Public Friends

Saya sebenarnya jarang banget meng-setting status/posting di FB saya dengan setting-an publik. Biasanya setting-an friends saja. Karena saya pribadi memang ingin menggunakan fesbuk untuk menjembatani jarak dan waktu serta berdialektika tentang dunia dengan rekan-rekan baik saya saja:

tentang dunia & kehidupan, tentang masa depan peradaban, temtang bumi dan alam raya, tentang anak-anak bangsa dan hari-hari riang mereka, atau sekedar mengata-ngatai pelaksana pemerintahan yang ndhak pecus memegang sumpah-amanah dan mentertawai diri sendiri karena kita persis kayak mereka.

Dan tentunya untuk membicarakan mimpi dan khayalan, yakni sesuatu yang mewarnai ikhtiyar dan tawakal dalam kehidupan ini.

Tapi belakangan saya jadi banyak-banyak membuka setting posting-an jadi publik.

Sebab ada reaksi yang harus saya suarakan, mengingat mulai enegnya alur posting yang mengalir di tembok ratapan… eh, wall fesbuk saya yang sepertinya memang seolah sengaja memancing reaksi orang alih-alih menyuarakan ide untuk diskusi dan diskursus.

Mereka membanjiri wall fesbuk dengan beragam posting dogmatis. Yang jika dilawan dengan diskursus dan diskusi berbasis obyektivitas, jawabnya selalu semacam fatwa; yakni segala jawaban yang mematikan fungsi dan kinerja otak – bagian tubuh anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa ini.

SAYA tak tau kapan setting publik untuk posting-posting saya ini harus berakhir.

Mungkin jika sudah tidak ada akun picisan (=anti diskusi dan diskursus) yang memancing reaksi lagi di timeline/wall saya, saya akan kembali menutup setting publik -atau membukanya hanya pada posting tertentu saja- dan cukup posting silaturahmi online dengan seluruh kawan terbaik saya dengan setting-an friends saja;

serta kembali cukup menyibukkan diri dan memfokuskan penggunaan fesbuk untuk mengikuti membicarakan fenomena seputar dunia BMW/otomotif di group-group otomotif yang nyaman saya ikuti itu saja.

Saya sungguh berharap demikian ini, saya sungguh berharap setting-an public pada posting-posting saya segera berakhir (atau muncul untuk post tertentu saja) dan kembali ke setting-an friends yang menyenangkan.

Saya sungguh berharap demikian ini.

Maaf curcol, terima kasih bersedia membaca. Semoga kita semua dilimpahi kesehatan senantiasa, allahuma aamiin.

Advertisements

Islam Harus Dipisah Dengan Nasionalisme

Ilustrasi.

Si Ustadz Felix Siauw bener-bener hebat. Dia konsisten menyuarakan bahwa nasionalisme tiada dalilnya, sementara membela Islam jelas dalil dan pahalanya.

Dan pengikutnya buanyak. Kebanyakan anak muda yang berkembang pada jaman internet ini, anak muda yang mungkin tidak mengenal masa MTV.

Kampanye terakhirnya adalah Wali Songo dulu itu mengislamkan nusantara, bukan menusantarakan Islam.

Ini jelas-jelas sekedar permainan kata yang saya akui sangat cerdas. Misi agitasinya jelas: seolah nusantara ini bangsa pandir yang tidak memiliki akar budi pekerti sehingga harus didatangi Islam untuk menjadi manusia.

Padahal selama ini sintesa yang ada dan terbentuk di mayoritas muslim Indonesia begitu gagas dan bernas: kita ini bangsa nusantara yang memiliki akar, akar yang menancap kokoh di tanah Ibu Pertiwi, yakni akar budaya dan budi pekerti …

… kemudian dengan datangnya ajaran Islam, akar budaya kita tetap menancap kuat; sementara tumbuh, batang, dahan, dan dedaunan kehidupan kita ini memekar dengan semburatan nan Islami: setiap saat senantiasa merindukan kerukunan dan kontinyu membangun perdamaian; setiap saat berlomba-lomba saling asah-asih-asuh, gotong royong, tolong-menolong, dan segala hal dalam kebaikan; dan menjaga segala warisan kearifan lokal dan budi pekerti luhur yang memang inilah akar tumbuh bangsa nusantara ini.

Namun kini semuanya hendak dinihilkan oleh Si Ustadz Felix Siauw dan barisan komplotannya.

ISLAM itu benar. Indonesia itu besar. Karena itu perlu dipertentangkan dan dipisahkan antara islam dengan indonesia, agar bangsa ini hancur, dan kekayaan alam negeri ini terus lancar dijarah asing.

Coba kalo kebenaran Islam justru dipertemukan dengan kebesaran Indonesia, maka bangsa ini akan menakutkan bagi dunia.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, maka bangsa ini ndhak bakalan mau tunduk kepada kooptasi dan hegemoni asing.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, bangsa ini tidak akan pernah tergantung pada utang luar negeri, ngemis teknologi pada bangsa asing, dan mendudukkan ekspatriat sebagai manajer sementara warga pribumi sebagai bawahan.

Sebab dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, kita akan bisa ikut menentukan arah politik dunia. Kita akan kuat membantu negara lain yang terancam dipecah dengan perang dan dijarah kekayaan alamnya. Kita bisa menyantuni dan memberikan kail kepada negara-negara yang kekurangan.

Tidak seperti ini, negara miskin tetap terus dimiskinkan dengan kontinyu dijarah kekayaan alamnya, dan bantuan asing datang seolah bak malaikat sebagai CSR (corporate sin removal). Padahal faktualnya, di belakang itu semua, kontraktor gali tambang sudah siap dengan segala peralatan usai satu bangsa sukses diperangkan.

Dengan kebesaran kearifan lokal dan kekayaan alam yang luar biasa, jika didukung dengan kebenaran keislaman yang mengakar pada sejarah dan kultural, bangsa nusantara Indonesia ini akan begitu menakutkan bagi dunia.

Semua yang ingin menguasai Indonesia sudah membaca dan teramat mamahami ini.

Oleh karena itu, strategi yang paling sederhana adalah memisahkan Islam dengan Indonesia. ==> Islam dilarang dikaitkan dengan nasionalisme, dan nasionalisme jangan sampe dikaitkan dengan keislaman. Sebab kalo semua muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka negeri ini akan memiliki benteng pertahanan yang sempurna.

Jika Islam berhasil dipisah dengan nasionalisme, maka negeri ini akan terpecah. Terpecah antara yang membela Islam teoritis dan membela nasionalisme chauv semata. Dengan demikian, energi negeri ini akan habis untuk bertikai.

Bayangkan jika muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka negeri ini akan memiliki benteng pertahanan yang sempurna. Rakyat negeri ini tidak akan terpecah belah. Sebab kita akan menyadari bahwa negeri ini adalah milik Allah yang memang dianugerahkan kepada kita untuk digunakan bersama membangun peradaban.

Bayangkan jika muslim di negeri ini bisa menyatukan keislaman dan nasionalisme, maka bakal susah bagi mereka yang datang hendak menjarah.

Bukankah kalangannya Ustadz Felix Siauw juga menentang penjarahan atas kekayaan negeri ini?

Sederhana saja, menentang penjarahan kekayaan alam negeri ini, itulah salah satu bentuk besar nasionalisme. Lantas kenapa mereka meneriakkan anti-nasionalisme?

Sederhana saja, mereka telah medefinisikan ulang makna nasionalisme yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 45 itu dengan makna sekeendak mereka. Saya yakin ini: sekehendak mereka, bukan sekehendak Islam!

Kenapa koq saya begitu meyakini?

Sebab sama-sama umat Islam yang sama-sama memegang teguh tauhid sekligus memiliki keilmuan historikal Islam terbelah jadi dua di sini:

  • umat Islam yang menyatukan Islam dan nasionalisme, sebagaimana telah terbentuk dan terbangun sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga hari ini dan mudah-mudahan kelak, yang masih konsisten memperjuangkan bangsa dan negara ini agar bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi; dan
  • umat Islam yang memisahkan Islam dan nasionalisme, yakni mereka kaum entah siapa yang datang setelah negeri ini sekian lama tertaih-tatih mengisi kemerdekaannya dengan segala darah dan kepedihan perjuangan mengisi kemerdekaan, yang datang dengan memberikan mimpi baru agar negeri ini bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi.

Lho, bukankah keduanya sama-sama menginginkan negeri ini bebas dan terlepas dari penjajahan oleh antek asing dan oleh segelintir manusia bajingan dari dalam negeri sendiri, merebut kembali kekayaan alam negeri ini dan membasmi korupsi?

Ya! Bedanya:

  • yang satu masih menjaga kearifan lokal, sehingga bangsa ini tetap punya akar budaya dan budi pekerti alaminya, kekayaan alam tetap dikuasai sndiri namun dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama dan membela perdamaian dan ketertiban dunia;
  • satunya ingin memberangus kearifan lokal, sehingga kekayaan alam negeri ini masih dimungkinkan lepas dari antek asing tapi berpindah ke antek asing lainnya, yang kali ini mencatut nama Islam.

Percayalah, kekayaan alam negeri ini adalah gunung emas harta karun. Dan sederhana, di depan harta kayak gini, ‘agama’ semua orang bakal sama.

Karena itu, tinggal dilihat apakah bangsa Indonesia ini menggunakan kekayaan alamnya untuk mengembangkan agama (orang nusantara yang menjadi Islam), atau orang-orang berhasil datang dengan bendera Islam untuk (merebut) kekayaan nusantara.

Maka yang terjadi hanya ada dua kemungkinan saja:

  • Islam dan nasionalisme disatukan, atau
  • Islam dan nasionalisme dipisah.

Kepentingan di belakangnyalah yang sesungguhnya berbicara.

Sederhana sekali untuk dipahami.

Bagi yang mau memahami.

– Freema HW,
turut melacurkan kekayaan alam nusantara dengan mengkonsumsi besar-besaran barang Israel.

* Semua foto ngelink dari internet.

Pisang

Sejumlah warga di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menanam belasan pohon pisang di tengah jalan antarkampung di wilayah mereka yang rusak parah karena tak kunjung diperbaiki pemerintah daerah setempat.

“Kami terpaksa melakukannya karena jalan rusak ini sudah berkali-kali mencelakakan pengguna jalan,” kata seorang warga. … titik penanaman pisang tidak diatur secara rapi. Warga menanam di setiap ruas jalan yang berlubang cukup dalam.

“Kami kecewa, karena sudah setahun lebih jalan ini rusak parah tapi tak kunjung diperbaiki,” timpal warga lainnya tak mau kalah.

Yang di benak saya: warga yang bersedia menyumbangkan pohon pisangnya untuk ditanam di kubangan jalan ini bener-bener dermawan! Semurah-murahnya pisang, andai itu pohon dibiarkan terus tumbuh dan berbuah di pekarangan, harga setandannya bukan lagi lumayan, tapi asoy geboy!

Dengan dimigrasikannya kawanan pohon pisang oleh komplotan warga menjadi rambu alam untuk melindungi para pengendara dari potensi kecelakaan (saya mau nulis sebagai bentuk protes dari warga setempat kepada pemerintah, koq ndhak tega; ndhak tega kepada warga setempat kalo sampe mereka tau bahwa protes mereka biasanya diabaikan dan cukup jadi angin lalu. Atau kalo toh diperbaiki, biasanya nunggu anggaran periode pasca-kiamat) maka bisa jadi kelangsungan hidup si pohon pisang jadi terancam.

Sebab memang habitat si pohon pisang itu ada di pekarangan/perkebunan, bukan di tengah jalan.

Kasihan; manusia yang punya polah dan kehendak, pohoh pisang yang jadi korban…

Ketimbang warga repot nanem pohon pisang, mending di kubangan jalan pasangi aja mercon bumbung. Tapi tungguin, dan sumet (nyalakan) pas ada plat merah nopol satu angka lewat.

Itu juga kalo lewat siy… Biasanya, bakal sia-sia juga penantiannya warga.

Entahlah… Wong saya ini keparat, bukan aparat yang punya kewajiban, tugas, dan tanggung jawab ngerawat dan menjaga jalan raya agar ndhak bikin pengendara sekarat meregang nyawa.

Serius, saya ini keparat yang kewajiban saya cuman nyacat. Kalo ndhak nyacat, artinya saya gagal dong jadi keparat? (Atau jika dibalik, kalo ndhak menjaga dan merawat jalanan tempat orang-orang lewat, gagal dong Anda jadi aparat?)

Sebab kalo ndhak ada keparat macam saya, trus siapa yang dijadikan sasaran laknat? Atau jika dibalik, kalo ndhak ada aparat macam Anda, siapa yang meneruskan anugerah nikmat dari Sang Maha Berkat?

Ref. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/150325/warga-tanam-pohon-pisang-di-jalan-rusak Foto http://beritagar.com/p/tanam-pisang-di-jalan-protes-ala-rakyat-19306

Sempak

Sempak adalah bahasa Jawa untuk celana dalam. Tapi saya ndhak tau historikal kemunculan kata sempak ini dalam penbendaharaan kosakata Jawa.

Cawat bahasa lamanya. Dan secara empiris, jika mendengar kata sempak, maka yang ada di bayangan kita-kita yang biasa dengan enteng mengucapkannya ini adalah celana dalam laki-laki. Dan setelah mengucapkan kata sempak, biasanya kami-kami ini akan tertawa. Menyenangkan. Menyenangkan bisa menertawakan diri sendiri.

Entah kenapa juga kami-kami ini tertawa setelah mengucapkan kata sempak. Padahal benda itu saban hari selalu bersama kami, bersama kita-kita semua. Justru bermasalah jika dalam aktivitas sehari-hari kita lepas dari sempak; pasti ada sesuatu yang gimanaaa gitu.

Tentunya ini di luar aktivitas mandi atau acara ranjang bersama istri. Yang kadang nyantolnya sempak di selangkangan malah bikin situasi dan kondisi jadi nggregisi. Apa ya bahasa Indonesia untuk nggregisi? 😛

Saking akrabnya sempak dengan hidup dan keseharian kita, kita semua sudah diperkenalkan dengan sempak sejak dini. Sedini mungkin.

Saking penting dan perlunya sempak, bahkan sekalipun kesulitan uang, kita tetep akan terus mengenakan sempak, sekalipun itu sobek-sobek dan bolong-bolong. Yang penting barang penting tertutupi. Yang utama barang utama terjaga, ndhak gemandhul kampul-kampul.

Sempak bekas -yang kolornya sudah mati atau sobeknya ndhak karuan- pun masih jadi barang berharga. Jujur, di rumah saya biasa mendisposisi tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sempak bekas ke jalur lain. Biasanya siy jadi serbet, karena bahan katun pada sempak itu cukup nyaman untuk mengelap sesuatu. Dan biasanya lagi serbet buat sesuatu yang “kotor”. Macam serbet di garasi atau di lini lain yang “(tidak) semestinya” bagi sempak bekas.

Obyektivitas Sempak Bekas

Ya, gara-gara sempak bekas inilah akhirnya saya jadi kehilangan obyektivitas! Gara-gara rumor (tidak) “semestinya” bagi sempak bekas inilah otak saya nyaris mati!

Sempak adalah sempak. Ia barang mati. Kitalah yang memberikannya, menginjeksinya dengan fungsi dan nilai. Termasuk nilai rasa.

Sempak itu sedemikian berguna dan berjasanya dalam keseharian kita. Sekali lagi, bayangkan Anda sekolah, meeting dengan klien, atau ngarit padi di sawah ndhak pake sempak seharian; kayak gimana rasanya coba?

Tapi jasa besar sempak ini kita lecehkan dengan penilaian yang berseberangan dengan prestasinya. Sempak itu menjijikkan. Sempak itu nggilani. Dan sejenisnya. Demikian ini penilaian kita bukan?

Kenapa nggilani? Apakah sempak yang akan kita pakai pasti penuh kuman? Kalo iya, hiyyy… Ini baru nggilani.

Tapi kalo sempak kita bersih, dicuci dengan pewangi dan pelembut pakaian apalagi deterjennya anti-kuman dan anti-noda, dan setelah diukur dengan tester hasilnya dinilai aman dari kuman, yang mana nggilaninya?

Apakah sempak itu nggilani karena ia nempel terus di satu barang terurus kita?

Kalo sempak itu nggilani karena nempel di situ, maka konklusi bijaknya harusnya: barang kita itu (juga) nggilani!

Saya ndhak pernah sepakat ini!

Barang permana kita itu aurat, jimat, keramat; sekalipun bisa jadi nikmat atau malah maksiat. Tergantung kita menggunakannya. Karena satu barang itu doang punya beragam fungsi dan posisi inilah maka ia harus dijaga.

Dijaga kesehatannya agar sebisa mungkin ndhak kena penyakit. Dijaga penggunaannya agar bisa berfungsi normal. Dan dijaga peletakkannya, lebih khusus: penyarangannya, atau penusukannya, atau ..itulah pokoknya 😀 agar tidak menimbulkan bahaya, yakni hal apapun yang merugikan.

DASAR fungsinya untuk menjaga barang berharga, maka sudah sepantasnya dan seharusnya sempak juga bekerja menurut fungsinya. Maka, aneh saja jika kemudian kita menggunakan sempak setelah bercelana. Karena bisa jadi fungsionalitas si sempak akan terganggu. Atau fungsinalitas celana yang melindungi kaki, kulit, dan memberikan estetika penampilan jadi terganggu.

Karena fungsi dan tugasnya memang harus sembunyi saat bekerja, maka estetika sempak pun adalah estetika tersembunyi. Estetika yang bisa kita buka dalam kesembunyian. Sederhananya demikian.

Jika sempak dianggap tidak berestetika, ini super relatif. Bisa sangat iya bisa sangat tidak. Tergantung situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan. Wajar jika sempak dikupas estetikanya, manusia memang punya nilai estetika. Tuhan aja penyuka keindahan koq!

Tapi kalo dianggap nggilani, menjijikkan, saya menolak! Sebab hakikatnya barang nggilani itu adalah barang yang kita tolak, kita buang jauh-jauh dari hidup, dan kita upayakan tidak melekat pada diri kita. Misal bakteri berbahaya, virus yang merusak, atau korupsi. Itu baru beneran nggilani, pake polll. Sesuatu yang harus dibasmi.

Kalo barang kita dan sempak kita dianggap nggilani, saya pribadi menyepakati otak kitalah yang haru dicuci. Otak kitalah yang sebenarnya nggilani -perlu dibersihkan- jika sampe menganggap sempak yang bersih dan barang kita itu nggilani.

Kumanlah yang nggilani, bukan sempak-nya. Dan jika ada sempak bersih dianggap nggilani, maka otak kitalah yang sesungguhnya nggilani. Nggilani karena ndhak bisa menilai obyektif.

Artinya, jika sempak kita terbebas dari kuman, mungkin kami pun akan bisa juga menggunakannya dengan nyaman untuk ngelap piring, gelas, sendok, dan garpu. Bukan sekedar melempar ke garasi.

Paling yang risih adalah Anda yang tau seandainya piring, gelas, sendok, dan garpu di rumah kami, kami lap pake sempak. Sempak yang kami cuci bersih dan Insya Allah bebas kuman; lebih bersih dari otak Anda yang masih mendakwa dan memfatwa kalo sempak itu pasti nggilani, sementara korupsi itu ndhak nggilani.

Ada yang mau makan di rumah saya? Silakan kemari jika ada yang mau, tapi maaf bener-bener seadanya dan mutlak apa adanya, bukan mengada-ada seadanya tapi adanya apa-apa.

*Sambil megang piring dan sempak.*

*Gambar nge-link dari internet.*

Israel

Saya penyuka berita teknologi. Termasuk perkembangan mobil listrik yang seolah kini dalam masa transisi untk meninggalkan mobil berbahan bakar fosil.

Meski selama ini telah mendengar gencarnya konversi kendaraan berbahan minyak ke listrik, karena mesin berbahan bakar hidrogen yang bisa kita dapatkan -hidrogennya- dari udara bebas entah kenapa tidak ada yang meneruskan pengembangan dan massifikasi produksinya, saya tetep aja kaget membaca sebuah berita ini: …

… dilansir dari jewtube.tv, sebuah saluran/kanal yang berorientasi pada segala hal yang bernafaskan Yahudi, sebuah perusahaan bernama Phinergy telah merilis mobil testing/riset yang menggunakan aluminium–air battery.

Tidak seperti baterai konvensional yang membawa oksigen, baterai ini bebas menghirup oksigen dari udara ambien untuk melepaskan energi yang terkandung dalam logam. Yang pasti, hasil terbaik dari mesin ini adalah nol emisi dengan produktivitas yang mumpuni.

Dalam video mereka, batere ini lebih ringkes dan bisa dipakai sampai tiga ratus kilometer perjalanan.

Jika digandakan volumenya, tentu dengan batere yang ndhak makan tempat ini, mobil akan bisa melaju hingga ribuan kilometer dengan sekali charging.

Suka ndhak suka, saya pikir inilah kelak kendaraan listrik yang akan kita gunakan untuk mudik lebaran, ngangkut jemaah haji atau jemaah pengajian, menjadi kendaraan operasional PAUD & SD Islam, atau baterenya menjadi sumber energi masjid, mushalla, TK Islam, dan sebagainya.

Mungkin.

Jika iya, maka sekali lagi, dunia (semakin) dikuasai oleh Israel, negara yang kondang dengan kebiadabannya terhadap Palestina dan banyak dihujat oleh dunia, khususnya umat muslim khususnya lagi di Indonesia.

Suka-tidak suka, ini mungkin akan menjadi salah satu perangkat yang akan dibeli oleh banyak umat muslim, sekalipun kemudian akan digunakan dalam aktivitas keseharian untuk menghujat-hujat mereka lagi. Sebagaimana kita menghujat Israel dengan menggunakan fesbuk menggunakan gadget sambil makan junkfood dan minum kopi atau kola yang kesemuanya dari produsen lintas negara (multinational) yang konon berafiliasi dengan mereka.

Sederhana kata, katakanlah Israel memang membebalkan diri atas hujatan dunia, dunia muslim khususnya di Indonesia. Dan mereka dengan cuek terus menelurkan beragam produk yang terus dibeli oleh orang-orang yang menghujat mereka sekalipun: oleh kita, oleh saya. Dan atas itu semua, entah apa yang saya lakukan untuk dunia sebagai muslim ini: untuk menguasai dunia dan untuk meng-counter dominasi Israel yang mungkin justru saya dukung 99% secara tidak langsung dengan semua pembelian produk afiliasi mereka itu.

Entahlah entah apa yang saya lakukan untuk dunia sebagai muslim, rasanya tak ada.

Yang saya lakukan untuk melawan dominasi Israel ini mungkin hanya menghujat dan terus menghujat Israel, terus-menerus ngata-ngatai Zionis sepanjang masa; dan dengan begitu saya akan merasa mendapat pahala serta bisa masuk surga.

Yang saya lakukan mungkin akan memperbanyak ritual ibadah, sambil terus mengkonsumsi produk buatan mereka dan terus mengalirkan uang – sumber pendanaan kepada mereka.

Yang saya lakukan mungkin akan memperbanyak ritual ibadah, karena saya memang ndhak mengejar kesanggupan untuk bikin penemuan yang hasilnya bisa mendominasi dunia dan memberikan manfaat untuk semua manusia.

Mungkin untuk menutup malu saya ini, mending saya meyakini: bahwa tiket surga itu hanya bisa kita dapat dengan komat-kamit membaca doa, meneriakkan dalil ribuan kali; bukan dengan mengimplementasikan perintah Allah dalam Quran: menjadi khalifah untuk membangun peradaban dunia dalam tauhiditas.

Dengan semakin kuatnya hati saya menutup malu, dengan semakin tebalnya tembok pemisah kenyataan bahwa saya ini muslim tak berguna, yang hanya bisa mendudukkan Quran sebagai bahan komat-kamit bukan bahan implementasi riil dalam tugas saya sebagai khalifah muka bumi, maka akan semakin santai saya menghadapi kenyataan dominasi Israel.

Tepatnya bukan lagi saya melawan mereka, melainkan menghindar dengan mencatut nama agama. Sebab sekalipun saya melawan dengan menghindari penggunaan produk mereka, itu seperti mustahil rasanya. Makanya, mending saya menutupi diri dan menghindari kenyataan ini saja ketimbang melawan dan menghadapi dominasi Israel dengan segala konsekuensi: jatuh miskin, tak lagi pegang henpun, mobil, TV, printer, dll. Sebab saya memang pengecut paling pengecut yang pernah ada di muka bumi ini: ngata-ngatai Israel sambil terus memasok dana ke mereka dengan rutin membeli produknya.

Indahnya apa yang saya lakukan, demi sorga yang cuman impian.

So, saya ndhak boleh lagi protes kepada Tuhan: jika kelak saya hanya mendapatkan surga omongan bukan surga kenyataan, maka itu memang sudah sepantasnya saya terima. Karena saya juga hanya menjadikan agama sebagai omongan, bukan kenyataan implementatif di muka bumi ini.

Kepada Anda yang membaca posting saya ini, jangan pernah percaya omongan saya yang tidak memberikan ketentraman hati seperti sebagaimana yang telah Anda yakini selama ini.

Wallahualambisawab, Allahu Ahad.

Islam(i)

Entah kenapa saya juga merasa menemukan Tuhan -Gusti Allah- dan Islam dari para manusia yang ‘kurang Islam(i)’ itu. Entah kenapa saya malah bisa menemukan kedamaian, kerukukan, keindahan hidup, ketenangan batin, kenikmatan alam, dan rasa kecil di hadapan-nya justru dari manusia-manusia yang ‘kurang Islam(i)’.

Entah kenapa saya justru menemukan hidup, kerinduan kepada Allah, semangat juang Rasulullah justru dari para pemulung, tukang sapu dan angkut sampah, dan para manusia jalanan yang kumuh lusuh kotor lagi lecek, yakni para manusia yang tidak berani berbuat kerusakan itu.

Kadang saya menemukan Islam di pemulung yang berjuang nyari makan buat anaknya. Selain yang mereka lakukan halal, itu juga bikin bersih dunia. Kalo liat mereka, badan langsung merinding rasanya…

Entah kenapa saya justru banyak mandapati kalamullah dari mbok warung, penjaja cenil keliling, tukang sol sepatu, tukang servis hape, tukang cuci AC, para manusia yang tidak berani mengurangi timbangan itu.

Entah kenapa saya melihat mereka semua pada mencegah perbuatan keji dan munkar: satpam perumahan, polisi yang serius berpatroli siang-malam; pak tentara yang tanpa kenal lelah menjaga bangsa ini – membuat semuanya saja bisa menggelar pengajian dengan aliran, paham, dan dogma masing-masing; angkatan laut yang berbulan meninggalkan daratan demi melindungi kita semua – kita yang benar-benar lihai menyalah-nyalahkan orang lain; pada sastrawan yang membabarkan lembaran kehidupan, pada seniman yang menelanjangi diri saya, pada budayawan yang benar-benar memberi makan pada otak saya…

Entah kenapa saya justru mendapati nurillahi pada buruh tani, tukang nggarap-mluku (membajak) sawah, pencari kayu bakar, tukang pipil jagung, penangkap ikan yang menggantungkan hidupnya bersama dari alam, yang ramah kepada alam demi hidup dan kehidupan, yang tidak menggantung alam buat hidupnya sendiri itu.

Kadang saya menemukan Islam di emak-emak yang mengais sayuran sisa atau beras tercecer di pasar (kalo kita pergi ke pasar tradisional, biasanya ada yang kayak ginian). Mereka berjuang demi makan. Dan yang mereka lakukan halal, plus mengurangi kemubadziran. Saya merinding kalo liat gituan…

Sementara di rumah, kadang saya masih milih makanan. Kadang di rumah, makanan sampe sisa. Kayaknya batal kelak saya masuk surga, kalo Tuhan sampe bilang, “Di pasar kamu liat sendiri orang ngais-ngais sisa sayuran, di rumah kamu nyisain makanan sampe kebuang!”

Merinding saya…

Entah kenapa Islam saya koq ndhak kayak yang dideskripsikan ustadz-ustadz keren bersih wangi di tipi-tipi yang sama dengan posting terus-menerus rekan-rekan fesbuk saya itu.

Ya, mungkin kata mereka, mungkin ada yang salah dengan diri dan keislaman saya. Mungkin kata mereka yang lainnya lagi tidak. Sebab yang saya tau saya ini pun ndhak tau, karena yang jelas saya ini ndhak jelas.

– Kala maghrib menjelang di kota ini.

Indonesia

Kasihan negeri ini, Indonesia.

Para pendiri negeri ini sudah jelas meletakkan dasar negara yang paling tepat dan sempurna: kita ini negara berketuhanan. Artinya, agama harus hidup di negeri ini. Artinya: kita ini sadar adanya kekuasaan Sang Maha. Artinya, negara ini bukan negara yang menolak Tuhan.

Sekaligus, kerukunan antar umat wajib dijaga. Semua warga negara punya posisi sama di mata negara. Negara akan membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selanjutnya sudah dinyatakan dengan jelas dan tegas dalam Undang-Undang Dasar: kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya unutk kemakmuran rakyat. Bahwa negara punya kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsanya. Sekaligus, negara ini bukan negara yang mengalienasi diri dari pergaulan internasional. Dan negara ini, Indonesia bergaul untuk menciptakan perdamaian dunia.

Artinya, kita menyadari untuk berbangsa dengan adanya satu persamaan peradaban: perlu perdamaian, dalam keragaman berbagai kelompok manusia yang berbangsa.

Eh, entah gimana ceritanya, mendadak datang entah siapa yang tiba-tiba menyebar antitesis kenegaraan Indonesia yang sungguh mulia dan indah ini.

Mereka mencatut nama Tuhan kemudian seperti memfatwa: bahwa Indonesia ini seolah negeri yang kelirulah, kafirlah, thogutlah, dan sebagainya. Indonesia mendadak seperti negara yang salah punya dasar dan landasan bernegara.

Indonesia yang masih tertatih-tatih dan berantakan memperjuangkan nasibnya, mendadak malah hendak dijegal langsung dari depan. Kekayaan alam kita masih disebot antek asing. Dan kini ideologi kita hendak diberangus juga oleh penyusup asing.

Jadi sekarang gimana enaknya ini:

Yang saya pikir sebagai orang awam hanya sederhana saja:

kalo mereka orang-orang Islam pendatang entah dari mana itu lantas memfatwa atau menyebut atau menyatakan atau apalah istilah bahwa Indonesia adalah bukan negara yang Islami,

maka para ulama HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyhari, Bung Hatta, Wachid Hasyim, Gus Dur, dkk. yang sejak awal membentengi dan membela keras bangsa kemudian negara ini adalah bukan ulama yang Islami?

– Freema HW,
Wong goblok yang ndhak ngerti apa-apa.