Islam Harus Dipisah Dengan Nasionalisme

Ilustrasi.

Si Ustadz Felix Siauw bener-bener hebat. Dia konsisten menyuarakan bahwa nasionalisme tiada dalilnya, sementara membela Islam jelas dalil dan pahalanya.

Dan pengikutnya buanyak. Kebanyakan anak muda yang berkembang pada jaman internet ini, anak muda yang mungkin tidak mengenal masa MTV.

Kampanye terakhirnya adalah Wali Songo dulu itu mengislamkan nusantara, bukan menusantarakan Islam.

Ini jelas-jelas sekedar permainan kata yang saya akui sangat cerdas. Misi agitasinya jelas: seolah nusantara ini bangsa pandir yang tidak memiliki akar budi pekerti sehingga harus didatangi Islam untuk menjadi manusia.

Padahal selama ini sintesa yang ada dan terbentuk di mayoritas muslim Indonesia begitu gagas dan bernas: kita ini bangsa nusantara yang memiliki akar, akar yang menancap kokoh di tanah Ibu Pertiwi, yakni akar budaya dan budi pekerti …

… kemudian dengan datangnya ajaran Islam, akar budaya kita tetap menancap kuat; sementara tumbuh, batang, dahan, dan dedaunan kehidupan kita ini memekar dengan semburatan nan Islami: setiap saat senantiasa merindukan kerukunan dan kontinyu membangun perdamaian; setiap saat berlomba-lomba saling asah-asih-asuh, gotong royong, tolong-menolong, dan segala hal dalam kebaikan; dan menjaga segala warisan kearifan lokal dan budi pekerti luhur yang memang inilah akar tumbuh bangsa nusantara ini.

Namun kini semuanya hendak dinihilkan oleh Si Ustadz Felix Siauw dan barisan komplotannya.

ISLAM itu benar. Indonesia itu besar. Karena itu perlu dipertentangkan dan dipisahkan antara islam dengan indonesia, agar bangsa ini hancur, dan kekayaan alam negeri ini terus lancar dijarah asing.

Coba kalo kebenaran Islam justru dipertemukan dengan kebesaran Indonesia, maka bangsa ini akan menakutkan bagi dunia.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, maka bangsa ini ndhak bakalan mau tunduk kepada kooptasi dan hegemoni asing.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, bangsa ini tidak akan pernah tergantung pada utang luar negeri, ngemis teknologi pada bangsa asing, dan mendudukkan ekspatriat sebagai manajer sementara warga pribumi sebagai bawahan.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, kita akan bisa ikut menentukan arah politik dunia. Kita akan kuat membantu negara lain yang terancam dipecah dengan perang dan dijarah kekayaan alamnya. Kita bisa menyantuni dan memberikan kail kepada negara-negara yang kekurangan.

Tidak seperti ini, negara miskin tetap terus dimiskinkan dengan kontinyu dijarah kekayaan alamnya, dan bantuan asing datang seolah bak malaikat sebagai CSR (corporate sin removal). Padahal faktualnya, di belakang itu semua, kontraktor gali tambang sudah siap dengan segala peralatan usai satu bangsa sukses diperangkan.

Dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, bangsa nusantara Indonesia ini akan begitu menakutkan bagi dunia.

Semua yang ingin menguasai Indonesia sudah membaca dan teramat mamahami ini.

Oleh karena itu, strategi yang paling sederhana adalah memisahkan Islam dengan Indonesia. ==> Islam dilarang dikaitkan dengan nasionalisme, dan nasionalisme jangan sampe dikaitkan dengan keislaman. Sebab kalo semua muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka negeri ini akan memiliki benteng pertahanan yang sempurna.

Jika Islam berhasil dipisah dengan nasionalisme, maka negeri ini akan terpecah. Terpecah antara yang membela Islam teoritis dan membela nasionalisme chauv semata. Dengan demikian, energi negeri ini akan habis untuk bertikai.

Bayangkan jika muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka negeri ini akan memiliki benteng pertahanan yang sempurna. Rakyat negeri ini tidak akan terpecah belah. Sebab kita akan menyadari bahwa negeri ini adalah milik Allah yang memang dianugerahkan kepada kita untuk digunakan bersama membangun peradaban.

Bayangkan jika muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka bakal susah bagi mereka yang datang hendak menjarah.

Bukankah kalangannya Ustadz Felix Siauw juga menentang penjarahan atas kekayaan negeri ini?

Sederhana saja, menentang penjarahan kekayaan alam negeri ini, itulah salah satu bentuk besar nasionalisme. Lantas kenapa mereka meneriakkan anti-nasionalisme?

Sederhana saja, mereka telah medefinisikan ulang makna nasionalisme yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 45 itu dengan makna sekeendak mereka. Saya yakin ini: sekehendak mereka, bukan sekehendak Islam!

Kenapa koq saya begitu meyakini?

Sebab sama-sama umat Islam yang sama-sama memegang teguh tauhid sekligus memiliki keilmuan historikal Islam terbelah jadi dua di sini:

  • umat Islam yang menyatukan Islam dan nasionalisme, sebagaimana telah terbentuk dan terbangun sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga hari ini dan mudah-mudahan kelak, yang masih konsisten memperjuangkan bangsa dan negara ini agar bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi; dan
  • umat Islam yang memisahkan Islam dan nasionalisme, yakni mereka kaum entah siapa yang datang setelah negeri ini sekian lama tertaih-tatih mengisi kemerdekaannya dengan segala darah dan kepedihan perjuangan mengisi kemerdekaan, yang datang dengan memberikan mimpi baru agar negeri ini bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi.

Lho, bukankah keduanya sama-sama menginginkan negeri ini bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi?

Ya! Bedanya:

  • yang satu masih menjaga kearifan lokal, sehingga bangsa ini tetap punya akar budaya dan budi pekerti alaminya, kekayaan alam tetap dikuasai sndiri namun dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama dan membela perdamaian dan ketertiban dunia;
  • satunya ingin memberangus kearifan lokal, sehingga kekayaan alam negeri ini masih dimungkinkan lepas dari antek asing tapi berpindah ke antek asing lainnya, yang kali ini mencatut nama Islam.

Percayalah, kekayaan alam negeri ini adalah gunung emas harta karun. Dan sederhana, di depan harta kayak gini, ‘agama’ semua orang bakal sama.

Karena itu, tinggal dilihat apakah bangsa Indonesia ini menggunakan kekayaan alamnya untuk mengembangkan agama (orang nusantara yang menjadi Islam), atau orang-orang berhasil datang dengan bendera Islam untuk (merebut) kekayaan nusantara.

Maka yang terjadi hanya ada dua kemungkinan saja:

  • Islam dan nasionalisme disatukan, atau
  • Islam dan nasionalisme dipisah.

Kepentingan di belakangnyalah yang sesungguhnya berbicara.

Sederhana sekali untuk dipahami.

Bagi yang mau memahami.

– Freema HW,
turut melacurkan kekayaan alam nusantara dengan mengkonsumsi besar-besaran barang Israel.

* Semua foto ngelink dari internet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s