Dokter & Insinyur

Kenapa ya dulu kakek-nenek kita kalo ‘ngudang’ cucu-cucunya (ngudang bahasa Indonesianya apa ya?) sepertinya melulu: belajarlah yang rajin, agar kelak jadi dokter dan insinyur.

Kenapa koq ndhak ‘ngudang’ cucunya agar jadi psikolog, sosiolog, biolog, ekolog, manajer, akuntan, ekonom, penulis, sejarawan, sastrawan, budayawan, seniman, guru, petani, nelayan, pedagang, dll. gitu ya?

Apakah di jaman mereka disiplin keilmuan itu belom ada?

Atau saat itu, pada jaman mereka – kakek/nenek kita, negara memang lagi butuh buanyak dokter dan insinyur untuk mempercepat pembangunan infrastuktur: insinyur untuk membangun bendungan, jalan raya, fasilitas pemerintahan dan fasilitas umum, gedung-gedung sekolah, jaringan listrik, pemancar radio, dll. yang akan dipergunakan oleh petani, nelayan, guru, pedagang, dll; dan dokter untuk menjaga kesehatan masyarakat yang bekerja mengsukseskan pembangunan?

Di luar negeri, rata-rata yang saya perhatikan, seluruh jenis pekerjaan dan disiplin ilmu punya derajat kemuliaan dan implementasi yang penuh kesetaraan. Sejak lama. Dan demikian harusnya.

Jerman misalnya. Negara ini ternyata bukan cuman unggul di bidang teknologinya, namun seni & sastranya teramat berkembang, pertaniannya super, pun Bundesbank itu termasuk bank paling independen sedunia, dll.

Jepang dll. juga sama. Teknologi mereka maju. Pertanian mereka kuat. Budaya mereka terjaga. Korea pun menyusul kini.

Mereka semua mengembangkan teknologi, sekaligus memepertahankan mati-matian berbagai artefak kesejarahan. Bangunan-bangunan tua mati-matian dipertahankan. Lihatlah negara-negara di Eropa atau pedesaan Jepang dan Korea, indah di semua sudutnya dengan bangunan-bangunan budaya tua yang terpelihara asri lestari.

Kondisi alam mereka bener-bener dijaga. Mereka punya apartemen menjulang tinggi, sebab tindak ingin menggusur lahan produktif untuk landed-house. Hutannya rimbun, tanaman-tanaman rindang, di mana-mana bersih tanpa sampah berserakan, dan sungai-sungainya jernih. Negeri yang serasa syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.

Intinya, di sono semua disiplin ilmu bergerak bersama dan seimbang membangun negara, membangun kehidupan.

Di sini, saya bukan hendak menghina bangsa sendiri. Sungguh (bismillahitaala) saya pribadi bersama Anda semua siapapun Anda tanpa terkecuali mudah-mudahan senantiasa tergolong sebagai pembela Pancasila dan agama serta peradaban seluruh umat manusia semuanya tanpa terkecuali. Allahuma aamiin.

Namun beginilah kondisi negara kita apa adanya. Alamnya indah rakyatnya ramah, namun kekayaan alamnya dibiarkan dijarah dan aspalnya bolong-bolong.

Jaman internet sudah gigabit, atap sekolah masih banyak yang mau ambruk.

Di sebelah sana terkumpul gedung-gedung pencakar langit dan restoran dengan harga es teh 15 rb, di sudut-sudut Indonesia masih ada anak sekolah yang bertaruh nyawa menyeberang sungai demi pelajaran eksakta, sosial, seni, agama, serta kewarganegaraan dan budi pekerti.

Di sudut-sudut Indonesia masyarakat bahu-membahu saling menolong dan menyantuni, berbagi asah, asih, asuh dan rejeki, di sisi lain sebagaian anak cerdas bangsa justru terdepak dari peran penting pembangunan negeri. Mereka harus lari ke negeri asing dan berkiprah menjadi ornag penting yang turut menentukan kelangsungan kehidupan masyarakat negara lain.

Di sudut-sudut negeri sendiri masyarakat bekerja bakti memberihkan selokan dari lumpur yang berpotensi menyumbat aliran air, di sisi lain masyarakat justru menimbuni sungai dan pinggir jalanan kita dengan sampah.

Di sono mereka sibuk membangun terowongan bawah laut demi mempercepat transportasi dan efisiensi distribusi, di sini proses perbaikan jalan raya Deandels Pantura pun serasa ingin memecahkan lama pembangunan piramida di Mesir atau tembok raksasa di China.

Apakah kondisi negeri kita ini karena kakek-nenek kita yang suka ngudang cucu-cucunya agar menjadi dokter dan insinyur (saja)?

Apakah dokter dan insinyur ini adalah jenis pekerjaan dengan derajat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya, jenis pekerjaan yang paling menentukan masa depan sebuah bangsa dan peradaban umat manusia?

Jujur, saya takut seumpama si kecil kami nanti ketemu orang sepuh, terus di-kudang kayak gitu: kalo gedhe jadi dokter atau insinyur.

Sebab saya dan istri, ndhak pernah ambil pusing anak saya kelak mau jadi apa, yang penting apa yang dia lakukan halal dan berguna bagi dirinya sendiri, sukur-sukur bagi bangsa-negara-lingkungan dan peradaban umat manusia sedunia. Ini aja yang kami hirau.

Entah kenapa pikiran iseng -kakek/nenek ngudang cucunya agar kelak gedhe jadi dokter dan insinyur- ini koq mendadak terlintas di benak saya. Saya hanya meyakini, kakek-nenek kita dulu -yang ngudang cucunya jadi dokter dan insinyur- pasti bukan hendak membedakan derajat semua pekerjaan dan disiplin keilmuan.

Mungkin, dokter dan insinyur oleh mereka digambarkan sebagai kiasan ‘orang penting, orang berguna, atau orang berilmu tinggi’. Tapi kenapa kiasannya harus dokter dan insinyur?

Entahlah… Sungguh, ini 100% bukan protes. Mungkin ini semua hanya sebagai renungan saja, tapi saya juga ingin mencari jawabnya… Pada angin yang berhembus, pada rumput yang bergoyang, pada mentari yang menyinari hari. Pada Anda semua yang telah sudi meluangkan waktu membaca posting ecek-ecek ini.

Salam.

Advertisements

One thought on “Dokter & Insinyur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s