98

Hari ini saya beneran ndhak pegang uang. Sementara si kecil harus saya jamin uang jajannya, beli buku tulisnya, juga sarapannya sebelom berangkat sekolah. Termasuk saya harus punya bensin jika mendadak harus nganter si kecil, misalnya ke dokter BPJS.

Tapi bukan ini yang saya khawatirkan.

Hari ini, saya koq mendadak khawatir negara di-98-kan oleh ‘penguasa’ moneter dunia…

Kita sudah lepas dari IMF. Utang luar negeri, meski serasa tak terjaga banyaknya, masih bisa ditahan eksponensinya. Hal-hal seperti ini tentu menakutkan dan teramat menjengkelkan bagi institusi penyelamat moneter international (baca: rentenir international).

Apalagi belakangan ini presiden RI hawanya lebih banyak mendekati Aseng ketimbang asing. Tentu ini akan jadi ancaman baru bagi ‘stabilitas dunia’. Apalagi jika kita sampe berani menolak kooptasi Aseng dan asing, mungkin 98 tidak akan jauh di mata.

Karena dengan kooptasi dalam bentuk utang luar negeri itulah kebijakan negara kita sangat bisa dan mudah untuk dikendalikan.

Beberapa fenomena penggulingan presiden mulai dihembuskan kecil-kecilan meski hembusan ini masih serasa debu di gurun pasir. Tapi bukan tidak mungkin isu ini akan dikelola, di-manage, dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga seolah akan menjadi fakta yang disahihkan oleh media massa.

Target-nya bukan (sekedar) menumbangkan presiden yang berkuasa, melainkan: membuat negara ini chaos dan semakin mudah dikendalikan.

Chaos ini akan semakin sukses bukan hanya dengan benturan emosi rakyat yang (tampil) lapar melawan orang kaya; melainkan juga bentrok antar ideologi yang sejak lama sengaja dibentuk dan ditumbuhkan pelan-pelan. Semacam ideologi antar aliran agama yang atas nama Tuhan kemudian begitu kuat memandang benar dirinya sendiri dan memandang yang lain salah; ideologi kepercayaan tradisional; ideologi politis buta; dan seterusnya.

Goal-nya, jika chaos maka perekonomian bakal morat-marit. Negara tak akan lagi punya dana untuk membiayai operasional penyelenggaraan pemerintahan. Alhasil: ada pulau yang dijual (kekayaan alamya) atau wilayah yang harus kita lepaskan kedaulatannya.

Negeri kita akan terus terkikis, baik wilayah fisik kedaulatannya maupun wilayah emosional kebangsaannya.

Sederhana.

Ilustrasi

Saya pribadi ini cuman rakyat jelata yang bener-bener sungguh tak tau apa-apa. Tak paham dunia moneter. Tak paham selisih kurs mata uang. Tak paham perdagangan internasional. Tak paham permainan harga BBM dan permainan pecah-pecah subsidi rakyat di DPR.

Saya taunya nyari makan buat anak saya dan bisa pegang uang seadanya tiap hari.

Tapi kalo dollar terus merangkak naik seperti ini, entah ini sentimen pasar semata atau ada indikasi lain: semacam persiapan penyerbuan di kancah peperangan moneter, saya sungguh tak paham.

Yang saya tau, perekonomian mestinya hanya terpengaruh oleh fenomena alam: ada gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dll. sehingga supply-demand tidak imbang dan harga terganggu serta terjadi inflasi yang itupun bakal segera mereda setelah semua tertangani.

Sementara, saat-saat sekarang ini cuaca sedang ramah menyelimuti bumi. Hujan sedang segar menyapa tanah. Embun dan matahari pagi begitu nyaman dan hangat membuka hari.

Alam sungguh sedang tidak mengganggu kehidupan, aktivitas, dan keseharian peekonomian kita semua.

Hari-hari sekarang ini seperti yang hanya saya inginkan: hari-hari yang bisa saya nikmati dengan secangkir kopi atau cengkerama bersama kerabat-keluarga serta rekan-rekan relasi kolega handai-taulan semuanya.

Namun saya begitu (menyimpan) khawatir, tersembunyi di belakang sana ada hal-hal runyam yang mengancam siap menerkam kehidupan dan masa depan rakyat jelata yang tak tau apa-apa.

Saya khawatir, negara ini berlanjut diancam dan dipaksa untuk terus menyerahkan kekayaan alamnya, meneruskan utang luar negerinya, atau kita akan di-98-kan lagi!

Saya trauma dengan masa 98. Saat itu kita semua sudah muak dengan korupsi dan bener-bener kronis, korupsi yang “dipimpin” langsung oleh sang presiden. Hingga presiden harus digulingkan untuk mengakhiri keterpurukan negeri ini.

Sayangnya semua tak seindah yang kita bayangkan. Presiden berhasil kita gulingkan, korupsi justru merajalela, membiak membelah diri seperti sel, bertransformasi dan merekonstruksi bentuk barunya, dan gagal kita tumpas hingga hari ini.

Saya trauma dengan masa 98. Saat kaca mobil dipecahi oleh entah siapa pelakunya. Saat kami berdemontsrasi dengan tertib dan sopan, hanya makan setengah jalur jalan, sementara di belakang sana sekelompok manusia yang tidak kita kenal dan bukan bagian dari perjuangan kita dengan riang meledakkan segala aksi dan tindak anarkis. Membabi buta menyerang rakyat tak berdosa dan tak tau apa-apa. Menebar teror ketakutan atas kedamaian dan kesucian semangat juang menyelamatkan negeri ini.

Ada yg nyuruh mahasiswa demo besar-besaran, dan ada yg nyusup bikin onar dari dalamnya. Ada yg nyuruh tentara turun ke lapangan, dan tak jelas siapa yang nembaki para mahasiswa.

Mahasiswa dan tentara kemudian sama-sama menjadi korban.

Siapa di belakang itu semua? Yang kita ketahui cuman kambing hitamnya belaka.

Kita tak pernah tau siapa dalang tak terlihat di belakang semuanya. Yang mungkin hanya satu pihak saja yang berdiri di dua pijakan.

Dan kita semua adalah korban.

Pecah kaca rumah. Berterbangan bebatuan di jalanan. Hancur pohon dan taman-taman nan elok dengan tanaman. Ludes toko dan segala bangunan. Nyaris lenyap segala tatanan kehidupan dan kemasyarakatan.

Kita telah sukses memporak-porandakan negeri sendiri ini dengan peristiwa 98. Dan kini kita justru semakin sukses melanjutkan kehancuran dengan menyerakkan sampah di jalanan atau membuang sekenanya sesuka kita di sesungaian.

Bangsa ini masih belom lulus dari level dasar kehidupan tatanan kemasyarakatan.

Waspadahal.

Apapaun yang terjadi, hanya satu kata kunci untuk meredam kelakuan orang bejat yang dengan sadar dan sengaja hendak memecah-belah dan menghancurkan negeri ini: JAGA KERUKUNAN!

Hindari bentrok dan segala perpecahan. Salinglah tolong dan memaafkan.

Hiks…

MAAF, bukannya menebar semangat, yang saya justru menebar kengerian dan ancaman. Bukannya berbagi optimisme, saya justru menakut-nakuti Anda semua dengan posting ini.

Bukan, saya bukan menginginkan 98 terjadi dan berulang lagi.

Saya seperti Anda, justru ingin negeri ini nyaman, aman, sentosa. Rakyat bisa bekerja dengan tenang dan segala peraturan ketertiban ditaati.

Negeri ini harus aman dari ancaman peristiwa 98. Dengan cara harus lepas dari kooptasi dan hegemoni asing. Dari tekanan ekonomi dan moneter.

Itulah satu-satunya jalan kita bisa merdeka bulat, berdaulat sepenuhnya. Berdiri di atas kaki kita sendiri. Lepas dari penjajahan ekonomi asing.

Saya hanya ingin bisa terus menikmati hari dengan kopi. Bersama embun dan sinar matahari pagi yang segar dan indah membuka hati. Hangat menyelimuti bumi. Sehangat cinta kita kepada Indonesia, negeri anugerah Sang Maha Kuasa ini.

Mari kita cintai (kembali) Indonesia ini. Jangan pernah menggulingkan negeri sendiri dengan cara dan dalih apapun.

Waspadalah terhadap kelakuan orang bejat yang dengan sadar dan sengaja hendak memecah-belah dan menghancurkan negeri ini. JAGA KERUKUNAN! Hindari bentrok dan segala perpecahan. Salinglah tolong dan memaafkan.

Mari saling berjabat erat, bahu-membahu menguatkan tatanan kehidupan.

Sebisa mungkin hindari dan jauhi barang impor. Makan dengan apa yang bisa kita tanam dan kita petik – kita panen dari negeri sendiri.

Anda yang punya lahan dan hendak membangun rumah, persempitlah sedikit luasan rumah Anda atau perlebarlah vertikal ke atas, bukan horisontal menyamping. Sisakan sebanyak mungkin lahan untuk Anda tanami dengan segala sesuatu yang bisa Anda petik langsung untuk survival: bayam, cabe, ubi dan umbi-umbian, dll.

Jangan pernah tergoda kredit konsumsi. Gunakan kredit hanya untuk kegiatan produksi yang penting dan signifikan. Jangan terlalu gegabah mengembangkan usaha dengan hutang. Kembangkan secara alamiah. Jadikan hutang hanya untuk kondisi darurat.

Tahan godaan untuk beli mobil jika dengan motor saja semua aktivitas kita sudah terkover. Tahan untuk kredit mobil baru jika mobil lama masih layak pakai dan bisa direstorasi/direkondisi dengan laik teknis.

Taati semua peraturan negara. Jangan gunakan trotoar untuk berjualan, jangan buang sampah sembarangan, jangan mepet kanan saat belok kanan, dan selalu nyalakan sein saat berbelok baik ke kiri apalagi ke kanan. Jangan makan hak orang lain, laporkan segala pungli dan korupsi yang kita ketahui. Genggam tangan erat-erat jika ada suap yang ditawarkan untuk kita.

Dengan demikianlah kita bisa menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan anak-cucu, serta menyelamatkan Indonesia dan kehidupan ini.

Apa yang kita dapat (=harta) di dalam hidup ini tak pernah terbawa mati. Kecuali apa yang kita keluarkan (=amal) belaka.

Ingat, usai mati, kita hidup lagi.

Ya Allah, lindungi dan selamatkanlah bangsa dan negeri ini senantiasa. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan memohon segala pertolongan. Allahu Ahad..

– Freema HW
bedebah paling bedebah di negeri ini.

Advertisements

One thought on “98

  1. 98 bagaikan bom waktu, cepat atau lambat akan terulang, kerusuhan yang rawan terjadi di negara-negara berkembang (sebetulnya bisa dikatakan miskin walau sumber daya alamnya kaya raya) seperti di beberapa negara asia tenggara, timur tengah, dan afrika.

    disaat tekanan hidup makin susah, daya beli menurun, inflasi besar-besaran, nilai tukar mata uang melemah, pemangkasan buruh dimana-mana, pengusaha gulung tikar, kriminalitas meningkat, dll.
    itulah saat dimana bom tersebut akan meledak.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s