Cinta Pertama

Ini tentang mobil koq πŸ˜€

Almarhum bapanda saya pensiunan salah satu perusahaan tambang di negeri ini. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan barang-barang teknis, dan itu menurut “standar bule”.

Termasuk kendaraan.

Seingat saya, mobil yang pertama Bapak perkenalkan kepada saya adalah Land Rover. Saya belom bersekolah kala itu.

Masih Land Rover Series, Defender belom lahir. Land Rover yang grill-nya masih melesak, belom rata. Mobil tersebut adalah kendaraan operasional perkebunan kopi milik kolega Bapak di kawasan Blitar.

Padahal saat itu Bapak sudah punya pikap Jepang, tapi justru Landie tersebut yang di-promote ke saya. Pengenalannya, “Coba kamu tendang bodinya kalo berani!”

Saya cuek aja; saya ambil ancang-ancang, saya tendang itu bodi Landie sekuat tenaga.

“Bruak!”

Saya meringis sejadinya. Bodinya ndhak apa-apa, kaki saya yang senut-senut ndhak karuan.

Untung tulang telapak kaki ini ndhak ada yang patah. Kalo ada apa-apa atau remuk, Bapak pasti jadi bulan-bulanan Ibu gara-gara ulah isengnya ke anak gantengnya ini πŸ˜€

SEJAK saat itu dan sampe hari ini, saya suka banget kalo liat poto-poto Landie, khususnya Defender. Serasa ada luapan emosional yang bagaimana gitu kalo melihatnya.

Bisa dibilang, inilah cinta pertama saya kepada kendaraan. Sekali lagi, sekalipun Bapak udah punya pikap Jepangan saat itu, tapi tidak beliau promote ke saya itu pikapnya.

Sayangnya, harga Defender, baik baru maupun sekennya, masih bagaikan bulan yang saya rindukan sebagai pungguk. Hiks…

Beranjak remaja dan dewasa, saya penggila sejati mobil Jepang. Khususnya yang gagah dan gaul. Pilihan cinta monyet saya waktu itu Suzuki Vitara, 1st gen. Liat Vitara (kemudian jadi Escudo Sidekick gitu ya namanya…) koq rasanya gimana gitu. Mulailah timbul keinginan untuk memilikinya kelak suatu saat jika punya rejeki berlebih.

Keren, gaul, pokoknya kece habis. Begitu kesan tentang compact-SUV itu.

Belom juga mimpi terwujud, eh sudah tertarik lagi sama yang lain: demen banget liat Corona Absolute. Ciamik berganda di mata saya. Manis, keren, namun juga gagah saya ngelihatnya. Dan mulailah mimpi bergeser ke mobil yang satu ini untuk bisa memilikinya kelak suatu saat jika punya rejeki berlebih.

Selanjutnya, kalo mbaca-mbaca tabloid/majalah otomotif, yang saya perhatikan selalu mopang keren yang punya identifikasi sesuai bayangan saya: keren, gagah, elegan. Masa awal-awal mengenal dunia internet sekitar era akhir 90-an, saat reformasi bergulir saya browsingnya ke pabrikan Jepang. LC100 yang barusan dirilis kala itu menjadi sesuatu yang saya pandangi dan saya idam-idamkan dalam hati. Duh kece dan gagahnya!

Namanya mimpi, maka inilah enaknya. Kita bisa membangun dan merangkai mimpi seindah keinginan dan bayangan kita. Belom kelar memimpikan LC100, Honda Maestro kemudian menggoda bayangan saya. Duh gagah dan elegannya!

Itulah mimpi besar kala itu tentang mobil. Vitara, Absolute Corona, LC100, dan Honda Maestro. Pokoknya mindset seperti apa mobil yang saya idamkan kelak, sudah terbentuk di pikiran dan benak saya. Beberapa kali dialog dengan Bapak tentang mobil Eropa ndhak saya gubris.

Saya bela mati-matian tentang mobil Jepang. Tapi Bapak selalu punya argumen yang kemudian saya ndhak bisa membantahnya.

“Mobil Eropa itu spare-part-nya mahal, Pak!”
“Apa tiap hari kamu beli parts?” | Artinya, apa sering banget siy ganti part-nya mobil Eropa? Saya diam. Bener juga.

“Dibetulin susah Pak!”
“Apa tiap hari kami mbetulin mobil?” | Artinya, kalo sehat dia lama koq masa kerja dan maintenisnya. Bener juga ya.

“Ah, mobil Eropa kalo dijual kembali harganya ambleg!”
“Kamu itu mau dagang mobil ato mau bikin nyaman badanmu sendiri?” | Bener juga ya… Pinter emang Bapak niy… πŸ˜›

Hingga sekian lama kemudian, seiring berjalannya waktu, dialog dengan Bapak tenggelam dari ingatan saya. Meski beberapa saat sebelom meninggal Bapak sempat becanda lagi dengan saya, “Kalo kelak bisa membeli mobil, kalo bisa jangan beli mobil Jepang…”

Saya ketawa aja. Ada-ada aja Bapak ini becandanya. Dan saya semakin dan tambah lupa becandaan Bapak ini sejak beliau berpulang ke rahmatullah, 2007 silam.

Menikah 2005 silam, kami pun punya mimpi sebagaimana umumnya pasangan yang baru menikah: bisa segera punya rumah dan mobil. Saya ngobrol-ngobrol dengan istri, kami punya cita-cita: pingin miara Volvo dan sebuah Vespa 4 tak buat kendaraan resmi keluarga kecil kami.

Koq Volvo?

Soale pas di Jakarta, kami sering liat Volvo yang generasi kotak gitu. Awal dipandang emang aneh, mobil koq kotak. Tapi lama-kelamaan keliatannya justru unik dan eksentrik. The box that out of the box πŸ˜€ Ndhak pasaran aja pokoknya.

Mulailah ada bibit-bibit hati bersemi ke mobil Eropa πŸ˜€

Dan kebetulan istri seleranya juga yang eksentrik. Kalo ndhak, mustahil dia mau nerima pinangan saya πŸ˜›

Kami menutup masa lajang dan menghabiskan masa awal menikah hingga lahirnya si kecil dengan terus menjadi pekerja di ibu kota Jakarta. Hingga selanjutnya kami mulai hdup baru di kampung halaman sebagai niat kami: jika punya momongan, kami ingin pulkam dan membesarkan si kecil di kampung halaman saja, membesarkan si kecil di tempat yang masih banyak sawahnya.

Cuman sayang, pas udah pulkam eh nyaris saya ndhak pernah liat Volvo di jalanan kota kecil Kediri gini. Wah alamat ndhak ada temennya dong kalo pake mobil aneh begini? Mbengkelnya juga dimana, tauk juga niy… :O

Akhirnya keinginan punya Volvo kami pendam dulu sementara.

Sempat siy lirak-lirik Blazer. Modelnya keren: bodinya gagah khas Amerika, tapi desainnya manis khas Eropa. Dan besaran dimensinya pas untuk Indonesia. Ini levelnya bener-bener bukan sekedar lirak-lirik dan tertarik, tapi kadarnya udah pada level minat, selevel dari meminang.

Namun cinta ini mesti tersimpan dulu. Soale kami butuh sedan rasanya, karena satu dan beberapa pertimbangan, termasuk pertimbangan produktivitas dan setelah sekian lama terbiasa wara-wiri dengan station-wagon Jepangan.

Saat hendak beli mobil sedan, dan akhirnya kami sekeluarga menyepakati argumen almarhum Bapak, rapat keluarga memutuskan minang BMW aja. Karena dengan spek dan kondisi yang sama, harga BMW bisa dibilang setengahnya Mercy yang sempat masuk list juga dan kemudian kami coret dengan pertimbangan murni harga.

Dengan duit sesiap minang Mercy taruh kata, bisa dapet BMW dengan keluar duit setengahnya saja. Setengahnya lagi bisa buat bensin sekolam. πŸ˜›

Enam bulan lamanya saya mempelajari tentang BMW E34, karena itu yang harganya paling murah dan kebetulan kami sekeluarga butuh space kabin yang agak lumayan lega, sambil nge-list target-target mangsa. Alhasil, ending-nya “terpaksa”-lah kami minang si Biru yang sekarang udah enam taon bersama kami ini: sebuah E34 530i tangan pertama asli Malang. πŸ˜›

Inilah BMW Serie-5 E34, mobil yang sesungguhnya tidak masuk dalam list mimpi kami. Hihihihihihihi!

Inilah BMW Serie-5 E34, mobil Eropa pertama di keluarga dan kami cinta mati dengan trim interiornya: jok kulit dan wood-panel-nya.

Inilah BMW Serie-5 E34, mobil yang suspensi rusaknya pun masih jauh lebih enak ketimbang Xeniavansa atau Ertiga yang barusan keluar dealer.

Inilah BMW Serie-5 E34, mobil sekarang kondisinya udah mengenaskan: kaki-kaki udah waktunya restorasi total, matik waktunya kuras total, mesin waktunya bongkar setengah, body juga pada penyok dihajarkan ke pager dan trotoar saat dipinjem oleh sodara, dan kaca depannya mulai buram saat hujan, serta pajak mahalnya yang mampus beberapa tahun silam ini lamanya (mau kami habiskan sampe habis STNK-nya sekalian).

Dan inilah BMW Serie-5 E34, mobil yang sekarang kami dormansikan ketimbang direstorasi, karena kondisi lalu-lintas sekarang membuat fungsionalitas daily-usage mesin V8-nya udah ndhak seoptimal 6 taon silam saat kami pinang, so mending duit restorasinya dibelikan Audi A4(B5) aja. Bisa tambah pasukan. Hehehehe…

Ya inilah BMW Serie-5 E34, mobil yang bikin kami maruk dan rasanya pingin punya satu lagi (dan mungkin lagi dan lagi)! πŸ˜›

Dan tentang Defender dan barisan mopang: Vitara, Absolute Corona, LC100, dan Honda Maestro itu, mungkin bener kata pepatah: cinta tak harus memiliki πŸ˜€

Jadi apa cinta pertama paklik/bulik sekalian?

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

3 thoughts on “Cinta Pertama

  1. woh… suatu saat pengen tatap muka dengan v8 ne pak dhe… problem yang sama nyaris menjangkiti saya pada saat 2009 an di e12… penyebabnya double barrel nggak nguati buat bbm, apalagi di jakarta haha πŸ˜†

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s