Indonesia

Indonesia memang kronis dari segala sisi. Aspal bolong yang permanen perpindahannya. Kualitas pendidikan yang -maaf- masih sangat teknis, miskin filosofis, dan begini-begini saja. Pelayanan publik yg masih amburegul. Pungli yang diam-diam masih merajalela. Ketertiban lalu-lintas yang semrawut dan kalah sama semut. Sungai penuh sampah. Pembangunan tidak merata. Sawah yang berkurang dan tumbuh jadi rumah. Road-map pengembangan mobil listrik dan green/renewable energy yang ndhak jelas. Bercokol kuatnya industri-industri asing penghisap devisa kita. Atau keuntungan penambangan yang entah ke mana porsi besar larinya. Sebutlah lainnya yang bisa Anda sebut.

Saya aja sampe eneg liat kondisi negeri ini.

Tapi antara bejatnya pengelola negeri ini dan menjijikkannya polah rakyat negeri ini (so pasti saya terlibat tentunya di sini) vs keagungan sifat dasar dan cita-cita luhur bangsa Indonesia, keduanya adalah hal yang ternyata berbeda dan terpisah; atau bersama namun tidak bersatu. Berbaur namun tidak melebur.

Di sela-sela kebiadaban banyak anak negeri ini, masih tersimpan di sana-sini semangat saling tolong, gotong-royong, ramah-tamah, menghargai alam, mencerdaskan anak-keturunan dengan kearifan lokal, rukun antar sesama, dsb.

Semangat asli bangsa ini.

Semangat yang sangat Islami (dalam pandangan saya sebagai muslim).

Sebagian anak bangsa ini gemar membabat hutan, namun masih banyak yang ketakutan untuk menebang pohon sembarangan. Takut karena panas, takut karena longsor, pun takut kepada penunggu pohon 😀 Baguslah, yang penting pohon si sumber oksigen itu selamet.

Sebagian anak muda di sini suka ngebrong knalpot motor, pasang mika/stoplamp putih dan lepas spion; sebagian lain tanpa kenal lelah mengkampanyekan safety-riding demi keselamatan bersama.

Sebagian manusia negeri ini menjambret, sebagian lain tanpa kalkulasi menyedekahkan hartanya untuk kaum dhuafa. Bahkan mereka bukan orang kaya! Mereka hanya manusia yang menyempatkan waktu hidupnya untuk berguna dan tidak berbuat yang sia-sia.

Sebagian anak negeri ini mengembat duit pendidikan, sebagian lain bersama-sama memperbaiki gedung sekolah.

Sebagian anak negeri bangsa ini sibuk mengkafir-kafirkan orang, sebagian lagi sibuk mengayomi sesama.

So, kelakuan anak-anak negeri ini, berbeda dengan apa yang menjadi sifat dasar bangsa ini.

Oleh karena itu, maka, yang perlu kita ubah atas semua ini adalah apa yang menjadi kelakuan (buruk, bejat, bangsat, keparat) mereka-mereka, kita-kita, dan saya yang mengotori negeri ini;

bukan mengubah apa yang disuratkan sebagai cita-cita luhur bangsa Indonesia ini: penjajahan diatas dunia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

– Freema HW
warga bejat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s