Islam(i)

Entah kenapa saya juga merasa menemukan Tuhan -Gusti Allah- dan Islam dari para manusia yang ‘kurang Islam(i)’ itu. Entah kenapa saya malah bisa menemukan kedamaian, kerukukan, keindahan hidup, ketenangan batin, kenikmatan alam, dan rasa kecil di hadapan-nya justru dari manusia-manusia yang ‘kurang Islam(i)’.

Entah kenapa saya justru menemukan hidup, kerinduan kepada Allah, semangat juang Rasulullah justru dari para pemulung, tukang sapu dan angkut sampah, dan para manusia jalanan yang kumuh lusuh kotor lagi lecek, yakni para manusia yang tidak berani berbuat kerusakan itu.

Kadang saya menemukan Islam di pemulung yang berjuang nyari makan buat anaknya. Selain yang mereka lakukan halal, itu juga bikin bersih dunia. Kalo liat mereka, badan langsung merinding rasanya…

Entah kenapa saya justru banyak mandapati kalamullah dari mbok warung, penjaja cenil keliling, tukang sol sepatu, tukang servis hape, tukang cuci AC, para manusia yang tidak berani mengurangi timbangan itu.

Entah kenapa saya melihat mereka semua pada mencegah perbuatan keji dan munkar: satpam perumahan, polisi yang serius berpatroli siang-malam; pak tentara yang tanpa kenal lelah menjaga bangsa ini – membuat semuanya saja bisa menggelar pengajian dengan aliran, paham, dan dogma masing-masing; angkatan laut yang berbulan meninggalkan daratan demi melindungi kita semua – kita yang benar-benar lihai menyalah-nyalahkan orang lain; pada sastrawan yang membabarkan lembaran kehidupan, pada seniman yang menelanjangi diri saya, pada budayawan yang benar-benar memberi makan pada otak saya…

Entah kenapa saya justru mendapati nurillahi pada buruh tani, tukang nggarap-mluku (membajak) sawah, pencari kayu bakar, tukang pipil jagung, penangkap ikan yang menggantungkan hidupnya bersama dari alam, yang ramah kepada alam demi hidup dan kehidupan, yang tidak menggantung alam buat hidupnya sendiri itu.

Kadang saya menemukan Islam di emak-emak yang mengais sayuran sisa atau beras tercecer di pasar (kalo kita pergi ke pasar tradisional, biasanya ada yang kayak ginian). Mereka berjuang demi makan. Dan yang mereka lakukan halal, plus mengurangi kemubadziran. Saya merinding kalo liat gituan…

Sementara di rumah, kadang saya masih milih makanan. Kadang di rumah, makanan sampe sisa. Kayaknya batal kelak saya masuk surga, kalo Tuhan sampe bilang, “Di pasar kamu liat sendiri orang ngais-ngais sisa sayuran, di rumah kamu nyisain makanan sampe kebuang!”

Merinding saya…

Entah kenapa Islam saya koq ndhak kayak yang dideskripsikan ustadz-ustadz keren bersih wangi di tipi-tipi yang sama dengan posting terus-menerus rekan-rekan fesbuk saya itu.

Ya, mungkin kata mereka, mungkin ada yang salah dengan diri dan keislaman saya. Mungkin kata mereka yang lainnya lagi tidak. Sebab yang saya tau saya ini pun ndhak tau, karena yang jelas saya ini ndhak jelas.

– Kala maghrib menjelang di kota ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s