Israel

Saya penyuka berita teknologi. Termasuk perkembangan mobil listrik yang seolah kini dalam masa transisi untk meninggalkan mobil berbahan bakar fosil.

Meski selama ini telah mendengar gencarnya konversi kendaraan berbahan minyak ke listrik, karena mesin berbahan bakar hidrogen yang bisa kita dapatkan -hidrogennya- dari udara bebas entah kenapa tidak ada yang meneruskan pengembangan dan massifikasi produksinya, saya tetep aja kaget membaca sebuah berita ini: …

… dilansir dari jewtube.tv, sebuah saluran/kanal yang berorientasi pada segala hal yang bernafaskan Yahudi, sebuah perusahaan bernama Phinergy telah merilis mobil testing/riset yang menggunakan aluminium–air battery.

Tidak seperti baterai konvensional yang membawa oksigen, baterai ini bebas menghirup oksigen dari udara ambien untuk melepaskan energi yang terkandung dalam logam. Yang pasti, hasil terbaik dari mesin ini adalah nol emisi dengan produktivitas yang mumpuni.

Dalam video mereka, batere ini lebih ringkes dan bisa dipakai sampai tiga ratus kilometer perjalanan.

Jika digandakan volumenya, tentu dengan batere yang ndhak makan tempat ini, mobil akan bisa melaju hingga ribuan kilometer dengan sekali charging.

Suka ndhak suka, saya pikir inilah kelak kendaraan listrik yang akan kita gunakan untuk mudik lebaran, ngangkut jemaah haji atau jemaah pengajian, menjadi kendaraan operasional PAUD & SD Islam, atau baterenya menjadi sumber energi masjid, mushalla, TK Islam, dan sebagainya.

Mungkin.

Jika iya, maka sekali lagi, dunia (semakin) dikuasai oleh Israel, negara yang kondang dengan kebiadabannya terhadap Palestina dan banyak dihujat oleh dunia, khususnya umat muslim khususnya lagi di Indonesia.

Suka-tidak suka, ini mungkin akan menjadi salah satu perangkat yang akan dibeli oleh banyak umat muslim, sekalipun kemudian akan digunakan dalam aktivitas keseharian untuk menghujat-hujat mereka lagi. Sebagaimana kita menghujat Israel dengan menggunakan fesbuk menggunakan gadget sambil makan junkfood dan minum kopi atau kola yang kesemuanya dari produsen lintas negara (multinational) yang konon berafiliasi dengan mereka.

Sederhana kata, katakanlah Israel memang membebalkan diri atas hujatan dunia, dunia muslim khususnya di Indonesia. Dan mereka dengan cuek terus menelurkan beragam produk yang terus dibeli oleh orang-orang yang menghujat mereka sekalipun: oleh kita, oleh saya. Dan atas itu semua, entah apa yang saya lakukan untuk dunia sebagai muslim ini: untuk menguasai dunia dan untuk meng-counter dominasi Israel yang mungkin justru saya dukung 99% secara tidak langsung dengan semua pembelian produk afiliasi mereka itu.

Entahlah entah apa yang saya lakukan untuk dunia sebagai muslim, rasanya tak ada.

Yang saya lakukan untuk melawan dominasi Israel ini mungkin hanya menghujat dan terus menghujat Israel, terus-menerus ngata-ngatai Zionis sepanjang masa; dan dengan begitu saya akan merasa mendapat pahala serta bisa masuk surga.

Yang saya lakukan mungkin akan memperbanyak ritual ibadah, sambil terus mengkonsumsi produk buatan mereka dan terus mengalirkan uang – sumber pendanaan kepada mereka.

Yang saya lakukan mungkin akan memperbanyak ritual ibadah, karena saya memang ndhak mengejar kesanggupan untuk bikin penemuan yang hasilnya bisa mendominasi dunia dan memberikan manfaat untuk semua manusia.

Mungkin untuk menutup malu saya ini, mending saya meyakini: bahwa tiket surga itu hanya bisa kita dapat dengan komat-kamit membaca doa, meneriakkan dalil ribuan kali; bukan dengan mengimplementasikan perintah Allah dalam Quran: menjadi khalifah untuk membangun peradaban dunia dalam tauhiditas.

Dengan semakin kuatnya hati saya menutup malu, dengan semakin tebalnya tembok pemisah kenyataan bahwa saya ini muslim tak berguna, yang hanya bisa mendudukkan Quran sebagai bahan komat-kamit bukan bahan implementasi riil dalam tugas saya sebagai khalifah muka bumi, maka akan semakin santai saya menghadapi kenyataan dominasi Israel.

Tepatnya bukan lagi saya melawan mereka, melainkan menghindar dengan mencatut nama agama. Sebab sekalipun saya melawan dengan menghindari penggunaan produk mereka, itu seperti mustahil rasanya. Makanya, mending saya menutupi diri dan menghindari kenyataan ini saja ketimbang melawan dan menghadapi dominasi Israel dengan segala konsekuensi: jatuh miskin, tak lagi pegang henpun, mobil, TV, printer, dll. Sebab saya memang pengecut paling pengecut yang pernah ada di muka bumi ini: ngata-ngatai Israel sambil terus memasok dana ke mereka dengan rutin membeli produknya.

Indahnya apa yang saya lakukan, demi sorga yang cuman impian.

So, saya ndhak boleh lagi protes kepada Tuhan: jika kelak saya hanya mendapatkan surga omongan bukan surga kenyataan, maka itu memang sudah sepantasnya saya terima. Karena saya juga hanya menjadikan agama sebagai omongan, bukan kenyataan implementatif di muka bumi ini.

Kepada Anda yang membaca posting saya ini, jangan pernah percaya omongan saya yang tidak memberikan ketentraman hati seperti sebagaimana yang telah Anda yakini selama ini.

Wallahualambisawab, Allahu Ahad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s