Belajar Menjadi Orang Tua

©Deasy Widiasena 2015

Kami membagi kisah Aleef Rahman saat pertama ikut gathering bersama komunitas animator pengguna aplikasi Blender 3D ini ke forum pengguna Blender 3D Indonesia ini.

Tanggapannya beragam. Dominan memberikan semangat kepada si kecil Aleef Rahman untuk terus nge-Blender. Namun beberapa komen me-warning agar si kecil enggak overflow main Blender/main kompienya seperti kami copas ini:

Rayan Nurdin Kasian.. kecil kecil udah d cekokik teknologi kmputer… Usia smbilan taun blm saat nya.. terlalu dini..bukan menjatuhkan.. hanya memberi sedikit pengalaman.

Ngizat Muhammad jgan2 nga tau petak umpet, slodor, klereng, patok lele dll?

Satriyo Aji Nugroho Masa Kecilnya nggak bahagia. banyak pegang komputer bikin jiwanya kurang sosial.

Dwi Irawan Wantedd wah kalau menurut saya juga belum saatnya lho … karna kalau menurut saya belajar software itu masih terlalu teknis banget, kalau saran saya mending diajari nggambar aja. nanti kalau udah jago nggambarnya baru diajari softwarenya. pasti mantap hasilnya. Software kan cuman alat teknis, tapi kalau basic udah kuat pasti lebih mudah belajar alat teknisnya. Maaf nanti takutnya kalau nggak imbang jadinya cuman mahir softwarenya saja tp kemampuan dasarnya kurang. Maaf hanya opini pribadi lho….pisss

Well, yang pasti kami berterima kasih banget atas apresiasi, semangat, doa, dan segala warning-warning dan atensi dari rekan-rekan, paklik, bulik, pakpuh, budhe, dan semuanya. 

Sungguh kami bahagia membaca segala respon rekan-rekan semua.

Sedikit yang bisa kami katakan, pertama seperti yang dibilang Om DodyAnimation.com; si kecil suka kompie bukan karena kami paksa atau kami recoki. Mungkin ini bawaan dari bapaknya yang kerja sebagai pengecer jasa ide di Awindo Creative ini.

Kedua, sebenarnya si kecil itu hiperaktif banget. Susah diam. kalo udah polah, beraktivitas, main, kadang serasa lupa berhenti. Polahnya lebih banyak ketimbang diamnya. Kadang kami sampe “berantem” (pake tanda petik lho ini, bukan harfiah :)) untuk menahannya bisa diam di rumah, bobok siang untuk memulihkan fisik dan menjaga kesehatannya.

Kami tetep bersyukur, dia masih aktif bermain dan bersosialisasi dengan temen-temennya.

Pulang sekolah, dia harus tidur siang jika tidak ada ekstra kurikuler di sekolah.

Sekalipun hiperaktif dan kami justru banyak “mengerem” (di sini pengertiannya bukan menghentikan, melainkan menyeimbangkan) hiperaktivitasnya, sore hari kami minta dia bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah. Mereka main sepedaan, atau main main-mainan balok-balok kayu: bikin sepur-sepuran atau truk-trukan. Atau kadang juga sekedar nonton Marsha di TV. Sesekali juga main layang-layang, tapi enggak bisa terbang tinggi karena lahan kosong di sekitar kami sudah mulai habis 😦

Kadang mereka juga main ke sungai. Nangkep cuyu (kepiting) katanya 🙂

Intinya; dia harus tetep harus bersosialisasi, berinteraksi dengan temen-temennya. Dia nggak boleh sampe dikuasai komputer, komputerlah yang harus aku kuasai.

So, kalo dia bisa duduk di depan komputer itu kadang dalam sisi tertentu kami justru bersyukur. Setidaknya imbang antara hiperaktifnya, dan kami bisa sedikit mengerem pergerakannya dengan tetep menyalurkan energinya, tanpa harus membungkam sisi-sisi alamiah/natural dalam dirinya.

Posting yang kemarin itu tentu kami fokuskan pada kegiatan dan relativitas si kecil dengan kompie/blendernya. Memang akan nampak satu sisi saja akhirnya jika posting tersebut tidak ditelaah dengan seksama, seolah kami hanya menceritakan bentuk gelas jika dilihat dari atas saja tanpa menceritakan bentuknya jika dilihat dari samping. Jika posting tersebut kami imbangi dengan kisah kegiatan-kegiatan bergeraknya, wah bisa super panjang dong ntar 🙂

Satu lagi yang mebuat kami bersyukur adalah: si kecil dan keluarga kami itu suka banget makan sayur, dan kebetulan suami juga alhamdulillah bukan perokok.

Artinya dan korelasinya apa dengan urusan kompie/Blender ini? Artinya dari satu sudut tentang kesukaan si kecil+kompienya/Blender-nya ini, kami juga tetep berusaha menjaga kebutuhannya: keseimbangan hidup ini seseimbang mungkin.

Jikalau kemampuan si kecil belajar Blender ini dianggap terlalu kecil, terlalu dini, dsb. kami akan perhatikan hal ini agak tidak terlalu overflow baginya.

Tapi yang jelas kami enggak pasang target apalagi maksa si kecil: besok kamu harus bisa ini, lusa harus nguasai ini, abis itu harus bisa bikin itu-itu.

Sama sekali tidak! 🙂

Kami biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Kami orang tuanya hanya mengatur agar alirannya lancar, tidak tersendat namun juga tidak mengabrasi masa kecilnya atau mengkorosi perkembangan pola pikirnya.

Kami akan membuka sumbatan aliran pikir dan masa pertumbuhannya, sekaligus akan membuat bendungan-bendungan kecil jika ada apa-apa yang kami pandang overflow untuk anak seusianya.

Kami yakin, seperti inilah yang akan dilakukan semua orang tua dalam konteks, situasi, kondisi, dan keadaan masing-masing: ingin putra-putrinya tumbuh wajar alami, berprestasi sesuai bakat alamiahnya, bergerak dinamis menjalani perputaran waktu; menyadari dan menjaga apa yang menjadi kelemahannya, dan memupuk apa yang menjadi keunggulannya.

Selagi diberikan ijin dan kesempatan oleh-Nya, semua orang tua pasti ingin membimbingkan masa depan terbaik untuk putra-putrinya sesuai dengan konteks, kondisi, dan kapasitasnya masing-masing. 🙂


– Usai doa lanut menyanyikan laju Indonesia Raya, opening-session gath Blenderian Kedirian.

©Deasy Widiasena 2015 ©Deasy Widiasena 2015
– Workshop: gathering, sharing, coaching.

©Deasy Widiasena 2015
– Lagi serius 😀

©Deasy Widiasena 2015
– Kelaperan usai kegiatan 😀

MENJADI orang tua memang berat sekaligus menyenangkan. Penuh tantangan sekaigus penuh kemudahan. Harus penuh kehati-hatian dan pertimbangan namun juga penuh dengan segala kesantaian.

Mengalir namun tidak boleh banjir. (Kehidupan keluarga juga) tidak boleh kering namun juga jangan sampai terlalu meluap liar.

Kadang susah terdeskripsikan, dan unik untuk dijalani.

Inilah tantangan, inilah tugas, inilah kewajiban, inilah tanggung jawab, dan inilah seni kehidupan sekaligus inilah kenikmatan yang mungkin kadang bisa-jadi hanya bisa dipahami oleh sesiapa yang telah menjadi orang tua: …

baik orang tua dalam makna sesungguhnya, yakni Anda-anda yang (telah/sedang) membesarkan buah hati; atau …

orang tua dalam makna yang lebih luas, yakni sesiapa yang sedang mengasuh, membesarkan, merawat, menjaga, dan turut melindungi kehidupan ini dengan segala kompleksitasnya.

Sekali lagi, terima kasih support dan segala atensinya.

Kami akan terus belajar kepada Anda semua: belajar menjadi orang tua, belajar tentang kehidupan, dan membelajarkan Blender buat si kecil kami.

Dengan satu harapan besar tentunya: agar semua apa yang dia jalani bisa bermanfaat.

Wallahualambisawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s