusantara

Saya sudah mencoba menghindari posting yang berbau (kajian) agama sebenarnya. Saya lebih suka berdiskusi tentang segala hal yang aplikatif-implementatif dan membangun peradaban. Namun kali ini saya tergoda ingin berpendapat tentang keributan yang seolah permanen muncul dan berganti-ganti terus temanya, serasa ada yang nge-update keributan preferensif yang dirancang agar kita para manusia ini untuk lupa dengan tugas kita menjadi khalifah di muka bumi, yakni tugas kita untuk membangun peradaban.

Kali ini ributnya tentang jargon islam nusantara, yang saya tengarai muncul sebagai antitesis dari islam arab, yakni universalitas Islam yang tanpa sadar serasa ingin diseret bentuk teknisnya ke kultur-etnikal Arab.

Konon, denger-denger yang menggelontorkan kampanye islam nusantara itu dari rekan-rekan nahdiyin, organisasi massa muslim (ter)besar di negeri ini yang konsisten mengusung kearifan lokal, moderat, dan penuh toleransi. Yang sering dicap muslim kultural, padahal hal “arab” kental banget dalam keseharian mereka: ngajinya aja pake arab gundul!

SAYA memahami mereka yang mengutarakan pemikiran islam nusantara. Maksud mereka baik: ingin menjadikan Islam ini sebagai jalan hidup yang universal, tidak sektarian. Islam yang bisa dimiliki oleh semua pihak, bukan harus mengacu kepada satu kumpulan saja.

Namun mungkin mereka sedikit terpeleset dalam kekeliruan semantik – pengunaan/pemaknaan kata-nya belaka: wujud implementasi Islam yang universal itu mestinya ada pada diri kita, para muslim, yang ingin bercorak nusantara.

Mungkin mestinya jargon yang harus didengungkan adalah muslim nusantara, bukan islam nusantara.

Sementara terminologi/istilah yang diusung sudah tepat menurut saya: bahwa Islam itu luas dan wawas, bukan sempit dan kerdil.

Mengayomi dan menentramkan, bukan men-judge dan mendakwa.

Islam yang penuh kedamaian dan keberkahan, bukan Islam yang penuh ancaman dan (menebar) ketakutan.

Hanya saja ada satu “kekeliruan” sepele dari mereka-mereka yang mengusung pemikiran islam nusantara. Ya kesalahan semantik itu.

ISLAM itu hal yang konseptual, sesuatu yang prinsipal dan bebas dari penguncian teknis. Islam itu tekstual sekaligus kontekstual, qauliyah dan kauniyah. Karena itu bebas dari penguncian definitif. Sederhana kata misalnya, orang ijab-qabul bisa pake bahasa arab, inggris, indonesia, bahkan Jawa saya rasa. Asal maknawinya sama.

Islam adalah bagaimana kita bersikap.

Pelacuran itu salah dalam alasan apapun. Namun bagaimana bersikap kepada pelacur, itulah implementasi dan aplikasi dalam Islam. Di sinilah umat Islam akan menunjukkan keberagaman dalam bersikap: ada yang main tunjuk jari: “Tuhan memberikan banyak pintu rejeki, kenapa kalian harus menujual diri?”

“Mereka itu berzina, bukan mencari rejeki!”

“Apakah kalian tak percaya bahwa Tuhan menghidupi dan telah menyediakan rejeki bagi kita?”

Dll.

Ungkapan-ungkapan yang benar. Namun menyakitkan. Dan dibungkus dengan dalih: kebenaran memang menyakitkan. Sesiapa yang mendengarnya, kemudian memandang seolah merekalah pemilik cahaya.

Ada yang soft dan mengayomi, memberikan semangat hidup dan kedamaian batin kepada sesiapa yang harus dientaskan dari lembah hitam tersebut. Tak ada kata-kata pelacur dalam setiap kalimat yang meluncur tenang dari mulutnya, yang ada hanya memandang perempuan yang dibayar atas setiap kencan mereka itu sebagaimana manusia yang sama persis dengan dirinya: sama derajat kemanusiaannya dan sama bagaimana harus diperlakukan sebagai manusia.

Gelontoral semangat mengalir deras: bahwa tugas dan kewajiban masing-masing manusia itu adalah berproses. Maka lahirlah kekuatan batin dan badan untuk bangkit dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Bahwa cahaya adalah milik kita semua siapapun dan apapun kita, cahaya harus ditebar kepada semua.

Di sini akhirnya stigma bahwa kebenaran itu menyakitkan, runtuh jadinya. (Cahaya) kebenaran itu ternyata menyejukkan dan menghangatkan!

PENDIDIKAN itu wajib dalam Islam, inilah satu-satunya klausul di mana Tuhan terang-terangan menyatakan akan meninggikan derajat orang berilmu. Tapi berilmu itu seperti apa, klausul kontekstualnya harus diselimuti dan dilingkupi oleh rentengan ayat kalamullah lainnya. Lebih dari sekedar definitif: S1, atau punya ijazah ini, atau punya gelar ini, dsb. (itu bersekolah mungkin, belom pati “berilmu”).

Jika sudah ada pemahaman maknawi, maka pendidikan itu lebih luas dari sekedar jadwal kelas. Pendidikan akan memiliki lingkup-lingkup yang sinergis: bagaimana mengawal generasi usia dini, anak, remaja, dan bagaimana mendidik orang dewasa.

Bagaimana mengenal kelas sekolah dan bagaimana mengenal kelas kehidupan.

Jika pendidikan telah dipahami dengan maknawi, maka masjid bukan lagi sekedar bangunan kotak dengan mihrab kecilnya, namun dunia ini adalah masjid. Tempat kalamullah dikumandangkan dan dijalankan.

Seperti inilah prinsip-kontekstual.

INI adalah Islam, yakni tentang bagaimana kita bersikap. Sebab apa itu Islam, sudah terang penjelasannya dalam 6236 ayat yang komplit dan lengkap, pada kitab yang jadi pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini dan bertakwa; kitab yang benar; yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta di jelaskan secara terperinci; pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

SEMOGA koreksi terhadap frasa islam nusantara ini tidak melunturkan penjiwaan kebenaran Islam pada kebesaran nusantara. Islam itu benar, nusantara itu besar. Bisa keduanya berpadu, maka bangsa Indonesia ini akan teramat mengerikan kekuatannya di kancah khalifatul peradaban dunia.

Oleh karena itu, kedua frasa itu harus dipisahkan, jangan pernah dipadukan. Islam itu benar, nusantara itu besar. Pisahkan keduanya, agar hancur bangsa ini, hancur peradaban ini.

Pisahkan keduanya, agar kebenaran Islam tidak mendapati salah satu wujud implementasinya, dan kebesaran Indonesia bisa hancur dengan sendirinya.

Maka Islam harus ‘dimilikkan’ ke bangsa Arab dengan segala dalihnya: nabi diturunkan di sana, Al Quran pakai bahasa Arab, yang kemudian akan dikonstruksi pemikiran bahwa seolah inilah kehendak Tuhan: umat muslim harus seperti (tradisi & budaya) Arab.

Dan sebab tidak mungkin Amerika menjadi penguasa segala tetek-bengek yang berbau Islam. Dan sebab Amerika harus menggunakan Arab untuk menaklukkan kaum muslimin.

Namun sebagian muslimin menyadari ini semua. Sekali lagi: maknawi Islam itu universal sekalipun nabi dan kitabnya dari/berbahasa Arab dan ini akan terus dijaga sepanjang masa – Tuhan sendiri yang memelihara kitabullah ini.

Sebagian muslimin menyadari bahwa manknawi Islam bisa melingkupi segala budaya dan kearifan setempat. Bahwa Islam itu untuk amar ma’ruf – nahi munkar. Karena itu, Islam dan nusantara bisa berpadu!

Sehingga sekarang jelas kenapa Islam dan nusantara harus dipisahkan. Sebab jika keduanya berpadu dalam diri muslim nusantara, maka dengan keislamannya bangsa indonesia ini akan memimpin peradaban. Jelas ini sungguh mengerikan!

Islam teteplah Islam yang maknawi dan universal. Sementara nusantara teteplah punya definitif fisikal. Perpaduan keduanya hanya ada pada diri muslimnya: muslim nusantara!

***

Well… Ini cuman pemikiran saya yang maha dangkal dan tak layak dipercaya. Sebab saya ini ndhak ngerti agama. Ndhak mondok dan ndhak ikutan ormas muslim manapun. Namun kini saya bisa mengatakan, saya ini (ingin menjadi) muslim nusantara!

Biem Pertama

Salam kenal dari Balikpapan. Minta info dan arahannya om, karena baru mau cari-cari Biem buat ngabuburit dan lebaran 😀

Rosalina Eka Sari

@Yth. Tante Rosalina Eka Sari:

I. Background

Wah, kalo referensinya dari adik Tante, Om Andreansyah Syukur, brarti udah ndhak perlu ‘dinasihati’ ini 😀 Lha gimana ndhak, wong Om Andrenya mainannya dulu E32 sama E34 530i, dua biem yang di-antipati sama pengguna harian kecuali maniak biem sejati  

E32, meski terhenti di tengah jalan, namun orang sekalipun punya duit akan pikir-pikir untuk meminang tipe ini, kecuali orang-orang gila keracunan biem macam Cak Rizal, Lik Alka, dan komplotannya.

Merekalah orang-orang yang wajib didengarkan petuah dan nasihatnya. Tapi ati-ati kalo ikut aliran mereka: biem yang dibela selalu tipe aneh-aneh soale, yang bisa-bisa bikin jantungan pengguna baru biem kalo ndhak konsisten mendengarkan nasihat mereka terus.

Gimana ndhak, bejibun pengguna biem senantiasa milih biem mesin kecil, yang irit, layak buat beredar secara rutin, mudah dan murah perawatannya, namun tetep punya kenyamanan dan keamanan/keselamatan khas biem.

Tentu ini akan menjadi pilihan banyak orang dan orang banyak.

Nah sementara tipe yang mereka bela adalah tipe yang aneh-aneh: Lik Alka miara se-skuadron mobil tua antik, yang salah satunya adalah E36 hatchback yang langka di sini dan harga pasarannya minimal tiga kali lipat E36 biasa;

sementara Cak Rizal cuman kegi (tergoda) dengan biem badan besar dan mesin besar. Itu kalo darahnya Cak Rizal diklasifikasikan golongannya, golongan darahnya bukan A, B, AB, atau O melainkan: (Seri) 5 😛

Jadi sekali lagi, hati-hati dengan mereka, bisa-bisa menyesatkan kita: kita jadi maniak biem sejati ntar! 😀

Seperti kelakuan Cak Rizal yang katanya udah kapok ndhak beli biem.

II. Know What

Intinya sebelom beli biem, kalo tante emang belom pernah miara biem sebelomnya (kalo udah mungkin bisa dilupakan komeng saya ini), BMW punya range produk yang berbeda jenis penggunaan dan jenis kebutuhannya.

1. Ada seri kecil yang fokusnya adalah:

  • hemat
  • lincah
  • mudah dan murah perawatannya

Anggaplah ini diwakili tipe compact-sedan Seri 3. (Seri 1 sementara masuk kategori ini saja).

3. Hingga kemudian ada seri besar yang fokusnya:

  • kenyamanan super
  • ndhak terlalu ngitung biasa operasional (bensin dan perawatan/harga parts dan ongkos jasa bengkel)

Yang mana ini diwakili full-size sedan Seri 7.

2. Dan di tengah-tengahnya ada Seri kompromi, yakni mid-size sedan Seri 5 yang badannya proporsional: ndhak terlalu imut dan ndhak terlalu bongsor namun memberikan kelincahan dan kenyamanan super dengan harga operasional di tengah-tengah.

Dari sini, mungkin Tante tentukan dulu butuh yang kayak gimana.

LAINNYA itu kita kenal SUV BMW. Namun SUV ini kurang terlalu populer. Selain unitnya sedikit, tingkat fungsionalitasnya juga nanggung.

Buat off-road memble, buat kenceng juga ndhak seenak sedan tentunya.

Mana harga jual sekennya juga masih tinggi banget dibanding sedan segenerasi dg spek setara.

III. Type

Dari masing-masing kategori (compact, midsize, atau full-size) masih dipecah lagi menjadi beberapa varian yang lebih memfokuskan kebutuhan kita.

Seri 3 ada yang mesinnya kecil, irit, dan tetep nyaman khas BMW. Ada juga yang mesinnya gedhe buat kuencenggg. Masing-masing tentu beda di running-cost-nya.

Bagusnya manajemen BMW mengkreasi produknya, pengguna masing-masing varian ini pun bisa berklasifikasi sendiri-sendiri tanpa bersinggungan.

Penggemar Seri 3 cc kecil yang irit ndhak akan pernah tergoda dengan kencengnya Seri 3 cc gedhe. Karena mereka memang punya definisi kebutuhan yang sudah dicukupi oleh seri 3 cc kecil: irirt, jalan nyantai saja. toh senyantai-nyantainya Seri 3 cc kecil tetep saja bisa melaju seratus sekian puluh kmh; dan perawatannya murah.

Sementara penggemar Seri 3 cc gedhe juga bisa bener-bener fokus di kendaraan pilihan mereka. Siap dg bensin yang sedikit lebih boros, namun puas karena mendapatkan performa yang luar biasa.

Pun dengan Seri 5.

Ada Seri 5 cc kecil yang paling irit diantara keseluruhan Seri 5 namun jalannya nyantai (nyantai untuk ukuran BMW) sementara kenyamanannya khas seri 5.

Ada Seri 5 cc gedhe yang bensinnya bujubuneng tapi performanya di highway begitu menyenangkan.

Nah untuk penggemar Seri 7, ini sudah merupakan orang yang ndhak perlu dinasihati. Bensinnya jelas minta ampun, maintenisnya jelas minta ampun, dan segala halnya pokoknya minta ampun.

Bahkan nyari tempat parkir pun minta ampun!

Tapi mereka punya kepuasan tersendiir juga: jadi lirikan banyak orang! “Ini mobil koq gedhe banget siy?”

Begitu gambarannya.

IV. Suggest

Berhubung Tante tinggal di Balikpapan, yang meskipun ada bengkel resmi BMW, namun di belantara dunia maya kurang terkenal adanya bengkel spesialis khusus BMW, sementara Tante maunya milih BMW yang sekenan saja, kalo saya boleh sarankan:

restorasi total biem pilihan Tante!

Apapun tipe yang Tante pilih, restorasilah sebelom dipakai, jangan sekedar dibenahi apa yang harus dibenahi.

Restorasi ini mencakup nyaris kesemuanya parts aktif mobil:

  • Mesin, minimal turun setengah untuk membersihkan kerak-kerak tersimpan, dan otomatis penggantian segala gasket/packing mesin yang udah tua dan rawan rembes oli, sehingga kondisinya bersih seperti barunya mobil keluar dari pabrik.

    Termasuk turun setengah mesin ini akan diganti segala parts yang kemungkinan getas meskipun masih bisa running, semacam sensor-sensor yang sudah tua kepalanya (biasanya kabelnya sudah mengeras dan bisa mati mendadak); cek alternator dan motor starter (biasanya giginya udah mulai aus); dll.

  • Power-steering system: dicek kesehatannya, biasanya akan diganti selang-selangnya yang udah mengeras berikut seal-seal-nya, sehingga pompanya bisa bekerja lagi dengan enteng dan sempurna.

    Termasuk dalam power-steering system ini umumnya akan diganti seal pada steering-rack sehingga kemudia bisa bekerja dengan presisi dan bebas kekhawatiran jebolnya seal steering-rack sewaktu-waktu.

  • Cooling-system: ini nyaris semua sistem harus diganti: radiator, selang-selang, water-pump, thermostat+housing-nya. Termasuk visco-fan jika masih menggunakan visco-fan. Sehingga mobil bebas dari ancaman overheat karena tuanya perangkat.
  • Kaki-kaki. Ini parts aktif paling mahal jika diukur usianya yang paling cepet diganti dibanding parts aktif lain. Semua pernagkat kaki-kaki akan diganti: shock-absorber, bushing-bushing, joint, bahkan per jika dinilai perlu.
  • Aksesoris: macam lampu-lampu atau pembersihan bidang lampu.
  • Detailing/salon biar mobil kinclong saat mulai dipakai.
  • Tambahan lain biasanya macam knalpot yang udah mulai keropos di berbagai titik.

Restorasi bakal ndhak murah biayanya. Namun dengan restorasi, kilometer kendaraan bisa diangap nol, bahkan dijadikan nol kilometer pemakaian beneran. Karena memang semua parts aktifnya baru dan bekerja mulai dari nol. 

V. Focus

Nah ini yang paling krusial: apa tipe paling pas?

Untuk Balikpapan yang -maaf- jauh dari peradaban dan hiruk-pikuk dunia belepotan oli BMW, saran saya, tipe apapun, usahakan yang menggunakan electric-fan, bukan visco-fan.

Kenapa harus demikian?

Sebenarnya ndhak harus. Cuman biem yang udah menggunakan electric-fan, meski ndhak mutlak tapi bolehlah bisa dikatakan dia udah lebih mapan teknologinya dan lebih siap kinerjanya.

Sayangnya pilihan biem yang pakai fitur ini justru terbatas untuk biem tua, ia cuman E36 318i M43/2nd-gen (1995-) dengan harga pasaran sekitar 40-70jt dan ini hanya tersedia versi manual resminya di sini; atau Seri 3 E46 yang 4 silinder dengan harga pasaran sekitar 75-150jt.

Untuk E46, bagus lagi 318i generasi pertama yang pakai mesin M43, teknologinya masih simpel untuk ukuran E46 dan mesin tersebut terkenal tahan banting. Kelemahannya hanyalah modelnya belom facelift (kadang model jadi preferensi nomor 1, nomor 2, dan nomor 3 untuk beberapa pengguna).

Seri 5 baru dapet di E60 yang harga sekennya masih 200an jt. dan teknologinya masih terlalu canggih untuk kondisi sekarang sekalipun umur si mobil udah 10 taon.

Yakh inilah BMW, teknologinya memang hadir 10 taon lebih cepat dari kebutuhan jaman.

BMW Seri 3 E36 (1992-1999) 318i, 320i, 323i

Masing-masing tersedia transmisi automatic maupun manual, kecuali 318i 2nd-gen (mulai 1995) hanya tersedia transmisi manual. Harga pasaran rata-rata belom terestorasi sekitar 40-70jt.

BMW Seri 3 E46 (2000-2004): 318i, 320i, 323i

Hanya tersedia pilihan transmisi steptronik, yaknis transmisi otomatis yang menyediakan fitur bisa dipindahgigigkan secara manual juga. Harga pasaran rata-rata belom terestorasi sekitar 75-150jt.


WELL, koq pilihannya seri compact semua?

Jika Tante pingin seri proporsional: Seri 5 yang luasan kabinnya udah lega namun kelincahannya juga masih dapet sebagaimana yang dipakai oleh Om Andre kemarin-kemarin ini, terpaksa harus ikhlas dengan visco-fan.

Tapi santai, sejauh perawatannya terjaga, ia tetep saja sanggup bekerja mumpuni koq.

Jika Tante suka Seri 5, saran saya pilihlah E39, jangan E34.

Kenapa?

E39 masih cakep banget untuk dibawa ketemu klien. Kalo E34, kadang tampang jadulnya bikin dia dijauhi oleh semua penggemar biem.

Namun di sisi lain, E34 kadang juga bener-bener mencerminkan orang yang hobi dan cinta bener dengan BMW, sehingga bisa jadi E34-nya dirawat dengan anggaran yang luar biasa juga.

Atau sebaliknya, orang yang beli E34 (biasanya 520i) mungkin pengguna pertama biem yang pingin punya BMW namun dengan budget yang super ngepas, dan budgetnya belom cukup untuk beli 318i yang sesungguhnya inilah incaran pengguna pemula biem. Karena E34 itu tipe pualing ndhak laku dan pualing dijauhi oleh semua penggemar biem.  

Hehehehe…

BMW Seri 5 E39 (1996-2003): 523i, 528i (1st-gen/prefacelifted); 520i, 525i, 530i (2nd-gen/facelifted)

Harga pasaran rata-rata belom terestorasi 50-150jt, tergantung varian (taon, tipe model, kondisi). Hanya tersedia transmisi steptronik kecuali 523i yang juga tersedia manual.

BMW 7-Series E38

Hanya tersedia transmisi steptronik, tersedia versi short dan banyakan long wheel-base. Harga pasarannya siy relatif murah: 50jt-200jt. Cuman maintenisnya yang minta ampyun…

Kalo memang suka Seri 7 tipe apapun, ya semua hal angaran dll. bypass. Asumsinya Tante emang siap dan harus siap dengan segala biayanya jika perawatan dan penangannya diserahkan kepada bengkel.

Biem hobi: BMW 5-Series E34

>Jadul, ndeso, culun, tapi justru keren (hanya) bagi yang bisa memahami. 😀

Biem hobi: BMW 3-Series E30

Resminya di sini atau kebanyakan beredar (hanya) tersedia 318i dan transmisi manual. Harga pasarannya udah morat-marit. Ada yang 8jt ada yang 80jt. Pokoknya udah mulai gelap tanpa patokan. Maklom, udah mulai tua. Kalo ndhak kondisinya ancur, biasanya udah direstorasi sama penggunanya.

Hehehehe…

VI. Conclusion

Jika Tante butuhnya cepet dan mendesak untuk lebaran ini, carilah E36 yang siap atau minim perbaikan. Atau E46 318i 1st-gen/pre-facelift yang juga lumayan mudah diperbaiki dengan waktu yang cepat.

Lainnya itu, mungkin Tante harus menggunakannya untuk lebaran taon mendatang 😀

Dan clue beli biem selalu konsisten: pilih biem yang minimal:

  • Bodi & sasis utuh ndhak patah atau robek. Dan ada blok mesinnya.
  • Usahakan interior seutuh-utuhnya: dashboard ndhak pecah, jok ndhak sobek. Kelihatannya sepele, tapi kadang melengkapi pernak-pernik interior yang retak/pecah gampang-gampang susah. Jok sobek memang bisa diretrim ualng. Tapi kalo ndhak pake bahan seperti aslinya kendaraan keluar dari pabrik, asli rasanya kayak ilang aja ke-BMW-annya 😀
  • Surat lengkap sekalipun mati puluhan taon.
  • Lainnya itu:mesin ambrol masih bisa dicari, kaki-kaki lenyap juga gampang dipasangi kembali.

Ini sedikit saran ndhak komplit dari saya. Sedikit tambahan dari posting ini ada di sini Memilih BMW atau Bimmer: The Series

————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Bugatti Veyron vs BMW Serie-6

Inilah Bugatti Veyron EB 16.4 yang mana Guinness World Records menyatakannya sebagai fastest street-legal production car di dunia, dengan top speed 431.072 km/h! Dan ini sempat jadi kontroversi, karena pihak Bugatti sendiri menyatakan membatasi kecepatan Veyron mentok di 415 kmh! Nah lo! 😀

Dasar Bugatti Veyron ini punyanya VAG (VW-Audi Group), pintu sampingnya aja mirip-mirip ama Porsche. Itu kalo lampu depan-belakangnya diganti lampu Porsche, yang model Spyder gitu, mungkin orang akan juga nyangka dia Porsche 😀

Bokong belakangnya pun kalo kita amat-amati senuansa dengan Bentley, yang juga milik VAG, namun dengan dua lampu bulat khas lampu depan Bentley! 😀

Diproduksi sejak 2005 dan 2015 ini rencananya masa produksi Veyron generai pertama ini akan berakhir untuk ganti, entah cuman ganti tampang (facelift) atau ganti model. Mestinya ganti model karena udah sepuluh tahun beredar.

Sedikit iseng mengkomparasikannya dengan BMW yang ndhak punya model setanding, di BMW model terdekat untuk bisa menyamai si Veyron ini rasanya M6, baik M6 generasi kedua E63/64 (2005/2006-2010) maupun M6 generasi ketiga yang masih beredar sejak 2012.

Inipun sebenarnya cuman pendekatan secara dimensional saja. Sebab segmentasi dan positioning Bugati Veyron vs BMW M6 beda dan telak. Bugatti Veyron masuk ke kategori supercar/sportscar murni, M6 cuman versi sport dari model yang ada versi standarnya (yakni BMW Serie-6)

BMW M6 E63 BMW M6 E63

BMW M6 F13 BMW M6 F13

Dimensi

Wheelbase/jarak sumbu roda si Bugatti Veyron ini sebenarnya ndhak panjang-panjang amat: 2710 mm.

Sementara BMW Seri-6 E63 wheelbase-nya 2780 mm. Sedangkan BMW Seri-6 terbaru (F12/13) = 2855 mm; lumayan selisihnya 14,5 cm dari Bugatti Veyron.

Panjangnya si Veyron juga cuman 4462 mm, sementara Seri-6 E63 = 4820 mm; dan F12/13 panjangnya 4895 mm alias selisih 43 cm dari Veyron.

Dapur Pacu & Performa

Cuman memang dapur pacunya Bugatti Veyron ini serem, bermesin 8.0 l yang meluapkan tenaga 1000 – 1200 hp!  

Sementara M6 di E63/64 punya mesin S85 V10 5.0 l (sama kayak di M5 E60) dan nyemburkan tenaga 507 ps. Sedangkan M6 pada F12/13 menggendong mesin BMW S63 V8 4.4 l yang memuntahkan tenaga 568 ps.

Jika Bugatt Veyron dibatasi kecepatannya pada 415 kmh, maka M6 sebagaimana kendaraan Jerman lainnya, biasa dibatasi kecepatannya pada 250 kmh, atau bisa melaju hingga 300 kmh dengan paket performa.

Yang bisa dibandingkan mungkin akselerasinya. Dari diam sampai melaju 100 kmh (0–100 km/h atau 0–62 mph) Bugatti Veyron cuman perlu 2,5 detik saja. Sementara BMW M6 F12/13 butuh 4.2 seconds.

Sekalipun BMW butuh nyaris dua kali lipat waktunya, namun angka segitu di jalanan riil tuh cuuuepettt bangedddsss! :O

Ini video drag antara Bugatti Veyron lawan BMW, sayangnya bukan BMW M6 melainkan BMW M3.

Harga

Nah, ini yang membuat mobil-mobil ini malah tindak mengganggu tidur malam saya. Bugati Veyron dijual dengan harga US$ 1.700.000 – 2.700.000, atau sekitar 20,4 M rupiah pada kurs 12 rb.

Sementara BMW M6 E63 dijual pada harga $108,150 untuk veri cabriolet/convertible (E64) dan $102,350 untuk versi coupe (E63), alias cuman 1/16-nya harga Veyron!

Sekalipun demikian, BMW M6 ini justru jadi BMW termahal kedua di Amerika. Harga yang segitu itu tepat di bawahnya model tertinggi di jajaran produk BMW, yakni BMW Serie-7 E66 760Li dengan mesin V12 yang dijual ‘cuman’ seharga US$ 137.000 alias 1/12-nya harga Bugatti Veyron. :O

Maaak!

ANDA punya komparasi iseng Bugatti Veyron dengan coupe/cabriolet sedimensi? Saya tunggu komengnya 😀

Vhrooom!!!

————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan jadi tersangka korupsi.

Siapakah Dahlan Iskan/Pak DI? Googling saja.

Punya hubungan apa saya dengan Pak DI?

Tidak ada hubungan apapun. Saya bukan kerabatnya. Bukan anak buahnya atau mantan anak buahnya. Pokoknya ndhak kenal sama sekali.

1. Saya tak pernah berlangganan jawa Pos, dari dulu sampe sekarang dan mungkin esok lusa atau di lain hari.

2. Pak DI memang kontroversif: bisnis listriknya di Kalimantan, tuduhan keanggotaan Lion Club yang konon berafiliasi dengan zionis, sampe rumor cara Jawa Pos nyari duit (konon wartawannya doyan jualan slot berita ke institusi pemerintahan).

3. Saya bukan warga Surabaya, sehingga saya ndhak punya korelasi emosional, baik pro maupun kontra, yang berlebih.

4. Saya ndhak kenal apalagi dekat dengan Pak DI, atau kenal dan dekat dengan orang-orangnya Pak DI, atau kenal dan dekat dengan orang-orang lawannya Pak DI. Saya taunya cuman orang-orangan sawah 😛 So, saya ndhak punya korelasi emosional, baik pro maupun kontra, yang berlebih karena faktor kenal/dekat dengan Pak DI atau lawannya Pak DI.

Saya pribadi baru mengamati beliau setelah kondang di kancang politik. Intinya, saya mencoba mengenalnya secara pemikiran, bukan secara personal. Ini poin pertama.

Terlepas dari kontroversi yang ada, sejak PLN beliau pegang, pada kenyataannya kita harus mengakui, lumayan banyak perubahan dan perbedaan yang signifikan. Pusat layanan PLN jadi berbenah, nyambung listrik jadi mudah.

Meski listrik masih byar-pet, tapi kayaknya emang frekuensinya relatif jauh berkurang.

Kemudian setelah beliau jadi menteri, banyak wacana, ide, atau pemberitaan implementasi ide yang brilian dari beliau.

Maksud saya begini, Pak DI tetep bukan orang suci di mata saya. Pak DI tetep kayak saya bisa kayak Anda: bisa benar bisa salah, dan mungkin lebih banyak benarnya ketimbang salahnya atau lebih banyak salahnya ketimbang benarnya; seperti biasa itu tetep orang lain yang menilai namun tetep Tuhan yang memutuskan.

Saya tak hendak membahas masalah benar dan salah ini; benar-salah personal Pak DI-nya atau benar-salah tentang kasusnya.

Tapi yang saya pribadi dapat dari beliau yang tidak saya kenal sama sekali sebelum beliau jadi politikus: saya mendapatkan banyak inspirasi dari sosok bernama DI.

Sekalipun nanti taruh kata dia memang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi atas kehendak pribadi, saya tetep tak akan membuang torehan inspirasi yang bisa saya jadikan aspirasi pribadi dari orang bernama Pak DI.

Sederhana kata, intan keluar dari mulut anjing teteplah intan.

Apalagi jika ternyata kemudian Pak DI jadi tersangka hanya karena korban sistem belaka, maka tak ada yang berubah: saya akan terus mengkliping semua ide-ide, wacana, dan inspirasi darinya.

SAYA tak hendak mengagitasi Anda semua untuk membela atau menolak eksistensi, status hukum, status politis, atau personal Pak DI. Pun saya juga tak hendak mengagitasi Anda untuk mengikuti atau menolak pikiran-pikirannya: pikiran-pikiran sosok DI yang sudah mengkampanyekan gulung lengan baju dan kerja, kerja, kerja jauh lama sebelum presiden Jokowi menggunakannya sebagai jargon pada masa kampanyenya.

Saya hanya ingin menyuarakan apa yang menjadi isi pikir subyektif saya pribadi.

Yang pasti sekali lagi, taruh kata memang Pak DI korupsi atas kehendak pribadi, saya tetep akan membaca terus tulisan-tulisannya, wacana-wacananya, ide-idenya, atau apa yang udah dibikinnya. Yang kata seorang rekan, Pak DI itu ibarat katalis: tidak perlu tampak keberadaannya tapi nyata manfaatnya untuk membangkitkan semangat.

Saya pribadi mendapatkan manfaat dari itu semua, dan saya bersyukur tidak mengenalnya secara emosional kepadanya, jadi saya cukup mengamati pemikirannya ketimbang personalnya. Ini keren ketimbang nyimak ceramahnya Ustadz Guntur Bumi apalagi Ustadz Feliz Siauw.

Posting ini murni preferensi pribadi. Yang mungkin apa yang saya rasakan ini bisa sama atau berbalik berbeda dengan yang Anda rasakan.

Regards,
– Freema HW,
bukan pengamat politik.

*Gambar nge-link dari internet.