Tuhan Telah Mati

“Tuhan telah mati…” Ini salah satu ungkapan kondang dari Pakdhe Nietzsche, yang banyak merenung dan mengungkapkan pemikirnnya untuk kehidupan.

Dalam konteks masa-nya, mungkin pemikiran Pakdhe Nietzsche berkorelasi dengan era Kristiani. “Tuhan sudah mati” tidak boleh ditanggapi secara harafiah, seperti dalam “Tuhan kini secara fisik sudah mati”; sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teleologi.

Alhasil, pemikirannya akhirnya jadi debat panjang, khususnya bagi kaum non-kristiani (Muslim atau bahkan atheis) yang ingin ‘menggencet’ kaum Kristiani dengan menabrakkan pemikiran pakdhe Nietzsche yang sebenarnya merupakan sebuah kritik inspiratif-konstruktif. Hingga kemudian ini melebar menjadi trigger (pemicu) jadi debat antar agama, khususon debat Islam – Kristen yang serasa kekal permanen di bawah tanah sana.

Anda semua yang masih terus berdebat Islam-Kristen silakan diteruskan, karena apapun hasilnya, misalnya Kristen itu agama jelek, tidak akan meningkatkan keimanan saya sebagai muslim. Karena saya punya keyakinan yang berada di lubuk hati saya yang membuat saya bergerak dalam kelemahan saya sebagai manusia, sebagai muslim. Keyakinan lillahitaala bukan keyakinan karena hal di luar ke-lillahitaala-an.

Dan jikalau kemudian ternyata Kristen itu agama baik, juga ndhak akan mengganggu keimanan saya. Ya karena itu tadi, keimanan saya cuman lillahitaala.

Dan taruh kata Islam menang debat di sini, saya yakin juga tidak akan mengganggu keimanan rekan-rekan Kristiani. Karena saya yakin bahwa rekan-rekan Kristiani juga punya keyakinan yang berada di lubuk hati mereka yang membuat mereka bergerak dalam kelemahannya sebagai manusia, sebagai manusia Kristiani.

Pun sebaliknya jika Islam itu ternyata jelek, saya yakin juga ndhak ngaruh, ndhak meningkatkan keimanan rekan-rekan kristiani. Karena mereka juga punya keyakinan di lubuk hati terdalam.

Jadi yang hobi debat Islam-Kristen, bagi saya itu semua adalah perbuatan membuang-buang waktu belaka. Saya tidak akan menyimak debat seperti ini, karena bagi saya pribadi, jauh lebih penting bagaimana saya, kita semua, bisa berkiprah pada kehidupan secara nyata.

Bagi saya pribadi, agama -termasuk Islam- adalah pegangan untuk hidup dan kehidupan. Untuk tindakan yang universal. Untuk kemenangan bukan untuk pemenangan. Untuk kemenangan kita menjadi manusia. Bukan untuk pemenangan kita menjadi golongan.

Berdiskusi saling mengetahui agama satu dengan lainnya itu baik. Agar kita saling memiliki pemahaman. “Oh ternyata kamu begitu, saya begini. It’s okey: lakum dinukum waliyadin.”

Udah gitu aja!

Kalo saya meyakini Islam itu lebih baik dari yang lain misalnya, maka satu-satunya jalan untuk menggapai kemenangan Islam adalah: bahwa dengan Islam saya harus menjadi manusia terbaik dari yang lainnya. Saya harus menggelontorkan kebaikan paling banyak dibanding lainnya!

Dan seru kalo kita semua berlomba-lombanya hanya dalam kebaikan semata. Karena perlombaan kebaikan, dan kebaikan itu sendiri, syaratnya sederhana: ibarat tangan kanan melakukan maka tangan kiri pun serasa tak mengetahuinya. Tampakkan saja wujudnya! Atau jika kita ungkapkan, jadikan itu hanya dalam kebutuhan inspiratif. Bukan riya. Niat kita dan keikhlasan kita yang akan menjaga hal demikian ini. (Bismillahitaala…)

TAPI menarik menyimak pernyataan Nietzsche yang karya-karyanya saya ikuti sejak 17 taon silam namun juga selama ini saya anggap dengan ndhak terlalu serius, khususnya pada statemen tadi: Tuhan telah mati.

Diskusi beberapa rekan, mencoba menterjemahkan ungkapan Pakdhe Nietzsche tersebut dengan: “ternyata secara tidak sadar kita telah membunuh Tuhan bahkan melenyapkan Tuhan melalui perkataan, pemikiran, bahkan perilaku kita…”

Saya mencoba meresapinya sebagai muslim.

Rasanya pernyataan Pakdhe Nietzsche tersebut korelatif dengan perilaku umat dalam konteks kekinian.

Korelasinya banyak.

Namun intinya: Tuhan (apapun tuhan dan keyakinan Anda, saya yakin sama) menitahkan kita sebagai manusia untuk membangun peradaban. Dalam bahasa muslimnya: kita ini bertugas menjadi khalifah di bumi [QS 2:30]. Menjadi pemimpin. Pemimpin atas sunatullah yang sudah disiapkan-Nya.

Dengan kemanusiaan kita (otak, pimikiran, perilaku/tindakan kita), kita mencari tanda-tanda alam, tanda-tanda peradaban diantara siang dan malam dan memimpin semua pergerakannya [QS 3:190]:

  • Kita memimpin pergerakan ombak, air sungai, angin, panas matahari, dll. untuk menjadi sumber energi terbarukan.
  • Kita memimpin kawasan hutan agar terlindungi dan terkelola dengan baik: kita manfaatkan keberadaannya namun secara pararel kita jaga terus kelestarian, keberlangungannya.
  • Kita pimpin segala sumber daya yang given dari-Nya semata ini untuk modal-modal membangun peradaban, membangun pengetahuan, dan melanjutkan kehidupan. Bukan kta habiskan tanpa road-map penggantian/pembaruan/subtituennya.
  • Kita pimpin diri kita sendiri agar apapun takdir yang kita pegang, kita bisa menghidupkan Tuhan: menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dalam peradaban ini.

Itulah pemikiran saya pribadi dalam konteks mencoba memahami pemikiran Pakdhe Nietzsche yang sekampung sama Hitler itu.

Kita turun ke bumi untuk menghidupkan Tuhan: menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Kita awalnya berada di surga rahim Ibu sebagai embrio, hasil dari pertemuan mani Adam dan sel telur Hawa.

Hingga dari surga itu kemudian kita turun ke bumi sebagai bayi. Dan kemudian kita masing-masing menjadi Adam atau Hawa saat turun ke bumi; meniti waktu dan pelan-pelan belajar isi bumi: belajar berkata, belajar berjalan, belajar mengenali benda-benda melalui orang tua – sang wakil Tuhan di bumi; belajar fisika, kimia, biologi, ekonomi, sosial, sejarah, dll.

Hingga kemudian kita menjadi Adam atau menjadi Hawa sebagai utusan Tuhan: menjadi manusia yang berpikir, menjalankan anugerah otak, dan masing-masing kita menjadi khalifah. Bertugas menghidupkan kalamullah – segala titah dan tuntunan Tuhan untuk kehidupan dan peradaban.

Jadi, jikalau kita sudah mengingkari tugas kita turun ke bumi ini dengan berbuat kerusakan, tidak berlaku adil [QS 5:8], mengurangi timbangan – mengurangi spesifikasi barang/curang menjual produk/ngembat duit negara [QS 11:85, 55:9], dll. maka tidak berlebihan rasanya jikalau memang kita telah membunuh Tuhan.

Jikalau kita mengingkari tugas kita turun ke bumi ini dengan korupsi; membabat hutan seenak udelnya sendiri; mencemari sungai dengan limbah industri atau sampah-sampah yang kita buang seenaknya sendiri; menjual barang busuk atau rusak – menyembunyikannya dan mengatakan sebagai barang normal; tidak tertib dan tidak bertatakrama lalu-lintas di jalan raya; merokok seenaknya sembarangan dan memaksa kaum bukan perokok menerima asep kita; maka tidak berlebihan rasanya jikalau memang kita telah membunuh (titah) Tuhan. Titah Allah. Titah Sang Hyang Widhi. Titah Sang Maha Kuasa.

Jika kita telah berbuat seolah dunia ini bukan milik Tuhan, dalam hal kita mengikrarkan diri sebagai orang beriman, mungkin kita justru malah menjadi atheis: karena melecehkan titah-Nya dan seolah Dia ndhak ada.

Jika kita telah berbuat seolah dunia ini bukan milik Tuhan, dalam hal kita mengikrarkan diri sebagai orang beriman meskipun kita menyembah-nyembahnya, maka Tuhan tak lebih dari sekedar berhala: sesuatu yang kita sembah-sembah, komat-kamit menyebut nama-Nya, namun tindakan kita pada peradaban justru jauh dari kehendak-Nya.

Yakni kehendak-Nya kepada kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Khalifah peradaban.

– Freema Nietzsche Widiasena,
suka berbuat kerusakan: mbuang sampah seenaknya dan naik motor seenak udel sendiri; dan suka pamer-pamer keimanan sendiri. Padahal saya bukan Iman apalagi Imam; sebab saya ini Freema.

Advertisements

One thought on “Tuhan Telah Mati

  1. Tuhan, adalah essensi ketiadabatasan yang dicetuskan oleh keterbatasan otak manusia.
    Akal budi menelurkan ilham, dan Ilham adalah cahayaNya. Sebrutal apapun Manusia, saat dia ‘kehilangan’ orang2 yang dicintainya, maka air mata nya akan menetes, hatinya tersayat, rasa- nya mengharu biru…. bahasa yang tak terucap, rasa, mata hati dan semua sensor Supranatural bekerja disaat tidak ada sandaran Fisik yang bisa di jadikan sandaran. Tuhanlah titik terakhir pemberhentian Ego Manusia. Di akui atau tidak, Allah memiliki absolutisme Kedudukan Tertinggi. Allah..bukan sekedar nama, namun representasi agung yang melambangkan ‘kesucia, nKebenaran dan kebijaksanaan” serta lebih dari itu semua. Thanks brother. Salam dari banjaran -Kediri. Kota Tua. Jayabaya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s