Karoserie



Kita tau, di sono pabrikan cuman bikin sasis sama mesin. Body-building-nya diserahkan ke pihak lain/perusahaan pembuat badan bis (body/coach-builder/karoserie); entah itu perusahaan lain atau anak perusahaannya sendiri. Hingga tiap karoserie akhirnya punya model body sendiri-sendiri.

Sayangnya di Indonesia tidak begini iklimnya. Karoserie Indonesia tuh rasanya koq ‘kebangeten’ ya, seperti ndhak kreatif blas bikin model sendiri. Kita cuman copas model-model asing dan ngambil printhilan body-nya: lampu, trim, dashboard dari China.

Cuman copas model-model patent dari karoserie (body/coach-builder) asing yang meriset & mengembangkan rancang bangun & bentuk/desain body sendiri, seperti: Marcopolo SA, Setra (divisi dari Evobus GmbH dh. Mercedes-Benz Bus), Irizar SA, Neoplan GmbH, dll.

Alhasil, desain body bis di sini serasa kurang proporsional. Berbeda dengan karoserie si pemilik desain aslinya. Lebih kelihatan pas, luwes, proporsional; pokoknya enak aja dilihat dan diperhatikan 😛

Paling keren siy karoserie sini mbeli lisensi desain/rancang bangun body dari mereka, karoserie si pemilik desain aslinya. Cuman masih adakah yang terus memperpanjang lisensi desain body ke karoserie asing? Kalo ada, berapa banyak yang pegang?





Sementara di China sendiri yang terkenal sebagai tukang jiplak, bis-bis sono perasaan modelnya nggak ngopas mentah dari karoserie senior macam Marcopolo SA, Setra (divisi dari Evobus GmbH dh. Mercedes-Benz Bus), Irizar SA, Neoplan GmbH, dll. gitu tuh…

Mungkin ada miripnya, dan keliatan banget kalo mereka juga “niru” desain dari karoseri senior, tapi ndhak njiplak mentah. Mungkin karena bis itu karakter bodinya yang cuman kotak gitu, makanya lebih mudah dibikin ketidakmiripannya. Beda ama mobil yang kompleks unsur desainnya, sehingga meniru-niru pun akan keliatan, apalagi kalo menjiplak/copas mentah.

Justru di kita ini yang kategorinya njiplak kalo menurut sudut pandang subyektif saya. Nunasanya serasa: “Kita bikin desain bis yang seperti anu, itu, mereka!”

Bukan lagi “Kita bikin gini, tapi jangan keliatan kalo ini seperti desainnya bis anu/itu/mereka…”

Entah lagi kalo kustomer dan operator bis di negeri ini sukanya emang tampang bis yang pleg dengan karserie asing si pemilik desain aslinya. Kalo ya seperti ini, ngasih tau pentingnya punya independensi desain dan ciri/corak khas sendiri itu mungkin seperti ngasih tau tentang brengseknya efek sinetron picisan daninfotainment kepada sekumpulan pecandunya.



Desain Industri

Industri karoserie kita memang membuat dinamika bisnis otomotif sektor bis menjadi bergeliat dan hidup. Sayangnya, kita belom bisa mengembangkan diri ke sektor lain: yakni sektor desain produksi itu tadi.

Sektor desain produksi, mestinya bisa memunculkan model bis yang original dan independen.

Karakter psikologis bis berbeda dengan kendaran kecil. Kendaraan kecil/pribadi, selain dibeli sebagai alat atransportasi, dia kadng juga menjadi ajang aktualisasi diri. Dengan kata lain: ia dibeli ya sebagai bendanya ya sebagai citranya.

Tingkat posesivitas kendaraan kecil adalah keseluruhan kendaraan itu tadi. Makanya pada kendaraan kecil, desain harus benar-benar diperhatikan untuk membahagiakan perasaan si pembeli kepada tampang kendaraannya.

Saking menyeluruh (whole)-nya aspek posesivitas kendaraan pribadi ini, sangat jamak pemilik kendaraan pribadi yang kemudian mengkustomisasi kendaraannya agar berbeda tampilannya dengan pemilik lain kendaraan yang sama. Entah mengganti velg-nya, tutup spionnya, sarung joknya, dll. Sah sejauh itu tidak menghilangkan fungsionalitas teknis & keselamatan kendaraan dan melanggar regulasi lalu-lintas jalan raya. Kalo penggantiannya semacam stop-lamp merah belakang diganti bernyala putih, itu manusia berduit tapi minus otak namanya.

Berbeda dengan bis. Bis yang sedemikian besar tentu bukan diperuntukan untuk kepemilikan pribadi (jika ada maka sementara diabaikan).

Bis lahir dan datang sebagai angkutan massal. Angkutan bersama. Di jalan-jalan besar.

Dengan karakter bis yang demikian, maka yang dicari oleh penumpang bis adalah sense kenyamanan dan kenikmatan berkendara dengan bis, siapapun si pemilik/operator bis.

Karena karakter bis adalah dinilai dari hal demikian ini, maka desain bis secara keseluruhan umumnya jarang diperhatikan oleh para penumpangnya. Apalagi penumpang bis bertrayek yang bukan bis carter.

Alhasil dapat dipahami jika perusahaan karoserie atau operator bis akhirnya serasa mengabaikan faktor desain/tampang ini.

Padahal jika mau didalami, termasuk dalam sense kenikmatan dan kenyamanan ini, selain empuknya suspensi atau empuk dan nyamannya jok bis, biasanya tampang bis juga berpengaruh.

Yang paling penting dari tampang ini biasanya adalah desain muka bis. Menyusul livery (corak/seragam)nya.

Livery biasanya terkait dengan ciri khas perusahaan otobis. Desain tampang bis, nah di sini bagiannya karoserie yang berkuasa.

Jikalau pun memang tampang bis ini tidak terlalu menyumbangkan poin besar dalam nilai jual pelayanan, setidaknya dengan menarik ke kandang sendiri untuk tahap desain tampang dan produksi printhilan body-parts ini bisa semakin menguatkan perputaran uang dan roda ekonomi di dalam negeri sendiri.

Akan banyak desainer produksi yang terlibat, dan vendor body-parts akan mengekstensi diri atau muncul vendor baru yang apapun itu diharapkan akan menambah lapangan kerja.

Dengan dinamisme industri karoserie yang selalu memproduksi bodi bis baru, harusnya sektor desain produksi khusus bis ini bisa terjamin kelangsungan hidupnya, tanpa harus melulu beli printhilan jadi dari China.

Okelah membeli printhilan jadi dari China, tapi tetep kita yang punya desain orisinal. Sukur-sukur dari desain kita, dan vendor/suplier body-parts-nya tetep dari dalam negeri; menggunakan suplier body-parts mobil yang memang sudah terkenal jagoan, handal, dan presisi membuat produk atau biar muncul perusahaan baru yang berani berdiri setelah pegang kontrak commitment.

Saya yakin kita bisa koq mewujudkan ini semua, asal ada niat dan kebijakan politis untuk mendukungnya!

Intinya persis dengan pesan Bung Karno: berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Itulah kenapa China memilih bikin barang jelek buatan negeri sendiri ketimbang maksa nyari barang bagus buatan asing. Demi mempertahankan devisi dan kekuatan ekonomi dalam negerinya sendiri.

Sebab lama-kelamaan, barang jelek itu akan bisa terus direvisi menjadi barang bagus.

Dan pada kenyataannya kita punya banyak celah untuk melindungi larinya devisa keluar negeri dan membuka lapangan kerja baru untuk kekuatan ekonomi Indonesia, termasuk dengan semakin menarik kandang industri desain produksi dan karoserie bis serta kendaraan lainnya.

Menarik lebih lebar lagi atas fenomena ini, yang saya bayangkan, jika Esemka/mobnas kita bikin sekarang trus semua fleet (armada) pemerintah wajib menggunakannya dengan harga yang ditentukan dan harga itu harus di bawah harga pasaran mobil dengan spesifikasi senada, maka Esemka/mobnas akan punya cash-flow untuk terus memutar roda operasional dan untuk mendukung riset kontinyu mereka untuk memperbaiki kualitas.

Kita punya elemen operasional pemerintahan yang berlipat-lipat banyaknya ketimbang Malaysia. Jika mobil plat merah pakai Esemka/mobnas, artinya, jaminan produksi dan pembelian fleet Esemka/mobnas di negeri ini jelas-jelas tampak nyata feasibility/kelayakannya.

Tinggal dipastikan dengan itung-itungan dan daya dukungnya. Yang mana daya dukung ini bisa dibangun dan disokongkan dengan kebijakan pemerintah. Yang penting devisa lebih tertahan keluar, uang bisa lebih banyak berputar di negeri sendiri, dan ekonomi bisa terbentuk seperti jala-jala laba-laba yang saling mengait dan menguatkan.

Untuk Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera.

CMIIW, mohon segala koreksi dan pelurusannya.

– Freema HW,
penggemar bis dan truk namun paling benci dengan polah urakan supir bis.

*Semua foto ngelink dari pemilik foto masing-masing.*

Advertisements

One thought on “Karoserie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s