Sempak

Sempak adalah bahasa Jawa untuk celana dalam. Tapi saya ndhak tau historikal kemunculan kata sempak ini dalam penbendaharaan kosakata Jawa.

Cawat bahasa lamanya. Dan secara empiris, jika mendengar kata sempak, maka yang ada di bayangan kita-kita yang biasa dengan enteng mengucapkannya ini adalah celana dalam laki-laki. Dan setelah mengucapkan kata sempak, biasanya kami-kami ini akan tertawa. Menyenangkan. Menyenangkan bisa menertawakan diri sendiri.

Entah kenapa juga kami-kami ini tertawa setelah mengucapkan kata sempak. Padahal benda itu saban hari selalu bersama kami, bersama kita-kita semua. Justru bermasalah jika dalam aktivitas sehari-hari kita lepas dari sempak; pasti ada sesuatu yang gimanaaa gitu.

Tentunya ini di luar aktivitas mandi atau acara ranjang bersama istri. Yang kadang nyantolnya sempak di selangkangan malah bikin situasi dan kondisi jadi nggregisi. Apa ya bahasa Indonesia untuk nggregisi? 😛

Saking akrabnya sempak dengan hidup dan keseharian kita, kita semua sudah diperkenalkan dengan sempak sejak dini. Sedini mungkin.

Saking penting dan perlunya sempak, bahkan sekalipun kesulitan uang, kita tetep akan terus mengenakan sempak, sekalipun itu sobek-sobek dan bolong-bolong. Yang penting barang penting tertutupi. Yang utama barang utama terjaga, ndhak gemandhul kampul-kampul.

Sempak bekas -yang kolornya sudah mati atau sobeknya ndhak karuan- pun masih jadi barang berharga. Jujur, di rumah saya biasa mendisposisi tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sempak bekas ke jalur lain. Biasanya siy jadi serbet, karena bahan katun pada sempak itu cukup nyaman untuk mengelap sesuatu. Dan biasanya lagi serbet buat sesuatu yang “kotor”. Macam serbet di garasi atau di lini lain yang “(tidak) semestinya” bagi sempak bekas.

Obyektivitas Sempak Bekas

Ya, gara-gara sempak bekas inilah akhirnya saya jadi kehilangan obyektivitas! Gara-gara rumor (tidak) “semestinya” bagi sempak bekas inilah otak saya nyaris mati!

Sempak adalah sempak. Ia barang mati. Kitalah yang memberikannya, menginjeksinya dengan fungsi dan nilai. Termasuk nilai rasa.

Sempak itu sedemikian berguna dan berjasanya dalam keseharian kita. Sekali lagi, bayangkan Anda sekolah, meeting dengan klien, atau ngarit padi di sawah ndhak pake sempak seharian; kayak gimana rasanya coba?

Tapi jasa besar sempak ini kita lecehkan dengan penilaian yang berseberangan dengan prestasinya. Sempak itu menjijikkan. Sempak itu nggilani. Dan sejenisnya. Demikian ini penilaian kita bukan?

Kenapa nggilani? Apakah sempak yang akan kita pakai pasti penuh kuman? Kalo iya, hiyyy… Ini baru nggilani.

Tapi kalo sempak kita bersih, dicuci dengan pewangi dan pelembut pakaian apalagi deterjennya anti-kuman dan anti-noda, dan setelah diukur dengan tester hasilnya dinilai aman dari kuman, yang mana nggilaninya?

Apakah sempak itu nggilani karena ia nempel terus di satu barang terurus kita?

Kalo sempak itu nggilani karena nempel di situ, maka konklusi bijaknya harusnya: barang kita itu (juga) nggilani!

Saya ndhak pernah sepakat ini!

Barang permana kita itu aurat, jimat, keramat; sekalipun bisa jadi nikmat atau malah maksiat. Tergantung kita menggunakannya. Karena satu barang itu doang punya beragam fungsi dan posisi inilah maka ia harus dijaga.

Dijaga kesehatannya agar sebisa mungkin ndhak kena penyakit. Dijaga penggunaannya agar bisa berfungsi normal. Dan dijaga peletakkannya, lebih khusus: penyarangannya, atau penusukannya, atau ..itulah pokoknya 😀 agar tidak menimbulkan bahaya, yakni hal apapun yang merugikan.

DASAR fungsinya untuk menjaga barang berharga, maka sudah sepantasnya dan seharusnya sempak juga bekerja menurut fungsinya. Maka, aneh saja jika kemudian kita menggunakan sempak setelah bercelana. Karena bisa jadi fungsionalitas si sempak akan terganggu. Atau fungsinalitas celana yang melindungi kaki, kulit, dan memberikan estetika penampilan jadi terganggu.

Karena fungsi dan tugasnya memang harus sembunyi saat bekerja, maka estetika sempak pun adalah estetika tersembunyi. Estetika yang bisa kita buka dalam kesembunyian. Sederhananya demikian.

Jika sempak dianggap tidak berestetika, ini super relatif. Bisa sangat iya bisa sangat tidak. Tergantung situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan. Wajar jika sempak dikupas estetikanya, manusia memang punya nilai estetika. Tuhan aja penyuka keindahan koq!

Tapi kalo dianggap nggilani, menjijikkan, saya menolak! Sebab hakikatnya barang nggilani itu adalah barang yang kita tolak, kita buang jauh-jauh dari hidup, dan kita upayakan tidak melekat pada diri kita. Misal bakteri berbahaya, virus yang merusak, atau korupsi. Itu baru beneran nggilani, pake polll. Sesuatu yang harus dibasmi.

Kalo barang kita dan sempak kita dianggap nggilani, saya pribadi menyepakati otak kitalah yang haru dicuci. Otak kitalah yang sebenarnya nggilani -perlu dibersihkan- jika sampe menganggap sempak yang bersih dan barang kita itu nggilani.

Kumanlah yang nggilani, bukan sempak-nya. Dan jika ada sempak bersih dianggap nggilani, maka otak kitalah yang sesungguhnya nggilani. Nggilani karena ndhak bisa menilai obyektif.

Artinya, jika sempak kita terbebas dari kuman, mungkin kami pun akan bisa juga menggunakannya dengan nyaman untuk ngelap piring, gelas, sendok, dan garpu. Bukan sekedar melempar ke garasi.

Paling yang risih adalah Anda yang tau seandainya piring, gelas, sendok, dan garpu di rumah kami, kami lap pake sempak. Sempak yang kami cuci bersih dan Insya Allah bebas kuman; lebih bersih dari otak Anda yang masih mendakwa dan memfatwa kalo sempak itu pasti nggilani, sementara korupsi itu ndhak nggilani.

Ada yang mau makan di rumah saya? Silakan kemari jika ada yang mau, tapi maaf bener-bener seadanya dan mutlak apa adanya, bukan mengada-ada seadanya tapi adanya apa-apa.

*Sambil megang piring dan sempak.*

*Gambar nge-link dari internet.*

Advertisements

2 thoughts on “Sempak

  1. senyaman-nyamannya sempak, tidur tanpa sempak lebih nyaman walau masih jomblo.. membebaskan sesuatu yang seharian terpenjara.. 🙄

    Like

    • Itulah Kang…. Tentunya (pakai sempak) ini di luar aktivitas mandi atau acara ranjang, termasuk buat yang juga ya?

      Saya paham, tapi lupa menuliskannya. Maklum, nasib saya mujur, saya ditakdirkan ndhak jomblo sejak 10 taon silam 😀

      BTW, sempakmu wangi ndhak Kang? 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s