Belajar dari BMW

Saya suka ngikuti, dan sedikit menyeriusi, berita model BMW yang barusan dirilis.

Bukan hanya mengagumi keindahan dan keotentikan desain barunya yang tetep mempertahankan soul lama atau keganasan perkembangan teknologi mesinnya yang selalu saja bikin wow dan turut terdepan menjadi pioner perubahan;

melainkan juga mengikuti sisi kerennya manajerial korporasinya: bagaimana mereka menentukan (karakter)produk, bagaimana mereka mempertahankan dan mengembangkan pasar, bagaimana mereka menjalin komunikasi dengan kustomer dan audience, termasuk bagaimana mereka menjaga kultur dan dinamisme korporasi, bagaimana mereka berinteraksi dengan kompetitor atau komplementor, dll.

Yang sisi manajerial gini yang sering lewat dari headline dan kupasan media otomotif; hanya sedikit dikupas di media bisnis; dan bahkan nyaris tenggelam dan bisa dikata serasa tak pernah dibahas di berbagai forum penggila, penggemar, dan pecandu BMW. Kecuali kita mau menggali, meramu, dan mengembangkan kupasan dan bahasan manajerial ini lebih intens sendirian.

Meski saya bukan tipikal target incaran salesnya dealer BMW (ndhak enak mau ngomong kalo saya ini berasal dari kalangan ekonomi rakyat melata), tapi mengikuti perkembangan teknologi dan manajemen yang dihadirkan oleh pabrikan BMW membuat saya mendapatkan banyak inspirasi.

  • Inspirasi menciptakan karakter produk;
  • Inspirasi membangun trend (seperti BMW berani meluncurkan satu genre yang bisa dibilang genuine: coupe-SAV X6 atau 1-Series si slender-hatchback yang kemudian jadi benchmark pabrikan lain, termasuk Mercy sekalipun juga ngekor; atau
  • Inspirasi mengikuti trend tanpa kehilangan jati diri: jika dulu tipe-tipe BMW dijual dengan membedakan fungsionalitas dan keperkasaan tenaga mesinnya, kini produk-produk BMW dijual dengan fungsionalitas dan gaya/life-style-nya.

    Mengingat jika dulu manusia cukup memerlukan satu alat utama untuk menjalankan fungsionalitasnya, misalnya cukup perlu mobil belaka untuk bekerja; kini manusia perlu beberapa perangkat yang tingkat dibutuhkannya sejajar dalam menjalankan fungsionalitasnya dalam bekerja. Misal perlu mobil, perangkat navigasi, perangkat komunikasi dan koneksi. Inilah life-style dalam sisi fungsionalitas era sekarang. Dll.

Semuanya saya coba ikuti hingga pada satu kesimpulan saya pribadi: di BMW, yang berkuasa menentukan spesifikasi dan karakter produk adalah bukan insinyur teknik melainkan tim marketing!

Koq bisa?

Panjang alasan tebakan saya. Tapi kurang lebihnya itulah yang saya temukan dengan satu kalimat kunci:

  • BMW selalu bisa membuat model dan varian yang ndhak bertabrakan segmentasi pasarnya. Artinya, Seri-3 318i tidak akan pernah bersinggungan pasar dengan seri 3 325i, masing-masing akan menemukan dan ditemukan oleh kustomer pengguna masing-masing yang ‘sama namun berbeda’: sama karakternya (yakni karakter penggunaan sesuai yang ditampilkan oleh seri 3 – konsumen yang ingin menampilkan kesan ringkas, lincah, praktis, ekonomis, namun tetap bergaya dan mewah) namun beda kebutuhannya (satunya pingin nyantai satunya pingin cepet-cepet; misalnya demikian dll.). Dan
  • BMW senantiasa bisa membuat produk general-universal yang unik dan khas yang bisa dijual di berbagai negara dengan kultur dan karakter pasar yang beragam! Mungkin hanya perlu sedikit penyesuaian saja tanpa mengurangi karakter khas produknya. Seperti diluncurkannya tipe 730Li untuk negara dengan pajak tinggi dan lalu-lintas ruwet macam Indonesia, sehingga bisa mengurangi harga jual tanpa mengurangi fungsionalitas, citra, dan karakter produk sebagai transporter yang nyaman, mewah/luxury, dan bertenaga (untuk lalu lintas yang dilalui).

Intinya demikian itu yang saya temukan.

Jadi kalo ada yang bilang: di pabrikan lain mesin standar tipe gini, dari dua ratus HP (horse power – tenaga kuda) bisa di-upgrade sampe seribu hp; sementara mesin BMW susah untuk dibikin kayak gitu (meski bukan berarti tak ada dan tak bisa), saya memandangnya sedikit berbeda.

Sebab ketimbang meng-upgrade mesin standar BMW jadi mesin racing, akan lebih ekonomis, praktis, dan efektif langsung pake mesin S-Series pada model M-Series.

Kenapa koq bisa gitu?

Karena itu tadi, di BMW semua produk sudah di-plot pada segmentasinya sendiri-sendiri. Sehingga produk, termasuk mesin, untuk segmentasi touring bisa jadi ndhak akan bisa digunakan secara optimal untuk segmentasi racing.

Pun sebaiknya, mesin dan model kendaraan pada segmentasi racing mungkin akan malah cepet letoi jika digunakan untuk kebutuhan touring nan menempuh perjalanan panjang.

Itu satu contohnya.

Lainnya lagi, termasuk diskusi teknisnya, langsung aja kita chit-chat-kan di angkringan online https://www.facebook.com/groups/bimmerfan.mataraman/ ini šŸ˜€ Hehehehe….

Ref: BMW SWOT Analysis 2013 by Strategic Management-Insight

ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”
MEMILIH BMW ā€“ THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

3 thoughts on “Belajar dari BMW

  1. setahu sya diindustri modern arah pengembangan produk dipegang oleh team R&Dnya… dan masukan terbesar team R&Dnya akan dibawa ke team teknik untuk direalisasikan….

    cuma memang BMW ini memiliki sistem manajemen yang apik, dan berbeda sesuai krakter brandny itu sendiri.

    sangat berbeda dengan gaya main pabrikan jepang…

    tapi artikel ini keren banget… jrang ada blog bahas sisi manajemen terutama roda 4,nice share!

    Like

    • Terima kasih komengnya. Untuk pengembangan produk secara dimensional (spesifikasi, ukuran-ukuran, dll.) dimanapun saya pikir pasti dan hanya tim R&D yang mengembangkan.

      Namun untuk produk secara karakteristikal, yakni hal yang muncul di luar dimensi produk itu sendiri, semacam: kesenangan pemakaiannya, keunggulan fungsionalitasnya, dll. bisa jadi ini ada tim yang berkaitan langsung dengan pasar yang berkuasa menentukan karakternya.

      Xeniavanza saya pikir juga turut ditentukan oleh ‘kebijkan marketing’ dalam penciptaannya, yakni betapa ngeyelnya mobil seuprit itu dijadikan, dibranding, dan dikarakterkan sebagai 7-seater family car.

      Padahal di mana-mana, hampir semua di luar negeri, family car itu justru yang paling lega kabinnya dan senantiasa memunculkan ruang kargo yang spacefull sekali, bukan cuman muat galon belaka šŸ˜€

      IMHO, CMIIW.

      Like

      • iya bener slah satu masukan ke R&D sbagian besar adalah masukan dri team marketing dan sales yang tentu dkat dng konsumen…

        itulah unikny org indonesia… kondisi jalan di indo yg macet, sempit dan kemampuan rata2 family membeli mobil keluarga under 200juta…mungkin mnjdi alasan utama astra ngotot membrandingny sbagai family car… šŸ™‚

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s