Mie Pepaya

©Deasy Widiasena 2015

Kisah sayur pepaya yang kemarin kami posting ternyata masih berlanjut. Sore ini Uti-nya menumis irisan pepaya muda, (menjelang) ranum tepatnya. Dia mendampingi dan memperhatikan dengan seksama.

“Uti ini apa?”

“Pepaya,” sahut Uti-nya.

Dia diam. Mungkin heran, kenapa pepaya bisa tersuwir-suwir seperti itu dan kenapa pepaya koq digoreng?

Setelah kami ingat-ingat, selama ini dia memang belom pernah mengenal tumis pepaya meski kami sekeluarga berkali-kali menyantapnya.

Skip… skip…

Tumis pepaya pun jadilah. Aromanya nikmat semerbak mengundang selera. Dan tibalah sesi santap malam. Dan kami semua berpiir bagaimana menjelaskan ini semua kepadanya.

“Ini mie pepaya,” mendadak entah ide dari mana muncul kalimat itu dari mulut kami. Malaikatlah yang mengirimkan ide dari-Nya. Ya, karena bentuknya mirip mie pipih.

Dan kebetulan kata ‘mie’ itu begitu bermakna baginya. Sebab dia mengemarinya; mie apapun. Dan kami hanya mengijinkan mie bahan/mie mentah yang kami olah sendiri untuk dia santap sewaktu-waktu. Sementara mie instan kami regulasi dengan super-ketat untuknya: kami hanya mengijinkannya menyantap hanya sekali dalam sebulan!

Kejam ya? Biarin! Ini demi kebaikannya 😛

Mie instan yang di kota besar harganya jauh lebih murah ketimbang sayuran, di sini berbalik adanya. Sekalipun hanya beberapa ribu rupiah, kami tetap harus membelinya, membeli mie instan tersebut. Sementara untuk sayuran dan beberapa jenis rempah banyak yang bisa kami petik langsung dari belakang rumah sendiri.

Belom lagi biaya non-nominal dari mie instan ini. Sebenarnya, ia pun bapaknya, sering bermasalah tengorokannya juga mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet pun micin/vetsin. Bapaknya langsung serik tenggorokannya, sementara si kecil lebih sering langsung demam dan meradang saluran makanan di lehernya itu.

Maklum, baik si besar maupun si kecil – bapak dan anak ini, dari kecilnya masing-masing memang sudah dibiasakan fakir-vetsin, khususnya pada masakan keluarga sendiri.

Dan begitu mendengar kata mie ini tadi, si kecil langsung girang. Kelihatan membayangkan nikmatnya bahkan sebelum menyantapnya. Alhamdulillah, semangkuk mie pepaya ludes dilahapnya malam ini tadi.

“Besok mau bawa bekal mie pepaya ini buat sekolah?”

“Mau!”

Dia girang. Kami semua tersenyum riang.

Alhamdulillah kegemarannya sederhana.

Dan semoga dia enggak gemar minta pizza.

Bukan masalah idealisme. Ini murni persoalan ekonomi. Sebab kami belom tentu pegang uang dan sanggup membelikannya pizza. Sementara sejauh ini, Tuhan senantiasa menganugerahkan segala tetumbuhan yang tiada putus untuk bisa kami konsumsi.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kami dustakan?

-Bapak & Ibunya Aleef Rahman yang senantiasa berbahagia, alhamdulillah wasyukurillah-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s